All posts by ardian perdana putra

Inspiring books of nationalism

For God and Country–Faith and Patriotism Under Fire
By James Yee, former U.S. Army Muslim Chaplain at Guantanamo Bay

This is a riveting account of a young Chinese American graduate of West Point, class of 1990, who became a Muslim Chaplain assigned to the Joint Task Force Guantanamo in 2003. At the end of the eleventh month of what was to be his six-month tour of duty, he is arriving at the Jacksonville Naval Air Station, dreaming of soon being reunited with his wife and daughter. But, back at Gitmo, a two-star general has other plans for Captain Yee.

The atmosphere in post 9/11 US was, at best, hostile toward all Muslims. In our military, that feeling was fostered by our government and even more intense. Virtually all Muslims were automatically suspected to be supporters of Al Qaeda. Guantanamo was chosen by our government as the site for a prison compound to house and interrogate any prisoners captured during our war on terror. Conveniently, it was not US territory and, therefore, beyond the purview of our laws and treaties prohibiting the use of torture when extracting intelligence from prisoners. Also, the prisoners held there were ruled to be not prisoners of war, subject to the Geneva Conventions, but enemy combatants. In light of this background, we can see how the distorted military minds of his associates and some of his superiors could prepare and level charges against a fellow officer who was actually a patriotic career officer.

Arriving at Jacksonville NAS, prepared for two weeks leave and reunion with his family, Captain Yee found himself charged with serious violations of the Uniform Code of Military Justice (UCMJ). He was arrested, placed in the brig at Jacksonville, and started a period of seventy-six days of solitary confinement under charges which, if he were found guilty, could result in the death penalty.

As time heavily wore on in confinement, Captain Yee obtained some excellent legal representation. And, as the prosecution attempted to develop its case against Yee, the charges, including espionage, began to prove groundless. In the meantime, the trial moved to Fort Benning, GA, and Captain Yee, released from confinement, finally reunited with his family.

Ultimately the day came that all charges were found groundless and the case was dismissed. Unfortunately, a vindictive commander did not accept defeat that easily, and new, lesser charges were brought. These charges could be handled by proceedings under Article 15 of the UCMJ. Major General Gregory Miller, the commander of the Joint Task Force Guantanamo and instigator of the original charges, would now be not only the leveler of the charges, but also the officer who would conduct the hearing. What a stacked deck! The second hearing was held at Fort Benning and Captain Yee, although actually innocent, was found guilty as charged.

Fortunately the UCMJ provides an appeal process which Captain Yee successfully used. Ostensibly the case was closed. Captain Yee should have been able to resume his career as an Army Chaplain. Ultimately, though, Captain Yee personally found it necessary to resign his commission and leave his service of the country to which he was devoted. The military service and some of its senior officers did not accept defeat easily when their groundless and unjust charges were dismissed. Captain Yee never received an apology for the unjust seventy-six day imprisonment and the familial inconvenience.

James B. Burkholder
Colonel, US Army, Retired

UAS ku di kampus biru……

Salam merdeka….. assalamualaikum……

Alhamdulillah satu ujian telah terlewati lagi, dengan lega tentunya, karena bisa ku lewati dengan persiapan lumayan (tapi masih gak puas jika klo inget si “rona merah senja” yg begitu indah berbagi sinarnya). apa yang ku khawatirkan ternyata tak terbukti, gak tes lisan ternyata. Untung bapaknya rada sibuk, jadi soalnya disamain dengan ujian yang reguler.
Biomanajemen…. mungkin aku kurang nyambung dengan kuliah ini, tapi prinsipnya ngerti sih…. minimal beberapa hal bisa buat aku terenyuh.
ada tentang bagaimana eksploitasi gila sumberdaya alam indonesia, setelah habis si perusahaan seenaknya menyatakan gak sanggup untuk melakukan reklamasi/recovery…. padahal sebegitu besar keuntungan yang mereka keruk dari sana. yang tinggal sampahnya aja.
pengen nangis bgt, ngliatnya. udah digarong…. eh birokrat kita gak kalah jahannam juga. parahnya pemerintahan indonesia.
[OOT], jadi rada gak pede nulisnya nih…. diperhatiin dwi, postingan saya dimilis juga di komentarin aneh-aneh. sedikit rada gak pede, jangan-jangan kekurang pahaman saya sampe saya memberikan analisis gak rasional dan menjengkelkan. semoga enggak sih….

[mode pede increase “ON”] balik ke biman, alhamdulillah biman diambil bersamaan dengan matakuliah yang “bau”nya sama, Bau-bau manajemen gitu deh……

gak jelas sebenarnya yang mau disampe’in. tapi lumayan lah…. curhat.

insyaallah di postingan slanjutnya(kapan-kapan, entah kapan) bakal ngungkapin curhatan saat UTS. YO wis lah…. wassalam.

UAS ku di kampus biru……

Salam merdeka….. assalamualaikum……

Alhamdulillah satu ujian telah terlewati lagi, dengan lega tentunya, karena bisa ku lewati dengan persiapan lumayan (tapi masih gak puas jika klo inget si “rona merah senja” yg begitu indah berbagi sinarnya). apa yang ku khawatirkan ternyata tak terbukti, gak tes lisan ternyata. Untung bapaknya rada sibuk, jadi soalnya disamain dengan ujian yang reguler.
Biomanajemen…. mungkin aku kurang nyambung dengan kuliah ini, tapi prinsipnya ngerti sih…. minimal beberapa hal bisa buat aku terenyuh.
ada tentang bagaimana eksploitasi gila sumberdaya alam indonesia, setelah habis si perusahaan seenaknya menyatakan gak sanggup untuk melakukan reklamasi/recovery…. padahal sebegitu besar keuntungan yang mereka keruk dari sana. yang tinggal sampahnya aja.
pengen nangis bgt, ngliatnya. udah digarong…. eh birokrat kita gak kalah jahannam juga. parahnya pemerintahan indonesia.
[OOT], jadi rada gak pede nulisnya nih…. diperhatiin dwi, postingan saya dimilis juga di komentarin aneh-aneh. sedikit rada gak pede, jangan-jangan kekurang pahaman saya sampe saya memberikan analisis gak rasional dan menjengkelkan. semoga enggak sih….

[mode pede increase “ON”] balik ke biman, alhamdulillah biman diambil bersamaan dengan matakuliah yang “bau”nya sama, Bau-bau manajemen gitu deh……

gak jelas sebenarnya yang mau disampe’in. tapi lumayan lah…. curhat.

insyaallah di postingan slanjutnya(kapan-kapan, entah kapan) bakal ngungkapin curhatan saat UTS. YO wis lah…. wassalam.

refleksi akhir taon….


Ya diri, kenapa gundah melandamu lagi…. Mengapa sesak ini muncul lagi…
Mengapa resah yang pernah siggah lalu pergi, datang menghampiri….

Ya diri, apakah kelemahan ku tak dapat mengambil ibroh dari yang kualami….
ataukah kelalaian ku dalam ikhtiar…
ataukah ketidak-berkahan amal-amal ku karena begitu mudahnya aku lupa pada Nya.

Wahai diri, mengapa dipenghujung tahun 2006 ini…. 23 tahun sejak kau pertamakali melihat dunia. masih saja kau enggan belajar tentang arti hidup ini….
Mengapa hingga kini, kau diperbudak dirimu sendiri dengan segala pintanya…
Mengapa masih saja enggan yang meraja saat hatimu berteriak… khawatir menjadi sesosok batu tanpa siraman sinarnya, dari sang mentari sabda……
Mengapa masih begitu mudah kau wajarkan hatimu untuk mengharap cinta selain cintaNya, mengemis perhatian selain ridhoNya, mencari sandaran selain belai indah KasihNya….?
Apakah ini yang disebut kedewasaan? Atau kau memang tidak pernah beranjak dewasa?
Atau kau selama ini salah kira, tertipu dan merasa dirimu kini telah dewasa….

Wahai Rabb yang tidak pernah habis pancar sinar kasihnya…. disini ada hambamu…. yang telah sekian lama lalai dan lupa, tidak mengangkat tangan lalu berdoa…. memohon ampunMu dari segala kecongkakan dan kelemahan diri…
Wahai dzat yang tidak pernah tidur dan terlupa, yang menguasai dan berkehendak memberi kesadaran bagi diri ini….
betapa takut aku menghadapi malam, khawatir fajar tak pernah menjelang
betapa takut aku menghadapi pagi, khawatir tidak akan tersisa rona merah senja untukku
betapa takut diri ini menghadapi esok pagi, jika tiada lagi pelita hati di rongga dada ini…
betapa takut aku mengalami besok sore, takut hanya ada sesal untuk kunikmati dimalam hari

Wahai tuhan yang tidak pantas menerima kesombongan makhluk hina dina ini….
kutak tahu kapan ajal ku…. tetapi kuingin selagi ku ingat pinta ini….
selagi tidak kau cabut petunjuk jalan mu ini….
selagi belum habis nafas ini….
izin kan aku akhiri hidupku dengan rasa takut hanya padamu…
dengan ketundukan dam totalitas hanya untukmu…
dengan sepenggal senyum pengorbanan dalam ridhamu…..

Ya Allah…. ku ingin setiap tetes airmata ini jadi saksi diakhirat bahwa aku pernah mengingatMu…. walau Cuma beberapa menit saja…..

refleksi akhir taon….


Ya diri, kenapa gundah melandamu lagi…. Mengapa sesak ini muncul lagi…
Mengapa resah yang pernah siggah lalu pergi, datang menghampiri….

Ya diri, apakah kelemahan ku tak dapat mengambil ibroh dari yang kualami….
ataukah kelalaian ku dalam ikhtiar…
ataukah ketidak-berkahan amal-amal ku karena begitu mudahnya aku lupa pada Nya.

Wahai diri, mengapa dipenghujung tahun 2006 ini…. 23 tahun sejak kau pertamakali melihat dunia. masih saja kau enggan belajar tentang arti hidup ini….
Mengapa hingga kini, kau diperbudak dirimu sendiri dengan segala pintanya…
Mengapa masih saja enggan yang meraja saat hatimu berteriak… khawatir menjadi sesosok batu tanpa siraman sinarnya, dari sang mentari sabda……
Mengapa masih begitu mudah kau wajarkan hatimu untuk mengharap cinta selain cintaNya, mengemis perhatian selain ridhoNya, mencari sandaran selain belai indah KasihNya….?
Apakah ini yang disebut kedewasaan? Atau kau memang tidak pernah beranjak dewasa?
Atau kau selama ini salah kira, tertipu dan merasa dirimu kini telah dewasa….

Wahai Rabb yang tidak pernah habis pancar sinar kasihnya…. disini ada hambamu…. yang telah sekian lama lalai dan lupa, tidak mengangkat tangan lalu berdoa…. memohon ampunMu dari segala kecongkakan dan kelemahan diri…
Wahai dzat yang tidak pernah tidur dan terlupa, yang menguasai dan berkehendak memberi kesadaran bagi diri ini….
betapa takut aku menghadapi malam, khawatir fajar tak pernah menjelang
betapa takut aku menghadapi pagi, khawatir tidak akan tersisa rona merah senja untukku
betapa takut diri ini menghadapi esok pagi, jika tiada lagi pelita hati di rongga dada ini…
betapa takut aku mengalami besok sore, takut hanya ada sesal untuk kunikmati dimalam hari

Wahai tuhan yang tidak pantas menerima kesombongan makhluk hina dina ini….
kutak tahu kapan ajal ku…. tetapi kuingin selagi ku ingat pinta ini….
selagi tidak kau cabut petunjuk jalan mu ini….
selagi belum habis nafas ini….
izin kan aku akhiri hidupku dengan rasa takut hanya padamu…
dengan ketundukan dam totalitas hanya untukmu…
dengan sepenggal senyum pengorbanan dalam ridhamu…..

Ya Allah…. ku ingin setiap tetes airmata ini jadi saksi diakhirat bahwa aku pernah mengingatMu…. walau Cuma beberapa menit saja…..

serasa udah bertahun-tahun gak posting….. memang…

serasa udah bertahun-tahun gak posting…..
memang hampir lebih dari setahun…. lebih malah.
tapi biarlah kita isi dengan yang ringan-ringan dulu ya… diriku.

lagi melankolis, jadi pengen naro lirik lagunya “Only Human” dr “K”, tapi translate inggrisnye aje….

Only Human

Lyrics: Osanai Mai Translation: Jonathan Wu

On the opposite coast of sadness
is something called a smile

On the opposite coast of sadness
is something called a smile
But before we can go there,
is there something we’re waiting for?

In order to chase our dreams, we can’t have a reason to run away
We’ve got to go, to that far away summer’s day

If we find it tomorrow, we can’t sigh
Because like a boat that opposes the stream
we have to walk straight on

In a place worn down by sadness
something called a miracle, is waiting
Yet we are still searching
for the sunflower that grows at the end of spring

The warrior who awaits the morning light
before he can clasp it with red nails, his tears glitter and fall

Even if we’ve grown used to loneliness
only relying on the light of the moon
We have to fly away with featherless wing
just go foward, just a little further

As the rainclouds break
the wet streets sparkling
Although it brings only darkness
A powerful, powerful light
helps push us to walk on

harus diakui, beberapa bagian lagu ini inspiring…..
jadi inget gitarku yang ilang…..
gitar yg unik yg cuma satu-satunya didunia, karena bikin sendiri. mo nangis nih….
gitarku…… gara-gara maling sialan!!!

serasa udah bertahun-tahun gak posting….. memang…

serasa udah bertahun-tahun gak posting…..
memang hampir lebih dari setahun…. lebih malah.
tapi biarlah kita isi dengan yang ringan-ringan dulu ya… diriku.

lagi melankolis, jadi pengen naro lirik lagunya “Only Human” dr “K”, tapi translate inggrisnye aje….

Only Human

Lyrics: Osanai Mai Translation: Jonathan Wu

On the opposite coast of sadness
is something called a smile

On the opposite coast of sadness
is something called a smile
But before we can go there,
is there something we’re waiting for?

In order to chase our dreams, we can’t have a reason to run away
We’ve got to go, to that far away summer’s day

If we find it tomorrow, we can’t sigh
Because like a boat that opposes the stream
we have to walk straight on

In a place worn down by sadness
something called a miracle, is waiting
Yet we are still searching
for the sunflower that grows at the end of spring

The warrior who awaits the morning light
before he can clasp it with red nails, his tears glitter and fall

Even if we’ve grown used to loneliness
only relying on the light of the moon
We have to fly away with featherless wing
just go foward, just a little further

As the rainclouds break
the wet streets sparkling
Although it brings only darkness
A powerful, powerful light
helps push us to walk on

harus diakui, beberapa bagian lagu ini inspiring…..
jadi inget gitarku yang ilang…..
gitar yg unik yg cuma satu-satunya didunia, karena bikin sendiri. mo nangis nih….
gitarku…… gara-gara maling sialan!!!

Menapaki jejak gundah

Menapaki jejak gundah…
Ardian Perdana Putra

Aku membawa beban
Penguasa jaman ini dan nanti
Generasi macam apakah kami?
Merusak masa depan negeri ini
Dengan mematikan gerak kawan-kawan kami
Atau tak peduli entah mau seperti apa calon-calon tiran ini
Atau mungkin aku orang yang membawa panji didepan
namun tak tahu harus berbuat apa

kami terpaksa terkurung sejarah
yang menusuk, memaku pikiran kami untuk tetap diam disini
terlena dengan rasa sakit hilangkan nurani tertinggi kami

lalu aku harus mengadu kesiapa jiwaku?
Ternyata akupun terlalu rapuh
Tuk katakan AKU siap
Membawamu maju panjiku

Sedangkan beban sejarah ini
telah lebih dahulu menjeratku
Untuk tidak lagi menutup mata
Kita harus bergerak dan katakan: “Kita ada, saudaraku…!!”

Sepertinya akan indah,
saat aku masih dapat genggam erat tangan-tangan yang sama
walau kutahu dipunggungnya
masih ada beban yang sama atau mungkin lebih berat

lentera-lentera baru… telahkah engkau siap?
Gantikan redup petromak usang ini
sudah saatnya kah kami menyerah mati?
Sebelum bunga-bunga semangat kami berkembang…

Haruskah ini akhir jalan kami…?

Entah kapan…

Entah kapan…

Dan saat itu entah kapan datang
Akankah ajal memenangkan perlombaan ini
Meraihku sebagai pialanya

Saat bidadari-bidadari palsu berkelebat
Memburu didalam benakku
Aku bingung… apakah kau ada disalah satu diantaranya
Atau itu hanya bisikan jahanam yang menggodaku
Mengiklankan “fulanah” adalah engkau

Engkau… entah siapa itu
Akankah aku pantas mendapatkanmu
Dengan segala ketiadaan yang kupunya

Engkau… entahlah… siapa engkau?
Aku bukanlah seorang huffadz yang kan menenangkan mu
Dengan belai Alquran mengasuh anak cucu kita
Aku bukan seorang Yahya Ayyash yang akan mewangikan rumah kita
Dengan aroma syahadah dan pengorbanan

Aku bukan seorang Umar yang sanggupmeluruskan mu
Hingga kedepan pintu surga, mengemudikan kapal ini
Arungi lautan kefanaan

Aku hanya seorang aku
yang masih saja sering terlena dan lupa
akan jobdeskku sebagai Karyawan 4JJ1
yang masih saja lalai mengerjakan PR ku
di madrasah dunia

Aku hanyalah seorang aku
Yang dengan segala kekurangan ku
Pasrah berharapbisa mendaki puncak ridha-Nya
Bersamamu… dan anak cucu kita

Dalam kegundahan, menanti saat ITU datang. Sebuah Tekad!! Atau Nekat??

Entah kapan…

Entah kapan…

Dan saat itu entah kapan datang
Akankah ajal memenangkan perlombaan ini
Meraihku sebagai pialanya

Saat bidadari-bidadari palsu berkelebat
Memburu didalam benakku
Aku bingung… apakah kau ada disalah satu diantaranya
Atau itu hanya bisikan jahanam yang menggodaku
Mengiklankan “fulanah” adalah engkau

Engkau… entah siapa itu
Akankah aku pantas mendapatkanmu
Dengan segala ketiadaan yang kupunya

Engkau… entahlah… siapa engkau?
Aku bukanlah seorang huffadz yang kan menenangkan mu
Dengan belai Alquran mengasuh anak cucu kita
Aku bukan seorang Yahya Ayyash yang akan mewangikan rumah kita
Dengan aroma syahadah dan pengorbanan

Aku bukan seorang Umar yang sanggupmeluruskan mu
Hingga kedepan pintu surga, mengemudikan kapal ini
Arungi lautan kefanaan

Aku hanya seorang aku
yang masih saja sering terlena dan lupa
akan jobdeskku sebagai Karyawan 4JJ1
yang masih saja lalai mengerjakan PR ku
di madrasah dunia

Aku hanyalah seorang aku
Yang dengan segala kekurangan ku
Pasrah berharapbisa mendaki puncak ridha-Nya
Bersamamu… dan anak cucu kita

Dalam kegundahan, menanti saat ITU datang. Sebuah Tekad!! Atau Nekat??