KM ITB adalah sebuah entitas yang didirikan karena adanya suatu kebutuhan akan wahana koordinasi dan pemersatu gerakan kemahasiswaan di itb.
Semenjak didirikan tahun 1996, yang dilanjutkan dengan lahirnya kabinet dan kongres keluarga mahasiswa dipertengahan 1998, hingga pemerintahan saat ini (anas hanafiah red.)KM-ITB tidak pernah sepi dari konflik. timbulnya ketidakpuasan, tuduhan-tuduhan, terbentuknya kubu2 dan berbagai dinamika lainnya menjadi penghias goresan tinta sejarah kemahasiswaan di ITB. hal tersebut adalah realita, yang sebenarnya perlu di-manage agar menjadi potensi positif. seluruh gejolak yang ada, bukanlah halangan untuk bersatu karena pada hakikatnya kita saling melengkapi.
yang menjadi musuh bersama sebenarnya adalah “kepentingan-kepentingan sisipan” dan keapatisan yang semakin menggejala di dlingkungan kampus saat ini. kebijakan akademik yang terkesan “tidak bijak” harus disikapi secara lebih bijak oleh aktivis kemahasiswaan.
“NKK-BKK pola baru” adalah tantangan yang harus kita hadapi dalam mewujudkan fungsi mahasiswa sebagai corong aspirasi rakyat tertindas. karena bukan kesalahan kita untuk mendengar jeritan rakyat. saat orang yang telah diamanahi untuk menyerukan kepentingan rakyat justru memeras keringat rakyat untuk kepentingan pribadi dan dengan tanpa malu berkoar-koar untuk tetap berkuasa.
berdasar kajian platform gerakan kemahasiswaan, telah dirumuskan permasalahan2 yang sedang dan masih akan dihadapi KM-ITB di beberapa tahun akan datang. Apatisme , visi gerakan yang tidak jelas, dan “kepentingan2 pihak eksternal” yang menunggangi gerakan kemahasiswaan.
tidak semua kepentingan eksternal menjadi sesuatu yang buruk bagi kemahasiswaan. bentuk dorongan dari suatu kesadaran akan hakikat diri sebagai makhluk dan hamba tuhan yang mendorong untuk memegang teguh nilai kebenaran hakiki yang diyakini. itu menjadi alasan yang sangat-sangat tidak bisa dibantah bahwa dakwah kampus adalah tuntutan nurani yang tak pantas dihalangi. tapi cukup sampai disitu!! lalu kita harus berbalik ke belakang dan melihat apa yang butuh untuk kita benahi didalam. tidak sepantasnya dibenarkan bila ada gerakan yang mendompleng kemahasiswaan dan mengatasnamakan “tuntutan nurani” demi kepentingan politis. tidak, dari pihak berkuasa!! tidak dari pihak oposan!!
seharusnya kita tergerak karena hati nurani bukan karena bisikan luar, seberapa baik pun bisikan itu.
mana ada Mc’D di sc…?? (NKK wajah baru, BAGIAN I)
Hidup Mahasiswa…..
Hidup Rakyat….
Hidup intelektualitas Kaum Tertindas…..
Perjuangan dan pergolakan sejarah Selalu diwarnai oleh pemuda. Pemuda dengan segala gejolak emosional, kekritisan dan kecenderungannya untuk memperbaharui sistem adalah bahan bakar bagi kobaran semangat revolusi, baik revolusi kultur, struktur, dan intelektual.
Perlu digaris bawahi bahwa tidak sembarang pemuda dapat menggelorakan perubahan. Hanya Pemuda dengan Intelektualitas, kekritisan, dan wawasan terbina serta yang peka terhadap kondisi masyarakat lah yang mampu mengemban tugas berat, “menstimulus perbaikan masyarakat menuju terciptanya Masyarakat Madani”. Dan yang mampu memenuhi kriteria tersebut antara lain adalah Mahasiswa.
Tantangan zaman terus berubah. Musuh-musuh bagi pergerakan kemahasiswaan pun semakin beragam. Mulai dari bahaya tunggangan dari pihak non mahasiswa, apatisme yang ada di dalam kalangan mahasiswa sendiri, disorientasi gerakan hingga tuntutan akademik yang semakin ketat. Berkaitan dengan akademik, Sepertinya sudah menjadi “fitrah”nya Dewan Rektorat untuk menjadi oposan dari gerakan kemahasiswaan.
sejak dahulu saat ITB masih merupakan institusi pendidikan negeri, hingga sekarang saat konsep BHMN digulirkan.. keadaannya masih saja mengikuti lingkaran setan yang ada. Dulu, rektorat memiliki wewenang penuh untuk menghambat, bahkan membubarkan entitas kemahasiswaan. sebagai bawahan dari departemen pendidikan apapun perintah dari “atas” mereka hanya memiliki satu hak, – berhak menindak-lanjuti kebijakan departemen pendidikan dalam batasan patron yang sudah ditentukan-. Saat itu rektorat menjadi senjata ampuh bagi penguasa dalam meredam gelombang ketidak puasan mahasiswa.
Sekarang zaman telah berubah, Rektorat tidak lagi berada dibawah Depdiknas, melainkan monitor oleh suatu “dewan senat” yang disebut MWA (Majelis Wali Amanat) sebagai kombinasi perpanjangan tangan dari masyarakat, mahasiswa dan pemerintah. Namun, untuk beberapa kalangan mahasiswa, MWA kurang dapat dikatakan representatif, karena suara yang dimiliki tiap golongan memang tidak dapat dikatakan proporsional. Sedangkan rektorat sendiri nampaknya “cukup cerdas” dalam mengambil peran seolah-olah sebagai single fighter , dan kebijakan yang di ambil pun kadang tidak lagi memperhatikan kebutuhan masyarakat dan mahasiswa yang seharusnya diperjuangkan.
Kesan yang timbul dari sikap dan kebijakan rektorat selama saya nangkring di ITB adalah: sumber daya finansial institusi ITB diatas segala-galanya. Apapun itu, selama bersifat non-profit nampaknya akan terus dipandang sebelah mata. PKL ITB sudah membuktikannya. Walaupun setelah dilobby memang ada sedikit itikad baik dari LPKM dengan menerima konsep training, namun belakangan ada saja masalah yang muncul, seperti sebagian PKL yang akhirnya tidak mengikuti training. menurut saya LPKM -saya yakin- tidak kekurangan sumberdaya manajerial. kalau saja bantuan pemberdayaan PKL disupport pula dengan manajerial, masalah-masalah tersebut dapat diantisipasi secara lebih profesional.
Itu baru “Orang luar”, lho, lha wong mahasiswanya aja digusur. Campus Center (terus terang saya sebenarnya agak kurang paham masalah ini) mungkin memiliki maksud dan tujuan yang baik (?? iya gituh). Namun saya pikir bukanlah suatu hal yang esensial saat ini. bayang kan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan campus centre dapat menghidupi (mungkin) ratusan orang mahasiswa kurang mampu. Untuk alasan keindahan dan fasilitas yang nantinya disediakan,(harus diakui) memang sc tidak akan pernah mungkin menandingi.(mana ada Mc’D di sc…??) Tapi,(kalo boleh suudzan) sepertinya ada agenda yang “membuntuti” pelaksanaan penggusuran SC. Saya, terus terang agak kurang sreg dengan Posisi sekretariat Kabinet KM ITB yang “jauh dari peradaban”seperti sekarang. Apa ini salah satu usaha meredupkan dinamika kemahasiswaan? lalu, apa bisa dipegang, janji 15 bulan pembangunan CC?
mana ada Mc’D di sc…?? (NKK wajah baru, BAGIAN I)
Hidup Mahasiswa…..
Hidup Rakyat….
Hidup intelektualitas Kaum Tertindas…..
Perjuangan dan pergolakan sejarah Selalu diwarnai oleh pemuda. Pemuda dengan segala gejolak emosional, kekritisan dan kecenderungannya untuk memperbaharui sistem adalah bahan bakar bagi kobaran semangat revolusi, baik revolusi kultur, struktur, dan intelektual.
Perlu digaris bawahi bahwa tidak sembarang pemuda dapat menggelorakan perubahan. Hanya Pemuda dengan Intelektualitas, kekritisan, dan wawasan terbina serta yang peka terhadap kondisi masyarakat lah yang mampu mengemban tugas berat, “menstimulus perbaikan masyarakat menuju terciptanya Masyarakat Madani”. Dan yang mampu memenuhi kriteria tersebut antara lain adalah Mahasiswa.
Tantangan zaman terus berubah. Musuh-musuh bagi pergerakan kemahasiswaan pun semakin beragam. Mulai dari bahaya tunggangan dari pihak non mahasiswa, apatisme yang ada di dalam kalangan mahasiswa sendiri, disorientasi gerakan hingga tuntutan akademik yang semakin ketat. Berkaitan dengan akademik, Sepertinya sudah menjadi “fitrah”nya Dewan Rektorat untuk menjadi oposan dari gerakan kemahasiswaan.
sejak dahulu saat ITB masih merupakan institusi pendidikan negeri, hingga sekarang saat konsep BHMN digulirkan.. keadaannya masih saja mengikuti lingkaran setan yang ada. Dulu, rektorat memiliki wewenang penuh untuk menghambat, bahkan membubarkan entitas kemahasiswaan. sebagai bawahan dari departemen pendidikan apapun perintah dari “atas” mereka hanya memiliki satu hak, – berhak menindak-lanjuti kebijakan departemen pendidikan dalam batasan patron yang sudah ditentukan-. Saat itu rektorat menjadi senjata ampuh bagi penguasa dalam meredam gelombang ketidak puasan mahasiswa.
Sekarang zaman telah berubah, Rektorat tidak lagi berada dibawah Depdiknas, melainkan monitor oleh suatu “dewan senat” yang disebut MWA (Majelis Wali Amanat) sebagai kombinasi perpanjangan tangan dari masyarakat, mahasiswa dan pemerintah. Namun, untuk beberapa kalangan mahasiswa, MWA kurang dapat dikatakan representatif, karena suara yang dimiliki tiap golongan memang tidak dapat dikatakan proporsional. Sedangkan rektorat sendiri nampaknya “cukup cerdas” dalam mengambil peran seolah-olah sebagai single fighter , dan kebijakan yang di ambil pun kadang tidak lagi memperhatikan kebutuhan masyarakat dan mahasiswa yang seharusnya diperjuangkan.
Kesan yang timbul dari sikap dan kebijakan rektorat selama saya nangkring di ITB adalah: sumber daya finansial institusi ITB diatas segala-galanya. Apapun itu, selama bersifat non-profit nampaknya akan terus dipandang sebelah mata. PKL ITB sudah membuktikannya. Walaupun setelah dilobby memang ada sedikit itikad baik dari LPKM dengan menerima konsep training, namun belakangan ada saja masalah yang muncul, seperti sebagian PKL yang akhirnya tidak mengikuti training. menurut saya LPKM -saya yakin- tidak kekurangan sumberdaya manajerial. kalau saja bantuan pemberdayaan PKL disupport pula dengan manajerial, masalah-masalah tersebut dapat diantisipasi secara lebih profesional.
Itu baru “Orang luar”, lho, lha wong mahasiswanya aja digusur. Campus Center (terus terang saya sebenarnya agak kurang paham masalah ini) mungkin memiliki maksud dan tujuan yang baik (?? iya gituh). Namun saya pikir bukanlah suatu hal yang esensial saat ini. bayang kan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan campus centre dapat menghidupi (mungkin) ratusan orang mahasiswa kurang mampu. Untuk alasan keindahan dan fasilitas yang nantinya disediakan,(harus diakui) memang sc tidak akan pernah mungkin menandingi.(mana ada Mc’D di sc…??) Tapi,(kalo boleh suudzan) sepertinya ada agenda yang “membuntuti” pelaksanaan penggusuran SC. Saya, terus terang agak kurang sreg dengan Posisi sekretariat Kabinet KM ITB yang “jauh dari peradaban”seperti sekarang. Apa ini salah satu usaha meredupkan dinamika kemahasiswaan? lalu, apa bisa dipegang, janji 15 bulan pembangunan CC?
Pendidikan tolol ala indonesia vs Tayangan tolol versi AFI
Subject: Diterima di ITB Malah Kebingungan (AFI VS IPA) – Tolong> Disebarkan> Agar Tayangan TV Tidak Makin Merusak
>> Diterima di ITB Malah Kebingungan>>
PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega,
sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman atau
nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya dengan
pemenang Olimpiade Biologi Internasional. Usai mendapat ‘penghargaan’
dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas) sebesar Rp5 juta per orang, mereka tambah miris
dengan masa depan mereka sendiri. Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun
tawaran model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono,pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur (Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk> yang diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa> yang> orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harusmembayar> uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk biaya kuliah serta biaya> hidup selama di Bandung masih tetap menjadi pikirannya. “Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan uang,” katanya lirih. Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana bagi kelangsungan sekolahnya kelak. Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp1,7 juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan pemantauannya lebih dari Rp400.000 sebulan. “Tanpa adanya beasiswa atau sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana,” kata> Mulyono.>> Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama> dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa> dalam> Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya. Darmi> mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana> melalui> jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke> Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa> terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat bingungkarena> ia> diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp11> juta.> Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan uang> ‘penghargaan’ sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, “Wah, masih> kurang Rp6 juta lagi.” Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru> SMA,> harus berusaha keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi> biaya> semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak bila> ia> belajar di Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman> orang tuanya di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja.> Artinya, selama menuntut ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena> tidak ada famili di sana.>> Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar,> tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma> sebesar> itu. Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak bangsanya> yang> telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, kapan bangsa ini mulai> menghargai orang cerdas dan pintar?>> Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004).> ======================================================================>> AFI Versus IPA> Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)>> Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie?> Atau, Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?> Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga,> jangan berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup dieksposmedia> massa.> Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman> satu surat kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime> time siaran televisi dan radio kita.>> Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI),misalnya,> pemberitaan soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang ‘cuma> seujung kuku’.>> Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan.Mereka berlima semua siswa> SMA> membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika> Internasional di Pohang, Korea Selatan,yang baru berakhir Kamis lalu.> Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia> hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada.> Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas.> Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian teori> dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya merebut medali> perak dan perunggu.>> Tapi, begitulah Indonesia.Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau> mengembangkan ilmu pengetahuan tidak memperoleh perhatian besar.> Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan untuk justru mengagumi hal-hal> tidak mendasar.> Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun> mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu> kecantikan.> Impian ‘menjadi bintang’ terus dipompakan ke benak bangsa ini.>> Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk.> Tapi, skalanya sudah menjadi begitu besar dan sama sekali> tidak proporsional sehingga bisa menyesatkan rentang pilihan yang> terbayang di benak bangsa ini.>> Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang.Salah satu syarat utama> untuk> mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan> teknologi.> Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer)dalam jumlah> ‘secukupnya’ saja.> Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi> muda yang cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting;> namun> kita memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.> Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik> tinggi. Akibatnya, media massa tidak memberi tempat cukup bagi> prestasi yang terkait dengan ‘keunggulan otak’.>> Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai> ‘kepintaran’.> Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum> ilmuwan ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban> dan> berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya> manusia unggul di negara ini dipinggirkan.>> Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi.> Kita misalnya juga tidak melihat upaya serius pemerintah untuk> memelihara dan mengembangkan kualitas brainware ini.>> Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan> dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet> pihak asing.>> Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari> sebuah universitas teknologi di AS.Dikabarkan pula dua anggota tim> Olimpiade> Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).>> Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para> calon ilmuwan terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari> mengiming-imingi beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja.> Sementara Indonesia, hanya mengamati mereka dari jauh.>> Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus?Tidak apa-apa, kok. Ia cuma> pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!>>
Dan Musnahlah…….
Kemarin, Ia masih Kokoh Berdiri..
Menatap angkuh langit, seakan berkata…
Akulah saksi Sang Kala Melangkah…
dititinya waktu, dilolongnya sejarah…
menghantar setiap gejolak maju…
menuntun Bayi-bayi revolusi temukan moksanya
dan… era masih berjalan…
bercermin memantas dalam metamorfosa
sinkronkan diri dengan langkah sang Kala
dan… akhir waktu menjebaknya dalam takdir
meronta….!! tali ajal membelitnya…. menjeratnya…
ia masih mengaum dalam erang
masih mengaum…
masih mengaum….
masih mengaum…
dan saat roboh..
bayi-bayi peradaban masih meneriakinya
aku tak rela…
hidupku… perjuanganku…
ada pada rongga rangkamu
citaku… ideologiku….
ada dalam alur hembus asamu
perlahan wujudnya memudar..
ditelan bumi ganesa yang angkuh…
seekor tumbal….
bagi cantikku
katanya….
Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. MERDEKA…!!
Dan Musnahlah…….
Kemarin, Ia masih Kokoh Berdiri..
Menatap angkuh langit, seakan berkata…
Akulah saksi Sang Kala Melangkah…
dititinya waktu, dilolongnya sejarah…
menghantar setiap gejolak maju…
menuntun Bayi-bayi revolusi temukan moksanya
dan… era masih berjalan…
bercermin memantas dalam metamorfosa
sinkronkan diri dengan langkah sang Kala
dan… akhir waktu menjebaknya dalam takdir
meronta….!! tali ajal membelitnya…. menjeratnya…
ia masih mengaum dalam erang
masih mengaum…
masih mengaum….
masih mengaum…
dan saat roboh..
bayi-bayi peradaban masih meneriakinya
aku tak rela…
hidupku… perjuanganku…
ada pada rongga rangkamu
citaku… ideologiku….
ada dalam alur hembus asamu
perlahan wujudnya memudar..
ditelan bumi ganesa yang angkuh…
seekor tumbal….
bagi cantikku
katanya….
Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. MERDEKA…!!
cantik atau stereotip cantik…….??
cantik atau stereotip cantik…….??
sebuah manifesto (bag. 1)
Kriteria Calon Istri Buat-ku
Pernikahan adalah ikatan suci yang bisa menyatukan manusia dalam naungan dan bimbingan sang Rabb yg Maha Tinggi Menuju level kehambaan yg lebih tinggi dari sebelumnya dan kebahagiaan dunia(kehidupan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah) dan akhirat.
namun disisi lain pernikahan pun dapat menjadi suatu bumerang kehidupan. dimana visi menuju kebahagiaan yg dimaksud, justru menyeret pasangan didalamnya menuju Keburukan, atau lembah konflik.
thats why….. dalam “meniti jalan menuju” dan “menjalani” pernikahan perlu visi dan arah tujuan yang abadi, yaitu akhirat.
jika saya ditanya mengapa saya memutuskan merencanakan pernikahan dini, maka saya jawab saya ingin jalan terbaik untuk hidup saya, didunia maupun akhirat.
setelah bercermin pada diri saya sendiri, saya menemukan beberapa sifat yang perlu “diseimbangkan”. inkonsistensi, emosional yang labil, sifat ingin menonjol, dan mudah patah semangat adalah potensi negatif yang dapat menimbulkan dampak negatif pula bila tidak dimanage secara benar. hal yang paling saya takutkan sebenarnya bila potensi negatif yang ada, kelak menjadi sumber bahaya bagi gerakan dakwah.
langsung saja, kriteria akhwat/wanita/bidadari yang saya rumuskan dalam pencarian saya menuju pernikahan kelak:
1. Aktifis Gerakan Dakwah
Why…? saya memiliki harapan, pernikahan menjadi wahana sinergisasi gerak dakwah yang saya jalani. butuh seseorang yang nantinya jadi tempat berbagi, saling menyemangati, dan spirit guardian yang menjaga kekonsistenan ruhiyah saya.
2. Wanita yang tegas dan Konsisten dalam menjaga izzah(harga diri)nya dan dalam mengamalkan din-nya yang mulia
Masuk didalamnya bagaimana ia berbusana—!! sebenarnya, ini syarat yg ini belum pantas saya tuntut mengingat saya orang yang sulit untuk rapi!!—-, dan sikap pergaulannya. Saya lebih prefer ke akhwat yang dianggap galak dalam bergaul dalam lingkungan Organisasi.
3. memiliki Background keilmuan dan Pemikiran yang sama dengan saya, serta orang yg kritis
Harapannya ia bisa menjadi teman dialog, dan sharing idea.
nb: diluar itu masih ada harapan-harapan kecil yang menjadi Kriteria sekunder.