Akhirnya gw putusin untuk gak make FS blog lagi buat Blog utama gw.
Gw udah dapet soulmate yang pas yang bisa jadi "sarang curhat", aktualisasi ide, sekaligus laboratorium web programming gw. Semua itu jelas gak ada di friendster. Maka dari itu mulai sekarang postingan gw akan semuanya ada di: http://ardee-rao.blogspot.com.
All posts by ardee
Masak itu gak pake Rumus
Masak itu gak pake Rumus
[Markaz, 29 Mei 2007; “Akhirnya ujiannya lancar”]
Lanjutannya masak-memasak….
Ngomong-ngomong soal resep, seperti saya sebutkan sebelumnya tergantung dari si pembuatnya. Karena selera tiap orang berbeda-beda, termasuk juga si juru masak. Sedikit banyak selera si pemasak ikut menentukan mau kemana citarasa dari masakannya. Tetapi kalo konteksnya profesional, maka juru masak yang baik adalah yang bisa memenuhi hasrat penikmat masakannya. Ia harus pandai mengira-ngira kesukaan dari konsumennya tersebut. Dan untuk skala besar, ia harus bisa membuat masakannya untuk tetap punya cita rasa khas tetapi bisa diterima semua lidah.
Aku sendiri sebenarnya sudah beberapa kali punya kreasi yang cukup berhasil. Walau begitu, karena status ku koki amatiran maka kemungkinan aku gak bisa lagi mengulang racikanku dengan rasa yang sama persis. Biasanya aku coba untuk mencatat formulasinya, sayangnya sekarang kebanyakan
telah hilang entah kemana. Sebenarnya gak terlalu masalah, karena bagai manapun dalam memasak yang bekerja adalah feeling. Aku masih bisa mengingat-ingat bahan apa saja yang aku pakai. Tinggal masalah mengira-ngira seberapa banyak dan bagaimana bahan itu dimasukkan.
Aku akan cerita sedikit tentang masakan ku. Salah satu eksperimen yang ku pikir tidak terlalu sulit tapi rasanya lumayan adalah mie goreng bumbu gulai. Karena menggunakan bumbu gulai bubuk sehingga tidak perlu meracik rempah-rempah yang terlalu sulit. Tetapi jangan dikira begitu simpel. Mie goreng ini bukan menggunakan mie instan, tetapi mie telur yang diseduh. Otomatis tidak ada bumbu instan yang tinggal masuk. Bumbu lain yang kugunakan adalah bawang putih, dan kaldu ayam instan. Cara memasaknya benar-benar digoreng, setelah bumbu ditumis, mienya dimasukkan, tambah garam dan kecap.
Waktu itu aku akan berangkat kuliah lapangan, masaknya jam 3 pagi. Karena sebenarnya untuk makan siang dan sarapan, aku coba makan sebagiannya. Tapi karena enaknya aku nambah lagi, lagi, dan lagi. Akhirnya tanggung, kuhabiskan saja dan jadinya aku malah gak jadi bawa bekal.
Kalau percobaan yang cukup rumit mungkin macaroni schotel. Yang karena gak ada oven, aku memasaknya menggunakan rice cooker (agak sedikit ditim/steam). Beberapa bahan yang digunakan diresep pun aku ganti/subtitusi. Dan siapa sangka “kelinci percobaan” ku ternyata kepala gamais (Aji) yang kebetulan datang ke Markaz. Untungnya rasanya enak walaupun bentuknya kurang padat sehingga amburadul.
Kalo masakan paling berkesan mungkin saat di
asrama turki, tempatnya si kamil. Saat itu masih ada daging berkilo-kilo sisa kurban, karena di sekolah Pribadi jumlah kurban berpuluh-puluh sapi. Hari itu rencananya adalah bakar-bakar sate dengan beberapa undangan, semuanya ITB.
Karena dagingnya kelewat banyak dan penuh urat dan lemak maka akhirnya tidak semuanya disate. Kamil minta bantuanku untuk masak buat anak-anak. Akhirnya kuputuskan membuat gulai. Karena dagingnya alot bukan main, prediksiku untuk bisa dipotong kecil-kecil daging itu harus di rebus. Sekalian mengambil kaldunya untuk gulai. Ternyata benar, setelah direbus daging jadi sangat mudah dipotong.
Untuk bumbu, biar gak repot kusuruh kamil membeli santan kotak dan bumbu gulai instan. Bumbu lainnya kumasukkan bawang merah, bawang bombay, tomat. Aku sedikit modifikasi resep gulainya dengan memasak daging terpisah dengan kuah. Daging kubumbui manis dengan kecap, dimasak dengan 1/3 kaldu bersama bawang, merica dan tomat hingga kuahnya habis.
Menurut teori nenekku, dengan begitu bumbu manis tersebut (sebenarnya bumbu semur) akan meresap kedaging dengan sempurna. Sedangkan kuah yang kubuat menjadi kuah gulai akan memiliki rasa pedas-spicy. Perpaduan rasa ini yang aku kejar sebenarnya.
Manis didaging dikombinasi rasa pedas rempah di kuah yang agak kental menghasilkan rasa yang agak berbeda dengan gulai umumnya. Hasilnya? Gulai itu ludes, dan justru agak sedikit kekurangan karena tamunya cukup banyak. Syukurlah, percobaan yang berhasil.
Itulah sedikit tentang petualangan memasakku…
Percobaan terakhirku, aku membuat biskuit goreng. Adonannya tadinya kupikir akan jadi adonan mie telur, tapi justru dengan digoreng jadi mirip biskuit crackers. Sayangnya hasil gorengannya sangat terpengaruh panasnya minyak.Jadinya hasilnya sering agak gosong. Tetapi anak-anak juga suka dan ikut makan kok…. so, cukup berhasil ternyata.
[Five for Fighting: “100 years”, ON]
Wassalam….
Sunset’s Admirer
Memasak? yu…..
Cooking with Feeling and
Heart
[Markaz, 28 Mei 2007; “Padahal besok ujian….jam
7”]
Klo ada pertanyaan, “Aktivitas apa yang berkaitan
dengan campur-mencampur dan butuh kecermatan, tapi gak pake rumus?”, kira-kira
apa jawabannya? Kalo saya akan spontan menjawab masak!!. Ya, memasak…. suatu
aktivitas yang umum dilakukan kaum hawa, tapi herannya maestronya mayoritas
adalah pria. Bukan diskriminasi gender yak…. ini mah fenomena umumnya kayak
gitu.
Bicara soal masak memasak, sebenarnya udah lama
pengen nulis tentang tema ini. Udah pernah sih, nulis resep sup krim klo gak
salah 1,5 tahun yang lalu. Tapi sekarang mungkin tulisannya akan lebih bebas
karena sebenarnya yang ingin dibahas adalah memasak sebagai hobby dan “penyakit
keturunan”. Hehe, serem gitu malah jadinya…. abis gimana dong, klo diliat
dari keluarga Ibu, dari buyut, eyang putri, ibu, sodara-sodaranya ibu banyak
yang pinter masak.
Yang paling keren itu eyang putri ku lho….
beliau itu hebat, begitu sederhana, dan dengan keahlian tangannya uang datang
begitu saja tanpa terlalu “ngeyel” berusaha….. Saking pinter dan diakuinya
racikan tangan beliau, pesanan catering itu dateng tanpa diundang lho.
Sampe-sampe eyang yang malah kerepotan, karena dengan semakin banyak pesenan
berarti harus sedia alat produksi skala besar.
Dari “rezeki yang gak diundang” itu tanpa terlalu
disadari sejumlah anak-anaknya kini telah mapan dengan pendidikan yang cukup
tinggi. Minimal S1… beberapa bisa menlanjutkan lebih dari itu dengan usaha
mandiri anak-anaknya. Memang sejak kecil mereka dididik disiplin masalah uang
karena merasakan hidup di masa sulit transisi antara Orla dan Orba.
Balik lagi ke masak memasak, ayahku juga dapat
dikatakan gemar memasak. Bukan karena hobby, tapi tuntutan keadaan. Sekarang
beliau tak lagi bekerja, sedangkan ibu masih menjadi PNS di BATAN. Karena
itulah kemudian, sejak kami tidak memiliki pembantu otomatis ayah lah yang
memasak, karena ibu harus bekerja. Tapi bukan berarti kami sekeluarga jadi
“kelinci percobaan” untuk masakan ayah lho….. Sedikit banyak ayah juga sudah
punya skill masak sejak lama.
Dulu pun dari masak-memasak lah orangtua ku
mendapat sumber penghasilan tambahan entah sekedar membuat keripik singkong,
kering tempe, kacang bawang atau yang lain. Dan kayaknya “hoby usil ngacak-ngacak
dapur” itu paling sukses menurun pada ku….. Eksperimen pertamaku adalah saat
SD, bisnis pertama ku adalah jualan popcorn yang ku goreng sendiri (dengan
bantuan Ortu tentunya). Usaha ini kandas karena kepala sekolahku mengharuskan
jajanan di titipkan dikantin dengan bagi hasil tertentu. Aku memutuskan untuk
tidak jualan lagi, dari pada harus seperti itu karena sebenarnya keuntungannya
tidak seberapa.
Saat di pesantren pun dapur Ponpes jadi sasaran
keusilanku saat terutama kamis malam, yang menjadi “malam minggu”nya anak
pondok. Karena esoknya libur beberapa dari kami memilih begadang, kadang
mencari makanan didapur atau bikin nasi goreng. Dasar santri, yang namanya nasi
goreng itu adalah nasi yang digoreng dengan bumbu “saaya-ayana wae”, apapun yang
bisa jadi bumbu, ya.. dibuat bumbu. Entah itu terasi, kecap, cabe kriting,
garam, ato malah gula merah sekalipun. Kalo soal rasa….. yah, silahkan
dibayangkan sendiri lah….. tapi buat perut laper, apapun terasa enak apalagi
buatan sendiri.
Seiring berjalannya waktu skill-skill dasar
memasak sih udah ada ditangan, sekarang hanya masalah seberapa berani
berkreasi. Karena dari apa yang telah aku jalani dan pelajari, yang namanya
masak itu bukan praktikum kimia!! Gak ada rumus bakunya…. yang ada adalah permainan
sense, feeling and heart. Awalnya mungkin kita belajar dari resep, tapi
kemudian pas ato tidaknya rasa masakan ada di ketajaman feeling kita, bukan di
resep. Yang harus digaris bawahi disini adalah karena lidah dan hidung orang
berbeda-beda, jadi wajar jika kemudian seleranya pun berbeda.
Selain itu, sebenarnya ada kesamaannya antara
memasak dengan riset/penelitian. Persamaannya adalah kita tidak boleh gampang
menyerah saat gagal. Karena dari masakan yang gagal kita tahu dimana kesalahan
dan kelemahan kita. Nantinya dengan sendirinya feeling untuk mencapai citarasa
terbaik itu muncul dengan sendirinya.
Aku punya prinsip, “gagal/berhasilnya eksperimen
masakan kita, itulah karya kita yang harus kita pertanggungjawabkan. Maka sudah
menjadi konsekuensi si pemasak untuk makan hasil masakannya”. Jadi segagal
apapun masakan yang aku buat, aku selalu mempush diri ku untuk makan masakan
itu, seberapa gak enak pun hasilnya…. gosong? Ah biasa… Keasinan….
kepedesan…. ato gak ada rasanya…. sudah jadi resiko.
Dari prinsip itu hikmah yang bisa diambil adalah,
kta didorong untuk semakin menghargai makanan, sehingga pada kesempatan
selanjutnya kita jadi berusaha keras untuk tidak gagal. Karena bagaimanapun,
kita patut banyak bersyukur masih dapat makan makanan tersebut disaat dibagian
dunia lain ada orang yang tidak seberuntung kita misalnya karena bencana
kelaparan, perang, atau kemiskinan.
Sebenarnya ingin lebih panjang lagi, tapi beberapa
jam lagi aku ujian, jam 7. Sedangkan sekarang sudah lewat tengah malam, hampir
setengah satu. Jadi sebaiknya ku akhiri disini…. tar setelah ujian dan urusan
lain, coba aku sambung lagi….. mungkin dengan resep masakan ato hasil
eksperimen ku yang sukses. Karena gini-gini dibeberapa kesempatan hasil masakan
ku cukup diapresiasi oleh rekan-rekan, salah satunya Gulai Sapi yang kubuat
saat acara makan-makan diasrama turki (tempatnya kamil).
Wassalam….
Sunset’s Admirer
Jika Esok Selalu Berarti Kematian
Jika Esok Selalu Berarti
Kematian
[Markaz, 26 Mei 2007; “Ada atau tiada, resah
itu akan tetap ada”]
Jika esok selalu berarti kematian…. Tidak pernah ada alasan untuk berhenti tersenyum. Tak ada kata henti untuk membuat sekeliling kita tersenyum. Karena mungkin inilah kesempatan terakhir kita untuk meninggalkan kesan terindah bagi orang-orang disekitar kita.
Jika esok selalu berarti kematian…. Tidak pernah boleh ada kata cukup untuk berkarya. Mungkin tak pernah boleh ada kata puas dalam menggores catatan sejarah. Karena mungkin hanya ini waktu yang Allah sisakan bagi kita untuk menjadi pelaku sejarah.
Jika esok selalu berarti kematian…. Tidak pernah ada kesempatan untuk lelah berteriak lantang akan arti sebuah kebenaran. Tak juga untuk sejenak letih mengerang melawan ketertindasan. Karena mungkin hanya itu jalan yang tersisa bagi kita untuk menapak jejak penghuni surga.
Jika esok selalu berarti kematian…. Tidak ada pilihan selain bergegas membenah setiap alpa yang tercecer sepanjang jalan hidup kita. Tidak boleh ada lagi penundaan untuk setiap maaf yang harus terucap. Karena mungkin hanya celah itulah kesempatan untuk memohon keringanan di akhirat kelak.
Jika esok selalu berarti ajal untukku, maka senja harus selalu menjadi akhir terindah dengan pelangi menghiasinya. Setiap gores tulisan ini harus selalu menjadi catatan indah tentang hari-hari yang menakjubkan dalam hidupku. Setiap ucap harus membawa limpahan hikmah yang tak habis-habis dan menjadi inspirasi. Bahwa tulisan ini harus senantiasa membawa senyum bagimu…. siapapun kamu. Karena kuingin setiap tulisan ini berarti sejuta kesan bagimu…. siapapun engkau.
Sayang sekali aku senantiasa lupa bahwa hari ini hari terakhirku, yang seharusnya selalu menjadi hari terindah. Karena itu aku selalu iri dengan senja… yang tidak jua berhenti memancarkan indah walau gelap malam senantiasa mengintainya. Yang seakan senantiasa mengajak untuk tidak berhenti menciptakan pelangi indah bagi dunia. Karena itu aku gundah, Senja…!
Bercermin pada Ketidak-dewasaan
Bercermin pada Ketidak-dewasaan
[Markaz, 27 Mei 2007; “Ya Rabb, jadikan
futurku, bangkitku, tidurku,dan bangunku
hikmah”]
Kali ini aku ingin membahas kembali tentang masalah kedewasaan lagi. Bukan ingin protes atau menggerutu tapi mencoba berbagi hikmah tentang apa yang ku renungkan. Ini tentang keajaiban yang kita sebut “masa kecil”, dan tentang anugerah lainnya yaitu “dewasa”. Dua hal yang sering kita benturkan, seakan-akan sifat childish merupakan “musuh” dari kehidupan sebagai individu dewasa.
Semua itu berawal dari kekuatan dahsyat imajinasi
Pernah kebayang gak seandainya teknologi telekomunikasi gak pernah berkembang, mandeg alat komunikasi kita itu-itu aja. Bayangin gak pernah ada teknologi yang kita sebut GSM, CDMA, GPS, PDA, Wi-fi, atau yang lagi rada booming teknologi Handphone 3G. Bayangin juga seandainya tidak ada laptop atau PC di depan meja kerja kita. Bayangin juga seandainya sampe hari ini hanya ada telegram dan surat sebagai alat kita berkomunikasi antar daerah. Tentunya bagi kita yang sudah terlanjur dimanja dengan teknologi seperti sekarang hal itu serasa mustahil, kayak balik ke zaman batu katanya mah….!!
Kemarin saya baru saja menonton film dokumenter di Metro TV yang keren abis!!! Film itu cerita tentang rahasia dibalik kemajuan teknologi telekomunikasi, yang secara khusus menyoroti Perusahaan Samsung. Film ini keren banget karena merangkum semua yang secara teoritik telah disampaikan pak Gde Raka di Maninov, Pak Joko Siswanto di Sistem MSDM, dan Pak Iwan di Psikologi Industri. Dengan kata lain, film ini isinya TI banget, tapi disini saya hanya akan membahas aspek rekayasa dan inovasinya aja.
Berterimakasihlah pada otak-otak kreatif yang membanjiri industri telekomunikasi dengan ide brilian yang tidak habisnya. Tanpa kita sadari dari “kepolosan” imajinasi mereka, kebebasan pikiran mereka dan terutama gejolak kreativitas yang tanpa batas, hal yang dulunya mustahil kini menjadi nyata dan biasa bagi generasi post-modern ini. Itu semua tanpa kita sadari sebenarnya muncul dari pola berpikir kekanak-kanakan mereka, para desainer produk itu. Contoh kecil itu, plus sederet ilmuwan sekelas Newton, Da Vinci, Ibnu Sina bahkan Einstein sekalipun cukup untuk menjadi suatu alasan bahwa imajinasi kekanak-kanakan bukan suatu pantangan untuk menjadi lebih dewasa.
Harmonisasi sisi dewasa dan kanak-kanak kita
Namun kemudian muncul suatu pertanyaan, lalu mengapa ketidakdewasaan menjadi suatu masalah besar bagi sebagian orang. Mengapa kemudian ia seakan menjadi suatu penyakit yang harus dijauhi. Apa dengan meninggalkan sifat kekanak-kanakan kita akan membantu kita untuk semakin berwatak dewasa? Apakah sifat kekanak-kanakan kita adalah aib yang harus dibuang agar kita dapat menjadi manusia seutuhnya. Atau justru orang yang alergi dengan ketidak dewasaan tadi hanyalah orang dungu berpikiran dangkal yang jauh dari kemauan berkembang.
Sekali lagi menghindar dari menggerutu, kemudian saya pikir justru malah ada hikmahnya Allah memnyisakan sifat ketidak dewasaan dalam pikiran dewasa kita. Justru sifat ketidak dewasaan kita adalah alat kita untuk bercermin menjadi lebih dewasa. Kadang kekakuan pikiran dewasa kita membuat pikiran kita menjadi terlalu rumit dan njelimet dalam melihat masalah. Masalah sekitar kehidupan kita yang ribet itu mungkin saja justru menemukan solusinya dalam imajinasi childish kita yang sederhana, polos dan naif. Terbukti dari studi kasus teknologi HP Samsung diatas.
Tentunya pendapat saya ini bukan suatu keberpihakan terhadap sifat kekanak-kanakan. Justru baik sisi kanak-kanak kita maupun sisi dewasa kita harus berjalan harmonis agar hidup kita menakjubkan. Keduanya sebaiknya kita lihat sebagai dua sisi mata uang yang saling menguatkan satu sama lain. Karena sisi kekanak-kanakan yang terlalu dominan pun membuat kita rapuh terhadap hantaman masalah hidup. Kita akan dengan mudah terombang-ambing dalam imajinasi kita, sehingga saat berbenturan dengan realita yang kontras kita mudah menyerah, stress, depresi.
Karena itulah aku berpikir untuk membahas sisi sebaliknya tentang ketidak dewasaan. Sisi gelap dari perilaku kekanak-kanakan yang dapat mengacaukan kehidupan kita, yaitu sikap reaktif. Suatu kelebihan dari pikiran dewasa kita adalah sistematis, runut dan teratur yang menghasilkan sikap proaktif. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya berlawanan menurut saya, justru dapat berjalan sinergis dan konstruktif.
Gejolak reaktifitas dalam diri kita dapat kita manfaatkan untuk mensimulasikan perilaku kekanak-kanakan kita tanpa menunjukkannya didunia nyata. Hal tersebut mendorong kita untuk sigap berpikir, namun cermat bertindak. Dari simulasi tersebut kita dapat memunculkan pertanyaan bagi diri kita, “jika saya bereaksi begini, bagaimana feedbacknya?”.
Mungkin kesalahan yang saya alami dapat menjadi contoh, yaitu bagaimana saya kurang dapat mengontrol sikap reaktif dalam menghadapi suatu masalah. Hal ini diperparah juga dengan sifat yang agak emosional dalam menyikapi masalah tersebut. Sikap saya tersebut tak jarang berakhir konyol dan memposisikan saya dalam akhir yang memalukan. Kemudian saya sadari bahwa hal tersebut tak perlu terjadi seandainya saja saya tidak menunjukkan sikap reaktif tersebut. Dengan mengeluarkan reaktivitas saya tadi dalam imajinasi saya, maka saya dapat memprediksikan apa dampak negatifnya tanpa harus mengalaminya langsung. Dengan begitu saya dapat lebih berhati-hati dalam bersikap dan dapat merespon dengan tepat atau dengan cara lebih baik (ahsan).
Itulah mengapa saya coba menggunakan kata bercermin dalam judul tulisan ini. Bercermin dapat kita tafsirkan sebagai usaha untuk melihat sisi-sisi diri kita yang kadang luput dari pandangan kita. Begitu pula dengan proses berpikir, khususnya problem solving. Kadang ada
parameter/variabel dari masalah yang kita hadapi yang tidak terlihat oleh kakunya sisi kedewasaan kita. Hal tersebut mungkin saja dapat terdeteksi oleh imajinasi kanak-kanak kita.
Kita tidak perlu sampai berperilaku kekanak-kanakan untuk dapat menggunakan “cermin” tersebut. Cukup mensimulasikannya dalam pikiran kita, yang merupakan potensi utama kita sebagai manusia. Kita dapat memulainya dengan mempertanyakan “jika aku seorang bocah 5 atau 10 tahun, bagaimana aku melihat masalah ini?”. Atau misalnya dengan membiarkan imajinasi kita “bebas berkeliaran” sejenak, keluar dari kungkungan otak dewasa kita yang aus dan kolot. Atau apapun caranya agar kita dapat melihat sisi berbeda dari masalah tersebut yang tidak kita lihat sebelumnya.
Jangan Pernah Berhenti Bermimpi
Sebagai penutup, sebagai sebuah renungan saya ingin mengajak kita berpikir sejenak tentang betapa masa kecil merupakan sebuah anugerah yang tidak pantas kita lupakan. Mungkin pernah kita lihat film anak yang menggambarkan peri yang muncul saat masa kecil namun kemudian menghilang seiring usia yang beranjak dewasa. Begitu pula dengan imajinasi-imajinasi kita, yang bisa dikatakan hampir pasti berisi tentang keadaan dunia yang lebih baik. Jika itu kita miliki saat kecil, maka kita patut bersyukur, karena banyak anak-anak diluar sana tidak seberuntung kita, yang terhimpit trauma perang, bencana atau kemiskinan sehingga tidak lagi memiliki kesempatan punya mimpi.
Berbicara sedikit tentang “dunia yang hilang” saat kita beranjak dewasa. Tanpa kita sadari kedewasaan kadang membuat kita mengorbankan imajinasi kita waktu kecil. Hasilnya potensi besar yang dapat membuat kita merubah dunia jadi lebih baik tiba-tiba saja hilang. Berganti hal-hal rutin, teratur, terstruktur yang membuat kita berpikir linier tentang berbagai hal. Entah ada artinya bagi anda atau tidak, bagi saya berhenti punya mimpi gak berbeda dengan berhenti menjalani hidup. Karena tidak ada lagi sebuah “big deal” yang kita kejar saat itu. Kita berubah tak lebih sebagai mayat hidup yang terkungkung dalam sihir rutinitas keseharian kita.
Setelah kita miliki mimpi itu, selanjutnya adalah bagaimana menggunakan pikiran dan segala effort kita untuk mencapai mimpi itu, tentunya dengan tanpa meninggalkan prinsip hidup yang kita yakini. Karena hanya bermimpi sama saja dengan koma, tidak bergerak, terbuai biusan imajinasi kita sendiri. Mimpi harusnya membantu kita menjadi lebih teguh menghadapi realita hidup. Berani bangkit saat kita diuji dengan keterpurukan dan kegagalan. Semoga kita senantiasa dapat mengambil hikmah dari hidup yang kita jalani ini agar selalu menjadi hamba dan jundi-Nya yang lebih baik.
Admiring SENJA….
Tiba-tiba saja tanya itu ada….
kemanakah engkau senja…. saat gundah menyapa?
Kucoba tuk tidak menyentuh goresan-goresan lama itu….
tapi entah kenapa, tak mudah melupakan sapa hangat cahaya mu
entah kemana engkau senja…. saat tidak satu kata pun terucap?
Runtuh itu menerpaku, menjebakku tak berdaya
bisu…. tak lagi berbicara….
Senja….
tiap ucap akan selalu menjadi percakapan bagi ku
walau entah untuk siapa….
tiap gores yang ku biar terurai jadi tanya…
tetapi sekali lagi, entah untuk siapa….
Ku tetap termenung di sini dan berteriak….
senja, senja, senja….. kemana engkau wahai senja
sampai entah kapan….. entah pada siapa…. entah lah…..
SYEC, Business Plan dan Quo Vadis Technopreneur ITB?
SYEC, Business Plan dan Quo
Vadis Technopreneur ITB?
Beberapa hari yang lalu akhirnya proposal
business plan untuk SYE-Challenge selesai juga. Akhirnya jadi juga nimbrung di
kompetisi ini, padahal sebenernya beberapa minggu yang lalu udah sempet down
dan gak kepikiran lagi ikut SYEC. Emang, gini nih kalo punya otak kreatif tapi
semangat angin-anginan. Kalo lagi punya ide suka gak kira-kira, maksain
Business plan jadi dalam semalam walau harus begadang dijalanin aja.
Ujung-ujungnya besoknya sakit, gejala tifus.
Tapi alhamdulillah, ada berkahnya juga
walopun sempet sakit pas udah deket UAS. Business Plan itu udah lewat 50% dalam
semalam, jadinya agak sayang kalo gak di jadiin sekalian. Bisnis yang dibuat
cukup menjanjikan, jadinya gak mikir panjang lagi langsung aku putusin untuk
dikirim. Kebetulan ditagih juga sih sama panitia, ada early warningnya segala.
SYEC sendiri singkatannya adalah Sampoerna
Youth Economic Challenge, suatu kompetisi Business Plan tingkat nasional hasil
kerjasama Sampoerna Foundation dengan FE UI. Kalo cerita sampe ikut lomba ini
sebenernya setengah koinsiden, gak sengaja liat milis. Kebetulan aku, Luthfi,
dan Sayid udah keburu bikin tim untuk IEC2, sayangnya proposal bisnis yang kami
ajukan gak lolos.
Emang sih, idenya rada sedikit maksain,
ide dari 3 orang disatuin. Ujung-ujungnya emang konsepnya rada ngambang dan aku
sendiri sempet down juga karena konsep itu akhirnya rada mentok di bagian
finansialnya. Cuman kita sepakat untuk ngejar dua kompetisi lagi, SYEC atau
kompetisinya Kokesma. Akhirnya kemudian muncullah ide bisnis sarapan pagi
fastfood. Sebenarnya sayid sama luthfi gak tahu menahu kalo akhirnya tim ini
udah didaftarin. Ide sampe jadi proposal pun bisa dibilang aku buat “sepihak”.
Untungnya respon mereka baik, dan ikut kalo nantinya kita lolos ke babak
selanjutnya.
Kalo liat peta persaingan, alhamdulillah
gak terlalu berat. Hari ini iseng-iseng ngitung kemungkinan lolos ke babak
selanjutnya. Hasilnya lumayan memberikan harapan. Dari 405 tim yang
mencantumkan nama, hanya 45 tim yang akhirnya mengirim proposal bisnisnya. Jadi
pada “level 0”, yang lolos “seleksi” 11% dari 405 tim. Untuk lolos babak
selanjutnya peluangnya 2:5, karena hanya akan ada 18 tim yang ikut babak
pembekalan mulai 8 Juli nanti.
Aku gak terlalu tahu medan, dan gak bisa
ngukur apakah proposal kami kualitasnya cukup bagus dibanding yang lain. Jadi
masih blank posisi kita dalam peta persaingan. Tapi jika ternyata lolos, babak
selanjutnya akan lebih ringan karena persaingannya 9 banding 18, alias fifty :
fifty. At least kalo kami tim terburuk ke-10 dari bawah kita masih lolos ke
babak final yang akan menentukan 3 dari 9 tim yang berhak untuk dimodali usaha.
Aku setengah bingung, setengah optimis.
Aku pengen banget bisnis ini jalan, dengan atau tanpa lolos SYEC. Tapi lebih
baik kalo lolos sih, gak susah nyari modal. Tapi, kalo pun gak, aku punya
rencana untuk tetep jalan dan nyari investor. The problem is, who will be my
team? Aku gak tau siapa aja yang mau total 100% ngejalanin bisnis ini. Hal ini
nambah kusut pikiran aku yang rada terkejut pas liat Cuma ada tim Prespro
Company sebagai wakil ITB di SYEC. Padahal kita punya IEC, tapi kemana calon
interpreneur ITB?
testing link. Trying new site.
<a href="http://technorati.com/claim/muxsequmds" rel="me">Technorati Profile</a>
menunggu (dari masa2 SMU)
Sebuah lagu dari masa-masa putih abu-abu. Entah aku ciptakan kapan, yang
pasti ekspresi dari kesepian yang aku alami dan angan yang melayang entah
kemana. Aku suka lagu ini karena komposisi bass yang aku buat lumayan rame
dibanding laguku yang lain.
Ada
sih yang lebih gila bassnya, “Indah” sama “superhero”, tapi tetep aja
masing-masing punya uniqueness sendiri.
Menunggu
Ku amati sepatuku masih
ditempatnya, belum berubah bersama dengan kakiku
Kupijakkan disini menunggu
waktu… disini kuamati awan putus asa hampiri diriku
Membelai angin berlalu, menunggu
dan tetap kutunggu
Awan indah yang cerah seperti
dulu
Akankah ini berakhir dengan
berlalunya waktu
Saat yang ku harap hanya
dirimu
Reff:
Akankah semua ini ‘kan
berakhir,
Kita ‘kan dapat bersama
lagi….
Saat khilafku membuatmu
pergi dan tinggalkan aku
Menyisakan luka ku disini
Akankah kutemui pengganti
dirimu,
Saat kau bawa semua angan
ku jauh…
Dan tak ada yang ‘kan dapat
temani aku disini
Memahami ku seperti dirimu
Semua keraguanku masih tak
terjawab, nafasmu sentuhmu seakan masih kurasakan
Kupandangi fotomu hingga ku
bosan, namun perasaan ini tak dapat ku tahan trus menjadi beban
Kutulis sebuah lagu,
sekedar mengisi waktu
Namun yang ku bayangkan
hanyalah dirimu
Saat ku coba lupakan dan
coba untuk bertahan
Namun di benakku hanya dirimu
Back to reff….
gak ada judul- 1Mei2007
Gundah itu
datang lagi… dan entah sampai kapan
Entah
sampai kapan ku katakan ucap ini
Setiap kata
sekejap berubah tak berarti
Tak ada
yang terungkap kecuali sepi
Ingin hati
ini berteriak, menghunjam caci maki
Menampar
dengan setiap hujat yang tersisa
Asa ini
berteriak, berontak tak ingin diingkari
Aku ingin
kembali…. satu ucap terulur janji
Kucemburu
pada rona merah mentari senja
Yang tak
henti bersinar hingga akhir senja
Saat
kutatap langit ia masih saja tersenyum
Walau gelap
malam segera menutupinya
Wahai
senja, ku ingin bertanya….
Adakah
secuil lelah yang menghalangimu sejenak saja?
Adakah luka
redupkan sinarmu sekejap saja?
Senja…..
sejuta kata takkan pernah punya arti
Ku hanya
ingin berteriak, “kembali!!”
Entah akan
kah punya arti
Ku hanya ingin
berteriak, “kembali!!”