All posts by ardee

Abadi

Abadi

Terinspirasi keabadian “Highlander”

Kembali…. hanya entah yang kurasa

Saat nafas yang ku cinta

Meninggalkan ku

Menutup waktunya

Hingga hanya ada aku

Sendiri dalam sunyiku

Bayangi langkah ku

Hingga nanti ujung dunia

Reff:

Cukup matikan aku disini

Jauhkan aku dari sepi

Memenjarakan ku disini

Cukup… berikan aku ajalku

Yang membebaskanku dari sunyi

lepaskan ku dari candu dunia

Aku… aku bukan raja dunia

Bahkan aku menolaknya

Cukup singkat usia untukku

Bukan abadi yang menyiksaku

Bosan… dalam sendiriku

Menunggu ia menjemput ku

Yang tak kunjung datang

Seakan takdir tak mengizinkan

(back to reff.)

Detak-detak…

Detak-detak

Detak-detak…, saat kubuka mata mencoba tuk
bernafas

melihat sebuah awal

Detak-detak…, singkapkan sebuah takdir meraba
truk bepijak

membangun langkah panjang

Detak-detak…, saat waktu mulai belajar ungkapkan
jati diri

Membangun masa depan

Detak-detak…, kusadari mulai beranjak tinggalkan
masa usang

bersiap tuk melangkaa……ah

Bridge:

Namun saat kulewati mimpi…. Terhempasku kehilangan arah

Dan coba aku pahami…. Lintasan takdir yang harus kulalui

Reff:

Terdiam ku sejenak

tak dapat menatap utuh cerminan diriku

Terjerat mimpi kosong

sesaat menghilang tinggalkan pahit ku

Detak-detak…, saat galau kian melanda sisakan
awan tebal

Mengharap tak tersingkap

Detak-detak…, bila mata mulai mengalir terpendam
sesal diri

Merasa tanpa arti

Detak-detak…, terasa kian terlambat gundah tuk
bergegas

Memaaf atas dosa

Detak-detak…, dan tiba sebuah harapan akankah ia
sirna

Tertelan mimpi lagi

(back to bridge, reff)2X

Oo oo.. oo.. o.. o… (back to Reff.)

Detak-detak…, tiba diujung hari berharap masih ada

Sisakan sedikit harap

Detak-detak…, nafas mulai merenggang memaksa tuk berhenti

Tinggalkan sesal diri

Tentang seorang kawan:
Sebuah renungan tentang ketergantungan dan masa sulit

Mungkin suatu saat nanti

Mungkin suatu saat nanti

Sudah tak ada lagi yang harus engkau sesali

Semua yang terawali pasti kan berakhir nanti

Lebih baik kau ingat semua kenangan manis kita

Segala yang kita tinggalkan… bersama…

Cukup… mungkin untuk saat ini

Kita simpan hari ini untuk bekal esok nanti

Biar… biar semua terkunci

Untuk bahan dongeng kita untuk anak cucu nanti

Bridge:

Ku tahu perpisahan memang menyakitkan

Namun mengingatkan akan arti pertemuan

Suka duka dan kenangan kita jadikan ikatan

Agar takkan pernah terlupakan

Reff:

Mungkin suatu saat nanti kita saling menemui

Dengan dcanda dan kekonyolan kita

Mungkin suatu saat nanti kita sama menyadari

Akan arti persahabatan kita

Cukup… mungkin untuk saat ini

Kita simpan hari ini untuk bekal esok nanti

Biar… biar semua terkunci

Untuk bahan dongeng kita untuk anak cucu nanti

(back to bridge, reff)

Slamat tinggal kawan, kejar semua impianmu

Sampai jumpa kelak…. Mungkin suatu saat nanti….

Biosadistika…. akhirnya!!

hhh….. suerr…. nyesel, semester ini banyak bolos. terutama utk mata kuliah yang satu ini…..
katjroetnya bukan maen……

sebenarnya, bolosyang terus-terusan lebih sebagai efek dari bolos yang dilakukan sebelumnya. begitu mulai gak ngerti, planga-plongo dikelas, trus….. "ah absen gak diliat ini lah…" trus jadi deh lingkaran setan…….
gee….lo
blajar semalem awalnya dengan pesimisme yang berlebihan.
untung ada yudis, agus dan anak-anak kosannya romzi yang nyemangatin dan rela ngajarin orang keren ini, walaupun si Yudisnya sendiri lagi sibuk dengan tugas presentasi UASnya….
thanks to them….
tapi….. apa yang udah dipersiapkan dari semalem…. katjroet lagi dong…. kalkulator yang mo di pinjemin muluk ketinggalan dikosannya, trus ketiduran di kosan sampe jam 12.45!!! padahal ujiannya jam satu…. gak tau ruangan…!!! akhirnya ke kosan anas, minjem kalkulatornya Otep, terus akhirnya bisa masuk kelas….
TAPI…… RUMUS YANG DI HAFALIN SEMALEM TIBA-TIBA LUPA LAGI…….
Aaaaaaa……….
tapi setelah keluar lumayan lega sih…..
gak parah-parah banget lah untuk ukuran belajar materi 1/2 semester dalam satu malam….
paling ga semoga hasilnya gak E-E banget lah….
C ato D juga dah lumayan…… kyknya ttp aja sih… alamat mesti ngulang lagi kalo mo TA Konservasi penyu seperti yang udah direncanain pas TPB…..

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

K.H. Rahmat ‘Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

———————————————————————-

 

 

Mungkin
terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan
sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang.
Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW : "Cintailah
saudaramu secara proporsional, mungkin

suatu
masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara
proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai."
(HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari). Ini dalam
kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali
reserve syar’i yang menggariskan aqidah "La tha’ata limakhluqin fi
ma’shiati’l Khaliq
". Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam
berma’siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).

 

Doktrin
ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam
senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level
terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus’
shadr
(lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas
itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).

 

Bagi
kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati
setiap ikhwah : "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa
in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi
" (Jika ia tidak bersama
mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya,
akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila `hati saling
bertaut dalam ikatan aqidah’, ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah
adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta’lim,
rukun Ukhuwah).

 

Gairah
Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

 

Karena
bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka
"kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan
da’wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh
mereka yang tak tahan beramal jama’i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
"Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain
dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).

 

Masing-masing
kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20 tahun
terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan
yang berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah.
Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan
kepentingan da’-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran
nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.

 

Ada
seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika
menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar
hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi
pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah
petak sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung
menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar
melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah
telah mengelupas. Kala itu jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi
petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk
dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah
(sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau
shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da’wati"
: Isteriku atau da’wahku ?".

 

Dia
mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah
dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut
bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya
: "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah.
Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah.
Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi
menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan
wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun
kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru
istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap
tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah
da’wah.

 

Lain
lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahnya
mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk
da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader
(liqa’). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah
kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah
dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya
: "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam
tugas-tugas da’wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan
kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang sudah memberikan
putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?". Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai
dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da’wah besok apapun yang terjadi, mau
hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula
ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak
hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah.
Sampai hari ini pun saya melihat
jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah
merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah
atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah
pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri
oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka
menemukan sesuatu yang lain, "in lam takun bihim falan takuna
bighoirihim
".

 

Di
Titik Lemah Ujian Datang

 

Akhirnya
dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini
ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A’raf Ayat 163 : "Tanyakan pada mereka
tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di
(tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah
pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang.
Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka". Secara langsung tema
ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa
lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian.

 

Waktu
ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak
orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari
untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih
sedikit waktunya irring berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada
sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah
tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan
itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da’wah sekarang
secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang
roda ekonominya sedang dibawah.

 

Seorang
masyaikh da’wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak
rekannya untuk mulai aktif berda’wah. Diajak menolak, dengan irri ingin kaya
dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda’wah, da’wahnya
diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. “Ternyata kayanya kaya begitu
saja”, ujar Syaikh tersebut.

 

Ternyata
kita temukan kuncinya, “Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan
mereka”. Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah.
Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan
datang, pada hari Jum’at jam 11.50 datang pelanggan ke irr. Pada saat-saat jam
da’wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka
bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila
diam salju itu tak akan me-nyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju
membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak
kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan,
kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian
dan cobaan sepanjang hari.

 

Iman
dan Pengendalian Kesadaran Ma’iyatullah

 

Aqidah
kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak
ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan
menghalangi kewajiban da’wah. Apa mereka irri orang-orang itu bergerak sendiri
dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain yang
tidak menghalangi aktifitas utama dalam da’wah? Tanyakan kepada pakarnya,
aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai
segalanya? Mengapa mereka yang melalaikan tugas da’wahnya tidak berfikir
perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya
batu ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da’wahnya atau
keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari
kekayaan ALLAH ?

 

Karena
itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang
gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa’, syuro atau jaulah.
Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua
kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak
tergantikan. Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan “Seandainya para
raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan
majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang”.
Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan
diperjuangkan. Berda’wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling
menopang dan memecahkan problematika da’wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai
saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan
dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus.

 

Ayat
ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang
lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan,
kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan
berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati
dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya’ mungkin– dimasa
ujian – akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam
dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum
tabayun.Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat
dia hanya `selamat’ dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.

 

Kalau
saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib)
ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber
Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh
Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri
mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan
hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu,
waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab
dan penyesalan.

 

Seni
Membuat Alasan

 

Perlu
kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da’wah dengan
tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi
diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya,
sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu.
Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. “Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik
dari yang mereka sangka, jangan irri daku lantaran ucapan mereka dan ampuni
daku karena ketidaktahuan mereka”, demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita
dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? “Alangkah bodoh kamu, percaya kepada
sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan
itu”, demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah.

 

Diantara
nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga
aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah
diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da’wah tumbuh dan
menjadi tua sebagai seniman maaf, “Afwan ya Akhi”.

 

Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka
Karunia Besar

 

Kelengkapan Amal Jama’i tempat kita
`menyumbangkan’ karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan
ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal
jama’i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da’wah.
“Mereka

membangkit-bangkitkan
(jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan : `Janganlah bangkit-bangkitkan
keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah)
bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu irri Iman,
jika kamu memang jujur” (Qs. 49;17).

 

ALLAH
telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah. Ini adalah karunia besar.
Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang
lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna –
menung-gu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : “Nah, rasain !”
Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah
kebahagiaan ini?.

 

Saling
mendo’akan irri ikhwah telah menjadi irri kemuliaan pribadi mereka, terlebih
doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak motivasi lain bagi saudara yang
berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya
berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah
kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang
saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan
cinta fi’Llah.

 

Ya
ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta
kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu….

 

 

Takkan surut walau selangkah

Takkan henti walau sejenak

Cita Kami hidup mulia

Atau Syahid mendapat syurga…

Ini cuma masa lalu………..

Ini tulisan dari bloggue +- 18 bulan yang lalu……….. apa mo di permasalahin juga……

sembilan bulan yang lalu……

   

   

         

 

Hmm…..
tiba-tiba teringat saat-saat konyol itu dibenak saya. Saat-saat penuh
kebingungan, Kegelisahan karena gejolak muda. waktu itu, saya bukanlah
saya yang sekarang (yang bisa anda lihat saat ini). Dari cuma seorang
anak TPB yang sangat-sangat awam dan cuek dengan aktivitas dinamisnya
kemahasiswaan(kecuali soal OS-Jur tentunya). Hingga kini Menjadi orang
yang mau tak mau memang harus terjun didalamnya. Secara "gombal" bisa
dikatakan ada semacam panggilan nurani untuk tidak membuang muka
terhadap apa yang terjadi di kampus.
Secara umum saya sadar sih perasaan yang saya alami cuma bagian dari cinta monyet
yang belum tuntas dimasa puber. Dan saya juga tahu dari situ saya punya
Kecenderungan suka beberapa orang lawan jenis sekaligus. Tapi tetap ada
bagian yag paling berkesannya, Sangat sangat berkesan malah, bagi
saya(walaupun seandainya saya ceritakan pada teman saya yang lain
paling mereka komentar:"yah, cuma segitu kok berkesan.").
Kayaknya
sudah jadi takdir saya untuk jadi orang yang sulit ingat nama orang.
Sampai saya ingat ada seorang teman seangkatan saya di biologi yang
butuh 5 kali memperkenalkan diri, dan berarti saya perlu 4 kali lupa
namanya. Akhirnya saya iingat juga namanya setelah susah payah. Nah,
karena sifat yang ini nih… ada satu teman wanita(ah… ribeut ngomong
sopan-sopanan, kita sebut saja cewek ya…!!) yang sampai tiga bulan
kuliah, saya masih belum "ngeh" siapa namanya. Suatu hari ia terlambat
masuk kelas Kalkulus(kalo gak salah), akhirnya "nangkring" dikelas saya
ditemani seorang teman yang lain. Dengan sok-sok akrab saya datangi
mereka, saya ajak dia ngobrol, tapi dari sekian banyak pertanyaan, dia
hanya senyum-senyum. Teman saya yang di sebelah langsung bilang
"suaranya lagi gak ada". Akhirnya teman saya itu membantu. Si cewek
yang belakangan ketahuan bernama MAYA itu membisikkan sesuatu ketelinga
teman saya dan teman saya mengucapkannya ulang. sebenarnya sih, kasian
juga, tapi emang dasar lagi mau ngobrol, sempat beberapa kali saya
bilang "gak bakal nanya lagi deh…..!!" tapi beberapa detik kemudian
pertanyaan yg lain muncul. Akhirnya kami cekikikan sendiri….. Nah…
disitu celakanya… saat cekikikan tersebut berlangsung (bayangkan
seperti gerakan slow motion di MATRIX) mata saya gak mau kompromi untuk
nggak melihat mata dia. Jadilah beberapa hari saya sempat teringat
terus sama "mata indah itu".
Dan ramadhan
tiba, masalah jadi tambah gawat. Setidaknya ada 4 cewek yang tiba-tiba
"nongol" di hati saya. sampai-sampai saya yang lagi panas-panasnya
belajar HTML (bukan HMTL yang deket planologi itu lho) membuat halaman
Khusus web berisi rangking Cewek biologi yang paling topmenurut saya.
Tapi eit… eit… jangan salah, kalo anda berpikir cewek cewek
seksi(begitu kan bahasa gaulnya) yang ada didalamnya, anda salah besar.
Rangking yang ada adalah berdasarkan "se-syar’i apa sih
penampilannya…??", "tipe seperti apa yang saya senangi…??". Dari
situ saya tau tipe yang saya sukai. Jilbab lebar, jangkung(bahasa
halusnya "tinggi semampai"), Agak rame(walau yang saya taruh di No.1
Orangnya keliatan kalem, tapi komunikatif), dan terjaga ruhiyahnya.
Disitu juga saya temukan, saya menyukai akhwat yang menolak pacaran.
Menjelang
ramadhan usai tampaknya saya harus bergulat dengan ego saya sendiri.
Pergaulan di TPB terutama Biologi yang sangat dinamis membius saya
dalam mimpi-mimpi sendiri. Kedekatan dengan lawan jenis menjadi sesuatu
yang tak terelakkan. Angan-angan gila, rasa dag-dig-dug, dan bbg rasa
lainnya tumpah ruah. Saya jadi sering curhat tentang seorang teman
wanita pada teman wanita yang lain. Dia malah jadi tau banyak hal
tentang saya.
Saya gak pernah nembak cewek,
tapi pernah menyatakan perasaan ke seorang akhwat. Ceritanya begini,
suatu hari saya ketemu seorang teman cewek, dia ini salah satu teman
paling dekat dari akhwat yang saya maksud. Pagi itu ternyata kami punya
rencana pergi ke tujuan yang sama. Nah, dia ini janjian juga sama
akhwat itu. Cuma sepertinya akhwat itu terlambat. Sambil menunggu, saya
ngobrol dengan Teman saya itu. (eh… iya, sebelumnya perlu diketahui,
dia juga tahu kalau saya suka sama akhwat itu) setelah lama menunggu
kami jalan ke salman dan ketemu teman yang bilang"eh… ada rujakan
gamais tuh di taman ganesha." teman saya itu meng sms sang akhwat,
mengajak ikut rujakan.(ada lagi yang kelupaan, sejak pagi bertemu teman
saya itu, semua sms ke si akhwat lewat hp saya karena dia gak punya
pulsa.) Si akhwat bilang dia akan datang tapi terlambat. Nah kebetulan
saya sendiri saat itu ada acara di dago, jadi teman saya tersebut saya
tinggal.
Dan saat itulah, ditengah jalan
akhwat itu sms,"yan gmn rujakannya? seru ga?ada yg mau dtanyain nih,tp
jgn marah ya. kmu suka ****** ya?". Byarr….!! hah, akhwat yang saya
sukai ternyata mengira saya suka dengan temannya. (kalo boleh husnudzan
sih, kayaknya dia punya perasaan yang sama.) dengan pede yang kelebihan
saya balas sms itu:"hah masa iya aku suka sama******. afwan Myr, saya
gak bs jaga hati utk ga suka sama kmu". Saat itu sih perasaan saya
"enteng", plong lah… . Tapi malamnya saya panas dingin, gak bisa
tidur. "kepikiran apaan ya sampe ngomong kayak gitu…." Besoknya,
dikelas saya malah jadi salting sendiri. Saya cerita keteman saya yang
kemarin, dia coba menenangkan, "tenang aja si M**** orangnya gak kaya
gitu kok.biasa aja lah..". Sehari kemudian saya terima sms:"Ass,ayo
ardian km pasti bisa ngilangin perasaan suka itu, cayo, berusaha
ya.sikapku ga berubah ko,kta masih tetep temen.ya kan?". Ahh… lega
juga sih, tapi tetep aja salting itu gak ilang ilang.
Beberapa
minggu kemudian saya sempat ada dalam dua kepanitiaan yang sama(ini gak
direncanakan lho), perasaan itu muncul lagi. konyolnya saya sempat
ngirim sms:" "ayo ardian km pasti bisa ngilangin perasaan suka
itu,…sikapku ga berubah ko,kta masih tetep temen.ya kan?"..Myr, gua
bingung..!gak ilang ilang, malah tambah parah." Dan sehari kemudian
dateng sms bunyinya:" ass.coba sholat istikhoroh,minta dimantepin
hatinya. biar bisa membentengi hati dari hal2 yg spt ini. jgn biarin
perasaan itu smkndalem. dicoba ya."
"Tuh kan
bener… jangan jangan dia juga suka sama gua." saya mikir gitu
tadinya, tapi setelah beberapa kali baca sms itu baru "ngeh" sama
maksud sms itu. Tapi kenyataannya saya gak pernah shalat istikhoroh
dengan maksud itu. yang ada malah saya shalat dan berdoa"ya Allah…
jadikan dia orang yang tepat buat saya….".
oke deh kapan kapan disambung lagi…
dari: rAo "sebuah tekad, (atau nekad…….??)

   

   

Hhhh…. Protes balik

heran, akhwat kabinet kurang kerjaan…….
kayak beginian dimasalahin……..
gak ngomong langsung lagi……
"AKHWAT yang siap nikah dengan kriteria gak muluk-muluk:
1. anak itb (trutama yg sbidang ilmu…. bio…bio…bio)
2. aktif di k******* KM ITB
3. Jilbab lebar mentoring, (tapi bukan Hizbuttahrir ato N11)
4. bs nrima aku apa adanya"
oke deh, gak saya tulis diprofil……
tapi beneran, kalo dari ceramah yang saya dapet, kriteria "itu" mesti dirumusin dengan baik. Gak boleh Menjurus dan bisa dkatakan cukup lebar cakupannya…..
sebenarnya kriteria nya udah saya perlebar jadi 3 point:
akhwat…… yang bisa memahami bidang profesi dan da’wi saya….. and domisili(ini bukan kriteria penting) jakarta.
masa yang kayak gini dimasalahin….. kalo memang bermasalah, kasih tahu dong masalahnya dimana? TERLALU EXPRESSIF?

pilar-pilar

inikah saatnya…?

aku membawa beban
penguasa zaman ini dan nanti
generasi macam apakah kami…?
merusak masadepan negeri ini
dengan mematikan gerak langkah mereka
atau tak peduli mau seperti apa
calon-calon tiran ini
atau mungkin aku orang
yang membawa panji didepan
namun tak tahu harus berbuat apa

kami terpaksa terkungkung sejarah
yang menusuk memaku pikiran kami
untuk tetap diam disini
terlena dengan rasa sakit
hilangkan nurani tertinggi kami

lalu…
aku harus mengadu kesiapa jiwaku?
ternyata akupun terlalu rapuh
tukkatakan AKU siap
membawamu maju Panjiku

sedangkan beban sejarah ini
telah lebih dahulu menjeratku
untuk tidak lagi menutup mata
kita harus bergerak
dan katakan:"kita ada, saudaraku…!!!"

sepertinya akan indah saat aku
masih dapat menggenggam erat
tangan-tangan yang sama
walau kutahu dipundaknya
masih ada gores luka yang sama
atau mungkin lebih

Lentera-lentera baru, telahkah engkau siap
gantikan pelita-pelita yang telah redup ini
sudah saatnyakan kami menyerah mati
sebelum bunga2 semangat kami merekah

haruskah ini akhir jalan kami…..?

Ia datang lagi……

aku kembali tersiksa walaupun dapat melawannya. aku harus mengakui aku kembali terjebak!!
setiap kali aroma ruangan itu tercium… aroma yang mengingatkan aku saat 8 bulan lalu keadaan memaksa aku harus mengenalnya…. langsung terlintas figur seseorang di pikiran ku….. dia.
kenapa setelah sekian lama perasaan tersebut (akhirnya…) bisa hilang dari pikiranku, tiba-tiba sosok yang lain muncul. perasaan ini tiba-tiba ada lagi di jiwa yang berbeda…
saat seharusnya aku lebih tegar menopang panji ini…. saat seharusnya hanya ada Dia didalam dada ini…. saat semakin jauh aku melangkah susuri jalan ini…..
apakah telah saatnya aku berpaling…..? bukan….!! bukan itu maksudku…. bukan berpaling dari-Nya, tapi dari dia yang tiba-tiba saja datang. Ia harus pergi…. atau akulah yang pergi…. tak ada pilihan selain itu…!!! dan sepertinya memang akulah yang harus pergi…. bocah-bocah itu lebih membutuhkannnya….. Bukan aku….!!!
Ini yang terbaik… semoga…. bagiku… baginya…. bagi kehormatan bendera ini….. bendera yang kuusung bersamanya melalui jalan yang berbeda…..
nampaknya JALAN BARU YANG BELUM TERJAMAH adalah pilihan yang terbaik…. ini tak boleh terulang lagi aku masih ingin dibelai semerbak wangi surga yang memancar dari putihnya bendera ini. aku harus… aku harus… aku harus….. karena aku tak mau ridhaNya pergi tinggalkan ku…. jalan ini harus segera kau pilih… apapun resikonya….
demi tegak bendera ini….
harus kukatakan: Bu…. minta nikah……

detak-detak

sekitar tahun 2001, pas kelas 2 SMU gua pernah nulis lagu  judulnya "detak-detak".
lagu itu bercerita tentang perjalanan hidup seseorang yang akhirnya harus berakhir direnggut
oleh "drugs". di lagu itu gua coba ngangkat suatu keadaan yang bakal gua alamin kalo gua ada
diposisi orang itu yang ternyata gak cuma ada dikondisi terbelenggu oleh drugs, tapi dimana pun.
kadang aktivitas, rangkaian rutinitas bahkan ritual atau hobi sekalipun dapat menjadi candu…
yang membuat kita menagih lagi… lagi… dan lagi….
saat itu kemudian kadang kita lupa masih ada sisi2 lain hidup kita….. seakan kemudian kita gak bisa lagi mengenali diri kita seutuhnya…
ia sudah terbungkus kejenuhan, kebekuan disekitarnya… dan gak tau mo ngapain

dan ini sepenggal bridge dan reff nya:

"namun, saat ku lewati mimpi
terhempas ku, kehilangan arah
     dan coba aku pahami
     lintasan takdir yang harus kulalui……
reff:
terdiam ku sejenak
tak dapat menatap utuh cerminan diriku…
terjerat mimpi kosong
sesaat, menghilang tinggalkan pahitku"