All posts by ardian perdana putra

AKU NGGA SUKA BACA, TRUS SO WHAT GITU LOH…!!

Ahh…. sering banget ada yang meremehkan kemampuan seseorang hanya garagara dia tidak suka baca. apa iya orang banyak baca buku, otomatis pengetahuannya lebih luas? saya pikir dalam sesuatu yang namanya membaca itu, mutlak diperlukan sebuah rule of game. hah…. apaan tuh maksudnya….?? jadi begini…. penulis buku saya yakin pasti memiliki latar belakang wawasan yang memadai tentang sesuatu yang ia tulis. masalahnya apa iya yang dia tulis itu beban-benar bisa di implementasikan dalam kondisi kita. dalam sebuah buku anda akan mendapat wawasan tapi tidak untuk sbuah solusi.

yang tahu solusi masalah anda adalah anda sendiri. buku hanya akan menyediakan source buat anda berpikir dan menyusun ide bagi pemecahan masalah. saya pikir dengan anda terlalu berpatokan pada apa yang ditulis buku, sesungguhnya anda tidak sedang mengalami proses pembelajaran. yang ada anda sedang terdoktrin oleh si penulis dengan seluruh isi kepala sang penulis.

saya sepakat dengan komentar seorang teman : membaca perasaan, membaca lingkungan, membaca masyarakat….. saya pikir itulah hakikat membaca yang sebenarnya mesti ada agar anda memperoleh sesuatu dari “membaca”.

Surat permohonan maaf

waduh cara penulisan beberapa artikel (eh… salah)curhat terakhir saya agak berantakan karena dibuat dengan setengah hati.

jadi ngerasa bersalah kalo kelamaan gak bikin tulisan diblog. abis, gimana ya…? ada atau nggak yang baca, ini adalah blog pertama saya.bukannya mo kampanye, tapi ini latihan pengkonsistenan diri sebelum melangkah ke kaderisasi manajerial yang lebih tinggilagi(organisasi-red). coba bayangin Calon presiden mengorganisir sebuah official website(eh salah…. blog ding!!)kampanye dua tahun sebelum mencalonkan diri . Visioner gak gue…..(lha…. jadi ge-er dia!!).

mendobrak kultur kaderisasi ece-ece ITB

Heran, katanya kampus teknik terbaik, tapi apa iya, kader-kader ITB adalah kader yang sukses terdidik jadi andalannya masyarakat?

saya masih melihat yang namanya tipikal KADERISASI himpunan sekarang adalah masih terkungkung dalam kultur, jalan ditempat atau sepertinya mundur.

sudah jadi rahasia umum soal “depan-belakang”, pantes aja kaderisasi mundur, yang ada dipikiran massa elit kemahasiswaan tidak beranjak dari hanya soal “pokoknya asal jangan si “ANU””. akhirnya pemilihan ketua jadi ajang plot-plotan. trus salah siapa kalo semakin banyak yang berpendapat satu itb hanya sekedar omong kosong belaka. kemahasiwaan tidak memberi manfaat berarti bagi mereka.

Sepertinya yang namanya kepentingan politis, memang sulit untuk dikikis. hal tersebut akan tetap selalu ada di kemahasiswaan kita. tapi persaingan yang terjadi saya pikir,sangat-sangat bisa di jalani dengan cara yang fair-fair saja.

mutu kader yang bersaing harus ditingkatkan. saat frame kompetisi seperti itu terbentuk, ada langkah selanjutnya yang harus di jalankan, meletakkan satu prinsip di otak masing-masing pihak:”siapapun yang maju, visi pergerakan kemahasiswaan harus memiliki arah yang jelas.”.

saya yakin di masing-masing kepala kader kemahasiswaan ITB (tentunya yang benar-benar ada frame kemahasiswaan didalam aktivitasnya) ada sebuah impian bagaimana semestinya “kendaraannya” bergerak kedepan.

itulah yang seharusnya dipikirkan dalam sudut pandang “mereka sebagai Kader” bukan “mereka sebagai Agen suatu Kepentingan”.

Prihatin, sebuah simpati tuk kader HMS

sabtu lalu, saat angkatan-angkatan tua sedang sibuk bersorak dengan kelulusan mereka atau teman mereka, HMS harus pasrah takluk pada keputusan rektorat yang begitu angkuh dan keras kepala. Seorang kader HMS yang selama sekitar 5 tahun dedikasinya bagi kemahasiswaan telah menggoreskan banyak kenangan, baik bagi rekan-rekannya maupun sejarah. Ahmad mukhlis firdaus, sang kader tak hadir dalam acara yang diadakan himpunannya, upacara lepas-pisah wisudawan yang mengundang elemen kemahasiswaan lain seperti himpunan lain dan kabinet.

Sepertinya segala daya upaya telah diupayakan semaksimal mungkin. advokasi dari HMS, dan usaha untuk membuat sebuah pernyataan sikap bersama -walau kemudian dibatalkan- telah coba dilakukan.

Simpati dari beberapa pihak terus datang terutama dari rekan-rekannya yag pernah merasakan kerjasama dengannya. termasuk saya, entah apa jadinya opening dan closing OSKM 04 tanpa bantuan beliau ini. puisi yang “greget” di opening (duet bersama Hokkop) dan puisi karya kolaborasi pertama saya dengan teh elma di akhir OSKM adalah hasil sentuhan darinya. jadi pantas saya berterima kasih padanya mungkin tak banyak yang saya dapat dari kak Ahmad, tetapi sedikit yang saya dapat, mungkin adalah suatu yang sangat berarti kelak.

aku mungkin hanya bisa melepas kepergian sang kawan

dengan salam perpisahan yang terbungkus kenangan,

tak banyak, tapi cukup membuat dunia mengangguk mengakuinya.

perjalanan belum lagi di mulai, baru bersiap berbenah

menanti datang kereta masadepan.

lalu kemana langkah mu berikutnya kawan?

akankan kerikil kecil ini menggentarkan mu.

mungkin aku tak pantas bertanya seperti itu,

karena kutahu you’re the one,

coz’ you’re the one.

kutunggu, kalimat ku, bukan kata kosong

sampai bertemu di stasiun kehidupan

kita bertemu sebagai kawan atau musuh…..

yah masa depan entah siapa yang tahu… semoga kita bertemu di pihak yang sama.

salam perpisahan, untuk akhmad mukhlis firdaus, HMS 99′.

untuk tuhan bangsa dan almamater, MERDEKA.

yaaah… Teteh!!

Coba bayangkan sodara-sodara, gimana rasanya jika orang biasanya ramah dan enak diajak bicara dengan anda tiba-tiba berubah 179,9985 derajat. trus jadi juuu…..tek abis….!!

yah nasib lah…. emang lagi bukan saat yang tepat aja kali ya….

Jadi begini, aku tuh ngalamin hal kayak gitu.

Ada seorang figur akhwat yang aku kenal, pokoknya yakin deh semua ikhwan ngasih 4 acungan jempol sama dia. gimana enggak? aktivis? iya…. pinter? iya…. jilbab lebar..? iya bangee..t. yah singkat kata si Akhwat ini top lah. cuma kalo dari rumor temen-temen ikhwah, dia ini terkenal karena satu hal: guaa…lak minta ampun.

pernah ada komentar soal hal ini. Jadi, kbetulan dia ini adalah seorang wakil kadiv. di salah satu organisasi. suatu saat ada yang komentar begini:”waduh, kasian banget tuh kadiv, kena omelan mulu, gak dari bawah(si Akhwat), gak dari atas(ketua organisasi)”.

yah… tapi kata orang ya.. kata orang. aku kenal dia sebagai pribadi yang beda sama yang dibilang orang-orang. dia yang biasa aku kenal adalah sosok yang benar benar aku kagumi. dia selalu coba buat orang di sekitarnya tersenyum, dan kalo ada dia suasana terasa lebih cair. Suatu saat ia bisa terlihat sangat tegar, coba menghadapi masalah yang ada sesempurna yang ia bisa. Namun aku pun pernah melihat, saat yang aku bisa katakan saat itu dia rapuh, aku lihat (gak tau nih aku mesti bilang salut atau kasian) dia coba menyembunyikannya dari orang. dia gak mau orang repot karena dirinya, itu sih yang coba aku baca dari dia saat itu.

yang lucu dari dia sering aku lihat dia tampak begitu dewasa dan bijak, tapi…. kalo childish-nya udah keluar, orang pasti gak bakal nyangka dia bisa kayak begitu.

yah… kasus kemarin sih kayaknya gara-gara ngambek ala childisnya dia itu.

ceritanya begini, si Teteh ini lagi agak sakit kemarin, pas aku ada kuliah sama dia, praktikum nih ceritanya.nah praktikum kali ini baru pengenalan, dan di isi dengan nonton film. Kacrut bin acakadut-nya, dosen-dosen yang menyiapkan peralatannya mengalami masalah, dan praktikum pun tertunda kurang lebih sejam. kayaknya selain menunggu praktikum mulai, ada beberapa hal yang tiba-tiba membuat dia be….te pisan(lah kok jadi sunda?). nah saat itulah mungkin aku ngajak ngomong di saat yang salah itu dan yang ada malah ditanggapi secara jutek. aku kaget dan shock banget saat itu, eh….. tapi… kalo setelah aku pikir-pikir ternyata lucu juga, ngambeknya dia itu lucu.

yah, simple aja lah……!!!

Apa iya, masyarakat itu begitu simpel?
lalu kalo ketemu masalah ruwet bin amburadul terus kita mo diam aja? anggep aja gak ada masalah…..
Jelas gak bisa kayak gitu lah…!!!seandainya setiap masalah masyarakat bisa dihadapi secara simpel, mungkin indonesia gak akan pernah “merdeka” (yah… akui sajalah… kita dijajah budaya asing sekarang). penjajah akan selalu anteng-anteng aja meraup semua kekayaan alam kita. kan gak bakal ada yang komplain…. cuma masalah kecil.
Terus kalo tiba-tiba harga sembako naik 10 kali lipat, cukong-cukong sembako dengan tenang bisa ongkang-ongkang kaki menunggu untung dateng. kan gak ada yang bakalan komplain, cuma masalah kecil kok…!!
Yah… yang barusan cuma sebuah perumpamaan aja. refleksinya buat kita semua….beberapa minggu ini ada “masalah-masalah kecil” dikampus, ingat….!!! yang kita liat cuma simulasi dari buanyaa…ak sekali permasalahan besar dan ruwet di masyarakat nantinya. masalah besarnya cuma satu, kadang kita gak sadar suatu masalah adalah “masalah”, dan cuek aja nganggep gak ada apa-apa. trus kapan mau sadarnya kalo dimasyarakat ada masalah kalo di miniatur masyarakat kita pun kta gak sadar ada masalah. Parahnya lagi kita yng kita lakukan pertama kali saat kita sadar ada masalah (kalo sadar ya…!!) adalah mencari siapa yang patut di persalahkan atas adanya masalah itu. Trus setelah itu malah ribut sendiri nyari pembenaran atas sikap cuek kita.
inget lho…. “nasib suatu kaum ada ditangan kaum itu sendiri.” “allah gak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itulah yang mulai merubah dirinya sendiri.”
So, masih mo berpikir simpel…… ya silahkan…!!
toh cuma ada satu masalah besar….

yah, simple aja lah……!!!

Apa iya, masyarakat itu begitu simpel?
lalu kalo ketemu masalah ruwet bin amburadul terus kita mo diam aja? anggep aja gak ada masalah…..
Jelas gak bisa kayak gitu lah…!!!seandainya setiap masalah masyarakat bisa dihadapi secara simpel, mungkin indonesia gak akan pernah “merdeka” (yah… akui sajalah… kita dijajah budaya asing sekarang). penjajah akan selalu anteng-anteng aja meraup semua kekayaan alam kita. kan gak bakal ada yang komplain…. cuma masalah kecil.
Terus kalo tiba-tiba harga sembako naik 10 kali lipat, cukong-cukong sembako dengan tenang bisa ongkang-ongkang kaki menunggu untung dateng. kan gak ada yang bakalan komplain, cuma masalah kecil kok…!!
Yah… yang barusan cuma sebuah perumpamaan aja. refleksinya buat kita semua….beberapa minggu ini ada “masalah-masalah kecil” dikampus, ingat….!!! yang kita liat cuma simulasi dari buanyaa…ak sekali permasalahan besar dan ruwet di masyarakat nantinya. masalah besarnya cuma satu, kadang kita gak sadar suatu masalah adalah “masalah”, dan cuek aja nganggep gak ada apa-apa. trus kapan mau sadarnya kalo dimasyarakat ada masalah kalo di miniatur masyarakat kita pun kta gak sadar ada masalah. Parahnya lagi kita yng kita lakukan pertama kali saat kita sadar ada masalah (kalo sadar ya…!!) adalah mencari siapa yang patut di persalahkan atas adanya masalah itu. Trus setelah itu malah ribut sendiri nyari pembenaran atas sikap cuek kita.
inget lho…. “nasib suatu kaum ada ditangan kaum itu sendiri.” “allah gak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itulah yang mulai merubah dirinya sendiri.”
So, masih mo berpikir simpel…… ya silahkan…!!
toh cuma ada satu masalah besar….

HATI-HATI….. DAKWAH ATAU EMOSI…!!!

Hanya allah yang tahu mana yang benar.

Cuma berusaha menafsirkan fenomena dari apa yang saya ketahui.


Beberapa hari yang lalu ada kejadian di kampus yang terus terang bikin saya gerah dua kali. Pertama, adalah statement yang sangat-sangat tidak pantas dari seorang Non-muslim terhadap eksistensi ketuhanan umat islam. Saya akui, sebagai muslim saya pantas marah. Bagaimana tidak? hal paling mendasar yang saya yakini sebagai landasan segala amal yang saya perbuat, dipertanyakan keberadaannya..!!

terlepas dari keceplosan akibat emosi atau apapun, hal tersebut tak dapat dibenarkan.begitu pun sebaliknya dari umat manapun itu… melecehkan kepercayaan paling fundamental yang diyakini manusia tak dapat dimaafkan oleh kepercayaan manapun (kecuali agama itu hanya dianggap sebagai penghias kartu tanda penduduk atau pasport). OK sampai disini saya sudah gerah untuk kali pertama.

Kedua, Dari orang-orang yang saya kenal, yang saya pikir akan menghadapi masalah dengan kepala dingin, kenyataannya pun terbawa emosi. saya pikir yang terjadi malam berikutnya adalah “forum intimidasi” yang dimediasi oleh lembaga terpusat kemahasiswaan ITB.

Saya pikir, saya cukup memberi beberapa pertanyaan untuk kita semua renungi. Apa pantas gamais sebagai representasi muslim itb menggunakan cara-cara yang sama buruknya dengan “si pembuat masalah dan kawan-kawannya” itu? setahu saya agama yang syamil dan rahmatan lil alamin ini tidak pernah membenarkan balas dendam.
Terus terang saya sepakat emosi itu wajar jika keluar disaat seperti itu, tentu saja…!! kita pun manusia!! masalah nya emosi yang ditunjukkan secara over-reaktif seperti malam itu saya pikir sudah tidak pantas untuk disebut wajar. mengapa? karena saya tidak melihat uswah hasanah dari senior-senior saya dan juga beberapa alumni. apa pantas, cacian dibalas cacian dari agama yang santun ini?
terus terang saya takut saya dan saudara seiman yang lain yang saat itu datang belum pantas mendapat ajr(ganjaran) jihad. lho… kenapa? karena jangan-jangan yang ada dihati kita bukan lagi semangat untuk membela dan menegakkan agama Allah tetapi malah kobaran dendam yang sangaat besar pada si pelaku. lalu misalnya saya berkhayal… saat panas-panasnya forum tersebut, dari salah seorang kawannya si pelaku tiba-tiba mengeluarkan senjata(pisau misalnya) dan…. clep..!! menikam salah satu ikhwah… lalu dia tewas. adakah yang bisa meyakinkan saya dia mati syahid dalam membela nama allah? atau mati konyol dalam kobaran emosinya sendiri?
salah satu riwayat tentang sahabat menyebutkan, (entah, saya lupa Umar atau Ali R.A.) dalam sebuah perang sang sahabat bertemu satu lawan satu dengan seorang musuh. pendek cerita si musuh terjebak dan terdesak, pedangnya terlempar jauh, sang sahabat telah siap menebas musuhnya ini. Pedang pun telah mengayun tapi… eit… tiba-tiba cuih… segumpal ludah tersemprot kewajah sahabat itu, dan apa yang terjadi? tiba-tiba ia urungkan niatnya menebas leher si musuh dan pedangnya ia tancapkan ketanah. kontan saja… si musuh kebingungan. Nyawanya yang sudah seujung tanduk, batal melayang, dan sang sahabat malah meletakkan pedangnya. dengan heran bercampur penasaran si musuh bertanya mengapa si sahabat batal “mengirim nyawanya”, dan si sahabat pun menjawab, kira-kira terjemahan bebasnya begini:(maaf bila redaksionalnya terlalu bebas, ini dilakukan tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya pada figur sang sahabat)”saat kau ludahi aku, (terus terang) amarahku meluap nyaris tak terbendung, namun sesaat kemudian aku tersadar motivasi/niatku tak lurus lagi untuk menegakkan ajaran ini(islam) dan aku takut aku membunuh mu karena dendamku.”
lalu, siapa yang lebih pantas kita jadikan teladan terbaik setelah rasulullah selain sahabat-sahabatnya??
Sekali lagi penulis mohon maaf atas kelancangan dalam menterjemahkan redaksional dari riwayat sahabat diatas.
tulisan ini dibuat sebagai nasehat bagi diri penulis pribadi dan untuk kita semua.
semua kebenaran mutlak hanya dari Allah lah datangnya, penilis mengakui segala kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki, namun inilah usaha penulis untuk coba memanifestasikan dakwah dalam frame yang penulis yakini.
Pintu kritik, protes, masukan, arahan, dan koreksi terbuka selebar-lebarnya dihalaman ini.

HATI-HATI….. DAKWAH ATAU EMOSI…!!!

Hanya allah yang tahu mana yang benar.

Cuma berusaha menafsirkan fenomena dari apa yang saya ketahui.


Beberapa hari yang lalu ada kejadian di kampus yang terus terang bikin saya gerah dua kali. Pertama, adalah statement yang sangat-sangat tidak pantas dari seorang Non-muslim terhadap eksistensi ketuhanan umat islam. Saya akui, sebagai muslim saya pantas marah. Bagaimana tidak? hal paling mendasar yang saya yakini sebagai landasan segala amal yang saya perbuat, dipertanyakan keberadaannya..!!

terlepas dari keceplosan akibat emosi atau apapun, hal tersebut tak dapat dibenarkan.begitu pun sebaliknya dari umat manapun itu… melecehkan kepercayaan paling fundamental yang diyakini manusia tak dapat dimaafkan oleh kepercayaan manapun (kecuali agama itu hanya dianggap sebagai penghias kartu tanda penduduk atau pasport). OK sampai disini saya sudah gerah untuk kali pertama.

Kedua, Dari orang-orang yang saya kenal, yang saya pikir akan menghadapi masalah dengan kepala dingin, kenyataannya pun terbawa emosi. saya pikir yang terjadi malam berikutnya adalah “forum intimidasi” yang dimediasi oleh lembaga terpusat kemahasiswaan ITB.

Saya pikir, saya cukup memberi beberapa pertanyaan untuk kita semua renungi. Apa pantas gamais sebagai representasi muslim itb menggunakan cara-cara yang sama buruknya dengan “si pembuat masalah dan kawan-kawannya” itu? setahu saya agama yang syamil dan rahmatan lil alamin ini tidak pernah membenarkan balas dendam.
Terus terang saya sepakat emosi itu wajar jika keluar disaat seperti itu, tentu saja…!! kita pun manusia!! masalah nya emosi yang ditunjukkan secara over-reaktif seperti malam itu saya pikir sudah tidak pantas untuk disebut wajar. mengapa? karena saya tidak melihat uswah hasanah dari senior-senior saya dan juga beberapa alumni. apa pantas, cacian dibalas cacian dari agama yang santun ini?
terus terang saya takut saya dan saudara seiman yang lain yang saat itu datang belum pantas mendapat ajr(ganjaran) jihad. lho… kenapa? karena jangan-jangan yang ada dihati kita bukan lagi semangat untuk membela dan menegakkan agama Allah tetapi malah kobaran dendam yang sangaat besar pada si pelaku. lalu misalnya saya berkhayal… saat panas-panasnya forum tersebut, dari salah seorang kawannya si pelaku tiba-tiba mengeluarkan senjata(pisau misalnya) dan…. clep..!! menikam salah satu ikhwah… lalu dia tewas. adakah yang bisa meyakinkan saya dia mati syahid dalam membela nama allah? atau mati konyol dalam kobaran emosinya sendiri?
salah satu riwayat tentang sahabat menyebutkan, (entah, saya lupa Umar atau Ali R.A.) dalam sebuah perang sang sahabat bertemu satu lawan satu dengan seorang musuh. pendek cerita si musuh terjebak dan terdesak, pedangnya terlempar jauh, sang sahabat telah siap menebas musuhnya ini. Pedang pun telah mengayun tapi… eit… tiba-tiba cuih… segumpal ludah tersemprot kewajah sahabat itu, dan apa yang terjadi? tiba-tiba ia urungkan niatnya menebas leher si musuh dan pedangnya ia tancapkan ketanah. kontan saja… si musuh kebingungan. Nyawanya yang sudah seujung tanduk, batal melayang, dan sang sahabat malah meletakkan pedangnya. dengan heran bercampur penasaran si musuh bertanya mengapa si sahabat batal “mengirim nyawanya”, dan si sahabat pun menjawab, kira-kira terjemahan bebasnya begini:(maaf bila redaksionalnya terlalu bebas, ini dilakukan tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya pada figur sang sahabat)”saat kau ludahi aku, (terus terang) amarahku meluap nyaris tak terbendung, namun sesaat kemudian aku tersadar motivasi/niatku tak lurus lagi untuk menegakkan ajaran ini(islam) dan aku takut aku membunuh mu karena dendamku.”
lalu, siapa yang lebih pantas kita jadikan teladan terbaik setelah rasulullah selain sahabat-sahabatnya??
Sekali lagi penulis mohon maaf atas kelancangan dalam menterjemahkan redaksional dari riwayat sahabat diatas.
tulisan ini dibuat sebagai nasehat bagi diri penulis pribadi dan untuk kita semua.
semua kebenaran mutlak hanya dari Allah lah datangnya, penilis mengakui segala kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki, namun inilah usaha penulis untuk coba memanifestasikan dakwah dalam frame yang penulis yakini.
Pintu kritik, protes, masukan, arahan, dan koreksi terbuka selebar-lebarnya dihalaman ini.

www.kemahasiswaan-bingung.com

hari ini aku bimbang……

antara kewajiban untuk mengusung amanat diatas segala kepentingan, dengan kesadaran nurani untuk membenarkan suatu yang salah.

Sistem ini seharusnya semakin sehat berlari, bukan semakin busuk. Kenyataan yang kutemui berkata lain. bukankah meninggalkan aspirasi adalah zalim? lalu….. masih pantaskah ini disebut perjuangan mulia saat ia berdiri diatas kezaliman?

aku tak tahu sedang bertanya kesiapa aku. yang pasti kenyataan semakin membuatku bingung. aku setuju…. setuju sekali sistem ini butuh sebuah ‘shock teraphy’, tapi disisi lain itu berarti kegagalan tahun ini dan jangan-jangan berujung pada sebuah konspirasi.

30 agustus 2004, dua hari setelah hari ku berlalu, dan kampus menghangat dengan sentuhan tangan-tangan pembaharu. harus ku sadari doktrin itu busuk dalam kadar apapun. saat doktrin telah merasuk dan kita telah mempercayainya, pandangan kita akan semakin sempit. yang benar kita yakini, adalah apa yang dibenarkan doktrin. sedang apa yang kita anggap salah adalah yang di salahkan oleh doktrin.

berbeda dengan doktrin, keimanan adalah hal logis yang timbul sebagai konsekuensi dari adanya nurani dalam diri manusia. keimanan menuntut kebebasan hati untuk menentukan apa yang dianggap benar dan mana yang salah, dan kebenaran yang di hasilkan akan timbul dari kesadaran tertinggi dari dasar hati yang paling jujur. tapi kata hati pun harus di waspadai dan di cermati karena sering tersamar oleh emosi.