memaknai lebaran dan ramadhan

beberapa waktu lalu saya mendengarkan sebuah obrolan tentang hakikat ramadhan. si narasumber mengungkapkan tentang kesalahkaprahan orang indonesia dalam memaknai kata idul fitri, yang dinyatakan sebagai “hari kembali ke fitrah/kesucian”.

fitri atau fitr dalam ejaan arab yang benar memiliki relasi makna yang sama dengan “ifthor” yang berarti berbuka. sebenarnya idul fitri berdasarkan pemaknaan tersebut adalah “momen mulainya orang muslim “berbuka”, setelah sebulan penuh wajib berpuasa”. jadi sebenarnya kurang tepat kalau “ujug-ujug” setelah puasa kita merasa terbebas dan merasa selama sebulan ini kita telah melewati “pencucian dosa” salah jika kemudian kita menganggap setelah ramadhan kita kembali suci…. bayangkan jika kemudian anggapan kita terhadap ramadhan seperti itu, maka seakan-akan ramadhan adalah sebuah prosesi pembaptisan dong…. Padahal kita tahu bahwa kita tidak mengenal model pencucian dosa macam itu…

dalam ajaran islam yang agung nilai baik-buruk suatu amal merupakan konsekuensi dari apa yang kita perbuat. “ajr”/ganjaran yang kita dapat di akhirat merupakan akumulasi amal kita di dunia. jadi sebenarnya tidak relevan anggapan dosa kita terbayar kontan di akhir ramadhan…

ada hakikat yang lebih dalam dari diistimewakannya ramadhan dibandingkan bulan lainnya.

setidaknya itu menurut saya, ramadhan merupakan starting sekaligus ending point dari evaluasi amal kita seumur hidup. jadi, ramadhan itu ibaratnya adalah sesuatu yang wajib dipersiapkan sepanjang tahun. 11 bulan, kita gunakan untuk mempersiapkan performa amal ibadah terbaik kita di bulan yang istimewa itu.

lalu kita jalani ramadhan, dan sudah sepatutnya kita selalu niatkan ramadhan yang akan kita lewati saat ini adalah momen hijrah kita dalam menjadi figur pribadi seorang hamba, dan makhluk sosial yang lebih baik setelah ramadhan. dan saat iedul fitri menjelang, saat itulah kita sepatutnya meng evaluasi diri, apa yang masih kurang dari ramadhan saya tahun ini, semakin baikkah atau semakin buruk? ramadhan adalah cerminan seperti apa sebenarnya diri kita setahun ini.

dan itulah yang harus kita benahi sejak lebaran hingga ramadhan kembali menjelang.

saya pikir itulah mengapa adanya amalan sunnah i’tikaf di sepertiga akhir ramadan, dan mengapa sepuluh hari terakhir tersebut begitu istimewa… karena itulah momen kontemplasi dan puncak perenungan terhadap hakikat diri sebagai hamba diharapkan untuk kita lewati…..

nb: apa yang saya tulis tak lebih adalah bentuk penyesalan terhadap amal ramadhan saya tahun ini yang amasih sangat buruk…..

disertai doa…. ya.. allah izinkan aku bertemu kembali dengan ramadhan… walau hanya sekali…. dan jadikanlah ramadan yang akan datang selalu menjadi ramadhan terbaikku…. ya… allah syahidkan aku dibulan ramadhan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.