Category Archives: curhat

Indrie…

Pagi ini bermula nyaris biasa-biasa saja. Sama seperti hari-hari biasa, aku telat shalat subuh karena ketiduran abis witir. Halah, niatnya nambah pahala malah bablas. Setelah rutinitas pagi, mengejar nasi goreng salman yang berakhir dengan kegagalan, akupun beranjak bersiap akan kekampus. Aku mampir sebentar kemasjid, disitulah aku menerima sms dari ninda yang isinya mengabarkan bahwa pagi ini akan ada aksi. Aku segera beranjak ke gerbang, dan benarlah… jas almamater sudah mulai terlihat disana-sini.

“Akh, antum ikut aksi ya… ” Gilang segera menyambarku.

“Oke lah, tapi saya nggak bawa jas almamater euy…” jawabku, malasku segera hilang saat itu juga.

“Gampang lah, kita ada cadangan kok.” jawabnya kemudian.

Saat itu rombongan baru beberapa belas orang. Aku sebenarnya sudah nggak sabar menunggu. Berhubung sebenarnya agak gatel juga, kangen turun kejalan seperti Kabinet era Tove, Anas dan Anam. Sambil menunggu aku mencari bahan obrolan dengan beberapa orang, dan… Iyan pun datang. Akhirnya kita kembali bicara masalah Akreditasi untuk ikut DM2 KAMMI. Aku sih sebenarnya udah nyerah, berhubung besok deadline akreditasinya. Aku bilang kedia bahwa aku berencana ikut DM2 di kamda Jakarta saja.

Tiba-tiba…

“Pharao!!” seorang wanita yang suaranya kukenal tiba-tiba memanggilku.

“Indriiii…!!” Aku berteriak nggak percaya dengan siapa yang kulihat.

Indrie, ya… Indrie, salah satu teman terdekatku saat SMA dulu (lihat “Cerita Tentang Vie“). Penampilannya nyaris masih sama seperti dulu saat kami berpisah setelah SPMB. Ia kuliah di seberang pulau, kampus UNILA jurusan Kimia. Sudah nyaris 5 tahun kami tidak bertemu, aku kehilangan kontak sama sekali dengannya. Bahkan pada suatu kesempatan di masa liburan kudatang ke rumahnya, aku tidak dapat bertemu karena liburan itu ia tidak pulang kampung. Sama sekali nggak kami sangka-sangka, setelah selama ini, justru akhirnya kami bertemu di sini… Dikampusku… di Institut Teknologi Bandung.

Ah… setelah sekian lama, Indrie yang kukenal masih seperti dulu. Harus kuakui ada saat-saat dimana memori saat kami bersama di Moonzher kembali muncul, membuatku ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa tanpa beban dimana Aku, Tora, Yuni, Erni dan Indri masih berkumpul bersama, ngerjain tugas kelompok bersama, bikin yell-yell konyol bersama, cerita tentang gebetan ato artis idola masing-masing. Dan satu hal yang masih membekas adalah lagu-lagu westlife yang menjadi favorit indrie. Aku jadi ikutan hafal walaupun sejujurnya aku tidak terlalu menyukai boyband.

Tiba-tiba semua kenangan itu kembali menyeruak seakan terpanggil oleh sosoknya itu. Ia telah lulus dari studi S1-nya. Sekarang ia sedang mendaftar untuk mengambil S2 di kampusku yang super duper keren ini. Meski penampilannya masih nyaris sama seperti dulu, kami masing-masing telah tumbuh di dua lingkungan yang berbeda. Alhamdulillah, aku kembali ‘terjerumus’ dalam pelukan cinta dan ukhuwah di lingkar-lingkar halaqah, setelah selama 3 tahun di SMA hal itu menjadi suatu hal yang hilang dari hidupku. Belum banyak hal yang bisa kueksplorasi dari pengalamannya sepanjang 5 tahun ini. Aku hanya bisa berharap ia dapat lulus seleksi pendaftaran pasca sarjana, sehingga dapat melanjutkan studinya di sini.

Entahlah… aku tidak dapat mendeterminasikan bagaimana perasaanku secara persis saat kelas 1 SMA dulu. Beberapa teman lain juga menganggap bahwa hubungan kami terlalu dekat jika hanya sebatas teman. Meski begitu, backgroundku yang mesantren semasa MTs dulu memberikan sekat yang tidak ingin kulewati. Namun jujur, secara manusiawi sesuatu yang lebih dalam dari sekedar pertemanan sempat muncul tahun pertama kami sekelas. Walaupun begitu, as far as I know, kami berdua sama-sama menganggap bahwa kami hanya teman biasa saja.

Pada pertemuan tadi pagi tak banyak yang bisa kami obrolkan, hanya sedikit tentang kabar teman-teman kami, cerita soal adiknya yang kini di Seni Rupa ITB, cerita soal ibunya yang melihat sosokku sedang berkeliaran dikampus serta tak lupa bertukar nomor HP. Darinya Aku mendapat kabar terbaru soal salah satu teman kami dulu… Erni menikah!! Kuingat ia sempat bilang: “Gile nih, temen-temen gue udah pada nikah, gue aja sampe sekarang belom ada pacar.” Aku cuma bisa tersenyum datar mengingat apa yang ku jalani sekarang, bingung.

“Lo mo datang gak Rao?” tanyanya.

“Yah, gue sih pengennya dateng Drie. Tar lo calling2 gue lah, biar kita barengan kesananya.” jawabku.

Dan penggalan percakapan itu menjadi akhir perjumpaan kami. Perjumpaan yang membawaku pada perenungan panjang tentang masa lalu, hari ini dan masa depan. Semua hal yang kini masih tersimpan sebagai misteri dibalik kehidupanku yang berjalan entah akan kemana.

Senja, Embun, dan Pelangi

Senja… Embun… dan Pelangi…
Menanti hari berseri…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Siapakah yang akan kutemui…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Mencari-cari hakikat dibalik misteri…

Senja… Embun… dan Pelangi…
Tak kunjung terjawab, namun terus kumenanti…

Kemilau jingga emas sang mentari
disenja hari yang mengiris hati
Seakan mustahil tuk termiliki
Terlalu menyilaukan pupuskan nyali

kebersahajaan sang embun pagi
hadirkan setitik kehidupan disini
Temani luluh berkalang sepi
Hadirkan harapan kembali

Warna-warna sang pelangi
bawakan pesona ceria disini
enyahkan gundah setelah gerimis pergi
kucoba raih namun terlalu tinggi

Akankah ini akan selalu jadi misteri
Perjalanan kisah pencari jati diri
Merengkuh harapan menggapai bidadari
Sebagai epilog meraih Sang Cinta Sejati

[And I still try… to find my own ‘Edensor’]

“Out Of My Mind” of Duran Duran

“Out Of My Mind”

Light a candle
Lay flowers at the door
For those who were left behind
And the ones who’ve gone before
But here it comes now
Sure as silence follows rain
The taste of you upon my lips
The fingers in my brain
Ever gentle as it kills me where I lay
Who am I to resist?
Who are you to fail?

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you what’s left to believe in?

And I could be so sorry
For the way it had to go
But now I feel your presence
In a way I could not know
And I wonder
Do you ever feel the same
In whispering darkness
Do you ever hear my name?

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

How could you dare
To become so real
When you’re just a ghost in me

And I’ve got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

Here in the back of my mind
Deep in the back of my mind

Lagu ini jadi OST dari The Saint versi movie, yang dibintangi Val Kilmer sebagai Simon Templarnya. Sekali lagi, just karena aku suka lagu eighties dan juga Duran Duran, lagu ini langsung nempel begitu diputer pas ending Film yang tayang tadi malam itu. Liriknya, ngepas juga dengan feeling aku sekarang, terutama bagian…

Got to get you out of my mind
But I can’t escape from the feeling
As I try to leave the memory behind
Without you, what’s left to believe in?

Melupakan sesuatu yang tidak ingin kita lupakan…

Ada Angkringan di Balubur

Serius, sampe kemarin aku kenal ‘angkringan’ cuma sebatas istilah. Sepanjang yang aku tahu, ngangkring itu adalah gaya jualan nasi yang khas dari daerah jogja/solo. Sego kucing, sate telur puyuh, teh jahe, dan gorengan jadi menu khas yang diusung pedagang bergerobak ini. Itupun karena Kamil sering cerita pengalamannya jalan-jalan ke daerah jawa bagian selatan. Ndenger ceritanya yang berapi-api itu sebenernya bikin aku penasaran. Sayang sekali, terakhir kali kita backpacking kliling jateng kita nggak sempet mampir di solo/jogja di waktu yang tepat. Kudengar pedagang angkringan biasa mangkal dari sore hingga dini hari. Karena nggak berhasil ngejajal makan di tenda angkringan itu, aku bertekad (Halah…) bahwa aku harus jalan-jalan lagi ke jogja, mmm… mungkin sebelum lulus.

Kamil pun juga sempet ku todong, secara dia bertanggungjawab mengenalkan angkringan itu padaku. Karena sebenarnya aku juga sekadar ketularan hobi jalan-jalan dari dia, akhirnya kita janjian untuk jalan-jalan ke jogja pertengahan tahun ini (tapi entah kapan…). Setidaknya sekali lah… sebelum punya ‘buntut’ (keluarga, red.). Tapi ternyata aku nggak perlu nunggu saat itu, kemarin aku nemu pedagang angkringan di sekitar pasar Balubur, jalan Tamansari, Bandung.

Semalam nggak sengaja liat beberapa angkatan muda (Elri 05 dkk. ~jleb… semakin ngerasa uzur dikampus~) lagi makan di tenda gerobak. Baru sekali itu aku liat tenda gerobak ini. Awalnya aku kira tukang jamu, tapi masak si Elri nongkrong di tukang jamu? Penasaran, aku datangi mereka. Dan gerobak itu penuh dengan gorengan, bungkusan-bungkusan nasi dengan porsi tidak manusiawi (ya iyalah… namanya juga sego kucing… ~nasi dengan porsi bangsa kucing~), sate telur, sate ati dan teko-teko alumunium besar. Firasatku (Halah…) ini tukang nasi angkringan. Selama beberapa belas puluh detik aku terbengong-bengong masih gak yakin. Aksi bengong itu ternyata memancing mereka ikut bengong ngeliatin aku.

“Kenapa mas?” seorang anak sipil 06 tiba-tiba bertanya padaku yang melotot (bisa ya aku melotot) nggak yakin.

“Iii…ini angkringan ya?” tanyaku sambil nunjuk-nunjuk kemeja. Alah… pertanyaan konyol, aku agak keki juga. ::bego

“Iya mas…, emang kenapa gitu?” sahut temennya Elri.

“Ah enggak…” jawabku sok cool sambil langsung duduk di tempat yang kosong.

Sebenernya aku belum berencana makan disitu, tapi ya… sudah lah, sudah keburu duduk. Akhirnya aku nyomot dua bungkus nasi sambel (yang ternyata berisi secuwil bandeng), perkedel jagung, dan sate ati. Trus aku pesen juga segelas gede teh jahe karena penasaran dengan aromanya. Ternyata porsi segitu belum ngepas, dan akupun nambah sebungkus nasi oseng dan bakwan sebagai pamungkas. Memang sih, walaupun nuansa jogjanya kerasa banget, harganya nggak ikutan kena imbas. Total, aku habis Rp. 8000 dengan rincian sebungkus nasi 1500, gorengan 500, sate ati 1500 dan teh jahe 1000. Yah… setidaknya rasa penasaranku ngerasain angkringan sudah lumayan berkurang, walopun aku masih tetep pengen ngerasain wisata kuliner murah khas jogja.

::sip

Kenapa kita harus [tetep] pake sofware bajakan (2)

Sedikit tanggapan dari tulisan Mas Suprie dan Mas Andrie:

“Kurang setuju !!!. Sumberdaya IPTEK saya rasa bebas saja di komersialisasikan, banyak koq produk open source yang komersial, sebagai gantinya mereka memberikan support dan garansi, klo gak komersial, bagaimana Kuli – kuli IT kaya saya mencari duit”

Sepakat… sampai batas2 tertentu. Tentu saja orang berhak untuk mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup dari hasil kerja kerasnya… tapi Korporasi macam Microsoft beda cerita. Mereka menempatkan kita sebagai user dan diposisikan senantiasa sebagai pihak yang tergantung pada mereka.
Seperti juga orang nulis buku, saya sepakat dengan konsep royalti sampai dibatas bahwa royalti tersebut bisa membuat si penulis dan keluarga bisa tetep hidup (earn for living) sehingga si penulis bisa fokus menghasilkan karya2 baru untuk masyarakat. Tapi jika kemudian ada pengerukan keuntungan berlebihan (sekali lagi ‘berlebihan’) yang membuat hanya segelintir masyarakat yang bisa mengakses ilmu pengetahuan, dan kreasi iptek tersebut jadi barang mewah, menurut saya itu sudah melanggar hak dasar manusia. Konsep opensource dan GPL berusaha untuk mereduksi eksklusivitas ilmu pengetahuan itu, dan saya SETUJU. Bagi saya, yang saya tolak itu korporasinya!

“Iya, karena itu gunakan lah Free / Open Source Software !!! karena dengan software opensource, negara kita dapat bersaing dalam bidang IT, tidak ada ide yang di kunci, semua terbuka dan bisa di pelajari. Bisa saja kita mendirikan perusahaan IT yang support ke produk Open Source, seperti hal nya Linux. Memakai bajakan bukan nya jalan menuju negara yang dapat mandiri. Jika kita ingin negara yang mandiri, melepaskan diri dari Vendor Lock , makanya mulai mengembangkan software Free / Open Source Software adalah salah satu jalannya, dan jika kita masih memakai produk mereka, walaupun bajakan, kita masih bergantung pada mereka.”

Ya… sepakat. Tapi, sejujurnya kita harus mengakui untuk beberapa kebutuhan, ada yang belum dapat tergantikan/tersubtitusi oleh software2 tersebut. Saya ambil contoh penerbitan buku, saya belum menemukan padanan untuk software semacam pagemaker atau InDesign. Padahal sumber literatur/informasi lokal merupakan kebutuhan utama agar taraf pendidikan negeri ini maju. Parahnya lagi , masih banyak masyarakat kita yang belum melek internet sehingga literatur hardcopy masih tidak tergantikan. Kalau kita ‘taat’ lisensi komersil, hanya segelintir penerbit yang bisa menerbitkan buku di indonesia ini. Akibatnya yang terjadi adalah monopoli didunia penerbitan dimana segelintir penerbit tadi dapat sesuka mereka menentukan harga buku di pasaran.

“Saya rasa itu hanya lah pembenaran dari pembajakan. Kita sama – sama tahu, klo kita pake barang haram, apa pun bentuk nya tetap haram, dan pembajakan adalah pencurian. Itu sama saja jika ada orang yang mencuri dari rumah kita, lalu pencurinya bilang, “ah orang itu cukup kaya koq, mereka masih bisa membeli barang yang lain”, tapi tetap saja judul nya pencuri. Karena kita merujuk pada perbuatan bukan alasan. Ingat!!, walaupun dalam bentuk apapun dan alasan apa pun, di agama apa pun, mencuri adalah dosa hukumnya.”

Saya menganalogikan membajak (khusus software komersil, BUKAN kekayaan intelektual semacam multimedia) bukan sebagai mencuri… tetapi merebut kembali ‘kemerdekaan’ kita (ngh… oke lah, saya..!! hehehe) yang terampas oleh komersialisasi software tersebut oleh korporat Microsoft Cs itu. Mungkin cuma paranoia saya saja jika kondisi ini saya anggap sebagai konspirasi Negara-negara maju (Neo Liberal) untuk tetap menjadikan negara ketiga senantiasa ada di bawah ketiak mereka…
Ok, bagi rekan-rekan yang cukup melek koding dan akrab dengan bahasa pemrograman masalah tersebut ‘not a big deal’, tapi bagi orang awam semacam saya dan ~entah berapa puluh juta~ masyarakat Indonesia yang lain, It’s a big deal. Kalo produk [software] bajakan itu nggak bisa kita akses, mau kapan kita beranjak dari zaman batu?

“Ada baiknya jika kita menuduh seseorang atau sesuatu kita harus bisa juga memberikan fakta, bukan dugaaan atau asumsi. Maka saya tidak mau ikut – ikutan poin yang terakhir karena saya juga belum punya bukti yang mendukung ataupun yang menyangkal. Saya usahakan selalu memakai produk Free Open Source Software , karena itu adalah pilihan saya, jika saya ingin menggunakan produk – produk proprietary saya usahakan yang legal.”

Ok, nyerah… saya juga nggak yakin dengan logika saya itu kok. So, saya salah dan menunda statement saya itu sampai ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Terimakasih atas responsnya…
Senang berdialektika dengan anda…

::Sok ::gigi ::gigi ::cewek ::cewek ::Sok

Ardian Perdana Putra

Blogger Keadilan Sejahtera… just an iseng banner!

Akhir pekan kemarin iseng iseng bikin desain beberapa banner sekalian mempraktekkan tutorial yang saya pelajari. Tutorial dari majalahnya comlabs ITB itu membahas tentang cara bikin button yang berkilau glossy kayak tampilannya window vista pake Corel X3. Trus kepikiran bikin banner iseng seperti tertera dibawah ini. Biar nggak dibilang melakukan operasi klaim-klaiman, disini saya coba sampaikan asalnya kenapa sampe kepikiran bikin banner ini.

Jadi ceritanya gini, sebagai Homo bloggerensis subspesies Narciscii, cuap-cuap dan celotehan saya di blog ini sebelumnya bisa dibilang agak nggak ke kontrol. Suka nyebut-nyebut sembarangan, nggak sopan ke yang lebih tua, yang setelah saya pikir-pikir (puaaaaannjjjaaaaaaaang) kadang nggak pantes. Makanya kemudian saya memutuskan ingin memperbaiki diri. Caranya adalah bikin resolusi untuk diri sendiri. Isi resolusinya adalah “ingin menjadi blogger muslim yang Peduli, Kritis dan Santun“.

Penjabaran poin-poinnya seperti ini:

  • Peduli disini artinya jadi blogger yang peka terhadap lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Nggak cuma sekedar jadi blogger narsis yang sibuk mikirin diri sendiri (jleb… kok gw banget ya?).
  • Kritis artinya nggak cuma sekedar peduli dan ‘menolak dengan hati‘ (kayak pernah denger slogan yang mirip deh… hehehe) kalo ada sesuatu yang nggak beres. Kritis disini harapannya, aku sebagai blogger juga bisa bertindak dengan lisan dan perbuatan.
  • Nah… satu lagi, Santun artinya dalam mengekspresikan diri, berkreativitas dan mengungkapkan kekritisan, ada nilai-nilai etika yang dijaga agar jangan sampai bikin orang sakit perut… apa lagi sakit hati.

Yeah… nggak ada yang sempurna dimuka bumi ini, namanya juga belajar. Tapi kalo nggak meniatkan diri untuk berubah, kapan lagi mau memperbaiki diri. Kita kan cuma disuruh untuk berusaha dan terus berusaha. Masalah hasil… itu ada faktor x yang menentukannya, yaitu kehendak Allah.

Niatku awalnya banner ini aku buat untuk pribadi lho. Tapi sengaja kubikin banyak macem, biar kalo bosen bisa ganti sesukanya. Tapi trus aku dapet ide lain, kalo bisa dipajang semua di blog mungkin bisa bermanfaat buat blogger lain. Siapa tahu ada yang berniat bikin resolusi sejenis buat dirinya masing-masing. Makanya kemudian aku buat semua logo ini bisa dipajang dalam satu posting berikut dengan kode htmlnya biar memudahkan orang untuk copy-paste ke dalam blognya.

Walaupun begitu, sebenernya ada satu hal yang aku takutkan. Yaitu saat ada yang masang, cuman tujuannya nggak baik, yaitu bikin ulah yang mencemarkan citra partai yang masih kupilih karena masih istiqomah dengan kejujuran dan kesantunan kadernya dalam berpolitik. Oleh karena itu aku menetapkan syarat buat mereka yang tertarik untuk memasang banner ini di blog masing-masing. Syarat ini wajib diikuti sebelum anda memutuskan memasang banner ini.

Syarat-syarat:

  • Blogger indonesia, apapun latar belakang suku, daerah dan agamanya, rajin posting min. 1 bulan 1 posting (tulisan sendiri).
  • Blog yang dipasangi banner tidak didominasi iklan (proporsi artikel harus lebih banyak dari iklan), dan mayoritas postingannya merupakan tulisan si pemiliknya, bukan BLOG COPY PASTE.
  • Bersedia memperbaiki diri menjadi seorang blogger yang Santun, Kritis dan Peduli seperti definisi diatas.
  • Bersedia menjaga citra positif yang dimiliki PKS sebagai lembaga (Karena dibanner ada logonya) dan tidak menyalahgunakan banner ini untuk tujuan propaganda negatif dan fitnah dengan mengatasnamakan PKS.
  • Bersedia memberikan janji tertulis untuk menaati persyaratan ini dalam bentuk komentar di artikel ini. Janji menggunakan nama asli (bukan nickname) dan email yang valid.
  • Persyaratan dapat berubah sesuai kebutuhan dan pertimbangan kemaslahatan orang banyak.

Saya nggak bisa memblokir blog anda jika anda tidak menaati poin-poin diatas. Tapi saya berhak untuk memamerkan Blacklist orang-orang yang menyalahgunakan banner ini.

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/BKS1.png" alt="" /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks-keren.png” alt=”” width=”191″ height=”113″ /></a>


<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks2.png” alt=”” width=”191″ height=”120″ /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks3.png” alt=”” /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks4.png” alt=”” /></a>

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks5.png" alt="" /></a>

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloksV2.1.png" alt="" /></a>

Soulmate

Soulmate

[Markaz, 27 jan 2008; “Semoga Allah berkenan mempertemukan kita di surganya…”]

Sebuah hari diawal 2005

“Assalamualaikum Akhi…” sebuah suara memanggilku dari selasar kantin Salman. Kulihat seorang ikhwan berkacamata, dengan jaket Gamais coklat muda menghampiriku. Aku lupa-lupa ingat apakah aku pernah berkenalan dengannya.

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb.” kujawab salam itu dengan sedikit ragu. Tapi aku segera ingat bahwa beberapa waktu sebelumnya aku bertemu dengannya di acara briefing peserta sebuah daurah yang akan segera berlangsung.

“Eh, kalo D*** jadinya kapan sih?” tanyanya dengan akrab.

Masyaa Allah… nih anak, dengan seenaknya menanyakan hal itu di tempat umum seperti ini” batinku.

“Antum gimana sih, kan besok berangkatnya…” jawabku heran. Kok bisa ya dia nggak tau.

Respon berikutnya benar-benar membuatku terbengong-bengong, tiba-tiba saja dia tertawa ngakak tanpa dosa seperti anak kecil sama sekali tidak peduli dengan dimana kami berada saat itu.

Sebut saja Insan, seorang mahasiswa seangkatanku asal jakarta dengan logat betawi medok. Aku hanya mengenalnya sekilas saja di daurah itu. Sedikit kesan yang melekat di benakku, ia adalah figur yang kocak dan easy-going dalam melihat sesuatu. Hal ini cukup mencairkan suasana antar peserta yang kaku pada hari pertama. Kami memiliki kesamaan dalam beberapa hal, diantaranya sama-sama sulit dibangunkan saat giliran hirosah/jaga malam. Selain itu kami sama-sama ada di ‘barisan paling depan’ dalam mengejar jajanan disekitar lokasi daurah. Maklumlah, badan kami yang sama-sama ber‘porsi’ besar tidak tercukupi dengan makanan yang disediakan panitia. Sayangnya, sepulangnya dari daurah dia segera harus dirawat dirumah sakit karena masalah pencernaan.

Setelah daurah itu, tak banyak hal yang kutahu soal beliau. Kami hanya saling bertegur sapa saat berpapasan. Aktivitasku di kemahasiswaan dan beliau di Gamais membuat kami jarang bertemu.

[ … ]

Pertengahan 2005

Awal tahun ajaran baru telah datang. Dari seorang rekan yang ada di YPM Salman aku mendapat kabar bahwa akan dibuka pendaftaran anggota baru di asrama Salman. Kebetulan orangtuaku memberi ‘warning’ untuk mencari tempat kost yang semurah mungkin karena kebutuhan keluarga yang cukup banyak diawal tahun ajaran baru itu. Tanpa membuang waktu lagi aku segera mendaftar dan melengkapi prosedur. Aku yakin bahwa prasyarat minimal seleksi masih dapat kupenuhi walaupun untuk masalah akademik IP-ku pas-pasan.

Saat itu aku sedang harus fokus di persiapan OSKM dimana aku menjadi koordinator di salah satu tim. Kostku jarang kutempati karena selalu menginap dikampus. Saat itulah aku melihat bahwa keberadaan tempat tinggal yang dekat dengan kampus menjadi sebuah kebutuhan. Dan asrama salman adalah lokasi ideal sesuai kriteriaku itu.

Proses seleksi berjalan agak terlambat, padahal batas waktu habisnya sewa kostku telah lewat. Maka untuk sementara sebagian besar barang-barangku kutitipkan di salah satu sekretariat unit di gedung kayu. Aku mandi di kamar mandi masjid dan menginap dimanapun yang memungkinkanku untuk menginap seperti di himpunan atau di gedung kayu. Saat itulah akhirnya aku mendapat kabar bahwa namaku terdaftar dalam calon penghuni asrama dan diperbolehkan untuk mulai memasukkan barang ke asrama. Segera kupindahkan barang-barang yang sempat mengundang komplain dari anggota unit itu.

Kegembiraanku tidak berlangsung lama. Adanya perubahan prasyarat dari YPM menempatkanku pada posisi sulit. IP-ku yang pas-pasan membuatku tidak memenuhi rumusan prasyarat yang baru. Aku menjadi ‘tunawisma’ untuk yang kedua kalinya dan sekali lagi jadi penghuni gelap di gedung kayu.

Aku bingung karena sudah terlanjur bilang ke orangtua mengenai diterimanya aku masuk asrama. Saat itulah aku bertemu kembali dengan Insan yang segera menjadi sasaran curhatku yang bingung mencari tempat tinggal. Saat itu juga dia langsung menawarkan tempat tinggal sementara di kontrakan yang ia sewa bersama rekan-rekan ikhwah di Pelesiran. Aku belum juga terlalu akrab dengan beliau saat itu. Bahkan saat itu pertemuan kami setelah sekian lama tidak berpapasan di Salman.

Tanpa pikir panjang aku segera mengiyakan tawaran itu. Segera barang-barangku yang memenuhi bioter kupindahkan ke ‘Markaz’. Aku memang tidak mendapat kamar disana, tapi bagiku yang sudah berhari-hari tidur ala kadarnya di Salman, tidur diruang tengah sudah lebih dari cukup. Aku kadang tidur di karpet dengan jaket tebal peninggalan Ospek, terkadang pula aku tidur disofa rotan reot yang tidak seberapa lebar, yang membuatku harus melipat badan. Ramadhan tinggal dalam hitungan hari, sehingga bagiku saat itu lebih baik daripada harus menghabiskan Ramadhan dalam gedung kayu.

Tak lama kemudian Insan memutuskan pindah ke sebuah asrama, dia menawarkan kamarnya dilantai dua untuk kutempati bersama ikhwan yang lain. Aku akhirnya membayar beberapa ratus ribu untuk sekedar pengganti sisa masa kontraknya itu. Beberapa saat tinggal disana membuatku mengenal rekan-rekan baru secara lebih intens disana.

[ … ]

Januari 2006

Kata orang, kalau ingin mengenal lebih jauh tentang seseorang maka kita dapat melakukan perjalanan dengannya, makan bersama dengannya atau menginap bersamanya. Karena kami satu kontrakan, aku dan ikhwan yang lain jadi saling tahu lebih jauh satu sama lain. Tapi tidak ada yang lebih akrab denganku selain Insan. Dari interaksiku selama beberapa bulan, kami jadi lebih saling terbuka tentang masalah masing-masing. Kesamaan dalam masalah kestabilan amalan yaumian dan hubungan dengan lawan jenis jadi satu hal yang justru membuat kami bisa saling mengingatkan. Kami jadi tahu rahasia masing-masing yang tidak diketahui ikhwan yang lain. Kami sadar bahwa masalah-masalah itu adalah qadhaya bagi jama’ah, tetapi justru karena kesamaan-kesamaan itulah kami lebih mudah untuk saling menasehati dalam mengatasi kekacrutan masing-masing.

Pernah selama beberapa minggu aku jarang pulang ke Markaz, masalahnya adalah lagi-lagi ada pemberlakuan wajib tilawah bagi seluruh penghuni kontrakan. Aku seyakin-yakinnya yakin bahwa maksud dan tujuannya adalah bagi kemaslahatan dakwah sendiri. Ini masalah tarbiyah ruhiyah kami sebagai seorang Akh. Tetapi aku disisi lain merasa terganggu dengan sistem aturan semacam itu. Melihat jauh kebelakang, semasa dipesantren dulu pun, aturan yang ketat justru semakin membangkitkan semangatku untuk melawan aturan tersebut. Aku memang bukan tipe orang yang senang diatur.

Begitu pula dengan tahfidz dan mabit. Aku cenderung resisten dengan ajakan yang bersifat memaksa dari Rio, Andi, dan Angga. Kalau sudah begitu, apapun alasannya aku akan menolak, walaupun resikonya beberapa hari selanjutnya komunikasi antar kami akan kaku tidak akrab seperti sebelumnya. Toh kemudian kekakuan itu segera menghilang seiring waktu yang membuat kami lupa kejadian-kejadian itu.

Hal ini jauh berbeda dengan kondisi jika Insan yang bicara padaku, atau sebaliknya. Dalam beberapa kepanitiaan, aku berkerja dalam tim yang sama dengan beliau. Tak jarang kekonyolan-kekonyolan yang muncul dari kami berdua membuat kami semakin akrab. Terkadang memang ada sesi pundung-pundungan, tetapi taklama kami berdua akan segera bermaaf-maafan. Inilah mengapa kami bisa lebih menerima nasehat satu sama lain. Mengenai tilawah, hubungan ikhwan-akhwat atau hal-hal lainnya.

Dalam sebuah kepanitiaan daurah, aku pulang ke Markaz diantar Insan. Waktu itu baru saja terjadi insiden ceroboh yang sempat membuat kami ngakak berdua diatas motor. Aku harus berganti baju karena akan kekampus, sedangkan ia akan menjemput seorang ustadz di Kebon Kembang. Sebelum kami sampai dirumah, kami makan bubur di tempat langganan Insan sewaktu masih di Pelesiran.

“Eh Ar… kayaknya seru juga ya kalo ntar kita udah punya anak cucu, trus kita cerita-cerita soal pengalaman-pengalaman konyol kita waktu jadi panitia daurah kayak gini.” ujarnya sambil mulai menyantap bubur itu.

“Iya sih San, tapi…” aku terhenti sejenak, “masalahnya apa mungkin ya kita masih tetep dijaga (oleh Allah) untuk tetap istiqamah disini… (di jama’ah). Lo tau lah, kondisi tilawah gue kayak gimana.”

“Eh Ar… masalah tilawah mah kita sama-sama kacrut. Tapi serius lho Ar… walopun amburadul, menurut gue yang penting rutinnya.” ucapnya sambil menyambar kerupuk. “Gini-gini… jujur ya Ar… walopun jarang juga gue bisa nyampe sejuz sehari, tapi gue tetep ngusahain banget tilawah walopun cuma 1-2 lembar”.

“Masalahnya dirumah nggak kayak gitu San…” ucapku sambil menghabiskan suapan terakhir, “Gue lagi males pulang ke Markaz, soalnya selalu aja langsung ditodong soal tilawah sama anak-anak.” ujarku sebelum akhirnya memesan satu mangkok lagi.

“Gue setuju sih… emang seru seandainya kita semua bisa kumpul lagi pas udah punya anak-cucu. InsyaAllah banyak cerita sepanjang aktivitas kita di ITeBe. Tapi… nggak ada yang bisa ngejamin kita bakal tetep ada gabung di dakwah selepas dari kampus.” aku melanjutkan kembali sarapan kloter kedua ku.

“Ya… selepas dikampus sih nggak ada dari kita yang tahu Ar. Akupun pernah sekali-dua kali terpikirkan untuk keluar dan lepas…”

“Heh… gue jitak lo kalo sampe insilakh…” potongku setengah bercanda sebelum sempat dia melanjutkan ucapannya.

“Lha… kalo lo yang lepas, gimana?” balasnya sambil ikut memesan satu porsi lagi.

“Ya… lo jitak gue lah…” jawabku asal sambil tetap asyik dengan buburku.

“Lho… kalo kita berdua lepas gimana?” sambarnya nggak mau kalah.

“Ya… udah, kita jitak-jitakan…” sahutku yang segera di sambut tawa kami berdua.

Nggak kerasa. Kita sudah sama-sama ditahun terakhir. Sama-sama berjuang untuk segera nyemplung ke arena dakwah yang baru dan lebih Riil di masyarakat. Aku dan Insan sama seperti dulu, masih dengan candaan-candaan khas kami. Semakin banyak kisah dan obrolan konyol yang kadang-kadang masih saja nyerempet ke topik lawan jenis. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan yang ada, ternyata kami masih disatukan dalam panji yang sama… Insya Allah… bersama doa yang tulus, semoga tetap sama-sama istiqamah hingga ajal menjemput… Sehingga Allah mempertemukan kembali kami dan semua ikhwah lainnya di Surganya kelak. Amin…

Allahumma innaKa ta’lam, Annnahadzihil Quluub… Qad ijtama’at ‘ala mahabbatika, Waltaqqat ’ala Tha‘atika, Wa tawahhadat ‘ala Da’watika, Wa ta’ahadat ala nasyrati Syari’atika, Fawatsiqillahumma rabithatahaa… Wa adimmuddahaa… Wahdiha subulaha… Wamla’haa binuurikalladzi laa yakhbuu… Wasyrah shuduuraha bi faidzil iimaani Bika… Wajamilit tawakkuli ‘Alaika… Wa’ahyiha bi Ma’rifatika…Wa’amithaa ala SYAHADATI fii sabiilika… Innaka ni’mal maulaa wa ni’mannashir…

Wassalam….

*Admiring Senja*

Nb: Insan, Rio, Andi dan Angga adalah karakter nyata yang disamarkan (walaupun kemungkinan tetap dikenali siapa orangnya)

masak memasak….. yu……

Cooking with Feeling and Heart

[Markaz, 28 Mei 2007; “Padahal besok ujian….jam 7”]

Klo ada pertanyaan, “Aktivitas apa yang berkaitan dengan campur-mencampur dan butuh kecermatan, tapi gak pake rumus?”, kira-kira apa jawabannya? Kalo saya akan spontan menjawab masak!!. Ya, memasak…. suatu aktivitas yang umum dilakukan kaum hawa, tapi herannya maestronya mayoritas adalah pria. Bukan diskriminasi gender yak…. ini mah fenomena umumnya kayak gitu.

Bicara soal masak memasak, sebenarnya udah lama pengen nulis tentang tema ini. Udah pernah sih, nulis resep sup krim klo gak salah 1,5 tahun yang lalu. Tapi sekarang mungkin tulisannya akan lebih bebas karena sebenarnya yang ingin dibahas adalah memasak sebagai hobby dan “penyakit keturunan”. Hehe, serem gitu malah jadinya…. abis gimana dong, klo diliat dari keluarga Ibu, dari buyut, eyang putri, ibu, sodara-sodaranya ibu banyak yang pinter masak.

Yang paling keren itu eyang putri ku lho…. beliau itu hebat, begitu sederhana, dan dengan keahlian tangannya uang datang begitu saja tanpa terlalu “ngeyel” berusaha….. Saking pinter dan diakuinya racikan tangan beliau, pesanan catering itu dateng tanpa diundang lho. Sampe-sampe eyang yang malah kerepotan, karena dengan semakin banyak pesenan berarti harus sedia alat produksi skala besar.

Dari “rezeki yang gak diundang” itu tanpa terlalu disadari sejumlah anak-anaknya kini telah mapan dengan pendidikan yang cukup tinggi. Minimal S1… beberapa bisa menlanjutkan lebih dari itu dengan usaha mandiri anak-anaknya. Memang sejak kecil mereka dididik disiplin masalah uang karena merasakan hidup di masa sulit transisi antara Orla dan Orba.

Balik lagi ke masak memasak, ayahku juga dapat dikatakan gemar memasak. Bukan karena hobby, tapi tuntutan keadaan. Sekarang beliau tak lagi bekerja, sedangkan ibu masih menjadi PNS di BATAN. Karena itulah kemudian, sejak kami tidak memiliki pembantu otomatis ayah lah yang memasak, karena ibu harus bekerja. Tapi bukan berarti kami sekeluarga jadi “kelinci percobaan” untuk masakan ayah lho….. Sedikit banyak ayah juga sudah punya skill masak sejak lama.

Dulu pun dari masak-memasak lah orangtua ku mendapat sumber penghasilan tambahan entah sekedar membuat keripik singkong, kering tempe, kacang bawang atau yang lain. Dan kayaknya “hoby usil ngacak-ngacak dapur” itu paling sukses menurun pada ku….. Eksperimen pertamaku adalah saat SD, bisnis pertama ku adalah jualan popcorn yang ku goreng sendiri (dengan bantuan Ortu tentunya). Usaha ini kandas karena kepala sekolahku mengharuskan jajanan di titipkan dikantin dengan bagi hasil tertentu. Aku memutuskan untuk tidak jualan lagi, dari pada harus seperti itu karena sebenarnya keuntungannya tidak seberapa.

Saat di pesantren pun dapur Ponpes jadi sasaran keusilanku saat terutama kamis malam, yang menjadi “malam minggu”nya anak pondok. Karena esoknya libur beberapa dari kami memilih begadang, kadang mencari makanan didapur atau bikin nasi goreng. Dasar santri, yang namanya nasi goreng itu adalah nasi yang digoreng dengan bumbu “saaya-ayana wae”, apapun yang bisa jadi bumbu, ya.. dibuat bumbu. Entah itu terasi, kecap, cabe kriting, garam, ato malah gula merah sekalipun. Kalo soal rasa….. yah, silahkan dibayangkan sendiri lah….. tapi buat perut laper, apapun terasa enak apalagi buatan sendiri.

Seiring berjalannya waktu skill-skill dasar memasak sih udah ada ditangan, sekarang hanya masalah seberapa berani berkreasi. Karena dari apa yang telah aku jalani dan pelajari, yang namanya masak itu bukan praktikum kimia!! Gak ada rumus bakunya…. yang ada adalah permainan sense, feeling and heart. Awalnya mungkin kita belajar dari resep, tapi kemudian pas ato tidaknya rasa masakan ada di ketajaman feeling kita, bukan di resep. Yang harus digaris bawahi disini adalah karena lidah dan hidung orang berbeda-beda, jadi wajar jika kemudian seleranya pun berbeda.

Selain itu, sebenarnya ada kesamaannya antara memasak dengan riset/penelitian. Persamaannya adalah kita tidak boleh gampang menyerah saat gagal. Karena dari masakan yang gagal kita tahu dimana kesalahan dan kelemahan kita. Nantinya dengan sendirinya feeling untuk mencapai citarasa terbaik itu muncul dengan sendirinya.

Aku punya prinsip, “gagal/berhasilnya eksperimen masakan kita, itulah karya kita yang harus kita pertanggungjawabkan. Maka sudah menjadi konsekuensi si pemasak untuk makan hasil masakannya”. Jadi segagal apapun masakan yang aku buat, aku selalu mempush diri ku untuk makan masakan itu, seberapa gak enak pun hasilnya…. gosong? Ah biasa… Keasinan…. kepedesan…. ato gak ada rasanya…. sudah jadi resiko.

Dari prinsip itu hikmah yang bisa diambil adalah, kta didorong untuk semakin menghargai makanan, sehingga pada kesempatan selanjutnya kita jadi berusaha keras untuk tidak gagal. Karena bagaimanapun, kita patut banyak bersyukur masih dapat makan makanan tersebut disaat dibagian dunia lain ada orang yang tidak seberuntung kita misalnya karena bencana kelaparan, perang, atau kemiskinan.

Sebenarnya ingin lebih panjang lagi, tapi beberapa jam lagi aku ujian, jam 7. Sedangkan sekarang sudah lewat tengah malam, hampir setengah satu. Jadi sebaiknya ku akhiri disini…. tar setelah ujian dan urusan lain, coba aku sambung lagi….. mungkin dengan resep masakan ato hasil eksperimen ku yang sukses. Karena gini-gini dibeberapa kesempatan hasil masakan ku cukup diapresiasi oleh rekan-rekan, salah satunya Gulai Sapi yang kubuat saat acara makan-makan diasrama turki (tempatnya kamil).

Wassalam….

Sunset’s Admirer

kembali…-(gak ada judul)

1 Mei 2007


Gundah itu datang lagi… dan entah sampai kapan

Entah sampai kapan ku katakan ucap ini

Setiap kata sekejap berubah tak berarti

Tak ada yang terungkap kecuali sepi

Ingin hati ini berteriak, menghunjam caci maki

Menampar dengan setiap hujat yang tersisa

Asa ini berteriak, berontak tak ingin diingkari

Aku ingin kembali…. satu ucap terulur janji

Kucemburu pada rona merah mentari senja

Yang tak henti bersinar hingga akhir senja

Saat kutatap langit ia masih saja tersenyum

Walau gelap malam segera menutupinya

Wahai senja, ku ingin bertanya….

Adakah secuil lelah yang menghalangimu sejenak saja?

Adakah luka redupkan sinarmu sekejap saja?

Senja….. sejuta kata takkan pernah punya arti

Ku hanya ingin berteriak, “kembali!!”

Entah akan kah punya arti

Ku hanya ingin berteriak, “kembali!!”

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Bulan kemarin adalah bulan dimana aku paling rajin posting. Setelah sekian lama berhenti posting, ada berbagai hal yang mendorong ku untuk mulai kembali menulis. Seperti aku bilang beberapa saat lalu, kadang ide begitu mudah datang. Kadang seperti banjir yang melanda jakarta, deras walau tidak diundang. Tapi ada saatnya aku sulit sekali menyelesaikan satu tema secara utuh. Sepertinya untuk diriku sendiri hal ini harus ku analisis, di-troubleshooting, karena kupikir aku harus sedikit demi sedikit belajar untuk konstan menulis apapun kendala yang akan aku hadapi.

Aku coba berkaca pada blog seorang teman. Dibandingkan dengan dirinya jelas aku tidak ada apa-apanya. Aku coba berhitung frekuensi tulisannya dan kudapati rata-rata 3 koma sekian posting per bulan. Bukan angka yang besar, tapi patut digarisbawahi KONSTAN. Aku coba membayangkan tentang bagaimana seorang jurnalis profesional menulis. Mereka pasti dituntut untuk dapat menulis bagaimanapun kondisinya. Apakah sedang moody atau rileks, tuntutan profesi akan mendorong mereka untuk dapat mewartakan kebenaran plus melibatkan emosional serta keberpihakan mereka pada kebenaran itu agar orang bisa merasakannya dan pesan yang diharapkan bisa tersampaikan.

Bayangkan bagaimana jika suatu saat ia mogok menulis, menurunkan artikel. Padahal ada suatu isu yang masyarakat secepatnya harus tahu, kasus korupsi misalnya. Jika berita itu tidak segera sampai ke publik momennya akan hilang. Reaksi masyarakat tidak cukup massif untuk membuat si penjahatnya plus aparat mendapatkan tekanan. Kalau ternyata si wartawan berada dalam posisi kunci, dimana ia memiliki data paling lengkap dibandingkan wartawan lainnya, bisa-bisa sang koruptor sudah keburu berkelit dan kasus pun tenggelam tanpa penyelesaian.

That just an example…. Tapi sebagai refleksi, sepertinya aku harus berusaha untuk tidak berhenti menulis. Kadang tulisan dapat menjadi tempat diri kita bercermin saat kita tidak bisa bercermin pada diri kita sendiri. Karena ada hal yang bisa jadi kita sembunyikan dari diri kita sendiri. Sesuatu yang kita menolak untuk menerimanya. Saat kita menulis, secara tidak sadar kita bisa jadi menemukan kebenaran yang kita ingkari tersebut dan mengakui sejujurnya kebenaran itu walau pahit. Mmm, berat sih… berat untuk diakui.

Mengenai mengapa menulis di blog, sebenarnya jika diliat dari fenomena sosial sendiri, blog merupakan trend/kultur yang berkembang sebagai suatu pengaruh dari kebebasan mengungkapkan pendapat yang tidak terbendung didunia maya. Tidak ada yang dapat membatasi arus informasi sehingga kemudian dibutuhkan suatu wadah/sarana dimana semua orang bisa menuliskan opininya terhadap berbagai fenomena dalam persepsi mereka secara bebas. Blog menjadi wahana bagi seseorang untuk mewartakan apapun semau mereka kepada siapapun (jika ada yang membacanya) di internet. Blog bagaikan sebuah koran pribadi yang isinya dapat di atur sesuka authornya, yang bisa memasukkan apapun mulai dari surat cinta, sumpah-serapah, perenungan, curhat sampai sampah-sampah yang tidak perlu punya arti sekalipun.

Aku pribadi menjadikan blog sebagai wahana pencurahan daya kreativitas dan tempat berekspresi. Aku nyaris tak peduli ada atau tidak yang membaca blog ku ini, yang penting apa yang keluar dari imajinasi ku, dari otak ku, dari hati ku terdokumentasikan, tidak hilang terbawa angin. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sejujurnya walau tidak berharap banyak akan dibaca orang, aku masih tetap berharap bahwa tulisan yang ku buat selalu punya arti, bukan setumpuk sampah yang memenuhi server belaka. Maka dari itu aku tetap berharap, kalo toh dibaca orang maka ada inspirasi yang dapat diambil, ada hikmah yang bisa dipetik, seminimal-minimalnya orang enjoy dan have some fun saat membaca tulisan-tulisan ku.

Aku tidak seratus persen masa bodo jika tidak ada yang membaca tulisanku. Bagaimanapun blog ini adalah wujud kesepian yang aku ungkapkan. Sejujur-jujurnya aku menyisakan harapan bahwa blog ini di baca oleh seseorang, yeah… that person. Jika tidak ada yang membaca blog ini sekalipun, aku masih berharap dia membacanya. Hmmm, siapa ya…. Let’s put this thing always be a secret.