All posts by ardee

Dosen Blogger vs Dosen Blogger

Dosen Blogger vs Dosen Blogger di Pilkada Bandung

Alhamdulillah, akhirnya setelah bertanya-tanya beberapa minggu ini, akhirnya terjawab sudah siapa yang akan diusung oleh si Bulan Sabit Kembar a.k.a Kupu-Kupu Emas pada pilwakot Bandung 2008 ini. Dan ternyata benar sesuai dugaan saya, Om Taufik (Dr. Taufikurahman, dosen SITH ITB) akhirnya di perkenalkan sebagai calon Walikota Bandung dari Partai Keadilan Sejahtera. Meski belum ada kabar pasti tentang siapa yang akan mendampingi beliau, namun setidaknya sudah ada kepastian bahwa PKS tidak akan mendukung Walikota Incumbent Dada Rosada (inget Tek-tek-dung-dung-tek). Kabar ini juga sekaligus menambah jumlah bakal pasangan calon Walikota-wakil walikota dari kalangan Akademisi Institut Teknologi Bandung setelah sebelumnya pak Arry Akhmad Arman dosen STEI yang juga anggota Laskar Blogger Dosen ITB juga maju melalui jalur independen.

Berhubung pak Taufik paman saya sekaligus dosen saya di SITH, yaa… saya ‘terpaksa’ mendukung beliau. Tetapi siapapun yang saya dukung, saya cenderung mendukung seorang blogger sebagai calon walikota/kepala daerah. Kenapa? Karena saya juga seorang blogger, dan saya menilai sosok blogger memiliki kepekaan lingkungan yang lebih tinggi ketimbang mereka yang jarang menuliskan isi pikirannya dan membaginya kepada orang banyak. Meski mendukung pak Taufik, tetapi saya juga berharap bahwa pak Syinar dan Pak Arry mampu meraih dukungan 80000 suara agar dapat lolos verifikasi sebagai calon independen.

Jika hal ini benar terjadi, maka ada dua dosen blogger yang akan berkompetisi melawan Si Walikota Uzur. Hal ini tentunya memunculkan suatu harapan baru untuk masyarakat bandung secara umum dan blogger Bandung secara khusus. Blogger dengan karakternya sebagai sosok jurnalis independen dan pengusung kebebasan berpendapat setidaknya dapat diharapkan untuk bisa memberi warna baru dalam struktur birokrasi kota bandung ini. Para blogger yang kepekaannya senantiasa terasah dengan mengungkap fenomena lingkungan dan sosial kedalam wujud tulisan yang bebas dibaca orang banyak setidaknya lebih bisa diharapkan akan menghasilkan kebijakan pro-rakyat dan lebih peduli pada agenda pemberantasan korupsi.

Saya sendiri berharap bahwa meski berbagai survei menjagokan Tek Tek Dung Dung Tek untuk kembali menduduki kursi Bandung 1, pilkada kali ini dapat menjadi sarana pencerdasan politik bagi warga bandung. Setidaknya masyarakat bisa diajak lebih berpikir kritis dan tidak pragmatis terhadap nasib politik kota bandung kedepan. Kekecewaan terhadap pemerintahan sebelumnya sah-sah saja, tetapi semoga hal ini tidak membuat masyarakat keburu putusasa dan memilih golput sebagai solusi. Mengutip ucapan seorang ustadz yang juga anggota DPRD kuningan: “Nggak ada jalan lain… Kita nggak bisa terlalu mengharapkan kerjasama dengan mereka (partai-partai korup). Negara ini hanya bisa bersih jika dipegang oleh kalian… Negara ini hanya bisa bersih jika dipegang oleh mereka yang percaya sama neraka dan hari akhir!!“.

Sedikit press release dan kabar seputar pencalonan pak taufik:

Ya Allah, setidaknya…

Akhir-akhir ini saya tiba-tiba takut ketemu jalan raya. Bukan lantaran punya pengalaman dipalak ato trauma karena pernah kena musibah di jalan raya, tapi nggak tau kenapa begitu ada di jalan raya saya langsung inget sama kematian. Bawaannya paranoid aja kalo udah ketemu jalanan semisal mau naik angkot ato nyebrang jalan. Saya sendiri nggak masalah dengan paranoia yang saya rasakan itu, Justru Alhamdulillah malah ada hikmahnya juga ternyata. Sekarang, kalo mo nyebrang jalan, naik angkot, atau turun angkot, Alhamdulillah spontan aja saya mengucap basmalah.

Takut mati sih nggak, cuman sedikit waswas kalo-kalo saya lupa baca basmalah trus terjadi apa-apa. Coba kalo ternyata tiba-tiba saya ketabrak angkot, keserempet truk ato seringan-ringannya nyemplung ke galian kabel. Mending kalo cuma celana robek, kena air comberan, ato ada lecet,luka, ato patah tulang, lha… kalo justru menemui ajal disitu, bisa gawat! Bisa-bisa keancam nggak husnul khotimah… walaupun pernah mesantren 4 taon di pesantren bernama Husnul Khotimah.

Hal ini ternyata kebawa-bawa juga selama perjalanan ke Kuningan dua minggu lalu dan Ciamis ahad kemarin. Diatas Elf (Angkot segede L300) antara tegallega-ciamis basmalah dan istighfar itu spontan aja keucap sepanjang perjalanan. Kebayang kan, gimana rasanya kalo bus ngebut itu ‘goyangannya’ kayak gimana? Nah… berhubung bodinya yang lebih kecil dan manuvernya yang lebih lincah, Elf yang beraksi di jalanan goyangannya kerasa lebih parah lagi. Apa lagi kalo udah lewat tikungan dan si supir ngebut seenaknya, kayaknya nyebut doa safar berulang-ulang serasa kurang apdol.

Campur aduknya perasaan antara mabok-puyeng karena goyangan si Elf dan bayangan kematian yang seakan-akan udah siap menjelang kalo lagi papasan dengan bus ato truk udah sulit dibedain. Tapi mungkin saking udah pasrahnya, rasa takut mati justru udah ilang. Sempet juga ada bayangan-bayangan berkelebat, diikuti pertanyaan

“Ya Allah… aku masih sempet nikah nggak ya?”

Tapi terus tiba-tiba pertanyaan itu berubah jadi permohonan…

“Ya Allah, please dunk… aku mohon banget… Setidaknya berikan aku mati syahid kalau engkau berkehendak aku mati disini…” dan tiba-tiba perasaanku lebih plong walaupun mulutku tetep nggak mau berhenti komat-kamit mengucap basmalah berulang-ulang.

Ternyata pengalaman mengingat maut itu belum berakhir sampe aku turun Elf sodara-sodara! Aku turun di desa Lumbung Sari, Kecamatan Lumbung, Ciamis. Tau nggak pemandangan apa yang pertama aku temui disitu? Ternyata ada yang baru aja meninggal sepertinya baru akan segera dishalatkan sedang aku diturunkan pas didepan masjid desa. Jadi, kesimpulannya… yang pertama kali kulihat adalah keranda mayat yang sedang dibawa oleh rombongan laki-laki diikuti oleh ibu-ibu yang membawa makanan dalam panci.

Sedikit hikmah yang bisa kuambil dari fenomena tersebut, orang desa lebih baik hati ketimbang orang kota. Hah… dapet dari mana tuh kesimpulan? Ternyata begini, kalo di kota, biasanya keluarga yang berduka cita kadang jadi direpotkan dua kali lipat lantaran selain harus mengurus jenazah juga harus menjamu pelayat. Kalo disini… begitu ada yang meninggal, tetangganya langsung melayat sambil membawa makanan kerumah duka untuk dimakan bersama. Setidaknya kulihat hal ini meringankan penderitaan dan kerepotan pihak keluarga yang ditinggalkan.

Sebenernya pengalaman menegangkannya bukan disitu… tapi beberapa saat setelah aku kabur dari kerumunan itu, solat di mesjid yang lain dan tepar ketiduran saking capeknya serta maboknya naik Elf tadi. Si bapak Doli yang jadi alasanku ke ciamis ini ternyata tidak disitu, tetapi sedang berada dikolam yang letaknya di desa yang berbeda. Aku dianter oleh seorang bapak-bapak yang nyaris nggak bisa bahasa selain bahasa sunda ciamis. Bahasa Indonesianya asli terbata-bata secara sah dan meyakinkan. Aku cuma bisa tersenyum dan ber “he-eh… he-eh…”ria sepanjang perjalanan, sambil meringis setiap tikungan yang kami lewati. Halah… gimana nggak? Dengan kondisi jalan penuh tikungan yang mendaki gunung, lewati lembah ala ninja hattori, si bapak itu membawa motornya miring ekstrim kayak Valentino Rossi yang biasa kita liat di tipi-tipi. Ya ampun… Ya Allah… please lah… seenggaknya kalo aku mati… tolong dunk… lurusin niatkuuu! Niatku lurus kan ya Allah? Aku kesini dalam rangka ngurus TA-ku… Jadi please ya Allah… setidaknya matikan aku dalam syahid!!!

Dan ternyata ekspresi kusut dan mabokku ini jelas terlihat sama rombongannya pak Doli. Disitu kulihat Dosen Pembimbingku -Bu Pingkan- serta putrinya yang [sayangnya] masih SMP, Pak Indra Jati (Dosen Sipil yang Eks. Dirjen Dikti), Pak Doli beserta anak istrinya. Mereka sedang melihat kolam tempat uji coba pakan organik untuk ikan. Selain itu ada juga Pak Ajat, Pak Usup dan beberapa petani ikan lokal yang dibina sama Pak Doli. Setidaknya 5 kali aku ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh 5 orang yang berbeda. Pertanyaannya: “Kamu capek yah?”. Berjam-jam kemudian, setelah aku sampe di Husnul Khotimah dan ketemu cermin baru aku nyadar seberapa kusutnya tampangku.

Ngomong-ngomong soal Husnul khotimah, aku jadi inget satu moment zikrul-maut lagi. Kolam ikan dan Rumah Pak doli letaknya ada di desa Panawangan, beberapa puluh kilo dari perbatasan Ciamis-Kuningan. Jarak dari Kuningan yang nggak seberapa jauh (hehehe… belom tau dia…) menerbitkan ide untuk mampir ke Husnul Khotimah dan pulang via jalur Cirebon – Majalengka – Sumedang. Nah… berhubung baru pertama kali  ngejajal daerah sini, aku baru tahu, jalan antara Ciamis-Kuningan itu berkelok-kelok dengan tanjakan yang curam kayak daerah puncak bogor. Aku juga baru tahu kalo supir bus di rute ini ugal-ugalannya minta ampun.

Saat itu sudah sekitar jam setengah 7 malam. Aku yang jadi penumpang ngerasain seakan bus itu lebih cocok disebut ‘ngesot’ ketimbang ‘ngebut’. Saking gedenya gaya sentrifugal (*halah* bener gak ya?) yang sanggup membuat pantatku bergeser kesana-kemari di kursi berderet 3 yang kosong. Udah nggak kepikiran lagi untuk tidur saat itu. Disini, bukan cuma basmalah lagi yang terucap. Setiap tikungan aku mengucap istighfar berulangkali. Ya Allah… seenggaknya kalau memang aku nggak sempet mendapatkan bidadari dunia… setidaknya segerakan aku bertemu dengan bidadari akhiratmu ya Allah…

Dan ternyata setelah doa itu ku ucap, aku ketiduran…

[Ambil Hikmahnya Aja] Yos gak pantes jadi Presiden!!

Menyikapi kekalahan tim thomas tadi malam, saya pikir sutiyoso sebagai ketua PBSI dan tentu saja mantan gubernur jakarta memang nggak ada pantes-pantesnya jadi presiden RI… Jadi semoga kekalahan piala thomas ini sudah cukup menjadi warning bagi kita semua untuk tidak percaya pada pendahulunya si kumis baplang yang sekarang mimpin jakarte. Semoga juga pada inget ketika menjelang lepas jabatan tiba-tiba satpol PP melakukan beberapa aksi penggusuran kayak kejar setoran, diantaranya penggusuran sebuah komplek rumah susun di klender (kalo nggak salah). Yah… kalo sampe tuh mantan pangdam jadi presiden, kira-kira siapa aja ya yang bakal kena gusur? Mungkin saya… atau jangan-jangan malah anda. Jadi jangan coba-coba deh milih eks-militer ini.

Blogger Review: Taufikurahmans Park

Nama saya “Taufikurahman”, tiga belas huruf, dengan “k” (bukan “q”), dan satu “r”. Kenapa perlu penekanan demikian ? karena sering saya menjumpai orang tidak tepat menulis nama saya. Lucunya dengan tiga belas huruf bersambung itu, saya menjumpai tidak jarang orang salah menyebutnya, sehingga yang terbaca: “Taifukurahman” ( capek deh…

Begitu kira-kira pak Taufik memperkenalkan dirinya diblognya. Unik juga ceplas-ceplos Dosen yang juga Paman saya ini. Blognya tersebut membahas berbagai hal dari isu lingkungan, kuliah yang di ajarkan hingga masalah politik. Saya sendiri baru sekitar 2-3 bulan lalu mengetahui bahwa beliau juga ngeblog. Pengalaman menggembirakan juga bisa bertemu dosen dengan cara yang berbeda, melalui media blog yang relatif lebih tanpa batas.

Saya ingat, pertama kalinya saya menemukan blog beliau, saya langsung ‘say hi’ dan meninggalkan jejak komentar blog tersebut. Ternyata kunjungan saya tersebut juga dibalas, dan beliau sempat beberapa kali berkomentar di blog ini. Komentar ceplas-ceplos yang hangat dan ringan mungkin bisa menjadi ciri khas beliau. Setidaknya hal itu yang anda temukan dalam tanggapan beliau pada komentar dari para pengunjung blognya.

Sebagai seorang akademisi, beliau sempat menjadi sorotan publik saat dengan tegas mendukung teori Dr. Harun Yahya yang menggugurkan teori Evolusi Darwin. Hal ini kemudian memunculkan sikap pro-kontra dari berbagai pihak. Sikap kontra diantaranya disuarakan oleh Dr. Wildan Yatim dari UNPAD, yang sempat dipublikasikan di koran kompas. Terlepas dari pro kontra tersebut, saya berpendapat bahwa dialektika ilmiah ini sebagai suatu kewajaran dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Baik pendukung darwinian atau harunian masing-masing memiliki argumennya sendiri, yang bukan tidak mungkin, seiring berkembangnya IPTEK dimasa depan, salah satu diantaranya akan digugurkan oleh yang lain, atau justru bisa saja tumbang oleh teori yang lebih mutakhir.

Isu lain yang beliau soroti diantaranya seputar konsep utopis PLTSA yang diusung sang Walikota Incumbent Dada Rosada (khas sunda sekali, namanya berirama ‘Tek-Tek-Dung-Dung-Tek’ seperti juga Cecep Suracep, Maman Surahman, Toto Kasmanto, Dodol Surodol, dll). Isu ini juga mengundang kontroversi setelah tiba-tiba saja di sudut-sudut jalan muncul spanduk yang mengklaim dukungan warga bandung terhadap rencana aneh Pemkot (sebenarnya rencananya atau pemkotnya yang aneh?) tersebut. Lucunya, spanduk-spanduk itu terlihat seragam dan hanya berbeda wilayah warga yang di klaim. Propaganda yang aneh dari si Incumbent.

Beliau yang saya kenal juga cukup concern pada isu seputar politik kepemerintahan. Ketua KALAM (Keluarga Alumni Salman ITB) regional Jabar (Bandung) ini ikut menyoroti masalah pengelolaan pasar tradisional diwilayah bandung yang beliau nilai dikesampingkan oleh pemkot yang terlihat lebih pro terhadap perkembangan supermarket dan mall yang berpotensi mematikan para pedagang kecil. Selain itu, pembina asrama mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri regional Bandung ini juga memperhatikan masalah pendidikan, diantaranya biaya masuk sekolah yang kian melambung di ibukota Jawa Barat ini.

Sedikit sebagai penutup tulisan ini, ada satu tulisan ayah dari 4 putri dan 1 putra ini yang ingin saya kutip. Gaya membungkus cerita yang ringan untuk isu calon independen pada pilkada bandung yang akan segera berlangsung cukup unik untuk disimak. Berikut kutipannya:

Bagaimana kalau semua calon independen tersebut ternyata bisa memenuhi persyaratan mengumpulkan tanda tangan dukungan dan fc KTP para pendukungnya sebanyak 3 % dari total populasi Bandung yang 2,4 juta jiwa, yakni sekitar 60-70 ribu dukungan ? Itu tentunya sebuah jumlah yang lumayan banyak euy… Bila hal tersebut terjadi, wah heboh juga ya, pilkada pertama di Indonesia yang mengikut sertakan calon perorangan diiikuti oleh sebanyak 35 pasang calon… “gubrak” ! Sejauh ini sih baru ada satu pasang yang sudah meng-claim sudah mengantongi 70 ribu pendukung… hebat euy.

Jika jumlah calonnya buanyak (more than sekedar ‘banyak’), kebayang kertas suara yang akan dibuat akan buegitu luebar dan puanjang (remember: luebar x puanjang = luuuuas !) seperti pemilu partai yang lalu dan mugkin juga yang akan datang…. kasihannya aki-aki jeung nini-nini nu bakal ripuh ngalipet kertas suara di bilik nu leutik saukuran kandang itik atawa kikirik atawa jangkrik 🙂  halah…. capek dech !

Saya nggak bisa menahan tawa saat membaca tulisannya ini. Walaupun saya nggak bisa ngomong sunda selain nanaon, punten, nuhun dan sejenisnya, tapi tulisan ini cukup ngena untuk menggambarkan bahwa akan sangat merepotkan jika ternyata pilkada kali ini terlalu penuh (sekali lagi TERLALU PENUH) dengan calon independen.  Bisa dibayangkan bagaimana lueeeeebar dan puaaaaannjangnya kertas suara yang harus di sediakan KPUD agar semua calon tersebut muat.

Indrie…

Pagi ini bermula nyaris biasa-biasa saja. Sama seperti hari-hari biasa, aku telat shalat subuh karena ketiduran abis witir. Halah, niatnya nambah pahala malah bablas. Setelah rutinitas pagi, mengejar nasi goreng salman yang berakhir dengan kegagalan, akupun beranjak bersiap akan kekampus. Aku mampir sebentar kemasjid, disitulah aku menerima sms dari ninda yang isinya mengabarkan bahwa pagi ini akan ada aksi. Aku segera beranjak ke gerbang, dan benarlah… jas almamater sudah mulai terlihat disana-sini.

“Akh, antum ikut aksi ya… ” Gilang segera menyambarku.

“Oke lah, tapi saya nggak bawa jas almamater euy…” jawabku, malasku segera hilang saat itu juga.

“Gampang lah, kita ada cadangan kok.” jawabnya kemudian.

Saat itu rombongan baru beberapa belas orang. Aku sebenarnya sudah nggak sabar menunggu. Berhubung sebenarnya agak gatel juga, kangen turun kejalan seperti Kabinet era Tove, Anas dan Anam. Sambil menunggu aku mencari bahan obrolan dengan beberapa orang, dan… Iyan pun datang. Akhirnya kita kembali bicara masalah Akreditasi untuk ikut DM2 KAMMI. Aku sih sebenarnya udah nyerah, berhubung besok deadline akreditasinya. Aku bilang kedia bahwa aku berencana ikut DM2 di kamda Jakarta saja.

Tiba-tiba…

“Pharao!!” seorang wanita yang suaranya kukenal tiba-tiba memanggilku.

“Indriiii…!!” Aku berteriak nggak percaya dengan siapa yang kulihat.

Indrie, ya… Indrie, salah satu teman terdekatku saat SMA dulu (lihat “Cerita Tentang Vie“). Penampilannya nyaris masih sama seperti dulu saat kami berpisah setelah SPMB. Ia kuliah di seberang pulau, kampus UNILA jurusan Kimia. Sudah nyaris 5 tahun kami tidak bertemu, aku kehilangan kontak sama sekali dengannya. Bahkan pada suatu kesempatan di masa liburan kudatang ke rumahnya, aku tidak dapat bertemu karena liburan itu ia tidak pulang kampung. Sama sekali nggak kami sangka-sangka, setelah selama ini, justru akhirnya kami bertemu di sini… Dikampusku… di Institut Teknologi Bandung.

Ah… setelah sekian lama, Indrie yang kukenal masih seperti dulu. Harus kuakui ada saat-saat dimana memori saat kami bersama di Moonzher kembali muncul, membuatku ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa tanpa beban dimana Aku, Tora, Yuni, Erni dan Indri masih berkumpul bersama, ngerjain tugas kelompok bersama, bikin yell-yell konyol bersama, cerita tentang gebetan ato artis idola masing-masing. Dan satu hal yang masih membekas adalah lagu-lagu westlife yang menjadi favorit indrie. Aku jadi ikutan hafal walaupun sejujurnya aku tidak terlalu menyukai boyband.

Tiba-tiba semua kenangan itu kembali menyeruak seakan terpanggil oleh sosoknya itu. Ia telah lulus dari studi S1-nya. Sekarang ia sedang mendaftar untuk mengambil S2 di kampusku yang super duper keren ini. Meski penampilannya masih nyaris sama seperti dulu, kami masing-masing telah tumbuh di dua lingkungan yang berbeda. Alhamdulillah, aku kembali ‘terjerumus’ dalam pelukan cinta dan ukhuwah di lingkar-lingkar halaqah, setelah selama 3 tahun di SMA hal itu menjadi suatu hal yang hilang dari hidupku. Belum banyak hal yang bisa kueksplorasi dari pengalamannya sepanjang 5 tahun ini. Aku hanya bisa berharap ia dapat lulus seleksi pendaftaran pasca sarjana, sehingga dapat melanjutkan studinya di sini.

Entahlah… aku tidak dapat mendeterminasikan bagaimana perasaanku secara persis saat kelas 1 SMA dulu. Beberapa teman lain juga menganggap bahwa hubungan kami terlalu dekat jika hanya sebatas teman. Meski begitu, backgroundku yang mesantren semasa MTs dulu memberikan sekat yang tidak ingin kulewati. Namun jujur, secara manusiawi sesuatu yang lebih dalam dari sekedar pertemanan sempat muncul tahun pertama kami sekelas. Walaupun begitu, as far as I know, kami berdua sama-sama menganggap bahwa kami hanya teman biasa saja.

Pada pertemuan tadi pagi tak banyak yang bisa kami obrolkan, hanya sedikit tentang kabar teman-teman kami, cerita soal adiknya yang kini di Seni Rupa ITB, cerita soal ibunya yang melihat sosokku sedang berkeliaran dikampus serta tak lupa bertukar nomor HP. Darinya Aku mendapat kabar terbaru soal salah satu teman kami dulu… Erni menikah!! Kuingat ia sempat bilang: “Gile nih, temen-temen gue udah pada nikah, gue aja sampe sekarang belom ada pacar.” Aku cuma bisa tersenyum datar mengingat apa yang ku jalani sekarang, bingung.

“Lo mo datang gak Rao?” tanyanya.

“Yah, gue sih pengennya dateng Drie. Tar lo calling2 gue lah, biar kita barengan kesananya.” jawabku.

Dan penggalan percakapan itu menjadi akhir perjumpaan kami. Perjumpaan yang membawaku pada perenungan panjang tentang masa lalu, hari ini dan masa depan. Semua hal yang kini masih tersimpan sebagai misteri dibalik kehidupanku yang berjalan entah akan kemana.

Finding My Own Edensor 1

Nggak nyambung-nyambung banget sama judulnya sih. Habis shalat jumat ini tiba-tiba jadi inget Edensor, seri ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang sekarang jadi salah satu bacaan paling berpengaruh di dunia sastra indonesia. Ya, inget gimana aku kehilangan kontak dengan Indrie 5 tahun ini mengingatkan aku dengan perjalanan ikal menemukan si… (haduh gw lupa) pacarnya yang dulu.

Ada sedikit (sedikiiiiiiit banget) kemiripan antara kisah keliling eropanya si Ikal denganku. Bedanya aku bukan keliling eropa, tapi keliling ke seantero dunia internet ditemani dukun paling sakti saat ini… Mbah Gugel. Misinya satu, menemukan kembali kontak dengan teman-temanku semasa SMA dulu, terutamanya si Indrie dan tentu saja Vie.

Dan akhirnya setelah pencarian selama 5 tahun ini, kenyataannya aku bukan menemukan mereka (kecuali Tora, yang ternyata tumbuh jadi mahasiswa-doyan-aksi sama sepertiku) tetapi menemukan kesimpulan lain dari pencarianku itu. Aku menemukan cinta yang berbeda dari apa yang kupahami semasa SMA.

Aku menemukan definisi sahabat yang berbeda dari apa yang kutemukan di masa-masa konyol kelas satu SMA. Di kampus ini pula aku menemukan ketertarikan terhadap sosok-sosok bidadari seperti Senja, Embun dan Pelangi, yang begitu jauh berbeda dari sosok Vie yang ku mimpi-mimpikan dulu.

Di kampus ini aku menemukan Edensorku…
Saudara-saudara baru yang mengenalkan aku dengan jatidiriku sebagai seorang muslim yang utuh
Yang tak henti mengingatkanku saat aku beranjak rapuh dan luluh karena kealpaanku sebagai manusia
Uluran tangan yang hangat menjabat erat tanganku yang hampir menyerah dalam keputusasaan
Jiwa-jiwa yang tidak beranjak mati walau badai menghempas mereka di retas jalan ini

Disini kutemukan kembali Edensorku…
Dunia yang dulu begitu akrab memelukku diantara sepinya malam yang menusuk dan raka’at-raka’at yang hening
Pagi yang senantiasa cerah disambut oleh hiruk-pikuk para santri mengejar dhuha disela jam-jam sekolah
Siang yang garang ditengah rutinitas mencuci, makan, bermain bola atau sekedar bercanda ria…
Sore yang kembali cerah menyapa seperti dulu saat aku masih menghafal ayat-ayat dari lisan yang terbata-bata

Dikampus ini kutemukan kembali… hangatnya Tarbiyah…

Gundah…

Tuhan, lapangkanlah dadaku agar selalu ada ruang untukku meletakkan harapan
Bahwa hanya Engkaulah tempatku dapat berharap….
Bahwa rencana Mu akan senantiasa menjadi pilihan terbaikMu bagiku…

Tuhan sisakan sedikit rongga lagi agar aku tetap dapat menjernihkan hati
dari prasangka yang senantiasa menghantui…
Membayangi langkah-langkah saudara ku di sudut mataku…

Senja, Embun, dan Pelangi

Senja… Embun… dan Pelangi…
Menanti hari berseri…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Siapakah yang akan kutemui…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Mencari-cari hakikat dibalik misteri…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Tak kunjung terjawab, namun terus kumenanti…

Kemilau jingga emas sang mentari
disenja hari yang mengiris hati
Seakan mustahil tuk termiliki
Terlalu menyilaukan pupuskan nyali

kebersahajaan sang embun pagi
hadirkan setitik kehidupan disini
Temani luluh berkalang sepi
Hadirkan harapan kembali

Warna-warna sang pelangi
bawakan pesona ceria disini
enyahkan gundah setelah gerimis pergi
kucoba raih namun terlalu tinggi

Akankah ini akan selalu jadi misteri
Perjalanan kisah pencari jati diri
Merengkuh harapan menggapai bidadari
Sebagai epilog meraih Sang Cinta Sejati

[And I still try… to find my own ‘Edensor’]

“Out Of My Mind” of Duran Duran

“Out Of My Mind”

Light a candle
Lay flowers at the door
For those who were left behind
And the ones who’ve gone before
But here it comes now
Sure as silence follows rain
The taste of you upon my lips
The fingers in my brain
Ever gentle as it kills me where I lay
Who am I to resist?
Who are you to fail?

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you what’s left to believe in?

And I could be so sorry
For the way it had to go
But now I feel your presence
In a way I could not know
And I wonder
Do you ever feel the same
In whispering darkness
Do you ever hear my name?

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

How could you dare
To become so real
When you’re just a ghost in me

And I’ve got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

Here in the back of my mind
Deep in the back of my mind

Lagu ini jadi OST dari The Saint versi movie, yang dibintangi Val Kilmer sebagai Simon Templarnya. Sekali lagi, just karena aku suka lagu eighties dan juga Duran Duran, lagu ini langsung nempel begitu diputer pas ending Film yang tayang tadi malam itu. Liriknya, ngepas juga dengan feeling aku sekarang, terutama bagian…

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

Melupakan sesuatu yang tidak ingin kita lupakan…

Banner dukungan Calon Independen

Sedikit utak-atik banner yang semoga ada manfaatnya dalam pensuksesan pasangan independen SYNAR untuk dapat lolos verifikasi dalam pemilihan walikota Bandung. Banner ini dibuat sebagai dukungan PRIBADI dan tidak mengatasnamakan komunitas atau golongan tertentu. Blogger ITB for CaWalKot Bandung!

<a href=”http://bandungindependen.wordpress.com/”><img class=”alignnone size-medium wp-image-376″ title=”pilkada1″ src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/uploads/pilkada1.jpg” alt=”” width=”192″ height=”85″ /></a>

<a href=”http://bandungindependen.wordpress.com/”><img class=”alignnone size-medium wp-image-377″ title=”pilkada2″ src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/uploads/pilkada2.jpg” alt=”” width=”192″ height=”85″ /></a>

<a href=”http://bandungindependen.wordpress.com/”><img class=”alignnone size-medium wp-image-378″ title=”pilkada3″ src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/uploads/pilkada3.jpg” alt=”” width=”192″ height=”85″ /></a>

<a href=”http://bandungindependen.wordpress.com/”><img class=”alignnone size-medium wp-image-379″ title=”pilkada4″ src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/uploads/pilkada4.jpg” alt=”” width=”192″ height=”85″ /></a>

<a href=”http://bandungindependen.wordpress.com/”><img class=”alignnone size-medium wp-image-380″ title=”pilkada5″ src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/uploads/pilkada5.jpg” alt=”” width=”192″ height=”85″ /></a>