All posts by ardian perdana putra

dalam sebuah renungan

Dalam sebuah renungan
Ardian Perdana Putra

Suatu saat nanti, kaderisasi ini bukanlah sebuah pertemuan sepi
dimana aku memberikan segala yang kupunya kepadaku…
atau tidak kepada siapa-siapa

Suatu saat… aku ingin, begitu banyak bocah-bocah
Bergelayut manja dibawah belai kasih sayang
Panji perjuangan ini

Dimata mereka terpancang sebuah panji
Aku mati dalam mulianya naunganmu
Atau tidak sama sekali

Suatu saat kuingin lentera-lentera
Yang mulai redup ini tergantikan
Nyala besar mentari yang tertanam di setiap nafas baru gerak ini…
Yang berteriak “Allahu akbar… kutegakkan panjimu…

Panji…
Jangan redup kibar hembus aromamu
Sisakan sedikit didada ini
Dan biarkan pedang-pedang takdir
Antarkan ku pada Sang Pempunya
Yang tak mungkin terpunya

Atas kegundahan yang menyisip dalam kaderisasi ini

Karena aku masih sang pemegang panji
Majulah maju barisanku
Kibaskan pedangmu hadapu lawanmu
Aku masih akan ada disini
Hatta perang ini berakhir
Hingga nyawa terakhir jundiku
Menyambut lambai sang rabb
Hingga ratusan kelebat
Mengiris, mencabik
Aku masih akan disini
Karena aku sang pembawa panji

Perang ini masih panjang…dan aku belum siap…

akankah cukup masaku

Akankah cukup masaku

Dan kembali lagi satu masa telah berlalu

Pada masa surga bumi aku kembali menoreh sejarah

Masa dan petisi merobek-robek kertas tekadku

Merintih aku dan air mata menitik pada alam

Sudah…

Sudah cukup aku tertatih

Sudah cukup masaku menanti

Sudah cukup kau toreh belati siksa pada kesan dibenakku

Sudah cukup teriakku menjadi kelam pada alam

Sudah cukup aku berjanji…

Ijinkan aku berlaku dan bersaksi

Pada rentetan syair-syair lagu ikrarku

Bunda pertiwi…

Aku lelah hari ini…

Merapat pada laksa pelangi mendaki

Geram nafasku kala meremas tanah

Kala merah bumi memanas mencabik-cabik sumpahu…

Aku lelah hari ini…

Beraniku surut kala tak lagi satu pohon menutup lahan dan janiku

Aku adalah panji

Dan ujarku adalah saksi bagi seribu samudera

Aku akan berlaku kala kataku tak cukup untuk menjadi saksi

Aku akan berlari kala hari tak lagi merebut pagiku

Aku adalah panji

Penegak dan pemegang sutra bendera dan genderang kebenaran

Aku adalah panji-panji tanahku

Pengangkat beban pertiwi kala mendaki semeru bahkan neraka

Aku adalah panji-panji tanahku

Bahkan lelah takkan merenggut habis nafasku

Hingga tak satu asa tertatih mengemban derita

Kala itu pula masaku akan berakhir disisi-Mu

Aku adalah panji-panji tanah airku…

(karya: Hokkop ’98, Dibawakan oleh Ahmad ’99 pada LKO HMS)

puisi opening OSKM 2004 (by:Hokkop)

Rabu, 25 Agustus 2004

Selamat senja nafasku!!
Jikakah kalian melihat kuasa bertengger dipundakku?!
Jikakah kalian melangkah dialtar masa dan keringat?!
Jikakah kalian sadar ada ikrar yang musti dipertahankan?!
Buka matamu nafasku !!
Lihat dan resapi dingin lantai-lantai gedung
Yang diam jadi saksi

Perjuangan bukan kata-kata
Perjuangan adalah pelaksanaan

Berteriak… berteriaklah nafasku!!
Mana penamu mengukir sejarah ?!
Mana lakumu Menjadi panji bagi tanah ini?!
MERDEKA hanya secarik kertas bagimu bukan?
MERDEKA tak lebih dari komedi tolol…
MERDEKA tak berubah menjadi beras…

Kalian terjajah…
Kalian terjajah dalam ideologi semu kebangsaan…
Kalian terjajah dalam rintik mentari menghunjam
Pernak-pernik gaya hidup…
Kalian terjajah dalam kesendirian
Kalian terjajah dalam kerasotak dan belati ego
Menutup mata yang seharusnya menangis

Aku menuntut kemerdekaan bangsa
Aku menuntut kemerdekaan atas sungai-sungai dan bukit
Aku menuntut kemerdekaan atas bumi yang kupijak
Aku menuntut kemerdekaan hak-hak sebagai manusia
Aku menuntut kemerdekaan mahasiswa !!

Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Karno
Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Hatta
Aku hari ini menutup masa sejarah Soedirman, Dhien, Pattimura, dan Gatot Kaca !!
Kebesaran mereka adalah milik mereka !!

Aku butuh udara…
Aku butuh nafas-nafas baru…
Yang terhenyak dalam batin dan kenistaan bangsa…
Yang membuka mata pada keruntuhan bumi !
Yang pada tebing suara menghancurkan tembok-tembok tirani
Aku butuh kalian nafasku…!

Tak adakah kalian mengerti…
Merdeka adalah menghirup udara
Merdeka adalah terbang kelangit dan mendarat
Berenang pada samudera…
Merdeka adalah ketidakterbatasan mengatur apa yang menjadi hak-hak bangsa ini…!

Nafasku…
Nafasku…
Nafasku…
Satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Ingat… satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Selamat sore nafasku…

Dan aku hanya ingin teriak merdeka!!

(karya: Hokkop SI 98’, dibawakan oleh: Ahmad dan Hokkop, dibawakan pada pembukaan OSKM ITB 2004 )

aduh telat…..

udah beberapa minggu gak ngisi blog ini karena gaada internet gratisan di salaman maupun himpunan.
akhir tahun ini ternyata musibah datang, sebagai bagian dari rencana tuhan terhadap hambanya. dasar orang yang nggak peka, dua hari setelah kejadian baru mikir:”waduh, sodara di lhokseumawe, gimana kabarnya ya…?”, sehari berikutnya baru ikut nimbrung dikabinet, bantu-bantu ngegalang dana.
gua ucapkan salut deh kepada rekan2 PSIK yang keliatan lebih konkret untuk menginisiasi koordinasi pengumpulan bantuan untuk aceh, dan jga anak UKA, semoga diberi ketabahan dalam mnghadapi kehilangan sanak famili yang dirasakan.
***
sehari di sekre, eh… besoknya disuruh berangkat kejakarta. nganter bantuan ke markas TNI-AL. ternyata disana udah penuh euy. jadi dialihin ke KOARMABAR. kalo dilihat sih, kita seperti biasa tidak terkoordinir. kendala yang terjadi sumbangan banyak ynag datang, tanpa ada yang bisa meneruskannya ke yang berhak. abis gimana dong coy…. TNI-AL gak jelas gitu kerjanya…….

aduh telat…..

udah beberapa minggu gak ngisi blog ini karena gaada internet gratisan di salaman maupun himpunan.
akhir tahun ini ternyata musibah datang, sebagai bagian dari rencana tuhan terhadap hambanya. dasar orang yang nggak peka, dua hari setelah kejadian baru mikir:”waduh, sodara di lhokseumawe, gimana kabarnya ya…?”, sehari berikutnya baru ikut nimbrung dikabinet, bantu-bantu ngegalang dana.
gua ucapkan salut deh kepada rekan2 PSIK yang keliatan lebih konkret untuk menginisiasi koordinasi pengumpulan bantuan untuk aceh, dan jga anak UKA, semoga diberi ketabahan dalam mnghadapi kehilangan sanak famili yang dirasakan.
***
sehari di sekre, eh… besoknya disuruh berangkat kejakarta. nganter bantuan ke markas TNI-AL. ternyata disana udah penuh euy. jadi dialihin ke KOARMABAR. kalo dilihat sih, kita seperti biasa tidak terkoordinir. kendala yang terjadi sumbangan banyak ynag datang, tanpa ada yang bisa meneruskannya ke yang berhak. abis gimana dong coy…. TNI-AL gak jelas gitu kerjanya…….

tentang ketuhanan

Apa yang rumit dari konsep agama?
mengapa ada saja topik untuk memperdebatkan agama?
dari antar sesama satu agama karena beda pemahaman dan penafsiran, hingga antar agama menyoal ketuhanan bahkan percintaan.
Tadi pagi saya merenung, kemudian tiba tiba saja muncul suatu kalimat dibenak saya. “agama dibangun secara egosentris dengan tuhan sebagai pusatnya. tak ada kata kompromi dalam dogma agama, karena harus kita yakini tuhan dengan segala kesempurnaannya pasti sangat paham dengan “hasil rancangannya” dan apa yang digariskan sebagai “rule” bagi si ciptaan itu (bahasa populernya sunnatullah). Saat kita percaya tuhan, maka tak ada pilihan lain selain mengikuti setiap dogma agama.

oleh karena itu saya pikir sangat tidak masuk akal soal memandang konsep agama secara liberal apalagi MENGGUGAT agama. punya hak apa manusia mempertanyakan relevansi hukum yang ditetapkan si pencipta dirinya. bukankah cukup ” Laa yukallifullaha illa wus’aha”?

memaknai lebaran dan ramadhan

beberapa waktu lalu saya mendengarkan sebuah obrolan tentang hakikat ramadhan. si narasumber mengungkapkan tentang kesalahkaprahan orang indonesia dalam memaknai kata idul fitri, yang dinyatakan sebagai “hari kembali ke fitrah/kesucian”.

fitri atau fitr dalam ejaan arab yang benar memiliki relasi makna yang sama dengan “ifthor” yang berarti berbuka. sebenarnya idul fitri berdasarkan pemaknaan tersebut adalah “momen mulainya orang muslim “berbuka”, setelah sebulan penuh wajib berpuasa”. jadi sebenarnya kurang tepat kalau “ujug-ujug” setelah puasa kita merasa terbebas dan merasa selama sebulan ini kita telah melewati “pencucian dosa” salah jika kemudian kita menganggap setelah ramadhan kita kembali suci…. bayangkan jika kemudian anggapan kita terhadap ramadhan seperti itu, maka seakan-akan ramadhan adalah sebuah prosesi pembaptisan dong…. Padahal kita tahu bahwa kita tidak mengenal model pencucian dosa macam itu…

dalam ajaran islam yang agung nilai baik-buruk suatu amal merupakan konsekuensi dari apa yang kita perbuat. “ajr”/ganjaran yang kita dapat di akhirat merupakan akumulasi amal kita di dunia. jadi sebenarnya tidak relevan anggapan dosa kita terbayar kontan di akhir ramadhan…

ada hakikat yang lebih dalam dari diistimewakannya ramadhan dibandingkan bulan lainnya.

setidaknya itu menurut saya, ramadhan merupakan starting sekaligus ending point dari evaluasi amal kita seumur hidup. jadi, ramadhan itu ibaratnya adalah sesuatu yang wajib dipersiapkan sepanjang tahun. 11 bulan, kita gunakan untuk mempersiapkan performa amal ibadah terbaik kita di bulan yang istimewa itu.

lalu kita jalani ramadhan, dan sudah sepatutnya kita selalu niatkan ramadhan yang akan kita lewati saat ini adalah momen hijrah kita dalam menjadi figur pribadi seorang hamba, dan makhluk sosial yang lebih baik setelah ramadhan. dan saat iedul fitri menjelang, saat itulah kita sepatutnya meng evaluasi diri, apa yang masih kurang dari ramadhan saya tahun ini, semakin baikkah atau semakin buruk? ramadhan adalah cerminan seperti apa sebenarnya diri kita setahun ini.

dan itulah yang harus kita benahi sejak lebaran hingga ramadhan kembali menjelang.

saya pikir itulah mengapa adanya amalan sunnah i’tikaf di sepertiga akhir ramadan, dan mengapa sepuluh hari terakhir tersebut begitu istimewa… karena itulah momen kontemplasi dan puncak perenungan terhadap hakikat diri sebagai hamba diharapkan untuk kita lewati…..

nb: apa yang saya tulis tak lebih adalah bentuk penyesalan terhadap amal ramadhan saya tahun ini yang amasih sangat buruk…..

disertai doa…. ya.. allah izinkan aku bertemu kembali dengan ramadhan… walau hanya sekali…. dan jadikanlah ramadan yang akan datang selalu menjadi ramadhan terbaikku…. ya… allah syahidkan aku dibulan ramadhan…

eS eM eS iedul fitri

Ini adalah beberapa SMS lebaran dan jawaban-jawaban dari beberapa teman.

(sayangnya beberapa keapus)

teh Nova:

asslm. dg izin allah akhirnya sms ini bs tkirim tuk sampaikan MAAF LAHIR BAThIN. taqabbalallahu minna wa minkum:)

teh ELMA:

awal ramadhan…:

Bismillah.. dengan harapan memulai Ramadhan dgnhati suci&mgkn sj ini ksempatan terakhirku dlm hdp, maka dgn sgala kerendahan hati aku mhn maaf untuk sgl ksalahan 🙂

hari lebaran….:

alhamdulillah.maafkanJgSemuaSlhKu,agarTenangHtIniKtkMenghadap4JJ1.Kmrn aku milad ke 21,mhn doanya agar bs lbh “+”dlm mengoptimalkan sisa umur. smg km tumbuh lbh “+”dr sekedar presiden:)

teh dewi:

taqabbalallahu minna wa minkum,I ask allah 2 guide u on the right way and make u strong to keep go on till a heaven on your arms

tgl 21″oleh2 party”j8 Dbiotr-maafin DW ya.

teh sri:

atas tak tjgnya lisan,tak amanah thdp janji, prasangka yang tak terungkapkhlf yang dilakukan mhn maaf lhr batin. taqabbalallahu minna wa minkum.kullu aamin wa antum bikhair#sri

Haldi:

utk ucapanku yag tak santun,hatiku yg tak tjaga&semua kekhilafan saya,mhn diikhlaskan zahir & bathin.taqabbalallahu minna wa minkum.jgn lupa kuenya:)

-haldi-

Through this..Ihope you to fogive for all my vault n mistakes. taqabbalallahu minna waminkum.happy idulfitri 1425H

>dadan

>GL ’04

AKU NGGA SUKA BACA, TRUS SO WHAT GITU LOH…!!

Ahh…. sering banget ada yang meremehkan kemampuan seseorang hanya garagara dia tidak suka baca. apa iya orang banyak baca buku, otomatis pengetahuannya lebih luas? saya pikir dalam sesuatu yang namanya membaca itu, mutlak diperlukan sebuah rule of game. hah…. apaan tuh maksudnya….?? jadi begini…. penulis buku saya yakin pasti memiliki latar belakang wawasan yang memadai tentang sesuatu yang ia tulis. masalahnya apa iya yang dia tulis itu beban-benar bisa di implementasikan dalam kondisi kita. dalam sebuah buku anda akan mendapat wawasan tapi tidak untuk sbuah solusi.

yang tahu solusi masalah anda adalah anda sendiri. buku hanya akan menyediakan source buat anda berpikir dan menyusun ide bagi pemecahan masalah. saya pikir dengan anda terlalu berpatokan pada apa yang ditulis buku, sesungguhnya anda tidak sedang mengalami proses pembelajaran. yang ada anda sedang terdoktrin oleh si penulis dengan seluruh isi kepala sang penulis.

saya sepakat dengan komentar seorang teman : membaca perasaan, membaca lingkungan, membaca masyarakat….. saya pikir itulah hakikat membaca yang sebenarnya mesti ada agar anda memperoleh sesuatu dari “membaca”.