Category Archives: menulis

EDENSOR

EDENSOR

*A song inspired by Andrea Hirata’s ‘Edensor’*

DENGERIN EDENSOR

Dalam letihku, renungan itu kembali

Memanggil kilas-kilas memori

yang sulit hilang meski tak kunjung kutemukan

jawabannya… oh

sosokmu yang dulu pernah hadir

memaksaku mengungkit misteri yang tak terjawab

bagai tersihir kulangkahkan kaki ini

menapak setiap jejak yang tertinggal tentangmu

Bridge:

Melayang imajiku sejenak…

Terbawa semua kenangan tentangmu

Membawaku terbang jauh tinggi…

jelajahi separuh bumi…iii

Reff:

Dan kutemukan edensorku diteduh wajahmu…

Kuatkan aku dalam petualangan ini…

Dan kutemukan edensorku, dihangat senyummu..

Yang menghiasi warna mimpi citaku kini…

Semakin jauh kuayunkan langkah ini

Semakin banyak tanya kutemui

Seakan hanya aku dan angin berhembus

Yang membawa pergi pesan sunyiku

Dan kembali kutanya pada diriku

Kemana ‘kan kucari kau kini

Karena hingga batas cakrawala ini

Tak kunjung kutemukan hadirmu… oh…

(Back to bridge+reff, then solo melody + reff)

Andrea Hirata dan Tetraloginya memang fantastik! Bukunya yang ketiga, Edensor memiliki tempat tersendiri dalam hati saya, dan itulah yang mendorong saya untuk menulis lagu ini. Perpaduan antara pengalaman dan imajinasi yang diramu secara apik oleh Ikal merupakan masterpiece… menginspirasi saya, membangkitkan mimpi saya untuk bertualang, menjelajahi lokasi yang belum pernah saya jelajahi… sebagaimana ikal dan arai menjelajah eropa hingga afrika.

DENGERIN EDENSOR

“Apakah selalu ada alasan untuk menulis?”

Apakah selalu ada alasan untuk menulis?

Ada… menulislah…
Menulis apapun…
apapun yang terjadi…
selama mata ini masih diizinkan melihat…
Memandang dari cakrawala timur hingga kebarat…
Menjangkau dari ufuk utara hingga selatan…

menulislah…
apapun yang terjadi…
Karena menulis mencegah hati kita letih…
Busuk lalu mengeras dan akhirnya mati…
Tak lagi peka dan berempati terhadap apa yang terjadi sepanjang hari…
Semua naluri runtuh, tertelan ego pribadi…

Menulislah…
apapun yang terjadi…
Karena lisan tidak mampu bertutur setiap detik…
Ada kala ia khilaf dan lupa…
Menulis membantu lisan berhati-hati berbicara…
agar yang tertutur secukupnya saja…

Menulislah…
apapun yang terjadi…
Karena menulis membentangkan gagasan…
Otak yang buntu tercerahkan…
Menghantarkan naluri pada cahaya…
Cahaya sang pemberi Cahaya…

Menulislah…
apapun yang terjadi…
Karena tiada alasan untuk berhenti menulis…
selama nafas ini belum tercabut…
Dan ruh yang fana ini sirna…

Melukis Peradaban

Melukis Peradaban

Minggu, Juni 8th, 2008

Menatap gejolak yang meluap dan menghanguskan serta meluluh lantakkan dunia islam,

ada yang harus dilakukan

Menyimak kedzaliman dan penindasan, yang menimpa dan mencengkeram dunia islam,

ada yang harus dikerjakan

Bukan semata merenung, kemudian meneteskan airmata

Bukan semata menjerit atau bertakbir, namun tiada yang dilakukan

Adalah menyiapkan diri,

menjadi anak panah-anak panah yang siap dilepaskan,

atau peluru-peluru yang siap ditembakkan,

atau tombak-tombak yang siap dilemparkan,

atau pedang-pedang yang siap diayunkan

Menyadari keangkuhan dan kesombongan, yang mengangkangi dan menindas dunia islam,

ada yang harus disiapkan

Keikhlasan diri, kebulatan tekad, kekuatan jasad dan keteguhan materi

Menyikapi kehancuran yang melanda dunia islam, ditengah kelesuan dan tidur panjang umat islam,

langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan.

Bukan semata bicara panjang lebar,

tanpa kerja yang nyata,

atau semata mengungkapkan kebobrokan,

namun dengan penuh ragu dan kecenderungan.

Adalah memantapkan diri,

bahwa selembar jadwal bukan sekedar rencana kosong,

bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan dengan keprihatinan

bahwa kesabaran adalah cambuk untuk menegakkan keadilan

Merenungi langkah yang bila harus dilakukan, untuk masa depan dunia islam,

ada yang harus ditegaskan

Kemantapan diri, kekuatan azam, kemurnian asas, dan kejelasan tujuan.

Kemarin aku tertegun mendengarkan nasyid ‘tekad’ dari Izzatul Islam. Tiba-tiba saja aku merasa tersinggung dengan narasi yang mengiringi lirik nasyid ini. Aku nggak bisa menahan tangis ketika sampai pada “…bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan dengan keprihatinan…”. Ya Allah, sekian banyak yang telah kutulis. Telah lebih dari 400 posting yang terpapar di blog ini. Telah entah berapa ribu pasang mata yang telah mampir dan membaca ‘goresan-goresan pena’ ini. Lalu apa yang telah kuberikan bagi kejayaan peradaban islam?

Seorang Muhammad Al Fatih telah menaklukkan Konstantinopel di usianya yang belum genap 20 tahun. Seorang Usamah bahkan telah memimpin ribuan pasukan menuju Yarmuk. Apa yang mampu dilakukan seorang ARDIAN PERDANA PUTRA diusianya yang ke-25 yaa.. Allah. Di usiaku yang sebentar lagi menyentuh seperempat abad ini aku belum pula mampu menuliskan sebuah buku. Aku belum pula mampu menjadikan rangkaian kata ini jadi senjata. Aku belum pula mampu menjadikan ribuan paragraf ini menjadi benteng kokoh.

Bukan semata merenung, kemudian meneteskan airmata

Bukan semata menjerit atau bertakbir, namun tiada yang dilakukan

Bukan waktunya lagi bersedih dan larut dalam penyesalan. Bukan waktunya lagi untuk banyak merenung tanpa berbuat apa-apa. Inilah saatnya untuk berpikir bagaimana mengisi detik-detik yang terus berlalu menuju maut dengan sebermanfaat mungkin. Kita tidak akan pernah tahu kapan tepatnya ruh ini akan berpisah dari raga. Yang kita tahu adalah adalah sebuah kecelakaan besar jika saat itu datang kita tidak sedang dalam kondisi mengingat-Nya, di jalan juang dalam menegakkan agama-Nya.

Saatnya bagi kita untuk pancangkan niat baru! Niat untuk memperbaharui mindset kita dalam memandang sisa hidup kita ini. Sisa hidup ini harus berarti, bukan saja bagi diri kita dan orang-orang disekitar kita. Mimpi yang kita tancapkan harus jauh lebih besar… karena aksi-aksi besar hanya bisa tertampung dalam sebuah mimpi yang besar. Dan Bismillah… Nawaitu… inilah niatku!

Ya Allah, 71 hari lagi menuju seperempat abad kehadiranku di dunia. Saksikanlah, bahwa aku berusaha meluruskan niat di dada ini. Sebelum kau cabut nyawaku izinkan aku mempersembahkan sebuah buku untuk dunia. Sebelum rangkai kata ini terlupakan oleh waktu, izinkan aku untuk mengabadikannya bagi sejarah. Karena tiada artinya permohonan ini tanpa ridha-Mu yaa Rabb… maka saksikanlah! Izinkan aku disisa umurku ini untuk… Melukis Peradaban!

Aku lebih cinta matiiiii… daripada kamu!!

“Aku cinta matiiiii… daripada kamu!!” by Admiring Pelangi

[Serius… ini fiksi lho, cuma sekedar cerpen iseng nan spontan]

“Say, aku cinta kamu!”

Akhwat yang diajak ngomong itu bengong. Jangankan tersentuh, kebayangpun nggak dengan apa yang barusan dicelotehkan si Cowok sableng itu.

“Ah… masa’ sih? Serius?” sahut si akhwat kesal.

“Seriuuuussss deh, aku cintaaaaaa banget sama kamu!” jawab si cowok dengan tampang memelas.

“Hmmm… kamu berani ngelamar aku hari ini juga?”

Si cowok diam, sekarang giliran dia yang bengong ditodong seperti itu.

Ngh… aku mau kok nikahin kamu, tapi… masak iya secepat itu?”, tanyanya ragu.

“Lho, emangnya kenapa?” tanya akhwat itu menantang.

“Ngh… ya… kita kan belom terlalu mengenal.” jawab si cowok sambil garuk-garuk kayak beruk diatas pohon kapuk.

“Lhah… nah, itu dia! Kok bisa kamu ngomong cintrong?”, introgasi si Akhwat berubah jadi segalak polwan baru lulus Sepolwan Pasar Jumat.

“Menurut aku kamu baek, pinter, solehah, bla bla bla…” jawabnya sambil terus mengabsen sifat si akhwat yang ada dalam bayangannya.

“Nah… nah… nah…” potong si Akhwat, “katanya nggak kenal aku. Tapi kok… kayaknya malah kamu yang lebih kenal diriku dibanding diriku sendiri?”.

Si cowok mati kutu… persis kayak kutu dipites pake kuku. Dia terdiam salting sambil sesekali menggaruk kepalanya yang nggak gatal sama sekali.

“Yo wis lah… gini deh, kalo emang kamu cinta sama aku, aku mau kamu ngaji! Mentoring sana… baru bilang cinta sama aku.”

Dengan garukan yang semakin keras, si cowok nggak berkata apa-apa. Cuma manggut-manggut walaupun bingung. Seumur-umur, dia ngaji cuman waktu SD, semasa masih ikut TPA. Itupun kabur-kaburan, berhubung harus mengejar jadwal rutin ‘penting’ seperti Satria Baja Hitam RX dan Saint Seiya yang dijamin mendidik anak-anak indonesia jadi superhero yang siap menyelamatkan profit perusahaan multi nasional dan diberdayakan jadi buruh elit di perusahaan asing.

Si cowok dengan langkah gontai berbalik meninggalkan medan pertempuran. Tapi… tiba-tiba langkahnya terhenti. Kayaknya masih ada yang mengganjal pikirannya yang sehari-hari gak pernah jauh dari analisis seputar pertandingan Serie A atau strategi memenangkan PES, WE, CM dan berbagai game lainnya. Dan iapun belum menyerah…

“Tapi… aku serius loh, Ful…” *berhubung sebenernya nama karakter nggak penting di cerita ini, kita kasih nama aja si Akhwat ini dengan Fulanah*

“Serius apa?” potong si Akhwat dengan nada lembut tapi nyelekit, menusuk dalam-dalam hati cowok yang kurang baik dan tidak rajin menabung itu.

“Ak… Aku…” katanya ragu, “Aku cinta kamu karena Allah lho!!” lanjutnya berusaha memberanikan diri. kata-kata itu terlintas begitu aja ketika dia ingat dengan sebuah artikel di blog saat disuruh membuat makalah kuliah Agama dan Etika Islam. Sejujur-jujurnya, Ia nggak tau pasti arti dari kata-kata itu secara persis.

*Gedubrak* Si Akhwat bingung antara harus geli dengan kata-kata itu atau pengen nonjok si pahlawan cinta monyet yang ia sendiri lupa kenal dimana. Pengen rasanya jurus pamungkas taekwondonya Ia keluarkan. Tapi tiba-tiba bidadari virtual nan cantik di sebelah kanannya berkata lembut, “sabar atuh ukhti… kesempatan nih, ayo dingajiin! Target potensial nih…”. Ia pun menarik nafas puaaaaannjjjjang, lalu…

“Huh… Iya deh… terserah kamu. Aku juga cinta kamu karena Allah…”

Betapa berbunga-bunganya si Cowok sableng itu mendengar kata ‘cinta’ yang ditujukan padanya.

“Tapi…” lanjut si Akhwat membuyarkan proyek kebon bunga yang baru saja menggusur lapangan bola di hati si Ikhwan, “pokoknya gak mau tau, aku pengen kamu mentoring dulu… Titik!!” lanjutnya sambil segera ngeloyor pergi dengan perasaan yang sudah mumet dengan serbuan mendadak si cowok di musim Ujian Akhir Semester kayak sekarang ini.

“Eh… eh…” sahut si Cowok kebingungan kayak pejabat korup ketangkep basah KPK.

“Seriuuuuuusss… Ful! Aku cinta mati sama kamu!” teriaknya pada si Akhwat yang semakin jauh.

Si Akhwat menoleh sebentar,

“Tapi aku lebih cinta mati daripada kamuuuu!!!” balasnya yang disambut dengan sunyi, bersamaan dengan semakin mematungnya si Ikhwan.

***

Sembilan bulan lebih sembilan hari kemudian…

Seorang ikhwan masuk kedalam mesjid bersama rombongan keluarganya dengan muka cengengesan yang nggak bisa ditahan. Dia menyapa beberapa temannya. Mereka adalah teman satu kelompok mentoringnya. Gerombolan anak nongkrong, yang sama-sama berusaha belajar tentang Tuhan dan Agamanya.

Begitu matanya melirik sedikit pada bidadari bergaun putih yang sudah sejak tadi nangkring di barisan Akhwat yang tersekat hijab, tiba-tiba dadanya kembang kempis. Terasa panas dingin bulu kuduknya melihat bidadari yang dalam hatinya yang paling dalam ia harapkan jadi pendampingnya di surga kelak. Si bidadari tertunduk saja, sama dag-dig-dugnya dengan calon presiden RRT (Republik Rumah Tangga) itu. Singkat cerita, prosesi akad berjalan lancar dan sukses walaupun sempat diwarnai kericuhan karena si Ikhwan saking gugupnya lupa dengan nama calon istrinya itu dan malah mengabsen mantan-mantan pacarnya semasa masih berandalan dulu. Setelah prosesi, kedua mempelai segera diboyong ke tahta mereka sebagai sepasang manusia paling bahagia di hari itu.

“Ful… ful…”

Di tengah langkah gemulai bak pameran busana pengantin, si Ikhwan tiba-tiba memanggil perempuan yang menggandengnya itu dengan setengah berbisik.

“Apa kang?” jawab si Akhwat malu-malu.

“A… aku cinta mati sama…”

“Ssst…” belum sempat melanjutkan, si Akhwat memberi isyarat kepada pangerannya itu untuk tidak melanjutkan.

“Aku lebih cinta mati daripada kamu.” lanjutnya dengan senyuman.

Si ikhwan termenung sebentar, lalu dengan senyum sumringah dia menanggapinya…

“Aku juga lebih cinta mati daripada kamu…” ucapnya berbisik, “Aku ingin mencintai mati, sama sepertimu.” lanjutnya dengan nada bersungguh-sungguh.

Bidadari itu menjawabnya dengan senyum. Senyum penuh arti yang diiringi lantunan doa yang sejak bertahun-tahun lalu begitu akrab dengan lisannya.

Allahumma… Innaka ta’lam anna hadzihil quluub
qad ijtamaat alaa mahabbatik… wal taqqat ala Thaa’atik…
wa Tawahhadat ala nashrati syari’atik…
fa watstsiqillahumma rabithatahaa…
wa adimmuddahaa… wahdiha subulahaa…
wamla’haa bi nuurikalladzi laa yakhbuu…
Wasyrah suduurahaa bi faidzil iimaanubik…
wa jamiilit tawakkuli alaik…
wa ahyihaa bi ma’rifatik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
innaka ni’mal maulaa… wa ni’mannashiir…

Dan ucapan pangerannya tadi menjadi hadiah paling romantis baginya di hari paling istimewa sepanjang hidupnya itu.

*** tamat ***

Ardee’est Things in My Life
[Menjelang maghrib, Ganesha, 29 Mei 2008]
Yaa Allah berikan murabbiyah terbaik bagi anak-anakku

Blogger Review: Taufikurahmans Park

Nama saya “Taufikurahman”, tiga belas huruf, dengan “k” (bukan “q”), dan satu “r”. Kenapa perlu penekanan demikian ? karena sering saya menjumpai orang tidak tepat menulis nama saya. Lucunya dengan tiga belas huruf bersambung itu, saya menjumpai tidak jarang orang salah menyebutnya, sehingga yang terbaca: “Taifukurahman” ( capek deh…

Begitu kira-kira pak Taufik memperkenalkan dirinya diblognya. Unik juga ceplas-ceplos Dosen yang juga Paman saya ini. Blognya tersebut membahas berbagai hal dari isu lingkungan, kuliah yang di ajarkan hingga masalah politik. Saya sendiri baru sekitar 2-3 bulan lalu mengetahui bahwa beliau juga ngeblog. Pengalaman menggembirakan juga bisa bertemu dosen dengan cara yang berbeda, melalui media blog yang relatif lebih tanpa batas.

Saya ingat, pertama kalinya saya menemukan blog beliau, saya langsung ‘say hi’ dan meninggalkan jejak komentar blog tersebut. Ternyata kunjungan saya tersebut juga dibalas, dan beliau sempat beberapa kali berkomentar di blog ini. Komentar ceplas-ceplos yang hangat dan ringan mungkin bisa menjadi ciri khas beliau. Setidaknya hal itu yang anda temukan dalam tanggapan beliau pada komentar dari para pengunjung blognya.

Sebagai seorang akademisi, beliau sempat menjadi sorotan publik saat dengan tegas mendukung teori Dr. Harun Yahya yang menggugurkan teori Evolusi Darwin. Hal ini kemudian memunculkan sikap pro-kontra dari berbagai pihak. Sikap kontra diantaranya disuarakan oleh Dr. Wildan Yatim dari UNPAD, yang sempat dipublikasikan di koran kompas. Terlepas dari pro kontra tersebut, saya berpendapat bahwa dialektika ilmiah ini sebagai suatu kewajaran dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Baik pendukung darwinian atau harunian masing-masing memiliki argumennya sendiri, yang bukan tidak mungkin, seiring berkembangnya IPTEK dimasa depan, salah satu diantaranya akan digugurkan oleh yang lain, atau justru bisa saja tumbang oleh teori yang lebih mutakhir.

Isu lain yang beliau soroti diantaranya seputar konsep utopis PLTSA yang diusung sang Walikota Incumbent Dada Rosada (khas sunda sekali, namanya berirama ‘Tek-Tek-Dung-Dung-Tek’ seperti juga Cecep Suracep, Maman Surahman, Toto Kasmanto, Dodol Surodol, dll). Isu ini juga mengundang kontroversi setelah tiba-tiba saja di sudut-sudut jalan muncul spanduk yang mengklaim dukungan warga bandung terhadap rencana aneh Pemkot (sebenarnya rencananya atau pemkotnya yang aneh?) tersebut. Lucunya, spanduk-spanduk itu terlihat seragam dan hanya berbeda wilayah warga yang di klaim. Propaganda yang aneh dari si Incumbent.

Beliau yang saya kenal juga cukup concern pada isu seputar politik kepemerintahan. Ketua KALAM (Keluarga Alumni Salman ITB) regional Jabar (Bandung) ini ikut menyoroti masalah pengelolaan pasar tradisional diwilayah bandung yang beliau nilai dikesampingkan oleh pemkot yang terlihat lebih pro terhadap perkembangan supermarket dan mall yang berpotensi mematikan para pedagang kecil. Selain itu, pembina asrama mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri regional Bandung ini juga memperhatikan masalah pendidikan, diantaranya biaya masuk sekolah yang kian melambung di ibukota Jawa Barat ini.

Sedikit sebagai penutup tulisan ini, ada satu tulisan ayah dari 4 putri dan 1 putra ini yang ingin saya kutip. Gaya membungkus cerita yang ringan untuk isu calon independen pada pilkada bandung yang akan segera berlangsung cukup unik untuk disimak. Berikut kutipannya:

Bagaimana kalau semua calon independen tersebut ternyata bisa memenuhi persyaratan mengumpulkan tanda tangan dukungan dan fc KTP para pendukungnya sebanyak 3 % dari total populasi Bandung yang 2,4 juta jiwa, yakni sekitar 60-70 ribu dukungan ? Itu tentunya sebuah jumlah yang lumayan banyak euy… Bila hal tersebut terjadi, wah heboh juga ya, pilkada pertama di Indonesia yang mengikut sertakan calon perorangan diiikuti oleh sebanyak 35 pasang calon… “gubrak” ! Sejauh ini sih baru ada satu pasang yang sudah meng-claim sudah mengantongi 70 ribu pendukung… hebat euy.

Jika jumlah calonnya buanyak (more than sekedar ‘banyak’), kebayang kertas suara yang akan dibuat akan buegitu luebar dan puanjang (remember: luebar x puanjang = luuuuas !) seperti pemilu partai yang lalu dan mugkin juga yang akan datang…. kasihannya aki-aki jeung nini-nini nu bakal ripuh ngalipet kertas suara di bilik nu leutik saukuran kandang itik atawa kikirik atawa jangkrik 🙂  halah…. capek dech !

Saya nggak bisa menahan tawa saat membaca tulisannya ini. Walaupun saya nggak bisa ngomong sunda selain nanaon, punten, nuhun dan sejenisnya, tapi tulisan ini cukup ngena untuk menggambarkan bahwa akan sangat merepotkan jika ternyata pilkada kali ini terlalu penuh (sekali lagi TERLALU PENUH) dengan calon independen.  Bisa dibayangkan bagaimana lueeeeebar dan puaaaaannjangnya kertas suara yang harus di sediakan KPUD agar semua calon tersebut muat.

Lirik-lirik…

Postingan saya sebelumnya hanya berisi lirik “mimpi” dari Anggun C. Sasmi, kebetulan aja denger lagu itu diputer di comlabs, dan kebetulan juga baru saat itu bisa mengapresiasi lirik lagu tadi. Lagu ini easy listening dan menurut saya sebagai penulis lirik amatir, artinya dalam. Ada keunikan dan sesuatu yang spesial dari pemilihan kata-kata dalam lagu ini. Nggak tau kenapa, tapi saya suka aja dengan pemilihan kata yang kesan pertama yang saya rasain adalah…”efektif”… pesan yang mau disampaikan lirik itu nyampe pada tujuannya tanpa berbelit-belit.

Saya memilih lagu itu untuk saya taruh di blog ini dengan alasan yang sesimpel itu. Nggak kepikiran tendensi apapun yang mengaitkan lagu itu dengan peristiwa yang saya alami atau sesuatu yang saya harapkan. Pokoknya ya cuma sekedar easy listening aja dikuping, dan saya dapet impresi yang kuat dari liriknya. Naluri auditoris saya aja yang menuntun saya untuk mengapresiasi lagu tersebut dengan cara meletakkannya sebagai salah satu lirik favorit saya minggu ini.

Ngomong-ngomong soal lirik, aku jadi inget tentang usul-usilnya aku pertama kali nimbrung dalam dunia tulis-menulis. Salah satu bidang pertama yang aku tekuni adalah membuat puisi dan lirik lagu. Nggak kerasa sudah sekitar 10-11 tahun sejak pertama kali aku menulis lirik buatanku sendiri. Dulu karena masih berstatus santri di husnul khotimah, lirik yang kutulis nggak jauh dari nasyid. Tapi seiring kepindahan ke SMU negeri, perlahan tapi pasti aku mulai berkenalan dengan lirik-lirik bertema cinta [monyet]. Saat itu juga aku mulai belajar menggunakan gitar saat membuat lagu. Lirik-lirik lagu itu kebanyakan merupakan refleksi dari apa yang aku alami secara nyata, tapi ada pula yang berdasarkan karangan imajinasiku saja.

Walaupun secara garis besar kebanyakan lirik yang kutulis semasa SMU (bahkan sebenarnya hingga hari ini pun masih) bertema cinta, tapi aku coba membawanya ke arah pemaknaan cinta dari lingkup yang lebih universal. Lagu seperti pelangi, mungkin suatu saat nanti, Tersenyumlah, dan kaos oblong adalah perwujudan dari cinta yang tidak dimaknai secara sempit sebagai hubungan mabuk kepayang dua insan berlawan jenis. Memang beberapa laguku ada juga secara khusus bicara tentang area tadi, seperti Menunggu, Fantastik, Save my Soul (bukan yang punyanya Padi), Superhero dan Vie. Tetapi itupun aku coba untuk mengungkapkannya secara tidak vulgar dan bertendensi terhadap pelecehan nilai dan arti dari cinta itu sendiri. Bahkan kadang kumasukkan pula nilai spiritual religius didalamnya. Semisal “Fantastik” (nggak aku publish di blog):

Oh tuhan, biarkan Ia tahu walau sekali saja
Bahwa Ialah anugerah terfantastik untukku…
Jangan biarkan Ia berlalu dari hidupku…
Karena ialah sang bidadariku

Oh tuhan, sampaikan semua cintaku untuknya
karena Ialah anugerah terfantastik untukku…
Jangan biarkan Ia berlalu dari hidupku…
Karena ialah sang bidadariku

Ada pula lagu yang murni sekedar tuangan imajinasi seperti Indah, yang berkisah tentang seorang gadis bernama Indah (tidak di publish, sama sekali tidak terinspirasi oleh siapapun) yang tabiat dan perangainya bertolak belakang dengan namanya. Lagu lainnya semisal, “Di balik cermin” serta abadi tentang refleksi pribadi, atau “Melukis dengan mata hati”, yang penggalan reff-nya:

Dan biarkan anganku pergi, berkelana dengan mentari
Tuk mengisi hari, dengan cahaya indahmu

Dan biarkan lepas khayalku berkelana dan arungi duniaku
Mengukir sejarah diatas sang waktu

Dalam lagu ini aku membayangkan diriku sebagai seorang tunanetra, dan sengaja lagu ini pun aku dedikasikan untuk mereka yang tidak menyerah pada keterbatasan fisiknya. Ada pula sebuah kisah khayalanku tentang seorang junker dalam lagu “detak-detak“, yang terinspirasi dari kisah seorang rekan yang terjebak dalam drugs. Lagu ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang manusia sejak lahir hingga terjebak Drugs, pergolakan pikirannya saat ingin melepaskan diri dan akhir hidupnya sebelum tobatnya terucap.

Banyak hal yang bisa kita dapat dengan menulis. Menulis puisi dan lirik mengasah diri kita untuk lebih peka dalam melihat fenomena disekitar kita, dan mampu mengungkapkannya dalam untai kata yang indah dan estetis. Dari rangkaian kata inilah kita berharap bisa menggugah empati pendengar ato pembacanya yang pada akhirnya diharapkan ikut peduli dengan fenomena tersebut. So segitu dulu masalah dunia per-lirik-an. Maaf kalo ada yang nyasar ke halaman ini karena mengira isinya berkaitan dengan satu istilah “jelalatan”. Insya allah postingan itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan itu.

Senandung Semester Akhir

Senandung Semester Akhir

Note : Kisah ini sama sekali bukan kisah nyata. Hanya sebuah curahan inspirasi yang tumpah menjadi cerita.

Bu…. aku minta nikah..!!” Rengekan itu lebih terdengar seperti rengekan anak umur lima tahun ketimbang seorang calon sarjana yang minta restu kepada orang tuanya. Ibuku terlihat sedikit kaget sebelum akhirnya, hanya menghembus nafas sambil bergeleng-geleng keheranan.

Ar… ar, lha wong kamu aja gak lulus-lulus, masak tahu-tahu minta nikah.” Tuturnya pelan. “Nikah itu bukan urusan simsalabim jadi lho, Ar..!!”

Iya bu, aku siap kok….!! Aku udah baca buku ini lho bu!!” jawabku sambil menunjukkan buku “Pernak-Pernik Menghadapi Pernikahan”. Sekuat tenaga ibu berusaha menahan tawa, sampai akhirnya meledaklah tawa ibuku hingga terkekeh-kekeh…

Lho, terus gimana nanti kalau sudah menikah…? Kamu harus mulai bertanggungjawab menafkahi istrimu lho…. Emang sudah sanggup?” tantang ibu kepadaku…..

Alhamdulillah bu, badanku ‘kan sehat, normal kok bu…!!!” Jawabku sekenanya yang langsung disambut tempeleng pelan yang mendarat diubun-ubunku… “Hih…. kamu ini, bukan ‘nafkah’ yang itu maksudnya…!!” tegurnya geregetan….

Wah, tenang aja bu! Menurut buku ini, kita nggak perlu khawatir, kan rezeki itu sudah ada yang mengatur… tinggal kita yang harus berusaha bu!! Lagipula setiap orang kan sudah ada jatah rezekinya sendiri, rezeki tiap orang gak akan nyasar kok….!!” Jawabku sangat bersemangat sambil memperagakan ‘pembagian rizki’ dengan sliweran tangan seperti layaknya seorang pengamat ekonomi sedang presentasi.

Ya…. trus, kamu ‘usaha’nya udah belum…?” tantang ibuku lagi sedikit meledek, yang membuatku sedikit ‘nyesak’.

Ya, kalau itu sih, baru sebatas ‘nyoba-nyoba’ bu…” jawabku nyengir dengan agak tersendat-sendat. “Tapi yakin deh….” omongan ku ini langsung dipotong…

Teruuusss…!! gimana dengan SMS kamu yang tiap akhir bulan ngerengek minta uang?bu, duit abis…. kirim lagi ya!!”, “Bu, aku udah coba hemat, tapi….bla bla bla”….”. jawaban ibuku sudah tidak masuk lagi dalam otakku…. yang akhirnya melayang jauh entah kemana..!! Aku cuma manyun aja mendengar ceramah ibuku kemudian…..

—===|||===—

 

Beberapa hari kemudian aku balik lagi ke Bandung. Aku memutuskan untuk pulang hanya sebentar liburan ini karena ada beberapa hal yang harus aku urus di kampus. Sesampai di kost aku istirahat setelah 4 jam tergencet didalam bus karena duduk bersebelahan dengan seorang bapak yang membawa banyak buntelan. Aku berencana paginya akan segera bersiap berangkat kekampus pagi-pagi.

Hoaa…..hem…!! Ternyata aku telat bangun subuh, sudah jam setengah 6 pagi ternyata…. Aku keluar kamar hendak kekamar mandi. dan ternyata dikamar sebelah Tresno pun baru bangun tidur dengan tampang yang gak kalah kusut dengan sprei yang ku pakai tidur semalam.

Kenapa Lo No….?” Si Tresno yang ditanya nampak masih ‘mengumpulkan nyawa’ terdiam berdiri dengan mata terpejam selama beberapa belas detik sebelum akhirnya menyahut…. “Heuh…. apa kata lo jek…?” dengan logat betawi kapiran yang tetep aja gak bisa nyembunyiin medok jawanya yang khas. “Woi, Lo udah bangun belom sih…” Teriak ku, yang langsung membuatnya melotot walau tatapannya kosong.

Tresno akhirnya bangun, lalu menjawab “Gue abis begadang semaleman, TA gue sulit banget nih….”. Jawaban Tresno ini walau sama sekali gak ada maksud nyinggung, tapi tetep ngebuat dada gue nyesek dan dongkol.

Iye, tau deh lo yang mau lulus Juli ini…..” Sekarang malah gue yang dipelototin. “Semprulll…!! Lo ngeledek gue ya… Pengen ngusir gue cepet-cepet dari kampus?” Hmm, iya juga sih…. gue lupa kalo dia dua angkatan diatas gue dan sama-sama belom ditakdirkan untuk lulus dari institut teknik ini…. “Iya deh, sorry bang… sorry!!”.

Oiya, lo kemana aja sih beberapa hari ini gak keliatan? Aku menjawab dengan nyengir “Hehe, gue pulang minta restu sama orang tua…!!”.

Lho emangnye lo mau ngapain jek…?” jawabnya berlagak bloon, kemudian terdiam lalu menepuk bahuku keras….. “Waaah, lo mau nikah ya…!!! Ato… sunat?”.

Wah…. sembarangan lo No….” jawabku diikuti tawa renyah kami berdua, yang sebetulnya dalam hati mengurut dada. Ada gak ya, yang mau sama kita berdua…

—===|||===—

Akhirnya aku malah jadi berangkat bareng sama Cah Gendheng yang ganjen ini. Seperti biasa, matanya ini agak sulit dikendalikan kalo ada yang ‘bening’ sedikit dijalan. Makanya sebenarnya agak sedikit malu-maluin berangkat bareng anak yang satu ini. Untung jarak kampus gak jauh, jadi malunya cuma sebentar. Beberapa meter dari gerbang kampus tiba-tiba saja ada yang memanggil… “Tresno…!!”. Kami berdua menoleh. Ternyata Nada, seorang cewek, adik kelas sejurusan dengan Tresno yang jadi inceran banyak cowok dikampus.

No, kamu kemana aja sih… gak keliatan dikampus…” cecarnya manyun. Tresno dengan pede gaya playboy kampring menjawab “Gue lagi sibuk nulis Skripsi nih…. Kenape, akhirnya Lo nyariin gue ya…..” jawabnya dengan GeeR yang superrrr…duperrr… overrrrdosis. Sekarang Nada malah ngrengut… “Ih…. apaan sih, gue cuma mau nyampein ini… dateng ya…!!” Sebuah amplop indah berwarna pink, dengan pita merah. Sepertinya dia gak terlalu memperhatikannya.

 Paling ulang tahun.” mungkin begitu pikirnya, dan langsung memasukkannya ke tas.

Kami berpisah menuju jurusan masing-masing. Aku harus mengurus TA-ku yang tertunda satu semester dan melihat daftar nilai-nilaiku yang keluar minggu ini. Ternyata, melihat nilai-nilai dipapan pengumuman hanya membuat aku tambah mumet. Dua mata kuliah B, dibantai oleh tiga buah Nilai C dan satu nilai T.

Aku langsung teringat percakapanku dengan ibu. Terbayang olehku jalan yang masih sangat puaaaaaanjang, untuk bisa mendapat ijin secara gampang untuk menikah. Jangankan untuk mencari pekerjaan sambilan, untuk berusaha agar tidak tetep jadi ‘mahasiswa abadi’ saja udah bikin aku ngap-ngapan. Sepertinya beberapa bulan kedepan aku masih harus bergulat dengan tugas akhir yang menungguku.

Aku masih harus mengurus TA ku ke dosen pembimbing. Sayang beliau sedang tidak ditempat. Akhirnya kuputuskan menunggu sambil ngenet gratisan di Labkom. Tiba-tiba HP ku berbunyi…

Hmmm… Tresno?”, pikirku. Tumben-tumbenan dia nelepon, biasanya hanya ngeSMS, itupun nyari yang gratisan. Dengan agak males akhirnya aku angkat telepon itu, daripada bikin rame. “Ya No, knapa….?”.

Responnya sangat tidak kuharapkan. “Huaaa……!!”, dia menangis dengan teriak-teriak ditelepon.

Hoi… lo kenapa? Jangan sentimentil gitu dong…. kalo lo gagal lulus Juli kan ntar bisa bareng gue!! Hehehe….” Sebuah jawaban yang jelas sama sekali gak membantu. Di sela tangisnya yang entah beneran ato dibuat-buat dia menyahut “Wah, sialan Lo… Kurang ajar…”.

Iya, terus kenapa?” tanyaku mulai penasaran.

lo inget tadi kan?

Kapan? Pas lo baru bangun? Ato pas lo bilang gue mo disunat?” jawabku asal.

Bukan goblok… Tadi, digerbang.” Dia agak gregetan juga ternyata. “Lo ngomongin cewek mana lagi sih?” sambarku tambah gak sabar.

Bukan!! Nada…. Nada…!!” jawabnya gak sabar.

Oh, iya…. kenapa sih? Dia jadian sama cowok mana lagi?

Ini lebih gawat!! Lo tau undangan yang tadi kan?

Tanpa dikomando, otakku langsung paham maksudnya… ngangguk-ngangguk dan tersenyum kecut. Omongan Tresno sudah tak kuperhatikan lagi…. ternyata Nada menikah!!

Terbayang kembali percakapan ku dengan ibu yang semakin konyol saat kuingat-ingat lagi. Dalam hati aku bergumam lagu populer “mahasiswa rantau…” milik sebuah band yang terkenal konyol…

Mahasiswa….. mahasiswa….

ide vs penyelesaian

Banyak ide, bingung penyelesaian = ngambang

Sesuai judul, itulah yang terjadi beberapa hari ini. Gak nulis, apa karena keabisan ide? Ide? Wuih, jangan ditanya….. ide mah banyak, justru saking banyaknya bingung menuangkannya. Dari awal bulan kemarin kejadiannya emang seperti itu. Kalo liat jumlah tulisan yang diposting, jumlahnya paling separuh dari jumlah tulisan yang dibuat. Sisanya? Blum selese juga sampe sekarang.

Apa sih masalahnya? Kayaknya masalah gaya nulis sama jam terbang sih inti utamanya. Ya… gitu deh, jam terbang jelas gak seberapa. Lha wong nulis aja angin-anginan. Kalo gaya nulis, semakin banyak kita nulis ternyata kita akan semakin kenal karakter ato watak menulis kita.

Kalo saya… dari ‘peneropongan’ yang dilakukan sampe saat ini, saya ternyata lebih nyaman bikin tulisan yang beralur, lebih ke narasi. Ini mengindikasikan bahwa saya tipe orang yang doyan cerita. Harus diakui, udah bawaan sanguinis melankolis kayanya.

Kalo bikin tulisan yang rada pilosopis (karena lieur… bukan filosofis) ato rada berat temanya, seringnya tulisan itu saya tinggal sebelum selesai. Kalo disini yang keluar sisi plegmatisnya, males ketemu ide tulisan yang ribeut ditengah jalan. Males, suka tiba-tiba bingung sendiri karena alur pikiran saya rada abstrak. Tau-tau udah tersesat entah kemana, trus gak tau harus traceback kemana.

Kalo ngliat fenomena kaya gitu jadi mikir. Kayak seakan-akan otak saya ada di ujung lidah. Banyak ide tapi sulit mengungkapkannya. Si otak selalu lari lebih cepet dari lidah sampe-sampe si lidah ketinggalan dibelakang. Ada yang baca gak ya? Kasi respon dunks…..!!

True Colors

Di sebuah channel TV lokal Bandung tadi sore gw nonton rekaman live accoustic performance dari Phil Collins (mmm… entah sih, ato genesis ya…?). Pas kebetulan baru banget nyalain TV, dan lagu yang dibawain judulnya True Colors. Sedikit penggalan lagunya “show me your true colors, thats why I love U….. bla bla bla”, yang walo gak ngerti-ngerti amat kayaknya sih kurang lebih temanya adalah tentang bagaimana keberagaman menjadi sesuatu yang harus kita syukuri dan apresiasi. Langsung aja inget sama isu pluralisme yang sering di gembar-gemborin sama anak liberal.

Bicara soal keberagaman, berbagai sudut pandang dan latar belakang telah mengakui bahwa keberagaman yang kita temukan dalam hidup ini merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dan potensi yang maha dahsyat. Anugerah tak ternilai karena tanpa adanya keberagaman, kita sebagai manusia dengan berbagai kekurangannya tidak dapat saling melengkapi. Potensi maha dasyat karena keberagaman memungkinkan kita untuk menciptakan kombinasi dan probabilitas yang tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan, menyebabkan hidup kita misterius dan penuh kejutan.

Bayangkan jika kita diciptakan dengan pola pikiran yang sama, latar belakang sama, watak yang sama…. betapa membosankan dunia. Tidak akan ada perdebatan dan diskusi yang seru, rapat yang dinamis, bahkan tidak ada sebutan baik-buruk, cantik-tampan-jelek, pintar-bodoh-lemot karena semuanya sama. Bayangkan jika ada suatu problem yang harus dipecahkan, semua berpikir ke arah yang sama. Bagaimana jika itu jalan buntu? Bisa-bisa jawaban ato solusi dari masalah itu gak akan pernah ditemukan.

Dalam ilmu biologi, diversitas menyebabkan kita survive dan dapat beregenerasi hingga hari ini. Kromosom kita yang jumlahnya dari dulu segitu-gitu aja (46 biji) menyimpan entah berapa banyak kombinasi yang unik yang membuat manusia tidak ada yang identik dengan manusia yang lain. Setiap orang menjadi memiliki berbagai temperamen, imunitas yang beragam terhadap berbagai macam penyakit, berbagai ukuran tubuh yang begitu unik. Bayangkan jika tinggi setiap orang sama! Betapa tidak serunya permainan basket.

Dalam ilmu manajemen terutama jika berkaitan dengan manajemen SDM, keragaman manusia menjadi suatu keuntungan sekaligus kesulitan tersendiri. Terdapat berbagai tipe pekerja dengan keterampilan dan keahlian yang khas sehingga dapat mengisi suatu posisi yang memiliki kriteria spesifik. Negatifnya kualitas pekerja beragam, karakter psikologisnya unik sehingga treatmen bagi tiap pekerja beragam dan tidak mudah di generalisir. Tapi dalam teori yang sangat fundamental dalam ilmu manajemen yaitu teori Taylor, pada dasarnya keragaman karakteristik orang adalah potensi yang memungkinkan terjadinya suatu pembagian kerja yang optimal karena setiap orang dapat diposisikan sesuai spesifikasi dan kekhasannya masing-masing. Hal ini secara filosofis merupakan hakikat dari Teamwork yaitu kesatuan kerja yang setiap elemen didalamnya dapat saling melengkapi sehingga tercipta suatu capaian kinerja optimal.

Hukum dan aturan kemudian menjadi suatu faktor penting agar suatu keragaman dapat kita optimalkan sebagai kekuatan bagi suatu komunitas. Hukum dan aturan menjadi suatu bentuk transaksi yang menjamin bahwa kelebihan yang dimiliki seseorang pada suatu aspek tidak berdampak merugikan bagi orang yang kurang dalam aspek yang sama, yang kuat tidak menindas yang lemah.

Sebenernya pengen dilanjutin ke masalah pluralisme vs pluralitas dan fitrah hakiki manusia serta mengapa logika pluralisme itu gak logis tapi gak jadi dimasukin, ntar ajah….

Yu dadah babay…… wassalamualaikum