sebuah manifesto (bag. 1)

Bisa dikatakan orang takkan pernah bisa hidup dari mimpi. mimpi lah yang membuat orang memiliki obsesi, dan selanjutnya terciptalah cita-cita. Saya sendiri beranggapan bahwa tanpa mimpi, orang tidak dapat “benar-benar dikatakan merasakan hidup”.

beberapa saat yang lalu ada seseorang yang membalas message saya dengan kalimat kira-kira begini:” ah.. jangan mimpi deh lo yan…!!”. Hmm…. bagi saya adalah sesuatu yang tidak logis, dan tidak sesuai dengan prinsip yang saya pegang sekarang ini -yah…. walau sebenarnya saya rasa saya tidak berhak melarang orang untuk hidup dalam ketidak logisannya(itukan sebuah pilihan) -. Bagi saya, tanpa mimpi, saya bukanlah saya yang sekarang.
Entah, mungkin saya tidak sedang mengambil studi di departemen biologi ITB sekarang, seandainya saya tidak bermimpi untuk kelak bisa memberi “sesuatu” bagi kemajuan ilmu biologi di Indonesia. Setidaknya, untuk Prestasi duta-duta bangsa ini di International Biologi Olympiad.
Saya pernah sangat-sangat terobsesi dengan IBO. Bagaimana tidak, -dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu-hidup saya berubah total…!!- sesaat setelah saya dinyatakan lolos seleksi Olimpiade ditingkat Propinsi, yang berarti: saya berhak menjadi duta banten di Olimpiade Sains Nasional….!!
Kalau ditelusuri lagi pun, asal-usul saya bisa ikut seleksi pun karena mimpi(lebih tepatnya obsesi). Saat kelas 3 MTs saya sangat ingin bisa masuk sekolah unggulan. Cita-cita ini kemudian saya pikir agak tolol, sebab seandainya saya masuk SMU unggulan tidak berarti saya adalah pelajar unggulan(lha wong yang unggul itu sekolahnya kok…). Saya putuskan untuk meluruskan niat (dan cita-cita tentunya) :”bila tidak bisa masuk sekolah unggulan, setidaknya saya harus bisa membuat sekolah saya menjadi unggulan….” . Dan cita-cita itu terwujudlah.
Dari hasil pengalaman saya selama ini saya menyimpulkan sebuah prinsip. “Hidup adalah manifestasi Mimpi. Orang yang tidak berani membangun(mengkonstruksi) mimpi berarti tidak berani menghadapi hidup.” Hidup bagi saya bukanlah sesuatu yang datar-datar saja. kalau “meledak”, meledak lah…. saat kau bisa menonjol, kenapa tidak..? saat kau bisa belajar tentang hidup lebih cepat, kenapa harus membatasi diri…? Toh jika kalian salah perhitungan, yang terpahit hanya sebuah kegagalan. Bukankah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda…? bukankah dalam kegagalan ada jackpot berupa hikmah…? gak gagal, gak belajar dong…!!(Oups… salah, maksudnya gak dapet pembelajaran tambahan.).
sekian dulu lah ntar di sambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published.