All posts by ardee

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Mencoba untuk tidak pernah
berhenti menulis

Bulan kemarin adalah bulan dimana aku paling rajin posting. Setelah sekian
lama berhenti posting, ada berbagai hal yang mendorong ku untuk mulai kembali
menulis. Seperti aku bilang beberapa saat lalu, kadang ide begitu mudah datang.
Kadang seperti banjir yang melanda jakarta, deras walau tidak diundang. Tapi
ada saatnya aku sulit sekali menyelesaikan satu tema secara utuh. Sepertinya
untuk diriku sendiri hal ini harus ku analisis, di-troubleshooting, karena
kupikir aku harus sedikit demi sedikit belajar untuk konstan menulis apapun
kendala yang akan aku hadapi.

Aku coba berkaca pada blog seorang teman. Dibandingkan dengan dirinya jelas
aku tidak ada apa-apanya. Aku coba berhitung frekuensi tulisannya dan kudapati
rata-rata 3 koma sekian posting per bulan. Bukan angka yang besar, tapi patut
digarisbawahi KONSTAN. Aku coba membayangkan tentang bagaimana seorang
jurnalis profesional menulis. Mereka pasti dituntut untuk dapat menulis
bagaimanapun kondisinya. Apakah sedang moody atau rileks, tuntutan profesi akan
mendorong mereka untuk dapat mewartakan kebenaran plus melibatkan emosional
serta keberpihakan mereka pada kebenaran itu agar orang bisa merasakannya dan
pesan yang diharapkan bisa tersampaikan.

Bayangkan bagaimana jika suatu saat ia mogok menulis, menurunkan artikel. Padahal
ada suatu isu yang masyarakat secepatnya harus tahu, kasus korupsi misalnya. Jika
berita itu tidak segera sampai ke publik momennya akan hilang. Reaksi
masyarakat tidak cukup massif untuk membuat si penjahatnya plus aparat
mendapatkan tekanan. Kalau ternyata si wartawan berada dalam posisi kunci,
dimana ia memiliki data paling lengkap dibandingkan wartawan lainnya, bisa-bisa
sang koruptor sudah keburu berkelit dan kasus pun tenggelam tanpa penyelesaian.

That just an example…. Tapi sebagai refleksi, sepertinya aku
harus berusaha untuk tidak berhenti menulis. Kadang tulisan dapat menjadi
tempat diri kita bercermin saat kita tidak bisa bercermin pada diri kita
sendiri. Karena ada hal yang bisa jadi kita sembunyikan dari diri kita sendiri.
Sesuatu yang kita menolak untuk menerimanya. Saat kita menulis, secara tidak
sadar kita bisa jadi menemukan kebenaran yang kita ingkari tersebut dan
mengakui sejujurnya kebenaran itu walau pahit. Mmm, berat sih… berat untuk
diakui.

Mengenai mengapa menulis di blog, sebenarnya jika diliat dari fenomena
sosial sendiri, blog merupakan trend/kultur yang berkembang sebagai suatu
pengaruh dari kebebasan mengungkapkan pendapat yang tidak terbendung didunia
maya. Tidak ada yang dapat membatasi arus informasi sehingga kemudian
dibutuhkan suatu wadah/sarana dimana semua orang bisa menuliskan opininya
terhadap berbagai fenomena dalam persepsi mereka secara bebas. Blog menjadi
wahana bagi seseorang untuk mewartakan apapun semau mereka kepada siapapun
(jika ada yang membacanya) di internet. Blog bagaikan sebuah koran pribadi yang
isinya dapat di atur sesuka authornya, yang bisa memasukkan apapun mulai dari
surat cinta, sumpah-serapah, perenungan, curhat sampai sampah-sampah yang tidak
perlu punya arti sekalipun.

Aku pribadi menjadikan blog sebagai wahana pencurahan daya kreativitas dan
tempat berekspresi. Aku nyaris tak peduli ada atau tidak yang membaca blog ku
ini, yang penting apa yang keluar dari imajinasi ku, dari otak ku, dari hati ku
terdokumentasikan, tidak hilang terbawa angin. Tetapi tidak berhenti sampai
disitu, sejujurnya walau tidak berharap banyak akan dibaca orang, aku masih
tetap berharap bahwa tulisan yang ku buat selalu punya arti, bukan setumpuk
sampah yang memenuhi server belaka. Maka dari itu aku tetap berharap, kalo toh
dibaca orang maka ada inspirasi yang dapat diambil, ada hikmah yang bisa
dipetik, seminimal-minimalnya orang enjoy
dan have some fun saat membaca
tulisan-tulisan ku.

Aku tidak seratus persen masa bodo jika tidak ada yang membaca tulisanku. Bagaimanapun
blog ini adalah wujud kesepian yang aku ungkapkan. Sejujur-jujurnya aku
menyisakan harapan bahwa blog ini di baca oleh seseorang, yeah… that person. Jika
tidak ada yang membaca blog ini sekalipun, aku masih berharap dia membacanya.
Hmmm, siapa ya…. Let’s put this thing always be a secret.

True Colors

Di sebuah channel TV lokal Bandung tadi sore gw nonton
rekaman live accoustic performance dari Phil Collins (mmm… entah sih, ato
genesis ya…?). Pas kebetulan baru banget nyalain TV, dan lagu yang dibawain
judulnya True Colors. Sedikit penggalan lagunya “show me your true colors, thats why I love U….. bla bla bla”,
yang walo gak ngerti-ngerti amat kayaknya sih kurang lebih temanya adalah
tentang bagaimana keberagaman menjadi sesuatu yang harus kita syukuri dan
apresiasi. Langsung aja inget sama isu pluralisme yang sering di
gembar-gemborin sama anak liberal.

Bicara soal keberagaman, berbagai sudut pandang dan latar
belakang telah mengakui bahwa keberagaman yang kita temukan dalam hidup ini
merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dan potensi yang maha dahsyat.
Anugerah tak ternilai karena tanpa adanya keberagaman, kita sebagai manusia
dengan berbagai kekurangannya tidak dapat saling melengkapi. Potensi maha
dasyat karena keberagaman memungkinkan kita untuk menciptakan kombinasi dan
probabilitas yang tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan, menyebabkan hidup
kita misterius dan penuh kejutan.

Bayangkan jika kita diciptakan dengan pola pikiran yang
sama, latar belakang sama, watak yang sama…. betapa membosankan dunia. Tidak
akan ada perdebatan dan diskusi yang seru, rapat yang dinamis, bahkan tidak ada
sebutan baik-buruk, cantik-tampan-jelek, pintar-bodoh-lemot karena semuanya
sama. Bayangkan jika ada suatu problem yang harus dipecahkan, semua berpikir ke
arah yang sama. Bagaimana jika itu jalan buntu? Bisa-bisa jawaban ato solusi
dari masalah itu gak akan pernah ditemukan.

Dalam ilmu biologi, diversitas menyebabkan kita survive
dan dapat beregenerasi hingga hari ini. Kromosom kita yang jumlahnya dari dulu
segitu-gitu aja (46 biji) menyimpan entah berapa banyak kombinasi yang unik
yang membuat manusia tidak ada yang identik dengan manusia yang lain. Setiap orang
menjadi memiliki berbagai temperamen, imunitas yang beragam terhadap berbagai
macam penyakit, berbagai ukuran tubuh yang begitu unik. Bayangkan jika tinggi
setiap orang sama! Betapa tidak serunya permainan basket.

Dalam ilmu manajemen terutama jika berkaitan dengan
manajemen SDM, keragaman manusia menjadi suatu keuntungan sekaligus kesulitan
tersendiri. Terdapat berbagai tipe pekerja dengan keterampilan dan keahlian
yang khas sehingga dapat mengisi suatu posisi yang memiliki kriteria spesifik.
Negatifnya kualitas pekerja beragam, karakter psikologisnya unik sehingga
treatmen bagi tiap pekerja beragam dan tidak mudah di generalisir. Tapi dalam
teori yang sangat fundamental dalam ilmu manajemen yaitu teori Taylor, pada
dasarnya keragaman karakteristik orang adalah potensi yang memungkinkan
terjadinya suatu pembagian kerja yang optimal karena setiap orang dapat
diposisikan sesuai spesifikasi dan kekhasannya masing-masing. Hal ini secara
filosofis merupakan hakikat dari Teamwork
yaitu kesatuan kerja yang setiap elemen didalamnya dapat saling melengkapi
sehingga tercipta suatu capaian kinerja optimal.

Hukum dan aturan kemudian menjadi suatu faktor penting agar
suatu keragaman dapat kita optimalkan sebagai kekuatan bagi suatu komunitas.
Hukum dan aturan menjadi suatu bentuk transaksi yang menjamin bahwa kelebihan
yang dimiliki seseorang pada suatu aspek tidak berdampak merugikan bagi orang
yang kurang dalam aspek yang sama, yang kuat tidak menindas yang lemah.

Sebenernya pengen dilanjutin ke masalah pluralisme vs
pluralitas dan fitrah hakiki manusia serta mengapa logika pluralisme itu gak
logis tapi gak jadi dimasukin, ntar ajah….

Yu dadah babay…… wassalamualaikum

setahun kedepan

Bismillah

Setahun
kedepan

Pagi ini aku kuliah lagi. Gak kerasa dalam hitungan minggu
UAS akan menjelang. Beberapa kuliah sudah memberikan early warning waktu ujian.
Beberapa yang lain memberikan penugasan untuk persyaratan nilai akhir kuliah.
Dari tengah semester aku sudah bisa memprediksi, mana matakuliah yang
kemungkinan akan baik hasilnya dan mana yang berprospek membutuhkan ‘pendalaman
materi’ di semester akan datang.

Semester genap ini punya nilai tersendiri untuk ku dan
rata-rata rekan 2003. Ya…. normalnya juli ini adalah waktu wisuda bagi mereka
yang telah menyelesaikan Tugas Akhirnya. Tiba-tiba aku jadi teringat dengan hal
ini saat dikelas tadi rekan yang duduk didepan bangkuku membawa draft laporan
TA-nya. Perasaanku? Sejujurnya sedikit gundah. Bukan karena khawatir sebentar
lagi akan banyak rekan yang lulus, tetapi karena khawatir dengan TA-ku yang
belum juga aku mulai.

Aku sendiri agak aneh dengan diriku, sulit berkonsentrasi
pada suatu hal dalam waktu lama. Banyak hal dengan mudah mengalihkan fokus
perhatian ku sehingga beberapa hal yang seharusnya dapat selesai dalam waktu
singkat harus ku selesaikan dengan waktu lebih lama. Sepertinya sulit
menentukan prioritas adalah inti masalah ku. Bagiku setiap hal adalah penting
dan semua harus dikejar. Ini menyebabkan ku selalu bermasalah dengan
multi-tasking. Tetapi satu hal yang kusadari, aku harus terus belajar
menentukan prioritas sambil tetap berusaha untuk dapat mengatur waktu agar
dapat mengejar beberapa hal dalam waktu yang bersamaan.

perlahan tapi pasti…..

Perlahan
tapi pasti

Sesak
itu datang lagi

Perlahan
tapi pasti

Bisik-bisik
itu mengenyahkan ku kembali

Perlahan
tapi pasti

Kesempatan
itu sirna tak datang lagi

Perlahan
tapi pasti

Cahaya
itu redup, entah akankah kembali

Perlahan
tapi pasti

Seribu
bungkam memapahku kelorong gelap lagi

Perlahan
tapi pasti

Yaa
Allah…. aku tak tahu jalan kembali……

 

Perlahan
tapi pasti

Denyut
itu kembali

Perlahan
tapi pasti

Tak
ingin musnah disini

Perlahan
tapi pasti

Kesadaran
ku berontak, tak ingin berhenti

Perlahan
tapi pasti

Belenggu
itu lapuk terkorosi

Perlahan
tapi pasti

Sebuah
azam terpatri dalam janji

Perlahan
tapi pasti

Yaa….
Allah izinkan aku tetap disini

 

Perlahan
tapi pasti

Ku
retas jalin jalan surgawi

Namun
entah sampai kapan…….

 

(Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa
tukadzdzibaan
)

Ciburial
28-04-07

Ketika ajal datang…

Ketika ajal datang……

Innalillahi wa
inna ilaihi raajiuun….

Seorang rekan baru saja ditinggal
ayahandanya, sebuah kejadian yang dapat terjadi pada siapapun. Sungguh begitu
mudah Allah mencabut nyawa seseorang sehingga tidak satupun dari kita
makhluknya dapat berkelit sedikitpun dari ketentuan yang Ia gariskan. Jadi
ingat masalah dzikrul maut…… (gila….. kemana aja waktu yang udah gue
abisin nyaris 25 tahun ini). Tiba-tiba saja ingat dua setengah tahun lalu saat
wafatnya rekan Sigit Firmansyah.

Apa yang kurang dari seorang Sigit? Prestasi
akademik yang subhanallah bagus, penulis buku, juara essay ”visi itb 2020”,
aktivis lagi. Banyak orang memprediksikannya sebagai calon presiden selanjutnya
setelah Anas Hanafiah. Dengan segala kelebihannya, tidak akan ada yang mengira
bahwa Ia wafat diusia yang masih begitu muda. Ya…. usianya kurang lebih sama
dengan saya. Jika saja masih hidup beliau berumur 25 tahun. Saat wafatnya, ada
begitu banyak orang yang melepas kepergiannya. Seorang tokoh yang disegani baik
oleh rekan maupun lawan.

Memoriku mengajak untuk flashback ke dua
tahun lalu, pertengahan tahun 2005. Kakek (atau biasa kusebut eyang kakung)
meninggal dunia diusia beliau yang telah lewat 8 dekade. Subhanallah,
perjalanan hidup yang begitu panjang. Usia puncak untuk menjadi bijak. Figur
yang tegas, humoris, disiplin dan sangat rapi dalam pengarsipan.
Sifat/talent-nya yang menurun kepadaku
adalah ”input” suka sekali mengumpulkan barang, mengabadikan peristiwa,
kejadian. Semoga Allah memberikan akhir yang baik dalam ridhonya.

Beberapa bulan sebelumnya, sebuah bencana
nasional terjadi. Saat dengan tiba-tiba tsunami raksasa menimpa Asia Selatan
dan tenggara, meluluh-lantakkan Serambi Mekah. Kemudian bertubi-tubi bencana
datang silih berganti dari mulai kelaparan di Papua, gempa Nias, banjir
dimana-mana, lumpur Lapindo hingga berbagai kecelakaaan transportasi massal.
Sebuah pertanyaan tersisa, inikah sebuah dzikrulmaut massal yang Allah
tunjukkan bagi kita semua yang masih ada sekarang? Atau sebenarnya ini
merupakan early warning dari-Nya bagi kita, sebelum Bencana yang lebih parah
menghukum kita?

Berbicara tentang kematian kembali aku
teringat kilasan peristiwa yang aku alami saat masih di SMU. Suatu peristiwa
yang sesungguhnya begitu mudah bagi Allah untuk membuatku menjadi yatim-piatu.
Ya…. sebuah kecelakaan menghempaskan suzuki Carry yang ditumpangi oleh kedua
orangtuaku plus dua orang adikku, mobil itu berguling dijalan tol. Sesungguhnya
saat sejenak tadi kuingat kembali, kusadari bahwa sebuah anugerah bahwa keluargaku
masih lengkap. Tak terbayang jika tidak ada lagi ibu yang tak habis-habisnya
mensupportku dengan taushiyah dan nasihat saatku terpuruk seperti bulan-bulan
kemarin. Tak terbayang jika ketegasan dan sifat keras ayah yang menyadarkan ku
saat aku mulai hilang arah.

Sebuah renungan kembali membawa ku saat
syaikhuna Ust. Rahmat Abdullah pergi. Aku mulai membaca artikel beliau justru
setelah beliau wafat. Sesosok figur yang tak hilang semangatnya walau telah
tergilas usia. Tutur bahasanya nan lembut dalam setiap artikel yang beliau
layangkan di berbagai media menandakan kecintaan yang amat sangat pada para
mad’unya, kepada da’wah ini, kepada bangsa ini, kepada umat ini.

Pikiran ku kembali berputar, teringat
beberapa minggu yang lalu. Alda Risma, secepat kilat popularitasnya kembali
melejit setelah lama terpuruk. Bukan sebagai seorang bintang sukses atau
seorang politikus, melainkan sebagai seonggok mayat korban pembunuhan. Tak lama
sebelumnya, sebuah berita menggemparkan menghiasi media saat seorang tokoh ditemukan
meninggal saat berada dihotel bersama teman kencannya. Berita-berita itu
semakin menambah ruwetnya gembar-gembor media infotainment yang tak
henti-hentinya meracuni masyarakat kita.

Perjalanan pikiranku terhenti disebuah
pertanyaan, ”jalan seperti apakah yang Allah gariskan bagi kita di ujung pintu
kehidupan kita?”, korban bencanakah? Korban kasus kriminalkah? Korban sebuah
kecelakaankah? Sebagai seorang pahlawankah? Koruptor? Pelaku kriminal? Atau
apa?

Dengan ragu yang tak pernah hilang,
khawatir bahwa apa yang selalu kita sebutkan dalam doa rabithah kita tidak
terwujud karena begitu besarnya kemunafikan dalam diri ini, tiba-tiba aku
tertunduk. Mungkin aku tidak menangis, tapi ada rasa sesak didada yang tiba
muncul. Akankah aku yang hina dina ini masih pantas untuk singgah dalam ridhomu
ya Allah? Sedikit menghibur diri, terngiang rangkai wahyunya yang masih dan
akan selalu terngiang selalu, “Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah… irji’i ilaa
rabbiki raadhiatam mardhiyyah, fadkhulii fii ibaadi wadkhulii jannatii”….
Akankah lantunan itu yang akan menyambutku di ujung hayat?

LOST is My Middle Name

[“gerimis”
By Kla Project “ON” in Winamp]

LOST is
My Middle-name

Tadi siang abis buka blog
seorang teman, ternyata dia posting dua judul sekaligus. Gak tau juga langsung
ngeborong dua posting, ato gak sengaja aja pas liat ternyata udah dua
nambahnya. Soalnya terakhir postingannya tentang hari kartini. Postingan yang
sekarang mengangkat isu yang kontras beda satu sama lain. Yang satu tentang
pilkada, yang satu lagi pengalaman tentang pengalaman petualangannya sebagai
guru les yang kerap kali harus berkeliling ke daerah-daerah baru. Subhanallah
keren lah… didoakan semoga semakin banyak yang tercerahkan, dan semakin
banyak pahala yang mengalir. Seperti disebutkan hadits, salah satu sumber
pahala yang tak putus-putus ilmu yang bermanfaat kan?

Sama sekali bukan
bermaksud mengomentari lebih jauh tentang postingan temen saya ini, Cuma nyari
pengantar yang cocok karena kebetulan jadi dapet inspirasi untuk nulis. Tentang
NYASAR…. ya nyasar, suatu fenomena yang berkali-kali saya alami. Gak ada
bosennya saya mengalami kejadian nyasar ini. Entah, apa jangan-jangan memang
nyasar merupakan suatu sifat/karakter yang di turunkan secara genetik….?
Halah, sudah pasti ngaco hipotesis yang gak jelas dasar ilmiahnya ini.

Bicara soal penurunan
sifat, yang seneng dan punya bakat nyasar/hilang dikeluarga ternyata gak Cuma
saya loh! Adik yang pertama pernah hilang di pameran buku pas masih kecil.
Jelas dia nangis gak abis-abis. Terus kami yang sering jalan-jalan naik sepeda
saat kecil juga kadang suka lupa jalan pulang, terutama saya. Kalo adik
sebenarnya gak parah-parah amat. Gak nyangka kalo adik saya ini sekarang malah
kemungkinan lulus lebih cepat dari saya, udah punya kerjaan lagi.

Pas masuk SMP pernah
suatu hari saya jadi pulang malam banget gara-gara gak tau jalan. Angkot ke
komplek Cuma ada sampai jam 6 sore, dan lewat jam segitu orang-orang harus
lewat rute berbeda jika ingin masuk komplek. Parahnya uang saku ngepas buat
ongkos naik angkot sekali. Setelah sekian jam, “nyari pertolongan” dengan
nelepon rumah, dan dikasih petunjuk angkot apa aja yang harus dinaiki. Tapi
tetep aja, karena gak tau jalan, ujung-ujungnya bablas sampe terminal yang gak
seharusnya.

Masa di pesantren juga
punya kenangan sendiri, tahun pertama lagi. Saat libur akhir tahun saya pulang
ke Jakarta. Tentunya tanpa dijemput orangtua, karena ikut rombongan bus santri
yang juga ke Jakarta. Saya yang masih culun-culunnya sampe juga di terminal
Pulogadung. Ditawarin teman untuk bareng, saya tolak karena pede bisa pulang
dengan selamat ke rumah nenek di Kampung Melayu atau langsung ke Pamulang.
Ternyata saya gak liat jam yang sudah lewat jam 9 mikrolet kerumah nenek sudah
jarang, saat itu target saya bus ke blok M dengan harapan masih ada bus ke
Ciputat. Setelah lama nunggu bus yang ditunggu akhirnya datang. Sampai di blok
M ternyata sudah tidak ada lagi bus yang saya cari. Akhirnya saya balik lagi ke
terminal Pulogadung, mengejar bus Kowanbisata yang langsung ke Ciputat.
Ahh….. telat sodara-sodara!! Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

[“selepas kau pergi” by
LaLuna “ON” in Winamp]

Saya yang sudah agak
bingung (tapi gak panik lho….) tiba-tiba inget, ada temen yang tinggal
dikawasan Pulogadung, dan sempat menyebutkan arah rumahnya yang katanya dekat
pasar. Tetep aja, setelah muter-muter dengan tujuan yang gak jelas saya balik
ke terminal. Kusut yang ada di pikiran, gak tau mau kemana. Mau ke musholla,
gak ada yang buka.

Akhirnya saat saya
berdiri kebingungan dipinggir jalan, ada seorang batak (kayaknya supir),
manggil saya masuk ke warung. Si batak nanya-nanya saya, liat-liat barang yang
saya bawa. Saya punya firasat gak enak klo dia bakal ngerjain saya, at least malak/minta duit. Benarlah
dugaan saya, cuman saya berlagak tenang-tenang aja dan bilang gak ada duit lagi
selain untuk ongkos pulang. Si Ibu warung mengizinkan saya tidur di kursi
panjang yang ada diwarung. Jam setengah tiga dini hari akhirnya saya ada
kesempatan pulang dengan selamat sampai rumah.

Kejadian itu jadi
kenangan yang lumayan unik, dan jadi bahan obrolan dengan teman di pesantren
setelah pulang liburan. Iya lah…. hehe… mana ada yang berani dan
berkesempatan mengalami tidur di terminal Pulogadung yang terkenal sebagai
daerah rawan kriminalitas?

SMU? Tetep aja ilang!!
Gak inget sih kapan aja, tapi paling gak waktu jaman-jamannya olimpiade dua
kali gak tau jalan dan sempet nyasar. Pertama di Semarang, kedua saat berangkat
training di Bandung. Bener kata pepatah, kadang hal yang gak terlalu rumit bisa
jadi rumit gara-gara “malu bertanya sesat dijalan”. Karena saya berdua dengan
ayah rada paranoid untuk nanya (teu tiasa basa sunda euy…!!), akhirnya kami
nyasar pas nyari jalan Supratman, lokasi hotel Sanira.

Salah satu kasus terbaru
adalah saat liburan ramadhan tahun lalu. Saat mau ke rumah sodara di bekasi
naik KRL Jabotabek dari Stasiun Jatinegara, saya ke WC, eh…. ternyata
keretanya datang dan gak lama berangkat. Keluarga saya yang nunggu kereta di
peron/deket rel akhirnya berangkat tanpa nunggu lagi. Saya? Untung saya ada di
jaman dimana informasi ada di ujung jempol (SMS maksudnya…). Gak lama saya
naik KRL selanjutnya. Akhirnya, saya terselamatkan!!

Jika……

Jika saat itu datang…….

Tiba-tiba saja aku “menangis”, entah apakah sampai secara dzohir air mata
menitik….. yang pasti dalam kontemplasiku aku menangis….. Now is not my
brutallest time of me, tapi gw jadi inget semua masa lalu gue…. yang pernah begitu
parah.

Kata orang, kita gak boleh membuka aib kita didepan orang lain….. aku
sepakat dengan pendapat itu. Bahwa aib yang tertutup merupakan bagian dari
kemurah-hatian Allah terhadap kita. Sesungguhnya sangat mudah bagi Allah untuk
membiarkan aib-aib kita terbongkar didepan orang banyak.

Tapi disisi lain aku punya pandangan lain, bahwa bagaimanapun kadang kita
harus menunjukkan diri kita apa adanya. Selanjutnya, biarkan orang-orang dengan
persepsinya masing-masing menginterpretasikannya. Bagaimanapun, masa lalu
adalah hal yang tak akan pernah bisa dirubah…. seberapa besarpun penyesalan
kita. Masa lalu akan tetap menjadi bagian dari goresan tinta sejarah di catatan
kehidupan kita yang seberapa keraspun kita menolaknya, seberapa dalam kita
menguburnya, seberapa menyakitkan makian orang terhadapnya… sejarah tetaplah
sejarah.

Lalu apa kemudian kita takut jika suatu hari nanti, saat suatu momen baru
kehidupan kita (pernikahan) tiba, semua masa lalu kita harus terbongkar keluar.
Apakah kita akan sekuat tenaga menutupinya? Atau dengan legowo membuka diri
kita apa adanya? Padahal inilah adalah salah satu dari ujian terbesar
keikhlasan kita dalam menjalani kehidupan. Segala hal yang menjadi bagian dari
masa lalu “calon” merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari dirinya,
begitu pula sebaliknya dengan masalalu kita.

Tiba-tiba aku merasa inilah saatnya untuk kembali menata rencana jauh ke
depan, setelah sekian lama meletakkannya dalam box perenungan yang panjang. Ini
saatnya kembali untuk berbicara tentang hidup, dalam fase yang akan lebih luas.
Suatu fase penuh tanggung jawab yang lebih serius dan besar, saat-saat yang
tidak lagi hanya sekedar menentukan bagaimana kita menghabiskan hari tua tetapi
juga bagai mana nasib kita di akhirat kelak….. It’s time to talk about this
“too much serious” thing. Mempertanyakan kesiapan pribadi dan menimbang-nimbang
berbagai sisi dari rencana ini.

 

Flashback….

Jadi kembali ingat saat-saat dulu mulai berbicara tentang hal “serius” itu
disaat aku belum lagi lulus dari TPB. Masa-masa bau kencur untuk memutuskan
siap untuk melangkah ke sana. Banyak alasan yang muncul, namun seakan terlalu
mengada-ngada. Disisi lain banyak hal yang tidak terpikirkan sebagai
konsekuensi dari “pilihan” tersebut. Tetapi masa 3 tahun ini merupakan masa
yang cukup lama tuk merenung. Ya… merenungkan berapa tahun lagikah aku
nyatakan diriku siap untuk melangkah ke jalan tersebut.

Aku ingat, seperti juga kata orang dalam buku-buku tentang ta’aruf dan
khitbah bahwa proses menuju suatu pernikahan yang ideal membutuhkan waktu yang
lama. Ia tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita akan berhadapan dengan
banyak pihak dan faktor. Kata orang, pada hakikatnya saat kita meNikah, yang
kita “nikahi” bukanlah seorang individu calon kita, tetapi kita “menikahi”
seluruh keluarganya, masa lalunya, dan seluruh latarbelakang diri si calon. Yang
paling dekat adalah orang tua kita, juga orang tua “calon” kita. Mengkondisikan
kultur, tatakrama, dan adat dengan tuntunan syariah membutuhkan effort yang
besar dan waktu yang lama.

Tidak hanya itu, dalam banyak kasus ada diantara kita yang tidak cukup
dekat dengan orang tua sehingga tidak memberikan early warning. Ujug-ujug 3
minggu sebelum akad baru “nodong” minta ditemani melamar, yang membuat orang
tua terkaget-kaget. Bersyukur jika hanya terkaget-kaget, bagaimana bila yang
muncul adalah tuduhan yang bermacam-macam seperti hubungan yang bablas, aliran
sesat atau apapun prasangka yang muncul karena budaya “asing” yang kita bawa.
Mentorku yang dulu pernah mengatakan, mungkin beberapa semester sebelumnya PDKT
ke orang tua sudah harus mulai dilakukan.

Faktor kedua yang tak kalah penting adalah keluarga. Namun sebenarnya hal
ini tidak terlalu menimbulkan masalah jika kita sejak awal telah cukup dekat
dengan saudara dan kerabat.

Diantara itu semua, yang paling fundamental adalah diri kita sendiri.
Tetapi aku sendiri masih bingung dengan hal ini. Faktor ini sangat terkait
dengan Visi dan Misi pernikahan kita. Motif dan urgensitas pernikahan pada
suatu waktu juga berbeda-beda. Ada yang siap menikah, sehingga menikah pada
saat itu hakikatnya sunah. Tetapi ada yang menikah untuk menghindari munculnya
mudharat yang lebih besar. Adapula yang menikah sekedar menggugurkan kewajiban.

Dalam masalah ini, aku berdiskusi dengan pikiranku sendiri tentang “wanita
shalihah untuk pria shalih, wanita baik untuk pria baik”. Bagaimana jika suatu
ketika kasusnya adalah seperti ini, seorang pria yang masa lalunya hitam, sama
sekali tidak memenuhi muwashofat standar sebagai “calon suami yang baik”, tapi
Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk berubah adalah dengan mencari
pendamping hidup yang lebih istiqamah? Tentu merupakan pilihan sulit untuk
wanita manapun menghadapi pria seperti itu. Butuh kelapangan hati yang luar
biasa untuk dapat menerima kenyataan bahwa yang akan menjadi pendamping hidup
kita adalah seorang yang jauh dari figur ideal yang kita idam-idamkan.

Tetapi bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana jika misalnya, seorang mantan
residivis yang ingin meninggalkan masa lalunya dengan memulai kehidupan baru.
Apakah ia layak untuk mendapatkan seorang akhwat baik-baik? Atau pintu
perbaikan sudah tertutup baginya, karena kemanapun ia melamar jawabannya adalah
“perbaiki dirimu sendiri dulu, dan cari lah yang sebanding”? Aku coba
membiarkan pikiran ku mengalir dalam tulisan ini agar aku mendapatkan konklusi
yang rasional, karena aku bimbang dengan korelasi antara menikah untuk
“menghindari mudharat” dengan “akhwat yang baik untuk ikhwan yang baik”.

Ya….. whatever!! Anyway, ternyata memang butuh suatu pemikiran panjang
untuk melangkah ke “sana”. Entah sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun atau
lima tahun lagi gak ada dari kita yang dapat memprediksi kapan “si calon”
datang. Yang pasti, apapun dapat terjadi dalam masa penantian itu, entah ternyata
kita sudah dijemput ajal, atau jangan-jangan sudah keburu “pindah haluan ke
jalan yang lain”, atau malah banting stir dari “siapa kamu?” jadi “Siapa aja
deh!!”. Bagaimanapun gak ada diantara kita yang mau hal-hal itu terjadi.
Solusinya, kalo dari pribadi “waa tazaawaduu…..”, “waa a’iddu lahum….”,
dari faktor luar…. santai aja, perbandingan akhwat-ikhwan itu timpang (as
Allah told, “matsna waa tsulatsa waa ruba’…”).

Sebagai penutup, disebuah training berkaitan dengan pernikahan ketimpangan
ini terasa sekali… dengan sedikit mengeneralisir, pada waktu yang sama,
kira-kira perbandingan Ikh-Akh yang “menunggu waktu yang tepat” adalah
1:7….!! Mmmm… mungkin kegedean, tapi yang saya temui di training itu adalah
pesertanya 20 orang ikhwan vs 140 orang akhwat!! Hal ini bisa jadi karena usia
siap/matang dari Akhwat lebih cepat daripada Ikhwan sedangkan ikhwan yang siap
selalu terbatas. Semua kesempurnaan hanya milik Allah…..

Wassalam

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran
dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun
mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini
semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi
dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan
oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi,
sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami
lewati ini….

 

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai
lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting
stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat.
Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya
rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu
pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan
rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan
utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain
adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya
kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi
dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi
banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan
keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan
benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa
tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang
hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang
sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan
dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal)
yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi
sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya
dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa
terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah
diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi.
Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar
dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa
staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata
kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar,
kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan
gerah yang luar biasa.

 

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit.
Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari
sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada
kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi
Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini.
Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan
Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya
membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes
dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak
sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku
mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa
mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan
akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR…
It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut
pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and
blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled
crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk
menerima kunjungan dari kami.

 

23 April 2007

Orang tua saja saya gak
punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!!
Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still
unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing
special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku
makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang
terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini.
Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus
tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba
meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi
karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku
maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah
masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri
dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana”
pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si
satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai
jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”.
Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus
kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia
punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang
plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika
diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan
tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala,
beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami
pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts
from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan
kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah
melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA.
Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia
lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan
“Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan
bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang
bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak
akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia
tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar
Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah
Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang.
Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau,
saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

 

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB.
Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu
kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi
nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi
tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian
sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan
sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil
didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi
kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption
watch.

 

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama
kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan
pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam
di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi
ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan
untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya
mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang
benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta,
sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan
jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan
perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Releksi jatuh-bangun

Bismillah…. Semoga gak salah tulis.

[“bantu aku membencimu” by LaLuna “ON” > in
my mind]

Bicara tentang diri kembali….. tapi mengenai
aku sosial.

 

Disela-sela
letih kutemukan tanya…..

Tentang
hati yang gelisah… tentang jiwa yang berontak….

di
seberang jalan, rona senja berteriak….

kamu
dimana… berdiam dirikah? Bangkitlah jiwa..!!

 

Kucoba
berdiri dan berteriak lantang….

Aku
masih hidup dan berdiri disini….

Aku
kan tetap disini…. walau panji-panji cahaya musnah sirna

Ku
hanya butuh sejenak istirahat dan berbenah…..

 

Jangan
khawatirkan aku senja…

 

 

Berkaca ke beberapa bulan ini….. beberapa
bulan sebelumnya….

Jauh….. berbulan-bulan yang lalu…. aku menemukan sesuatu tentang
diri ku. Aku menyadari kalau ternyata selama aku di kampus, ada siklus
tahunan/semesteran yang aku alami…. selalu berulang dan berulang lagi. Naik
turunnya ritme semangat ku itu ternyata mengikuti suatu siklus.

Aku berhitung-hitung, aku down…. ngambek…. futur…. menghilang
“sejenak”…. kurang-lebih selalu pada rentang bulan februari sampai april, dan
september sampai november. Sudah ku coba berkali-kali untuk mengaggap itu hanya
sugesti saja. Tapi kenyataannya, accidentally, it flows as a circle…. No better
explaination as far, mungkin itu cuma perasaan aku aja…..

 

Pergi kemasalah utama sebagai “aku sosial”, aku adalah bagian dari
suatu komunitas. Tepatnya aku adalah suatu himpunan irisan dari beberapa
komunitas pada saat yang bersamaan. Komunitas-komunitas ini masing-masing
tentunya akan memiliki kesamaan interest and needs…. maka dari itu
akan ada vested interest yang terjadi, berhubungan dengan keberadaan ku
sebagai bagian dari mereka. Salah satunya, yang ingin aku katakan disini adalah
keberadaan ku sebagai seorang muslim…. sebagai seorang yang “seharusnya”
sadar dengan tanggungjawabnya sebagai seorang penyeru….

Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat pertama aku mengenal
komunitas yang begitu nyaman ini. Aku bersentuhan dengan gerakan dakwah
bersamaan dengan kepindahan ku dari SLTP ke pesantren. Saat itu sedikit pun aku
belum paham apapun…. kecuali keadaan bahwa nunjauh disana ada
saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang ditindas di Chechnya, Bosnia,
Palestina dan “Jaziratul Mulk” Maluku. Seiring waktu…kelengseran Soeharto
membawa barisan ini ke era yang lebih terbuka…. Harakah sirriyah itu menjelma
menjadi Hizb… dari sanalah semua lebih mudah ku cerna.

Aku mulai ikut serta dan terlibat sejak tahun terakhir ku di pesantren.
Tiga tahun setelahnya, interaksi ku dengan komunitas ini terlepas, seiring
kepindahanku ke SMU. Aku tak lagi mentoring….. Tapi nuansa yang sama dengan
masa-masa di pesantren telah menarikku kembali….. dan nuansa itu kutemukan di
kampus ini…. ITB.

Gak terasa, ini adalah tahun keempatku di ITB, yang penuh dengan momen
jatuh bangun…. peluh, kesah, ngambek, ketidakpuasan…… everything. But one
thing, seberapa jatuh pun aku, aku tetap selalu ingin kembali lagi… dan lagi
kesini. Terakhir, lagi-lagi siklus itu muncul februari ini…. lalu aku
kemana…? aku masih disini, tapi di sisi yang berbeda aja.

To tell U the truth…… sejujurnya gw pengen rehab….. rehab mjd
diri ku yang dulu…. rehab jadi orang yang gak perlu tahu banyak…….. (atau
sok tahu banyak). Cukup hanya tahu….. amal amal dan amal….. klo boleh
menyalahkan keadaan, aku “dimanja sejak kecil”, oleh senior2 ku. Jadilah aku
kader manja dan kekanak-kanakan. What I’m doing now…..? Try to wake up
“step by step”
. Berbenah diri….. tapi gak perlu bilang bilang. (But
bagusnya sih emang ada yang ngingetin…. tawashou bil haq)

Penyakit-penyakit yang harus di benahi….

Aku coba menganalisis penyakit/masalah yang menyebabkan aku sering
jatuh bangun…. naik turun terus…(kayak PLN).

Kurangnya Ma’iyatullah.> pernah didamprat
sama seseorang krn ini….. masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Sering lupa
ada Allah yang menentukan…. dan lupa klo All we have to do is trying…..
ikhtiar…. ikhtiar

Kurangnya Arrabthu bainal Akh dan Arrabthul Amm > sifat introvert, selfishness dan egosentris (haduh…. gue bgt)
kita kadang menjadi batu sandungan dalam keberjalanan jamaah…. butuh lebih
mawas diri. Kita gak bisa meraih hati mad’u tanpa memahami hatinya.

Terlalu toleran terhadap hal mubah dan makruh>
ini nih yang susah…….

Kondisi mental/psikologis/ruhiyah gak stabil>
Yaumian gw ancurrr…….

 

Beside of that gw nemuin perhentian sementara…… organisasi yang gw
hujat-hujat dulu malah jadi tempat gw “berhenti sejenak”(atau untuk
selamanya?). Gw nangkring di KAMMI sekarang…….

Serendipity

Sejam sebelum berangkat ke Lembang (hhh….. never ending
KP). Tapi pengen nulis dikit, karena ada hal yang fantastik yang bisa dibagi
(buat saya, mungkin biasa-biasa aja buat ente-ente yg baca).

Mungkin rada out-of-date kali ya, saya baru aja nonton
film keren, Serendipity judulnya. [09:18 paused
> gak enak diliatin
fahrul]

[09:45 > Akhirnya setelah nelepon pembimbing KP, rencana ke Lembang dibatalkan
karena beliau ada waktunya besok. Perjalanan gw alihkan ke Comlabs dan ternyata
gw duduk sebelah temen gw, katanya kuliah jam 9 gak ada. Padahal gw kira gw
harus bolos lagi. Amazing coincidence!!!]

Ya…. serendipity, sebuah film yang sebenernya udah lama
keluar dan sering disebut-sebut temen. Ceritanya mmm…. simple kata fahrul,
tapi rumit kata gw. Ya lah…. klo gak rumit justru gak istimewa. Film ini
keren, karena ide ceritanya unik, dan desain cerita yang walopun gampang
ketebak (pasti happy ending) tapi tetep bisa membuat gw penasaran dan
menerka-nerka akhirnya.

Ini film tentang cinta-cintaan, tapi tetep kudu ditonton
karena emang unik. Dimulai dari suatu kejadian yang (bisa aja) cuma biasa-biasa
aja. Ada 2 orang yang sama-sama mau beli hadiah buat pacar masing-masing.
Tau-tau mereka memilih sarung tangan yang sama dan cuma ada satu-satunya di toko.
Mereka saling mengalah, tapi malah gak ada yang ngambil. Akhirnya sarung tangan
itu hampir di ambil sama pembeli lain. Dengan spontan mereka berkonspirasi
mendebat si pembeli tersebut dan Ia pun batal ngambil sarung tangan itu. Mulai
dari situ si Jonathan (cowo yang nyari hadiah) mulai ngegombal, intinya ngajak
kenalan sama cewek ini. Tapi si cewek ini kemudian nolak dan bilang klo mereka
emang “digariskan” bersama suatu saat mereka bakal ketemu lagi.

Akhirnya si cewek ini ngajak si jonathan ngetest prinsip
yang dia bilang ini. Dia minta jonathan nulis nama lengkap dan nomor teleponnya
diatas selembar uang kertas, trus duit itu dipake buat beli permen. “kalo kita
emang ditakdirin ketemu lagi, ntuh duit bakal sampe ke gw suatu saat.”, gitu
kata si cewek. Kemudian dia bilang ke jonathan bahwa dia akan menulis nama
lengkap dan teleponnnya di sebuah novel dan besoknya akan dia jual ke toko buku
loakan, trus dia ngomong “Kalo kita emang ditakdirin ketemu lagi, buku itu akan
nyampe ke kmu.”.

Kemudian dia jalan-jalan ke hotel yang lantainya
buaaaaanyak. Si Cewek minta Jonathan masuk ke lift yang berbeda dengannya, lalu
memilih lantai sesuai lantainya. Ternyata keduanya sama-sama memilih lantai
23….. tapi Unfortunately ada kejadian yang menyebabkan si John telat sampai
lantai tsb. Mereka gak ketemu lagi.

Berahun-tahun kemudian berbagai hal, termasuk Buku novel
bekas dan uang kertas tersebut mempertemukan mereka kembali. Ironisnya buku
novel itu ternyata ditemukan oleh tunangan jonathan yang (nyaris….) akan menikah
sehari setelahnya.

Ya… lagi iseng nonton. Emang sih ceritanya kyk gitu.
Tapi….. gak tau lah, gw jadi sempet mikir, rangkaian hal menakjubkan ky gitu
bener-bener nyata. Yang ngalamin gw tentunya…. hehehe [nyengir kuda “ON”

Kembali ke dunia nyata….. ada 2 kepanitiaan yg bakal gw
alamin 3 bulanan kedepan di “perhentian” gw setelah lengser dan eksodus dari kabinet. Semoga lancar
dan menakjubkan plus gw bisa konkret disini, soalnya disalah satunya gw jadi
ketua.