Ketika ajal datang…

Ketika ajal datang……

Innalillahi wa
inna ilaihi raajiuun….

Seorang rekan baru saja ditinggal
ayahandanya, sebuah kejadian yang dapat terjadi pada siapapun. Sungguh begitu
mudah Allah mencabut nyawa seseorang sehingga tidak satupun dari kita
makhluknya dapat berkelit sedikitpun dari ketentuan yang Ia gariskan. Jadi
ingat masalah dzikrul maut…… (gila….. kemana aja waktu yang udah gue
abisin nyaris 25 tahun ini). Tiba-tiba saja ingat dua setengah tahun lalu saat
wafatnya rekan Sigit Firmansyah.

Apa yang kurang dari seorang Sigit? Prestasi
akademik yang subhanallah bagus, penulis buku, juara essay ”visi itb 2020”,
aktivis lagi. Banyak orang memprediksikannya sebagai calon presiden selanjutnya
setelah Anas Hanafiah. Dengan segala kelebihannya, tidak akan ada yang mengira
bahwa Ia wafat diusia yang masih begitu muda. Ya…. usianya kurang lebih sama
dengan saya. Jika saja masih hidup beliau berumur 25 tahun. Saat wafatnya, ada
begitu banyak orang yang melepas kepergiannya. Seorang tokoh yang disegani baik
oleh rekan maupun lawan.

Memoriku mengajak untuk flashback ke dua
tahun lalu, pertengahan tahun 2005. Kakek (atau biasa kusebut eyang kakung)
meninggal dunia diusia beliau yang telah lewat 8 dekade. Subhanallah,
perjalanan hidup yang begitu panjang. Usia puncak untuk menjadi bijak. Figur
yang tegas, humoris, disiplin dan sangat rapi dalam pengarsipan.
Sifat/talent-nya yang menurun kepadaku
adalah ”input” suka sekali mengumpulkan barang, mengabadikan peristiwa,
kejadian. Semoga Allah memberikan akhir yang baik dalam ridhonya.

Beberapa bulan sebelumnya, sebuah bencana
nasional terjadi. Saat dengan tiba-tiba tsunami raksasa menimpa Asia Selatan
dan tenggara, meluluh-lantakkan Serambi Mekah. Kemudian bertubi-tubi bencana
datang silih berganti dari mulai kelaparan di Papua, gempa Nias, banjir
dimana-mana, lumpur Lapindo hingga berbagai kecelakaaan transportasi massal.
Sebuah pertanyaan tersisa, inikah sebuah dzikrulmaut massal yang Allah
tunjukkan bagi kita semua yang masih ada sekarang? Atau sebenarnya ini
merupakan early warning dari-Nya bagi kita, sebelum Bencana yang lebih parah
menghukum kita?

Berbicara tentang kematian kembali aku
teringat kilasan peristiwa yang aku alami saat masih di SMU. Suatu peristiwa
yang sesungguhnya begitu mudah bagi Allah untuk membuatku menjadi yatim-piatu.
Ya…. sebuah kecelakaan menghempaskan suzuki Carry yang ditumpangi oleh kedua
orangtuaku plus dua orang adikku, mobil itu berguling dijalan tol. Sesungguhnya
saat sejenak tadi kuingat kembali, kusadari bahwa sebuah anugerah bahwa keluargaku
masih lengkap. Tak terbayang jika tidak ada lagi ibu yang tak habis-habisnya
mensupportku dengan taushiyah dan nasihat saatku terpuruk seperti bulan-bulan
kemarin. Tak terbayang jika ketegasan dan sifat keras ayah yang menyadarkan ku
saat aku mulai hilang arah.

Sebuah renungan kembali membawa ku saat
syaikhuna Ust. Rahmat Abdullah pergi. Aku mulai membaca artikel beliau justru
setelah beliau wafat. Sesosok figur yang tak hilang semangatnya walau telah
tergilas usia. Tutur bahasanya nan lembut dalam setiap artikel yang beliau
layangkan di berbagai media menandakan kecintaan yang amat sangat pada para
mad’unya, kepada da’wah ini, kepada bangsa ini, kepada umat ini.

Pikiran ku kembali berputar, teringat
beberapa minggu yang lalu. Alda Risma, secepat kilat popularitasnya kembali
melejit setelah lama terpuruk. Bukan sebagai seorang bintang sukses atau
seorang politikus, melainkan sebagai seonggok mayat korban pembunuhan. Tak lama
sebelumnya, sebuah berita menggemparkan menghiasi media saat seorang tokoh ditemukan
meninggal saat berada dihotel bersama teman kencannya. Berita-berita itu
semakin menambah ruwetnya gembar-gembor media infotainment yang tak
henti-hentinya meracuni masyarakat kita.

Perjalanan pikiranku terhenti disebuah
pertanyaan, ”jalan seperti apakah yang Allah gariskan bagi kita di ujung pintu
kehidupan kita?”, korban bencanakah? Korban kasus kriminalkah? Korban sebuah
kecelakaankah? Sebagai seorang pahlawankah? Koruptor? Pelaku kriminal? Atau
apa?

Dengan ragu yang tak pernah hilang,
khawatir bahwa apa yang selalu kita sebutkan dalam doa rabithah kita tidak
terwujud karena begitu besarnya kemunafikan dalam diri ini, tiba-tiba aku
tertunduk. Mungkin aku tidak menangis, tapi ada rasa sesak didada yang tiba
muncul. Akankah aku yang hina dina ini masih pantas untuk singgah dalam ridhomu
ya Allah? Sedikit menghibur diri, terngiang rangkai wahyunya yang masih dan
akan selalu terngiang selalu, “Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah… irji’i ilaa
rabbiki raadhiatam mardhiyyah, fadkhulii fii ibaadi wadkhulii jannatii”….
Akankah lantunan itu yang akan menyambutku di ujung hayat?

LOST is My Middle Name

[“gerimis”
By Kla Project “ON” in Winamp]

LOST is
My Middle-name

Tadi siang abis buka blog
seorang teman, ternyata dia posting dua judul sekaligus. Gak tau juga langsung
ngeborong dua posting, ato gak sengaja aja pas liat ternyata udah dua
nambahnya. Soalnya terakhir postingannya tentang hari kartini. Postingan yang
sekarang mengangkat isu yang kontras beda satu sama lain. Yang satu tentang
pilkada, yang satu lagi pengalaman tentang pengalaman petualangannya sebagai
guru les yang kerap kali harus berkeliling ke daerah-daerah baru. Subhanallah
keren lah… didoakan semoga semakin banyak yang tercerahkan, dan semakin
banyak pahala yang mengalir. Seperti disebutkan hadits, salah satu sumber
pahala yang tak putus-putus ilmu yang bermanfaat kan?

Sama sekali bukan
bermaksud mengomentari lebih jauh tentang postingan temen saya ini, Cuma nyari
pengantar yang cocok karena kebetulan jadi dapet inspirasi untuk nulis. Tentang
NYASAR…. ya nyasar, suatu fenomena yang berkali-kali saya alami. Gak ada
bosennya saya mengalami kejadian nyasar ini. Entah, apa jangan-jangan memang
nyasar merupakan suatu sifat/karakter yang di turunkan secara genetik….?
Halah, sudah pasti ngaco hipotesis yang gak jelas dasar ilmiahnya ini.

Bicara soal penurunan
sifat, yang seneng dan punya bakat nyasar/hilang dikeluarga ternyata gak Cuma
saya loh! Adik yang pertama pernah hilang di pameran buku pas masih kecil.
Jelas dia nangis gak abis-abis. Terus kami yang sering jalan-jalan naik sepeda
saat kecil juga kadang suka lupa jalan pulang, terutama saya. Kalo adik
sebenarnya gak parah-parah amat. Gak nyangka kalo adik saya ini sekarang malah
kemungkinan lulus lebih cepat dari saya, udah punya kerjaan lagi.

Pas masuk SMP pernah
suatu hari saya jadi pulang malam banget gara-gara gak tau jalan. Angkot ke
komplek Cuma ada sampai jam 6 sore, dan lewat jam segitu orang-orang harus
lewat rute berbeda jika ingin masuk komplek. Parahnya uang saku ngepas buat
ongkos naik angkot sekali. Setelah sekian jam, “nyari pertolongan” dengan
nelepon rumah, dan dikasih petunjuk angkot apa aja yang harus dinaiki. Tapi
tetep aja, karena gak tau jalan, ujung-ujungnya bablas sampe terminal yang gak
seharusnya.

Masa di pesantren juga
punya kenangan sendiri, tahun pertama lagi. Saat libur akhir tahun saya pulang
ke Jakarta. Tentunya tanpa dijemput orangtua, karena ikut rombongan bus santri
yang juga ke Jakarta. Saya yang masih culun-culunnya sampe juga di terminal
Pulogadung. Ditawarin teman untuk bareng, saya tolak karena pede bisa pulang
dengan selamat ke rumah nenek di Kampung Melayu atau langsung ke Pamulang.
Ternyata saya gak liat jam yang sudah lewat jam 9 mikrolet kerumah nenek sudah
jarang, saat itu target saya bus ke blok M dengan harapan masih ada bus ke
Ciputat. Setelah lama nunggu bus yang ditunggu akhirnya datang. Sampai di blok
M ternyata sudah tidak ada lagi bus yang saya cari. Akhirnya saya balik lagi ke
terminal Pulogadung, mengejar bus Kowanbisata yang langsung ke Ciputat.
Ahh….. telat sodara-sodara!! Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

[“selepas kau pergi” by
LaLuna “ON” in Winamp]

Saya yang sudah agak
bingung (tapi gak panik lho….) tiba-tiba inget, ada temen yang tinggal
dikawasan Pulogadung, dan sempat menyebutkan arah rumahnya yang katanya dekat
pasar. Tetep aja, setelah muter-muter dengan tujuan yang gak jelas saya balik
ke terminal. Kusut yang ada di pikiran, gak tau mau kemana. Mau ke musholla,
gak ada yang buka.

Akhirnya saat saya
berdiri kebingungan dipinggir jalan, ada seorang batak (kayaknya supir),
manggil saya masuk ke warung. Si batak nanya-nanya saya, liat-liat barang yang
saya bawa. Saya punya firasat gak enak klo dia bakal ngerjain saya, at least malak/minta duit. Benarlah
dugaan saya, cuman saya berlagak tenang-tenang aja dan bilang gak ada duit lagi
selain untuk ongkos pulang. Si Ibu warung mengizinkan saya tidur di kursi
panjang yang ada diwarung. Jam setengah tiga dini hari akhirnya saya ada
kesempatan pulang dengan selamat sampai rumah.

Kejadian itu jadi
kenangan yang lumayan unik, dan jadi bahan obrolan dengan teman di pesantren
setelah pulang liburan. Iya lah…. hehe… mana ada yang berani dan
berkesempatan mengalami tidur di terminal Pulogadung yang terkenal sebagai
daerah rawan kriminalitas?

SMU? Tetep aja ilang!!
Gak inget sih kapan aja, tapi paling gak waktu jaman-jamannya olimpiade dua
kali gak tau jalan dan sempet nyasar. Pertama di Semarang, kedua saat berangkat
training di Bandung. Bener kata pepatah, kadang hal yang gak terlalu rumit bisa
jadi rumit gara-gara “malu bertanya sesat dijalan”. Karena saya berdua dengan
ayah rada paranoid untuk nanya (teu tiasa basa sunda euy…!!), akhirnya kami
nyasar pas nyari jalan Supratman, lokasi hotel Sanira.

Salah satu kasus terbaru
adalah saat liburan ramadhan tahun lalu. Saat mau ke rumah sodara di bekasi
naik KRL Jabotabek dari Stasiun Jatinegara, saya ke WC, eh…. ternyata
keretanya datang dan gak lama berangkat. Keluarga saya yang nunggu kereta di
peron/deket rel akhirnya berangkat tanpa nunggu lagi. Saya? Untung saya ada di
jaman dimana informasi ada di ujung jempol (SMS maksudnya…). Gak lama saya
naik KRL selanjutnya. Akhirnya, saya terselamatkan!!

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi, sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami lewati ini….

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat. Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal) yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi. Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar, kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan gerah yang luar biasa.

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit. Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini. Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR… It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk menerima kunjungan dari kami.

23 April 2007

Orang tua saja saya gak punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!! Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini. Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana” pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”. Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala, beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA. Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan “Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang. Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau, saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB. Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption watch.

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta, sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Jika……

Jika saat itu datang…….

Tiba-tiba saja aku “menangis”, entah apakah sampai secara dzohir air mata
menitik….. yang pasti dalam kontemplasiku aku menangis….. Now is not my
brutallest time of me, tapi gw jadi inget semua masa lalu gue…. yang pernah begitu
parah.

Kata orang, kita gak boleh membuka aib kita didepan orang lain….. aku
sepakat dengan pendapat itu. Bahwa aib yang tertutup merupakan bagian dari
kemurah-hatian Allah terhadap kita. Sesungguhnya sangat mudah bagi Allah untuk
membiarkan aib-aib kita terbongkar didepan orang banyak.

Tapi disisi lain aku punya pandangan lain, bahwa bagaimanapun kadang kita
harus menunjukkan diri kita apa adanya. Selanjutnya, biarkan orang-orang dengan
persepsinya masing-masing menginterpretasikannya. Bagaimanapun, masa lalu
adalah hal yang tak akan pernah bisa dirubah…. seberapa besarpun penyesalan
kita. Masa lalu akan tetap menjadi bagian dari goresan tinta sejarah di catatan
kehidupan kita yang seberapa keraspun kita menolaknya, seberapa dalam kita
menguburnya, seberapa menyakitkan makian orang terhadapnya… sejarah tetaplah
sejarah.

Lalu apa kemudian kita takut jika suatu hari nanti, saat suatu momen baru
kehidupan kita (pernikahan) tiba, semua masa lalu kita harus terbongkar keluar.
Apakah kita akan sekuat tenaga menutupinya? Atau dengan legowo membuka diri
kita apa adanya? Padahal inilah adalah salah satu dari ujian terbesar
keikhlasan kita dalam menjalani kehidupan. Segala hal yang menjadi bagian dari
masa lalu “calon” merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari dirinya,
begitu pula sebaliknya dengan masalalu kita.

Tiba-tiba aku merasa inilah saatnya untuk kembali menata rencana jauh ke
depan, setelah sekian lama meletakkannya dalam box perenungan yang panjang. Ini
saatnya kembali untuk berbicara tentang hidup, dalam fase yang akan lebih luas.
Suatu fase penuh tanggung jawab yang lebih serius dan besar, saat-saat yang
tidak lagi hanya sekedar menentukan bagaimana kita menghabiskan hari tua tetapi
juga bagai mana nasib kita di akhirat kelak….. It’s time to talk about this
“too much serious” thing. Mempertanyakan kesiapan pribadi dan menimbang-nimbang
berbagai sisi dari rencana ini.

 

Flashback….

Jadi kembali ingat saat-saat dulu mulai berbicara tentang hal “serius” itu
disaat aku belum lagi lulus dari TPB. Masa-masa bau kencur untuk memutuskan
siap untuk melangkah ke sana. Banyak alasan yang muncul, namun seakan terlalu
mengada-ngada. Disisi lain banyak hal yang tidak terpikirkan sebagai
konsekuensi dari “pilihan” tersebut. Tetapi masa 3 tahun ini merupakan masa
yang cukup lama tuk merenung. Ya… merenungkan berapa tahun lagikah aku
nyatakan diriku siap untuk melangkah ke jalan tersebut.

Aku ingat, seperti juga kata orang dalam buku-buku tentang ta’aruf dan
khitbah bahwa proses menuju suatu pernikahan yang ideal membutuhkan waktu yang
lama. Ia tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita akan berhadapan dengan
banyak pihak dan faktor. Kata orang, pada hakikatnya saat kita meNikah, yang
kita “nikahi” bukanlah seorang individu calon kita, tetapi kita “menikahi”
seluruh keluarganya, masa lalunya, dan seluruh latarbelakang diri si calon. Yang
paling dekat adalah orang tua kita, juga orang tua “calon” kita. Mengkondisikan
kultur, tatakrama, dan adat dengan tuntunan syariah membutuhkan effort yang
besar dan waktu yang lama.

Tidak hanya itu, dalam banyak kasus ada diantara kita yang tidak cukup
dekat dengan orang tua sehingga tidak memberikan early warning. Ujug-ujug 3
minggu sebelum akad baru “nodong” minta ditemani melamar, yang membuat orang
tua terkaget-kaget. Bersyukur jika hanya terkaget-kaget, bagaimana bila yang
muncul adalah tuduhan yang bermacam-macam seperti hubungan yang bablas, aliran
sesat atau apapun prasangka yang muncul karena budaya “asing” yang kita bawa.
Mentorku yang dulu pernah mengatakan, mungkin beberapa semester sebelumnya PDKT
ke orang tua sudah harus mulai dilakukan.

Faktor kedua yang tak kalah penting adalah keluarga. Namun sebenarnya hal
ini tidak terlalu menimbulkan masalah jika kita sejak awal telah cukup dekat
dengan saudara dan kerabat.

Diantara itu semua, yang paling fundamental adalah diri kita sendiri.
Tetapi aku sendiri masih bingung dengan hal ini. Faktor ini sangat terkait
dengan Visi dan Misi pernikahan kita. Motif dan urgensitas pernikahan pada
suatu waktu juga berbeda-beda. Ada yang siap menikah, sehingga menikah pada
saat itu hakikatnya sunah. Tetapi ada yang menikah untuk menghindari munculnya
mudharat yang lebih besar. Adapula yang menikah sekedar menggugurkan kewajiban.

Dalam masalah ini, aku berdiskusi dengan pikiranku sendiri tentang “wanita
shalihah untuk pria shalih, wanita baik untuk pria baik”. Bagaimana jika suatu
ketika kasusnya adalah seperti ini, seorang pria yang masa lalunya hitam, sama
sekali tidak memenuhi muwashofat standar sebagai “calon suami yang baik”, tapi
Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk berubah adalah dengan mencari
pendamping hidup yang lebih istiqamah? Tentu merupakan pilihan sulit untuk
wanita manapun menghadapi pria seperti itu. Butuh kelapangan hati yang luar
biasa untuk dapat menerima kenyataan bahwa yang akan menjadi pendamping hidup
kita adalah seorang yang jauh dari figur ideal yang kita idam-idamkan.

Tetapi bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana jika misalnya, seorang mantan
residivis yang ingin meninggalkan masa lalunya dengan memulai kehidupan baru.
Apakah ia layak untuk mendapatkan seorang akhwat baik-baik? Atau pintu
perbaikan sudah tertutup baginya, karena kemanapun ia melamar jawabannya adalah
“perbaiki dirimu sendiri dulu, dan cari lah yang sebanding”? Aku coba
membiarkan pikiran ku mengalir dalam tulisan ini agar aku mendapatkan konklusi
yang rasional, karena aku bimbang dengan korelasi antara menikah untuk
“menghindari mudharat” dengan “akhwat yang baik untuk ikhwan yang baik”.

Ya….. whatever!! Anyway, ternyata memang butuh suatu pemikiran panjang
untuk melangkah ke “sana”. Entah sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun atau
lima tahun lagi gak ada dari kita yang dapat memprediksi kapan “si calon”
datang. Yang pasti, apapun dapat terjadi dalam masa penantian itu, entah ternyata
kita sudah dijemput ajal, atau jangan-jangan sudah keburu “pindah haluan ke
jalan yang lain”, atau malah banting stir dari “siapa kamu?” jadi “Siapa aja
deh!!”. Bagaimanapun gak ada diantara kita yang mau hal-hal itu terjadi.
Solusinya, kalo dari pribadi “waa tazaawaduu…..”, “waa a’iddu lahum….”,
dari faktor luar…. santai aja, perbandingan akhwat-ikhwan itu timpang (as
Allah told, “matsna waa tsulatsa waa ruba’…”).

Sebagai penutup, disebuah training berkaitan dengan pernikahan ketimpangan
ini terasa sekali… dengan sedikit mengeneralisir, pada waktu yang sama,
kira-kira perbandingan Ikh-Akh yang “menunggu waktu yang tepat” adalah
1:7….!! Mmmm… mungkin kegedean, tapi yang saya temui di training itu adalah
pesertanya 20 orang ikhwan vs 140 orang akhwat!! Hal ini bisa jadi karena usia
siap/matang dari Akhwat lebih cepat daripada Ikhwan sedangkan ikhwan yang siap
selalu terbatas. Semua kesempurnaan hanya milik Allah…..

Wassalam

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran
dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun
mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini
semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi
dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan
oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi,
sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami
lewati ini….

 

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai
lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting
stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat.
Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya
rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu
pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan
rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan
utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain
adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya
kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi
dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi
banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan
keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan
benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa
tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang
hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang
sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan
dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal)
yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi
sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya
dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa
terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah
diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi.
Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar
dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa
staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata
kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar,
kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan
gerah yang luar biasa.

 

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit.
Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari
sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada
kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi
Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini.
Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan
Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya
membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes
dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak
sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku
mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa
mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan
akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR…
It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut
pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and
blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled
crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk
menerima kunjungan dari kami.

 

23 April 2007

Orang tua saja saya gak
punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!!
Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still
unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing
special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku
makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang
terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini.
Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus
tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba
meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi
karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku
maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah
masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri
dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana”
pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si
satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai
jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”.
Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus
kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia
punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang
plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika
diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan
tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala,
beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami
pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts
from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan
kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah
melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA.
Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia
lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan
“Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan
bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang
bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak
akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia
tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar
Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah
Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang.
Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau,
saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

 

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB.
Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu
kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi
nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi
tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian
sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan
sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil
didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi
kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption
watch.

 

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama
kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan
pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam
di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi
ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan
untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya
mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang
benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta,
sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan
jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan
perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Releksi jatuh-bangun

Bismillah…. Semoga gak salah tulis.

[“bantu aku membencimu” by LaLuna “ON” > in
my mind]

Bicara tentang diri kembali….. tapi mengenai
aku sosial.

 

Disela-sela
letih kutemukan tanya…..

Tentang
hati yang gelisah… tentang jiwa yang berontak….

di
seberang jalan, rona senja berteriak….

kamu
dimana… berdiam dirikah? Bangkitlah jiwa..!!

 

Kucoba
berdiri dan berteriak lantang….

Aku
masih hidup dan berdiri disini….

Aku
kan tetap disini…. walau panji-panji cahaya musnah sirna

Ku
hanya butuh sejenak istirahat dan berbenah…..

 

Jangan
khawatirkan aku senja…

 

 

Berkaca ke beberapa bulan ini….. beberapa
bulan sebelumnya….

Jauh….. berbulan-bulan yang lalu…. aku menemukan sesuatu tentang
diri ku. Aku menyadari kalau ternyata selama aku di kampus, ada siklus
tahunan/semesteran yang aku alami…. selalu berulang dan berulang lagi. Naik
turunnya ritme semangat ku itu ternyata mengikuti suatu siklus.

Aku berhitung-hitung, aku down…. ngambek…. futur…. menghilang
“sejenak”…. kurang-lebih selalu pada rentang bulan februari sampai april, dan
september sampai november. Sudah ku coba berkali-kali untuk mengaggap itu hanya
sugesti saja. Tapi kenyataannya, accidentally, it flows as a circle…. No better
explaination as far, mungkin itu cuma perasaan aku aja…..

 

Pergi kemasalah utama sebagai “aku sosial”, aku adalah bagian dari
suatu komunitas. Tepatnya aku adalah suatu himpunan irisan dari beberapa
komunitas pada saat yang bersamaan. Komunitas-komunitas ini masing-masing
tentunya akan memiliki kesamaan interest and needs…. maka dari itu
akan ada vested interest yang terjadi, berhubungan dengan keberadaan ku
sebagai bagian dari mereka. Salah satunya, yang ingin aku katakan disini adalah
keberadaan ku sebagai seorang muslim…. sebagai seorang yang “seharusnya”
sadar dengan tanggungjawabnya sebagai seorang penyeru….

Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat pertama aku mengenal
komunitas yang begitu nyaman ini. Aku bersentuhan dengan gerakan dakwah
bersamaan dengan kepindahan ku dari SLTP ke pesantren. Saat itu sedikit pun aku
belum paham apapun…. kecuali keadaan bahwa nunjauh disana ada
saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang ditindas di Chechnya, Bosnia,
Palestina dan “Jaziratul Mulk” Maluku. Seiring waktu…kelengseran Soeharto
membawa barisan ini ke era yang lebih terbuka…. Harakah sirriyah itu menjelma
menjadi Hizb… dari sanalah semua lebih mudah ku cerna.

Aku mulai ikut serta dan terlibat sejak tahun terakhir ku di pesantren.
Tiga tahun setelahnya, interaksi ku dengan komunitas ini terlepas, seiring
kepindahanku ke SMU. Aku tak lagi mentoring….. Tapi nuansa yang sama dengan
masa-masa di pesantren telah menarikku kembali….. dan nuansa itu kutemukan di
kampus ini…. ITB.

Gak terasa, ini adalah tahun keempatku di ITB, yang penuh dengan momen
jatuh bangun…. peluh, kesah, ngambek, ketidakpuasan…… everything. But one
thing, seberapa jatuh pun aku, aku tetap selalu ingin kembali lagi… dan lagi
kesini. Terakhir, lagi-lagi siklus itu muncul februari ini…. lalu aku
kemana…? aku masih disini, tapi di sisi yang berbeda aja.

To tell U the truth…… sejujurnya gw pengen rehab….. rehab mjd
diri ku yang dulu…. rehab jadi orang yang gak perlu tahu banyak…….. (atau
sok tahu banyak). Cukup hanya tahu….. amal amal dan amal….. klo boleh
menyalahkan keadaan, aku “dimanja sejak kecil”, oleh senior2 ku. Jadilah aku
kader manja dan kekanak-kanakan. What I’m doing now…..? Try to wake up
“step by step”
. Berbenah diri….. tapi gak perlu bilang bilang. (But
bagusnya sih emang ada yang ngingetin…. tawashou bil haq)

Penyakit-penyakit yang harus di benahi….

Aku coba menganalisis penyakit/masalah yang menyebabkan aku sering
jatuh bangun…. naik turun terus…(kayak PLN).

Kurangnya Ma’iyatullah.> pernah didamprat
sama seseorang krn ini….. masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Sering lupa
ada Allah yang menentukan…. dan lupa klo All we have to do is trying…..
ikhtiar…. ikhtiar

Kurangnya Arrabthu bainal Akh dan Arrabthul Amm > sifat introvert, selfishness dan egosentris (haduh…. gue bgt)
kita kadang menjadi batu sandungan dalam keberjalanan jamaah…. butuh lebih
mawas diri. Kita gak bisa meraih hati mad’u tanpa memahami hatinya.

Terlalu toleran terhadap hal mubah dan makruh>
ini nih yang susah…….

Kondisi mental/psikologis/ruhiyah gak stabil>
Yaumian gw ancurrr…….

 

Beside of that gw nemuin perhentian sementara…… organisasi yang gw
hujat-hujat dulu malah jadi tempat gw “berhenti sejenak”(atau untuk
selamanya?). Gw nangkring di KAMMI sekarang…….

Serendipity

Sejam sebelum berangkat ke Lembang (hhh….. never ending
KP). Tapi pengen nulis dikit, karena ada hal yang fantastik yang bisa dibagi
(buat saya, mungkin biasa-biasa aja buat ente-ente yg baca).

Mungkin rada out-of-date kali ya, saya baru aja nonton
film keren, Serendipity judulnya. [09:18 paused
> gak enak diliatin
fahrul]

[09:45 > Akhirnya setelah nelepon pembimbing KP, rencana ke Lembang dibatalkan
karena beliau ada waktunya besok. Perjalanan gw alihkan ke Comlabs dan ternyata
gw duduk sebelah temen gw, katanya kuliah jam 9 gak ada. Padahal gw kira gw
harus bolos lagi. Amazing coincidence!!!]

Ya…. serendipity, sebuah film yang sebenernya udah lama
keluar dan sering disebut-sebut temen. Ceritanya mmm…. simple kata fahrul,
tapi rumit kata gw. Ya lah…. klo gak rumit justru gak istimewa. Film ini
keren, karena ide ceritanya unik, dan desain cerita yang walopun gampang
ketebak (pasti happy ending) tapi tetep bisa membuat gw penasaran dan
menerka-nerka akhirnya.

Ini film tentang cinta-cintaan, tapi tetep kudu ditonton
karena emang unik. Dimulai dari suatu kejadian yang (bisa aja) cuma biasa-biasa
aja. Ada 2 orang yang sama-sama mau beli hadiah buat pacar masing-masing.
Tau-tau mereka memilih sarung tangan yang sama dan cuma ada satu-satunya di toko.
Mereka saling mengalah, tapi malah gak ada yang ngambil. Akhirnya sarung tangan
itu hampir di ambil sama pembeli lain. Dengan spontan mereka berkonspirasi
mendebat si pembeli tersebut dan Ia pun batal ngambil sarung tangan itu. Mulai
dari situ si Jonathan (cowo yang nyari hadiah) mulai ngegombal, intinya ngajak
kenalan sama cewek ini. Tapi si cewek ini kemudian nolak dan bilang klo mereka
emang “digariskan” bersama suatu saat mereka bakal ketemu lagi.

Akhirnya si cewek ini ngajak si jonathan ngetest prinsip
yang dia bilang ini. Dia minta jonathan nulis nama lengkap dan nomor teleponnya
diatas selembar uang kertas, trus duit itu dipake buat beli permen. “kalo kita
emang ditakdirin ketemu lagi, ntuh duit bakal sampe ke gw suatu saat.”, gitu
kata si cewek. Kemudian dia bilang ke jonathan bahwa dia akan menulis nama
lengkap dan teleponnnya di sebuah novel dan besoknya akan dia jual ke toko buku
loakan, trus dia ngomong “Kalo kita emang ditakdirin ketemu lagi, buku itu akan
nyampe ke kmu.”.

Kemudian dia jalan-jalan ke hotel yang lantainya
buaaaaanyak. Si Cewek minta Jonathan masuk ke lift yang berbeda dengannya, lalu
memilih lantai sesuai lantainya. Ternyata keduanya sama-sama memilih lantai
23….. tapi Unfortunately ada kejadian yang menyebabkan si John telat sampai
lantai tsb. Mereka gak ketemu lagi.

Berahun-tahun kemudian berbagai hal, termasuk Buku novel
bekas dan uang kertas tersebut mempertemukan mereka kembali. Ironisnya buku
novel itu ternyata ditemukan oleh tunangan jonathan yang (nyaris….) akan menikah
sehari setelahnya.

Ya… lagi iseng nonton. Emang sih ceritanya kyk gitu.
Tapi….. gak tau lah, gw jadi sempet mikir, rangkaian hal menakjubkan ky gitu
bener-bener nyata. Yang ngalamin gw tentunya…. hehehe [nyengir kuda “ON”

Kembali ke dunia nyata….. ada 2 kepanitiaan yg bakal gw
alamin 3 bulanan kedepan di “perhentian” gw setelah lengser dan eksodus dari kabinet. Semoga lancar
dan menakjubkan plus gw bisa konkret disini, soalnya disalah satunya gw jadi
ketua.

Be ourself…. to be happy…..

Mmm…. Saya mulai
dari mana ya….

Semester lalu saya ngambil sebuah kuliah TI, manajemen sumberdaya manusia.
Ada sesuatu yang mau saya bagi dari apa yg saya dapet dari kuliah itu. Diri
kita terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi.
Ada komponen psikis, logika dan fisik.
Mungkin ada berbagai bentuk penyebutan yang berkembang, berdasarkan teori yang
menjadi acuan masing-masing orang. Tapi ada hal yang bisa kita sepakati
bersama, interaksi dari berbagai elemen tadi menghasilkan suatu keunikan dalam
diri manusia. Setiap diri kita merupakan figur yang unik, dan secara nyata
tidak ada diantara kita yang sama secara identik.

Salah satu sisi yang unik dari diri manusia adalah personality/kepribadian.
Banyak teori dan pendapat yang berkembang tentang kepribadian (diantaranya ada
yang menyoroti masalah kedewasaan yang saya singgung minggu lalu). Teori-teori
tersebut diantaranya coba mensistematisasi pengelompokan kepribadian dan
aspek-aspek yang membangun suatu kepribadian itu(di Psikologi Industri disebut
atribut kepribadian).

Ada salah satu teori yang saya tahu dan coba saya pelajari sendiri dari
internet. Saya dapat dari www.personalitypage.com, butuh dicoba buat rekan2
yang lagi ada sedikit waktu. Teori yang di kembangkan oleh Keirsey, Meyer dan
Briggs digunakan untuk mendeterminasi temperamen seseorang. Ada 4 aspek yang
membentuk temperamen orang, yang masing masing di bagi dalam 2 jenis karakter
orang. Aspek-aspek ini berkembang seiring pertubuhan, dan cenderung tidak
berubah setelah lewat usia puber (17-24). Tiap orang akan punya kecenderungan
untuk masuk dalam salah satu opsi dalam aspek tersebut. Reviewnya sbg berikut:

Where Your Flow
of Energy Originates

E = Extroverted. You are not necessarily
outgoing, but you feel energized after social situations.

I = Introverted. You are not necessarily shy, but
you feel energized after spending time alone (reading, etc.)

How You Take in
Information

N = Intuitive. You read between the lines
and look for meaning in things. You trust your instincts and see
the bigger picture. You value creativity and abstract thought, focus on
the possibilities, and are future oriented.

S = Sensing. You focus on what’s in front of you by using your
5 senses. You value practicality and believe that facts speak for themselves.
You trust what’s real and concrete and live in the here and now.

How You Make Decisions

F = Feeling. You are tender-hearted and sympathetic. You make
decisions based on people’s feelings.

T = Thinking. You are rational and tough-minded. You make
decisions based on logic and objective consideration.

How You Deal
with the World on a Day-to-Day Basis

J = Judging. You are schedule oriented, organized, and prefer
deadlines to be made and met.

P = Perceiving. You are spontaneous, comfortable
around disorganization, and view

deadlines as flexible and relative.

 

Kombinasi aspek2 tersebut menghasilkan 16 (24)
tipe temperamen.
Masing
masing tipe tersebut memiliki metode treatmen, cara belajar, komunikasi dll yg
berbeda-beda dan khas.

 

Lalu…… kenapa saya membahas
tentang ini? Ya, karena kadang ada
diantara kta yang khawatir dengan karakternya sendiri. Terlalu introvert,
terlalu extrovert, terlalu make perasaan ato malah sebaliknya terlalu logis. Padahal
hal tersebut merupakan kondisi yang natural pada diri kita, dan saya pikir kita
justru harus bersyukur bahwa kita tahu karakter diri kita. Jadi kita tahu cara
mengoptimalkan diri kita, berusaha menjadi diri sendiri, gak berusaha “pretend
to be someone different than ourself”. Saya bersyukur bahwa saya diciptakan
”aku-centris”, terlalu make perasaan ketimbang akal, serabutan, berpikir
acak/abstrak….. thats who I am!!
The things left is…. how to treat
ourself based on our character.

Klo ada hal yang butuh dibenahi,
ya… benahilah tanpa perlu kehilangan diri kita yang apa adanya. Karena menjadi diri yang bertentangan dengan “kita
apa adanya” kadang sangat menghabiskan energi. Hal yang butuh kita sadari, ada
hal-hal yang sudah secara ”built-in” ada dalam diri kita, dan berhenti
berkembang seiring berhentinya pertumbuhan otak kita diakhir masa puber. Mengutip
Pak Rama Royani, ”Dalam diri manusia terdapat karakter yang menjadi kelebihan
dan kekurangan orang tersebut, dan sebagian karakter tersebut cenderung
unchangeable/unerasable. Mengapa sebagian orang menghabiskan energi untuk
membuang/menutupi kekurangannya? Padahal mereka bisa berfokus mengembangkan
potensi-potensi dirinya yang menjadi kekuatan.”.

So, terimalah diri kita seutuhnya… Saya yakin bahwa ada “rahasia indah”
yang Allah sembunyikan dalam perilaku kita yang Ia tetapkan ada dalam diri
kita. Sekarang, akankah kita mampu menyingkap rahasia indah tersebut, sehingga
ia dapat menjadi kekuatan kita?

 

Sedikit referensi tes online:

http://www.personalitypage.com/home.html,
www.brainbench.com , online test.

 

Kumpulan Confessiography

Sebuah tekad! atau nekat?

Perkenalkan, namaku Ardian Perdana Putra, seseorang yang biasa-biasa saja.

Aku gak pernah tahu kapan aku mulai sadar kalo aku hidup, yang pasti sekarang jelas akan berbeda ceritanya jika aku gak sadar tentang mengapa aku masih hidup.

Aku lahir bertahun-tahun yang lalu, 28 agustus 1983 di daerah Kampung Melayu, Jakarta timur. Saat itu orang tuaku masih numpang di rumah nenek, tetapi tak lama kemudian kami pindah ke kontrakan di daerah mampang, karena kantor ibuku, BATAN ada di daerah mampang prapatan.

Entah apakah ini pertama kalinya aku coba untuk menuliskan diary/kisah hidup. Tetapi seingat ku sejak SD sebenarnya keinginan itu pernah ada, tapi tidak pernah terlaksana. Memang keinginan itu tak kunjung terlaksana terpengaruh oleh karakter ku yang gampang bosan dan senang mencoba, jadi saat keinginan itu ada, kadang hanya terlaksana beberapa kali, lalu lupa. Bisa jadi keinginan itu juga belum aku pahami tujuannya sehingga tidak ada dorongan cukup kuat untuk membuatnya berlangsung lama. Cuma mungkin sekarang berbeda, karena aku punya harapan dan hasrat lain dari tulisan ini.

Aku memang belum pernah menuliskan “diary” secara harfiah. Kenyataannya ada sedikit jiwa ekspresif didiriku yang membuat aku punya dorongan kuat untuk menuangkan imajinasi, atau lintasan pikiran yang ada dikepalaku secara tiba-tiba. Jadi secara nonformal aku menuangkan “diary”ku dalam berbagai bentuk. Kadang coretan-coretan abstrak tertuang begitu saja tanpa bisa dipahami orang lain. Saat MTs dan SMU aku suka menggambar maka aku tuangkan dalam gambar, aku juga kadang menuangkannya dalam bentuk puisi.

Tetapi kadang aku juga tidak dapat menuangkannya kebentuk apapun. Biasanya itu terjadi jika aku sudah memendam dan mengolah imajinasi tersebut hingga begitu rumit diotakku. Mereka jadi sulit keluar dan hanya muncul potongan-potongannya saja. Makanya pemikiran ku kadang sulit diterima orang karena aku punya dunia sendiri dalam kepalaku.



5Apr07

Seberapa besarkah arti sebuah nama?

Hemmmmm…… lagi pengen kenalan. Sejak pertama ngisi blog kayaknya aku blom pernah bener-bener memperkenalkan diri. Ya…. Mungkin saatnya. Perkenalkan namaku Ardian Perdana Putra. Namaku ini ada ceritanya loh…. Aku lahir bulan agustus 1983 dalam kondisi prematur 8 bulan…..[“Another grey day-Maaya Sakamoto” ON]. Jadi seandainya normal, aku bakal lebih muda ya….. namanya bukan ardian dong, eh… jangan-jangan gw bakal dinamain Septian…. Ato sepdian (halah ngaco…. Becanda]. Nama depan ku ini yg unik….. AR adalah nama bokap (Aris), DI dari nama ibu (walopun ga pas-pas bgt siy, Dyah, kalo ini beneran kayaknya nama gw harusnya ditulis ARDYAN), AN itu singkatan dari Anak. Ya…. Tapi kata ibuku ini sih versi yang gak jelas kevalidannya. Yang pasti kita sama-sama tahu lah ya…. Maksud dari PERDANA PUTRA…. Paling duluan nongol.

Ngomong-ngomong aku gak punya nama keluarga lho….. aku sempet bingung waktu kecil. Apa lagi pas belajar bahasa inggris. Bingung, soalnya klo orang sono kan klo nama belakang itu biasanya nama keluarga. Ya gitu lah…..

Klo bicara soal nama kayanya bagus juga bicara soal panggilan dari SD ampe Kuliah… soalnya hampir pasti selalu ganti, dan herannya gak nyambung sama nama asli.

Panggilan di SD itu sebenernya standar…. ARDI aja, cuma terus nambah…. Gw pernah dipanggil “profesor” sama anak-anak, soalnya cita-cita gw dulu astronot dan Ilmuwan. Ya… SD gak banyak kesan…. Maklum pedalaman….(pedalaman depok), masa-masa gw gak jadi jagoan…. Jadi bulan-bulanan temen yang superior. Tapi mereka gak berkutik pas lulus dunks….. dengan NEM lumayan tinggi gw masuk SMP favorit waktu itu, temen2 gue harus nyari sekolah swasta. Beruntung juga, soalnya gak pernah nyangka bgt. Gimana nggak lha wong pas kelas tiga aja gw nyaris gak naik kelas.

Pas SMP, walo pun Cuma sebentar (1 tahun) tapi kenangannya lumayan, terutama cinta monyetnya. Di kelas gw, 1.2 gw dipanggil Mpe… karena sipit…. Lengkapnya Mpe Tong Seng. Gw ngamuk sebenernya, tapi apa daya, tetep aja anak2 manggil gw kayak gitu. Temen-temen gw udah mulai kenal cimeng, BK ato minimal rokok. Gw? Gak usah diceritain lah… Tiba-tiba masa2 yang sebentar itu putus…. Gw masuk pesantren.

Dipesantren gw dapet panggilan baru lagi, PePe. Tahun pertama, gw masuk kamar 12 (dganti nama jadi Hudzaifah Ibnu Yaman @ asrama Khandaq). Kamar Hudzaifah dikenal sebagai kamar “Kandang Macan”. Gak ada senior yang cukup sabar untuk ngurus kamar itu. Satu per satu berguguran digantikan pengurus baru. Bahkan Kak Addin angkatan pertama MA(Gw angkatan III MTs) yang paling disegani sekalipun akhirnya gak dikamar itu lagi. Kamar itu kacrut bukan maen lah….. hari-hari pertama aja gw langsung ngajak ribut salah satu preman kamar itu. Kris… dia akhirnya gak lama di pesantren, keluar barengan sama sodaranya Mustofa abis kena kasus kemasukan jin yang bikin heboh satu ma’had.

Cerita kebandelan gw cuma beberapa orang yang tahu. Jadi ustad-ustad dipondok masih nganggep gw santri yg biasa-biasa aja. Paling yg tau sisi gelap gw Cuma Ust. Alm. Dadang Sa’dan. Gw kadang suka kabur dari pondok bukan pas waktunya izin. Aturan di pondok, boleh izin Cuma 2 minggu sekali di hari jumat(hari libur resminya pesantren). Shift izinnya ikhwan sama akhwat beda jum’at. Tapi tetep aja, gw denger sekarang santri lebih bandel. Dengan adanya HP, santri Ikhwan dan akhwat ada yg bisa janjian untuk ketemu dikota, pacaran. Kalo zaman gw itu mah hal langka, apalagi sampe pacaran, santri paling bandel aja ga bisa. Biasanya gw ke kota kuningan jalan-jalan, belanja, nonton dll.

Panggilan Pepe bertahan sampai tahun terakhir…. Masa-masa penuh suka-duka, masa paling soleh sekaligus paling brandalan….. Gw Bertahan di 5 besar mulai kelas 2 sampai 4(1-3 SMP normal, tahun pertama tahap I’dad). Semua karena gw deket dan sobatan banget sama Hidayat, Yayat, Zulfahmi dll yang pinter dan soleh. Gw banyak ngikutin cara belajar mereka (terutama pas ujian) dan karena daya inget gw yg lumayan kenceng, dalam semalam belajar, materi secaturwulan gw bisa kuasain diluar kepala. Akhirnya pas ujian gw bisa sedikiiiiit di bawah level mereka. Kebetulan gak susah2 amat, rata-rata materi hafalan dalam bahasa arab. Ditunjang dengan pengetahuan umum gw yang lebih lumayan membuat nilai gw kedongkrak. Jadi klo terima raport (ada 2 macem raport, Ma’had dan MTs/Depag) gw kalah di raport ma’had, tapi unggul di raport Depag.

Hingga akhir masa-masa pesantren gw lumayan naik pesat, dan akhirnya lulus dengan NEM terbaik ke-3 di Pesantren. Aku yang emang sejak kelas 3 udah gak tahan dengan aturan yang ketat di pondok dan memang ingin melanjutkan ke sekolah umum untuk mengejar PTN. Setelah diskusi yang berbelit-belit akhirnya aku direstui (terutama Ibuku, Ayah dari awal gak setuju aku masuk pesantren) dan boleh pindah dengan “beberapa syarat”.

Kemudian masuklah aku ke SMUN I Serpong (Setelah sempat tes di Insan Cendikia, lulus sih 20 besar, sayangnya biayanya membuat ku mengurungkan diri). Tahun awal diwarnai jet-lag…. dari pesantren yang homogen ke SMU yang plural dan Heterogen. Tapi mata ku ternyata cukup pintar beradaptasi, dan kembali cinta monyet mengisi hari-hari SMU. Cuma gw mah keitung cupu bgt lah. Gw cuma bisa jadi secret admirer. Udah, mentok!! Lebih dari itu cuma sekali gw nyatain “hal berbau monyet” itu, pas gw mau hijrah ke bandung sebelum naik kereta (gariiiiing……).

Yang gak gw sangka-sangka, tahun pertama begitu gemilang buat gw. Gw gak pernah seumur-umur mimpi jadi ranking I, dan ternyata kejadian dong…. Hattrick!! Tiga kali berturut-turut di kelas I. Padahal cawu 3 gw kecelakaan, beberapa hari menjelang ujian Cawu gw cedera dari basket, ujung-ujungnya tangan kanan gw patah dan gw harus ujian dengan tangan kiri….. yah…. Harus diakui, rada-rada sedikit ketolong nilai “kasih sayang”. Tapi eit… jangan salah nilai gw kedongkrak gak dateng dengan sendirinya ya…. Ulangan harian gw lumayan, yang bikin nilai gw ketolong.

Balik lagi kesoal panggilan…. Gara-gara indrie, temen duduk sebarisan pas kelas I, gw sempet nyaris dipanggil Firaun…. Gara-garanya dia ngliat gambar patung firaun di buku sejarah, dan katanya sih, mirip gw… Ting..tong… tau-tau dia teriak keliling kelas… dan efeknya sampe beberapa minggu gw tetep dipanggil Firaun. Tapi kemudian gw bilang keanak-anak, Firaun kurang keren…. gw tawarin “Pharaoh” sebagai penggantinya, untungnya anak-anak mau aja…. Akhirnya mulailah 3 tahun gw di SMU dengan panggilan baru…

Herannya ternyata terjadi juga distorsi, naik kelas berarti ganti temen. Panggilan itu (Pharaoh) pun akhirnya berevolusi…(ciee….. Huekkk…). Panggilan itu ditulis dengan bermacam madzhab…. Kadang-kadang Farao, parau, Varau dll. Ujung-ujungnya gw resmiin panggilan itu jadi tinggal 3huruf: RAO!! Klo tandatangan unofficial A-nya gw balik. Sampe sekarang, panggilan RAO masih tetep dipake di APRES. Anak-anak apres gak pada tahu nama gw Ardian, mreka taunya RAO.

Cerita Tentang Vie

Tiba-tiba saja teringat tentang beberapa tahun yang lalu. Saat aku baru saja kuliah ke Bandung. Cerita yang untukku sangat konyol walaupun bisa jadi biasa saja buat kalian. Cerita peninggalan jaman SMU ini, entah mengapa tiba-tiba muncul kembali. Ceritanya dimulai sekitar 6,5 tahun yang lalu. Juli 2000, masa-masa pertamaku melihat dunia luar setelah selama 4 tahun belajar di pesantren.

Pure Jail, begitulah angkatan atas menyebut pesantren kami. Di pesantren, hubungan antar lawan jenis nyaris tidak ada. Kelas kami dipisah, sehingga tidak terjadi kontak sama sekali antara santri putra dan putri. Segala aturan yang diberlakukan pun dibuat untuk memastikan hal itu terjadi, walaupun sebenarnya ada juga yang bandel dan melanggar.Tapi resikonya adalah siap-siap untuk dibotak atau dikeluarkan. Fenomena ”cinta monyet” santri menjadi warna tersendiri yang menjadi bumbu dari kehidupan dibalik pagar pesantren.

Empat tahun dipesantren membentukku menjadi figur yang dingin kepada lawan jenis. Saat memutuskan pindah sekolah selepas MTs agak terjadi ”jet lag”, aku kikuk menghadapi teman wanita di sekolah baruku. Islam memang mengatur masalah hubungan lawan jenis dan batas-batasnya, dan aku menjadikan sikap ku itu sebagai prinsip yang harus ku pegang. Hal ini kusadari sebagai sesuatu yang pantas ku syukuri, karena hingga kini aku rasa aku pantas berbangga dengan rekor ”tidak pernah pacaran” yang tetap ku jaga.

Namun begitu, pengaruh lingkungan ternyata begitu kuat untuk mengikis sedikit demi sedikit prinsip hasil gemblengan bertahun-tahun di pesantren. Aku mulai bersikap ”adaptif dan reseptif” terhadap nilai-nilai dan kultur anak-anak sepantaran ku (walaupun sebenarnya aku lebih tua dua angkatan seharusnya). Aku mulai belajar gitar, dengan gitar butut peninggalan Alm. Om ku. Budaya pop sedikit banyak mempengaruhi, walaupun aku cenderung selektif juga. Bagai manapun aku masih punya pertahanan diri untuk tidak meniru semuanya.

Hari pertama sekolah, seperti tradisi yang biasa ada, MOS berjalan dengan sangat garing. Aku tidak terkesan sedikitpun dengan acara ini, karena aku terbiasa kabur dan sembunyi jika ada acara baris-berbaris semacam ini saat di pesantren. Tetapi tetap saja ada yang masih dapat kunikmati, jadi tidak sepenuhnya MOS menjadi mimpi buruk. Teteh pendamping kelasku -sebut saja Rani-, kelas 2, berjilbab, anak Paskibra, begitu ceria dan gak bisa diam (saat aku menulis kisah ini, aku baru sadar kalau dia mirip seorang seniorku di Kampus yang begitu ”bercahaya”). Selain itu, ada seorang siswi baru dibarisan yang menarik perhatian ku. Vie, sebut saja begitu. Roknya pendek, diatas lutut membuat seragamnya lebih mencolok dibanding siswi lain. Ia seorang muslim namun sekolah di SMP katolik, membuatnya memiliki kultur yang sedikit asing buatku dibandingkan teman yang lain.

Alkisah, selesailah hari-hari nan aneh itu dan sekolah pun dimulai. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang. Aku memilih duduk didepan, barisan kedua dari meja guru dengan teman sebangkuku Tora, seorang batak muslim yang orang tuanya adalah mualaf. Di belakang meja ku ada Indrie dan Yuli, dua cewek ini ramenya minta ampun. Kami berempat tanpa sadar menjadi tim yang klop. Berbagai tugas kelompok sekolah kami kerjakan dengan formasi tim yang hampir selalu sama. Akhirnya kami menjadi seperti sebuah geng yang hampir setiap waktu bercanda. Diluar itu semua, aku menjadi ”secret admirer” dari Vie, yang duduk di baris ke 4 dekat jendela.

Entah mana yang lebih berpengaruh, kedekatan ku dengan geng ku atau karena keinginan ku untuk terlihat menonjol dihadapan Vie membuat ku bergitu menikmati belajar, walau untuk ukuran anak-anak dikelas aku termasuk salahsatu yang paling santai. Namun, toh tanpa usaha dan target yang muluk-muluk, ternyata aku rangking pertama di Cawu 1 itu. Hal ini untukku dan orang tuaku adalah hal yang mengagetkan. Jika masuk 5 besar aku masih tidak terlalu kaget, karena hal itu sudah tradisi saat di pesantren. Tapi untuk jadi juara kelas, aku bahkan tidak berani bermimpi.

Ada satu kegemaran baru ku saat SMU, menggambar, terutama komik. Saat kelas tiga MTs sebenarnya hoby ini mulai ada. Awalnya aku suka menggambar Conan, tetapi lama-lama aku memiliki style ngomik sendiri. Saat kelas satu ini aku mulai sedikit banyak meng-improve skill komikku. Aku pun mulai membuat komik-komik pendek, dan entah mengapa aku memasukkan tokoh Vie didalam komikku. Aku memberinya nama ”Tiara” disana, namun karena iseng saja maka komik itu hanya jadi dua scene. Selebihnya aku kesulitan untuk membuat cerita dan cenderung tidak fokus sehingga ada beberapa kerangka cerita yang muncul dibenakku, tetapi tidak satupun kulanjutkan jadi cerita yang utuh. Sampai sekarang, pengembangan cerita tetap menjadi kelemahanku. Aku malah lebih suka menguatkan teknik dengan gambaran-gambaran spontan yang memenuhi buku catatan ku disekolah.

Ada lagi hobby lain yang berkembang, berpuisi. Entah kesambet setan apa, aku jadi suka corat-coret puisi di buku catatan. Hingga kini beberapa diantaranya masih rapi tersimpan dikamar kost ku. Yah, bukan puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail, hanya coretan kata seorang siswa kampungan yang tenggelam dalam kegundahan cinta monyet. Kadang aku menuangkan fenomena-fenomena yang kulihat di sekitarku dalam rangkaian kata yang implisit. Puisi tentang ”dia” pun tak luput ku buat, bahkan aku pernah tuangkan dalam lagu dengan judul namanya.

Hasratku untuk eksist dikelas, semakin meninggi. Aku tidak puas hanya sekedar jadi ranking satu saja. Dari sanalah aku mengenal basket. Awalnya hanya karena basket masuk dalam mata pelajaran olah raga saja. Namun aku – yang awalnya mendribble pun gak bisa – tiba-tiba saja jadi begitu cinta dengan basket dengan support yang kudapatkan dari rekan-rekanku.

Rekan-rekanku yang cowok rata-rata senang olah raga apapun. Sedangkan aku, sejak dulu aku lemah dengan olah raga. Walaupun di pesantren lari pagi adalah ”menu rutin” dua kali dalam sepekan, aku lebih sering kabur atau kadang memotong jalan, karena bagiku jarak yang kami tempuh sangat jauh dan aku selalu tertinggal. Saat aku mulai mengenal basket di SMU ini aku sebenarnya sangat malu, karena aku tahu kalau rata-rata anak SMU saat itu pasti bisa basket. Namun aku bersyukur bahwa teman sekelasku tidak merendahkanku, bahkan bereka begitu besar memberikan semangat dan dukungan. Aku banyak belajar teknik-teknik basket dari interaksiku dengan anak kelasku ini. Saat itu aku jadi begitu mencintai basket, begitu haus akan semangat untuk bisa dan mahir dalam olahraga ini.

Ternyata aku tidak ditempatkan dikelas yang salah. Karena ternyata kelasku menjadi kelas yang paling maniak basket. Diawali dengan sebuah inisiatif dari beberapa rekan ku (ada Leo, James, Fajar, Ferry, Liga dll), kami melakukan latihan mandiri di lapangan ITI atau Puspiptek sehabis jam olahraga. Berawal dari sana, entah dimulai dari siapa intensitas permainan basket kami tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Dengan adanya rekan yang rutin membawa bola, kami jadi begitu betah di sekolah. Tiba-tiba saja menjadi sebuah trend, bahwa lapangan basket sekolah yang biasanya sepi kecuali saat jam Olah raga, tiba-tiba saja selalu ramai dengan basket. Hal yang perlu di garis bawahi adalah, kelas kamilah pelopornya.

Tiba-tiba saja kultur kami anak kelas satu berubah, tiada hari tanpa basket. Tidak peduli pagi sebelum kami masuk kelas (kelas 1 masuk siang) atau tengah hari bolong sebelum masuk, saat istirahat, saat jam pulang bahkan saat ada jam kosong di kelas, kami manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan BASKET. Secara spontan anak-anak kelas lain ikut turun dan bergabung, sampai-sampai para guru kesulitan untuk melarangan spontanitas anak-anak untuk tidak turun ke lapangan. Kenangan kelas satu ini begitu indah, sayang akhirnya menjadi mimpi yang sedikit buruk buat ku.

Hari itu adalah hari terakhir pertemuan olahraga sebelum ujian caturwulan 3. Seminggu lagi ujian akan dimulai. Seperti biasa setelah sesi wajib pengambilan nilai, waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bermain dilapangan. Awalnya hanya adu three point aja, tapi kemudian kami memutuskan main setengah lapangan. Awalnya aku agak enggan untuk bergabung, tapi kemudian aku ikut. Setelah sekian lama main, saat aku coba memblok sebuah tembakan, Ferry menabrakku gak sengaja. Keseimbangan ku hilang dan jatuh berguling beberapa kali. Aku, yang mengira itu hanya jatuh biasa saja coba untuk bangkit, tetapi saat kuangkat tangan kananku….. tangan ku menggantung tidak bergerak. Aku tiba-tiba saja seperti melihat sekelilingku dalam mimpi, kesadaranku hampir hilang, tapi aku segera tersadar…. tangan ku patah…..

Beberapa rekan segera menolong, tangan kananku segera ditopangkan ditangan kiriku. Saat itu tidak terlalu terasa sakit, walaupun sedikit ngilu. Apa yang kurasakan lebih karena trauma pada kejadian yang sama sekali tidak ku duga. Sekilas aku melihat Vie memandang ketakutan dan menutup mata saat ferry membawaku ke guru Olahraga yang sedang bicara pada siswi kelasku.

Aku segera dibawa ke ke klinik Puspitek untuk mendapatkan penanganan P3K. Wali kelasku segera menjemput orangtuaku kerumah. Segalanya jadi serba panik. Indrie, Tora, dan Yuli menyusulku ke klinik. Setelah orangtua ku datang, aku dibawa ke RS Fatmawati.

Aku agak merasa bersalah kepada orangtuaku walaupun ini adalah suatu kecelakaan, karena mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengobatan ku ini.Untunglah kami sedikit terbantu dengan adanya askes, karena ibuku pegawai negeri. Ada dua opsi yang ditawarkan dokter saat itu, menggunakan gips dengan resiko tulang tersambung tidak lurus seperti semula serta recovery yang cukup lama (3-7 bulan) atau operasi pasang pen (aku sampai sekarang gak tau gimana nyebutnya), yang mahal tetapi hasilnya lebih terjamin serta recovery yang cepat. Akhirnya aku dan orangtua ku memilih operasi, karena kami tak ingin aku cuti sekolah, dan aku pun tidak mau berlama-lama jauh dari Vie.

Aku cukup betah dirumah sakit, tetapi aku juga harus sadar jika semakin lama aku dirumah sakit maka semakin besar biaya yang ditanggung oleh orang tuaku. Akhirnya, setelah aku dioperasi, tiga hari kemudian aku langsung pulang. Dua hari istirahat dirumah, setelah itu aku ke sekolah, karena harus mengejar ujian yang sudah 3 hari berjalan. Tetapi sebenarnya aku tidak ada persiapan samasekali.

Ujian terlihat begitu berat untukku, apalagi tangan kananku belum bisa digerakkan sehingga satu-satunya opsi adalah aku ujian dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali belum pernah belajar nulis kidal. Terbayang olehku nilai yang akan keluar akan seperti apa anjloknya. Ujian bagiku sudah seperti hanya formalitas saja, sekedar menggugurkan kewajiban sebagai siswa.

Tetapi kekhawatiranku tidak terbukti, ternyata guru-guru seperti kasihan dan memberiku nilai yang cukup baik. Akhirnya aku masih menjadi juara kelas, walaupun sedikit kurang puas karena nilaiku bukan murni hasil kemampuanku.

Aku kembali bertemu indrie dan kawan ku dikelas, hal ini membangkitkan semangatku lagi. Dari rekan-rekanku aku dengar bahwa setelah aku kecelakaan, basket dilarang disekolah ku, terutama saat jam sekolah. Hal yang sama sekali tidak kami harapkan. Saat itu salah satu yang harapkan adalah segera sembuh dan kembali ke lapangan. AKU KANGEN SAMA BASKET….

Juli 2001…. Gak kerasa sudah satu tahun aku di sekolah ini. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa dulu, aku hampir saja masuk sebuah sekolah asrama lagi. Insan cendikia, satu-satunya saingan SMU ku di kecamatan. Mereka telah terkenal, melanglang buana diberbagai kompetisi nasional. Sebuah sekolah favorit yang didirikan oleh Habibie.

Dulu, sekolah ini memberikan beasiswa bagi seluruh siswanya, setelah Habibie turun dari pemerintahan beasiswa itu ditarik oleh pemerintah. Aku adalah angkatan yang kena getahnya. Beasiswa hanya diberikan pada 10 orang terbaik saat seleksi, dan aku tidak termasuk didalamnya.

Akhirnya harapan ku untuk masuk sekolah unggulan pupus, karena biaya masuk saat itu 7,5 juta. Angka yang gak kebayang buat keluarga kami yang setiap lebaran harus berpikir dua kali untuk mudik ke Semarang. Tetapi sebenarnya keputusan untuk tidak masuk ke sekolah itu lebih merupakan keputusan yang diserahkan orangtuaku padaku. Aku memilih untuk tidak masuk kesana, karena bagiku kulturnya terlihat asing dan terlalu mewah untukku.

Karena itulah aku memutuskan masuk ke SMU tetangga ini. Satu harapan yang aku pernah tetapkan, aku memang tidak masuk sekolah favorit, tapi aku akan jadi orang yang memfavoritkan sekolah ini. Sesuatu yang awalnya hanya mimpi belaka, tiba-tiba saja menjadi kenyataan!

Kelas satu adalah salah satu masa paling bahagia di SMU. Saat aku masuk kelas dua, formasi kelas berubah total. Hanya ada 2-3 orang yang berasal dari kelasku dulu plus beberapa yang kukenal di kelas lain. Sisanya, benar-benar teman baru untukku. Situasi kelas terasa sekali berpengaruh pada semangat belajarku. Aku pisah kelas dengan Vie.

Aku duduk dengan David seorang protestan yang taat. Cita-citanya adalah menjadi pendeta. Kami duduk dekat jendela yang menghadap ke depan kelas. Kami duduk bergantian di bangku pojok bergiliran setiap minggunya. Hehe, sebenarnya ini sudah menjadi strategiku untuk tetap bisa melihat Vie yang letak kelasnya menyiku dengan kelasku.

Saat itu aku rasakan semangat belajarku makin menurun, ditambah lagi beberapa juara kelas ada di kelasku. Aku semakin larut dalam hoby menggambarku. Belajar gitar dan membuat lagu juga menyita fokus belajarku. Akhirnya efeknya pada cawu 1 aku anjlok menjadi ranking 5. Aku sedikit shock juga, karena sudah mulai terbiasa masuk ”satu besar”.

Di akhir cawu satu ini ada seleksi olimpiade sains. Karena nilai ku yang ”cukup” anjlok aku sebenarnya nyaris tidak diperhitungkan. Tapi aku mengajukan diri karena untungnya syaratnya minimal masuk 5 besar. Alhamdulillah, nyaris saja…..

Saat para jawara mengejar pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, aku lebih memilih ikut seleksi di biologi. Padahal aku sebenarnya tidak terlalu cinta dengan pelajaran ini. Yang aku senangi dari biologi hanya karena ada aspek sejarah dan banyaknya nama latin (sesuatu yang kadang membuat orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

Ternyata hal ini jadi berkah tersendiri untuk ku. Karena ternyata aku nyaris tanpa lawan dalam seleksi ini, dan otomatis aku melenggang bebas menjadi wakil sekolah. One step ahead coy…..!!!

Keuntungan yang ku peroleh pada tahun itu adalah SMU ku mendapat jatah undangan seleksi olimpiade dua kali. Satu ikut seleksi wilayah Jabotabek di SMU 70, dan satu lagi seleksi Kabupaten di SMU Insan cendekia. Banyak kekacrutan yang kualami di seleksi ini.

Saat di Jabotabek, kami nyaris tidak ada target, karena tingkat persaingannya sudah langsung selevel propinsi. Aku sih menikmati jalan-jalannya saja, maklum orang udik. Lagipula aku terhitung cuma ”anak bawang” karena tumpuan terbesarnya saat itu adalah kelas 3. Akhirnya memang kami pulang tanpa hasil sama sekali, selain sekotak KFC dan name tag (kalo udah gini, yang ada adalah food oriented).

Persiapan untuk seleksi kabupaten pun benar-benar ala kadarnya saja. Bahkan aku tiba ditempat seleksi telat agak lama. Untungnya dari soal bahan latihan yang kuperoleh ternyata sebagiannya keluar lagi, bahkan sama persis(ini bukti kekacrutan sistem dan kualitas pendidikan kita). Alhasil aku melenggang lolos ke tingkat propinsi bersama dua orang anak Insan cendikia dan 2 anak dari kecamatan lainnya.

Seleksi dilakukan di SMU I Tangerang, sebuah sekolah yang letaknya terpencil, walaupun katanya masuk kodya tangerang. Ada kenangan buruk yang kuperoleh di seleksi propinsi ini. Aku datang ke ruang seleksi (sekali lagi) dalam keadaan terlambat, tetapi tidak terlalu masalah karena sekalilagi, soal yang digunakan dalam seleksi ini ternyata diambil dari Soal olimpiade internasional tahun sebelumnya, dan aku sudah menggunakan soal ini saat latihan soal di sekolah. Alhasil, setelah dua sesi test, aku keluar dan bersiap untuk pulang.

Aku sempat berkenalan dengan anak-anak IC, salah satunya adalah anak guru pembimbing olimpiade ku, Bu Wida. Yang lain ada Ferta, cewek berjilbab yang gak bisa diam dan cukup rame. Ibu guru pendamping dari insan cendikia mengajakku untuk pulang bareng mobil mereka. Tapi tawaran itu kutolak karena guruku pasti sedang menunggu diluar. Dan mereka akhirnya pulang lebih dulu.

Kekacrutan terjadi disini, guruku dan mobil pinjamannya tidak nampak sedikitpun. Setelah celingak-celinguk lama pun tetap tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja aku panik dalam hati(ada ya, panik dalam hati?). Apa jangan-jangan aku ditinggal pulang? Atau jangan-jangan guru IC mengajakku pulang karena dititipi oleh guruku? Tempat yang asing membuatku serba salah, malu bertanya dan sesat dijalan (naon deui siah…. kayak pepatah aja).

Tapi aku coba berpikir sedikit rasional. Hampir tak mungkin guruku meninggalkan ku begitu saja. Masak ”duta Sekolah” dibiarkan nangkring seperti anak hilang gini? Dengan segala keberanian yang tersisa aku beranikan bertanya pada seorang guru disana. Awalnya beliau tidak tahu, tetapi kemudian salah satu rekan gurunya mengatakan, guruku dan supir mobil itu sedang ke bengkel karena mobil kami tiba-tiba saja rusak. Akhirnya dengan sangat tidak nyaman aku mennunggu selama beberapa jam. Setelah sekian lama menunggu guruku datang juga. Aku yang jengkel hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tidak makan siang hari itu….!! aku pulang kerumah masih dalam keadaan dongkol.

Hasil seleksi propinsi kali ini tak sabar kutunggu. Beberapa hari kutanyakan kepada guruku. Tetapi setelah lebih dari sebulan tak kunjung juga ada beritanya.Akhirnya hasil seleksi yang kuharapkan itu kulupakan begitu saja. Aku kembali ”sibuk” dengan komik dan gitar butut ku lagi.

Tak terasa hampir setahun aku di kelas dua. Ujian pamungkas tahun ini telah didepan mata. Hasil ujianku akhir tahun ini tidak terlalu memuaskan. Aku masih saja berada di peringkat 5 besar. Olimpiade tidak pernah terlintas lagi dipikiranku, seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi di kehidupanku. Yah… ternyata petualanganku di Olimpiade sains mungkin memang harus berakhir di propinsi.

Aku tetaplah aku yang dikenal biasa-biasa saja, masih seorang ardian yang sering lupa mengerjakan PR, nyontek tugas sekolah, sering keluyuran setelah pulang sekolah, rajin membaca komik, yah… itulah aku. Tapi ada satu prinsip yang selalu aku pegang, bahwa walaupun aku seperti itu buatku HARAM untuk mencontek saat ujian. Kenapa? Karena bagiku PR, tugas, latihan soal hanyalah sebuah sarana latihan dan menyerap wawasan. Ujian yang sebenarnya bagiku adalah saat Ulangan harian dan Ulangan Umum. Lagipula hal ini didukung sifat ku yang agak sedikit sulit percaya orang. Jadi, dari pengalaman nyontek yang pernah kulakukan, saat aku lihat jawaban orang lain aku lebih sering tidak percaya akan jawaban orang tersebut, dan yakin jawaban ku pasti lebih baik. So, percuma saja kan nyontek?

Akhirnya, masa kelas dua berakhir begitu saja. Tetapi, sepertinya sayang jika aku gak cerita tentang sisi selain akademik ku. Sebenarnya aku pernah punya keinginan untuk aktif di OSIS, tapi sepertinya sulit untuk bergabung, karena aku tidak tahu kemana harus memulainya. Tapi secara gak sengaja ternyata aku terperosok ke organisasi yang lain, yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Agak aneh juga ya, kok aku bisa masuk koperasi siswa SMU. Berawal disuatu jam pelajaran saat kelas satu, saat itu sedikit boring. Tiba-tiba saja ada beberapa siswa senior yang meminta izin masuk, untuk roadshow. Dan akhirnya mereka mempresentasikan tentang koperasi siswa. Dipresentasi mereka disebutkan bahwa ekskul ini adalah wahana belajar masalah pembukuan, akuntansi, dan ekonomi. ”Mmm… not bad, sepertinya bisa dicoba.” begitu pikir ku. Saat ditawarkan untuk mengisi form bagi yang ingin mendaftar, aku mengajukan diri.

Aku sempat pernah menyesal suatu ketika, yaitu waktu OSPEK/pelantikan ekskul ini. Pusing juga, memang tradisi dan kultur SMU yang masih kekanak-kanakan membuat prosesi perpeloncoan seakan wajib ada setiap tahun. Tapi, ada baiknya juga, karena ternyata memang ada suatu pengikatan komitmen yang terbangun. Tapi aku tidak suka diintimidasi!! Di pesantren aku termasuk tipe pemberontak…. tidak ada istilah takluk dengan peraturan…. dan sekarang ada yang sok superior dari ku…. rasanya sangat tidak enak sekali. Untungnya hal itu hanya terjadi sekali saja.

Setelah dilantik, kami mulai berkenalan dengan koperasi siswa yang sebenarnya. Kopsis kami ternyata pernah menjadi kopsis prototipe bagi daerah tangerang, dan merupakan koperasi siswa terbaik didaerah ini. Tapi ”baik” yang dimaksud ternyata tidak seperti yang ku kira. Ternyata koperasi ini disebut koperasi siswa karena dikelola oleh siswa. Tetapi secara permodalan, ini sebenarnya murni dari dan untuk guru. Satu-satunya yang bisa jadi nilai lebih adalah kita bisa belajar disini…. belajar jadi penjaga koperasi… cape deh.

Dengan berjalannya waktu, pengurus yang melantikku akhirnya harus memasuki masa kelas tiga yang sibuk persiapan UAN/UAS. Maka tibalah saat kami kelas dua didorong untuk maju mengambilalih kepengurusan. Di suatu siang diadakan musyawarah anggota untuk suksesi, yang “dipaksa” maju saat itu ada 3 orang, yaitu aku, Agus ”tenjo” dan cewe(hadoooh….gw lupa namanya).

Dari prosesi yang garing itu, akhirnya terpilihlah si cewek sebagai ketua, sedangkan untuk wakil ketua aku lah yang terpilih. Task pertama kami adalah, melakukan OSPEK bagi para anggota baru (sejarah kembali berulang…..). Tapi ada satu hal yang tidak ingin aku lakukan, yaitu bersikap seperti seniorku dulu. Aku ingin menjadi senior yang baik dan bisa berbagi sesuatu pada rekan-rekan seaktivitasku itu.

Singkat cerita, datanglah hari yang ditentukan. Kami akan melakukan proses pelantikan komplek Puspiptek. Disana terjadi beberapa insiden, salah satunya adalah saat ada peserta yang roknya sobek di bagian paha (kebayang gak paniknya anak cewek kalo kondisinya seperti itu?).

———————————————————————————————

Bandung

Gak pernah sedikit pun terbayang bahwa aku akan kuliah dibandung. Saat awal masuk SMU sebenarnya justru aku ingin masuk UI jurusan fisika. Ya… terpengaruh kedua orangtuaku yang juga berasal dari fisika UI, bahkan mereka dipertemukan hingga menjadi keluarga berawal dari kampus Salemba.

Aku mungkin masuk dalam tipe pemikiran ekstrim kiri, atau orang yang mudah terhanyut dalam romantisme nostalgia masa lalu. Hal ini membuat aku cenderung mudah memngingat hal berbau sejarah. Dalam kehidupan pribadiku pengaruhnya terasa seperti dorongan untuk bisa mengulang masa lalu yang berkesan. Ingin mengulang kejayaan sejarah yang telah lewat.

Begitu juga dengan bagaimana aku bisa tiba disini, dibandung, di ITB. Pertengahan akhir 2002, berbagai bentuk ketidak sengajaan menghantarkan aku ke Olimpiade Sains Nasional di Jogja. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku, apalagi bermimpi bisa membawa sekolahku ketingkat Nasional seperti ini. Bukan hanya sebagai wakil sekolah, aku adalah wakil Propinsi Banten….. Mimpi apa aku saat itu….

Singkat cerita, tahap nasional mengantarkan aku masuk peringkat 30 besar dan masuk pembinaan khusus untuk Timnas IBO2003. Tapi dasar gak punya mental juara… kemenangan itu membuatku lupa daratan. Aku tidak kemudian menjadi sombong didepan temanku disekolah, tetapi menjadi over pede dan terlalu santai mempersiapkan training di Bandung itu. Bukannya bersiap memperdalam materi, aku lebih sibuk mengurus hal lain seperti akan bawa barang apa saja aku ke bandung. Tetapi, kalo boleh sedikit membela diri, dengan kondisi yang ada disekolahku, hal itu adalah yang paling maksimal yang bisa ku berikan buat sekolah.

Bandung, November 2002. Sebuah surat tiba ke sekolah, aku berangkat kebandung untuk pelatihan. Hotel “Sanira” di W.R. Supratman adalah tujuan pertamaku.Sebuah hotel kelas melati, cukup kecil dan telihat sepi pada hari-hari kerja. Hotel ini menjadi base camp tim IBO, karena P3G yang biasanya dipakai telah ada yang menggunakan. Hotel ini, dan juga rekan-rekan di 30-besar meninggalkan kenangan manis, konyol, suka duka yang terkumpul jadi satu.

Aku ingat, sebuah “Cinlok” yang tiba-tiba saja ada. Seperti bisa dibayangkan, untuk tipe “manusia pembelajar” seperti anak IBO, penampilan dan tampang sebenarnya gak ada yang “cling” sekali. Semua biasa saja, tapi herannya aku tertarik dengan seorang siswi asal Bali. Sebut saja “M”, ini adalah tahun keduanya di pelatihan nasional. Bahkan tahun lalu ia masuk tahap 12 besar selama 2 bulan. Tapi aku tidak pernah mengatakan apapun soal itu. Seperti biasa aku simpan begitu saja.

Hari-hari pertama di pelatihan tidak terlalu berkesan. Masih dapat dikatakan ada nuansa “jaim” diantara anak-anak. Tetapi perlahan tapi pasti ke-jaim-an itu hilang, dan berganti berbagai kenangan konyol yang begitu membekas hingga berbulan-bulan kemudian.

Ada Wiarta (sekarang TI ITB’03), “pak lurah”-nya pelatihan. Orangnya cukup santai, logat kental khas bali menjadi ciri yang mudah dikenali. Sifat kepemimpinan dan ke-kakak-annya memang cukup menonjol.

Ada Mulyono, peserta termuda (baru kelas dua) yang cerdas tetapi juga lucu dengan logat khasnya yang “medok” serta tingkah laku “Cunihin”(ganjen)nya. Ia dengan tanpa berdosa menyatakan “cintanya” pada “M”, dan menjadi bahan tertawaan anak-anak selama pelatihan. Juga insiden kamar….(berapa ya lupa, kalo gak salah 112).

Pada suatu pagi Mul sedang belajar di beranda lantai dua, tiba-tiba saja dari arah belakang muncul sesosok wanita berselimut datang dan tanpa basa-basi menarik buku Campbell (“kitab suci” peserta IBO indonesia). Secara spontan Mul berteriak, mengundang siswa lain datang. Mul berhasir mempertahankan bukunya, si wanita masuk kekamarnya. Tetapi malang, selimutnya melorot sebelum berhasil masuk, ternyata ia telanjang. Mul menangis terisak isak karena ketakutan. Aku yang menjadi saksi mata ikut “diinterogasi” anak-anak yang tidak tahu persis kejadiannya. Yah, apa yang sebenarnya terjadi mudah ditebak, hotel melati macam itu memang sering digunakan oleh orang-orang mesum. Tetapi gak sedikitpun disangka-sangka ada kejadian seperti ini.

Kembali ke mengapa aku kuliah dibandung, kenangan-kenangan macam itu terakumulasi. Hasilnya adalah pada hari-hari akhir pelatihan, dengan harap-harap cemas yang dag-dig-dug aku mulai merasa tidak ingin kehilangan masa-masa seperti ini. Aku jadi terdorong untuk dapat masuk ke tahap selanjutnya. Tetapi itu tidak mudah, nyatanya kesadaranku ada disaat yang salah. Telah cukup terlambat untuk mengejar keseriusan rekan yang lain.

Puncaknya adalah saat hari terakhir pengumuman 20-besar pelatihan. Aku tidak ada didalamnya. Sebenarnya aku sudah coba bersiap untuk menerima hasil apapun. Tetapi, tidak bisa dipungkiri aku shock dengan hasil ini. Dalam perjalanan pulang kembali ke jakarta ada penyesalan yang begitu besar yang kurasakan. Tidak ada hal lain yang terpikirkan dalam benakku selain bagaimana menebus kesalahanku. Bahkan sempat muncul pikiran untuk mengajukan diri turun kelas agar dapat ikut seleksi kembali.

Penyesalanku itu berlanjut selama berbulan-bulan berikutnya. Hobby menggambar yang biasanya secara spontan ku lakukan, total aku tinggalkan. Aku menyalahkan hobby ku tersebut.

Aku memutuskan untuk melakukan kontak dengan “Pak ADP” kepala pelatihan yang juga dosen ITB. Aku jadi begitu akrab dengan buku Campbell, dan begitu menikmati mempelajarinya. Hal tersebut justru belum kurasakan saat pelatihan. Aku mulai melakukan test online di website campbell dan mengirimkan Hasilnya ke pak ADP. Berbagai cara aku lakukan, didorong depresi yang aku rasakan. Baru pertengahan april aku menyerah, dan fokus ke hal lain.

Aku ikut UM-UGM, mengambil fakultas Biologi tetapi sebenarnya tidak terlalu berminat. Aku beruntung tidak lolos di UM-UGM. Hasil psikotest menunjukkan kecenderungan ke arsitektur dan biologi. Nyatanya aku memutuskan mencoret arsitektur dari cita-citaku. Dan memilih fokus ke satu bidang, biologi.

Tekadku menjadi semakin bulat untuk menekuni bidang biologi. Targetku adalah jurusan biologi terbaik di Indonesia, yang ada di ITB. Dari hasil Try-Out SPMB hasilnya memuaskan. Terlihat dari beberapa kali try out hasilnya cenderung meningkat. Walaupun aku tidak ikut program bimbel kecuali program dari sekolah yang “murah meriah” , tetapi aku tetap cukup yakin dengan pilihan itu.

———————————————————————————————

9 Apr 2007

One Step Closer to be A Batik Designer

Sebagai orang dengan karakter rada sanguin, secara naluriah kadang gw terjebak dalam kondisi mencari-cari eksistensi, pengakuan, pengen dilihat dan diapresiasi orang, walo pun disisi lain sisi plegmatis gw memposisikan gw dalam kondisi, selalu ingin kabur ketika bertemu masalah yang rumit. Cukup menarik buat gw, disatu saat gw bisa jadi orang yang gak tau malu,nyablak, pokoknya eksis lah…., tapi saat ketemu suatu kondisi yang dari awal gw pesimis bisa melaluinya gw bisa jadi introvert banget…. Kemudian jadi suatu hal yang menjengkelkan bagi temen-temen gw kalo hal kaya tadi udah muncul.

Secara jujur terus terang, gw emang harus mengakui, disaat umur gw hampir ¼ abad (tahun ini 25 jek…, waktu yang tepat untuk menikah hehehe) gw menemukan diri gw sebagai orang yang bermental balita. Gak dewasa adalah kata yang cukup tepat. Sampe-sampe klo ada obrolan ato ceramah yang nyebut soal ketidak dewasaan ini, gw selalu ngerasa yang mereka omongin gak lain adalah gw…. Nyepet gw… gw nyadar hal tersebut adalah penyakit yang harus gw obati segera. Karena gak mungkin gw bisa ngerubah hal yang lebih besar, organisasi ato komunitas, klo gw gak bisa ngatasi penyakit dalam diri gw ini. Lagi pula sekarang udah masuk masa-masa kritis. Masa-masa dimana gw seharusnya udah matang, siap dikirim ke rumah calon mertua. Tapi….. gw harus mikir juga, ada gitu akhwat yang mau sama orang bermental childish kaya gw? Jangan-jangan nggak…. Bisa keancem “bidadari ku datang dari selembar kertas” gak bakal terwujud…..

Yang diatas just intermezzo aja, gak perlu didiskusikan panjang lebar…. (lho gw yg banyak omong ya…). Nyambung ke masalah personality lagi (oiya, jam 9 ntar gw kuliah psikologi industri nih… satu-satunya non TI adalah gw…), gw kemarin seneng banget, sepertinya gw gak separah yg gw kira. Ternyata gw bisa sedikit agak kongkrit juga. Desain batik gw ternyata cukup disukai sama sebuah studio (lebih tepatnya kakaknya temen sih…) dan dia tertarik untuk mengupgrade gw dan make desain gw untuk produksi di pabrik tekstil. Sebuah apresiasi yang jarang gw dapat, apalagi jika mengingat gw baru mula belajar bikin batik baru sekitar 2-3 minggu.

Gw sebenarnya sering stress, so depress, karena ngerasa jadi orang yang useless, bikin orang kecewa, gak bisa diandalkan… sampe mungkin pada tahap paranoid, klo gw nerima suatu amanah, jangan-jangan gw cuma bakal bikin kacau. Karena gw pikir udah banyak orang yang gw kecewakan. Gw jadi trauma megang ketua kepanitiaan. Tapi dengan prospek yg baru gw dapet ini, gw jadi mulai hopefull lagi…. Ternyata gw ada gunanya juga (hehe…).

Mengenai belajar batik, bwt gw suatu proses yang berkesan tapi campur aduk, antara bingung, ingin tahu, fun tapi kadang menjengkelkan. Gw pengen banget nyeritain prosesnya. Awalnya gw ditawarin Teh Widi untuk bikin desain batik. Gw cukup antusias tapi gak serius-serius amat, karena awalnya gw pikir asal bisa bikin motif berulang hal tersebut gampanglah…. Mulailah gw cari-cari info, tutorial photoshop di internet, terutama teknik bikin cetakan offset, dan bermain dengan pattern. Gw juga mulai nyari contoh-contoh desain batik di internet. Tapi ternyata jalannya gak semudah gw kira, sulit banget nyari contoh motif batik diinternet, dan beberapa hari pertama gw ngedesain, gw cuma mengandalkan naluri gw aja.

Akhirnya setelah suatu proses yang rada membingungkan motif pertama pun jadi, Sebuah motif bunga-kupu-kupu hasil ngolah gambar dari internet yang awalnya sederhana pisan. Tapi setelah gw pikir lagi, yg gw buat ternyata bukan batik. Cuma sebuah motif yang memang bisa di aplikasikan ke tekstil tapi gak ada nuansa batiknya.

Eksperimen gw selanjutnya gw coba beralih ke Coreldraw. Proses selanjutnya (awalnya) cukup menyenangkan, karena walopun I have no idea if it was batik or not, ngolah bidang-bidang sederhana (kotak, segitiga, lingkaran, bintang) menjadi rangkaian bentuk yg rumit begitu menantang. It was so fun, playing with shape in corel draw, gw cuma perlu ngandelin naluri teknis gw, selanjutnya masalah akurasi dan presisi serahkan ke Corel. Untuk pertama kalinya gw merasakan permainan angka dan ukuran yang menyenangkan dengan Corel. Semua berjalan begitu indah sampai pada suatu titik, gw mulai khawatir karena gw bener-bener merasa harus mencari tahu motif batik seharusnya seperti apa.

Gw juga rada stress juga saat utak-atik bentuk yang gw lalukan di corel akhirnya mentok juga. Gw udah bikin banyak bentuk, tapi gak ada yg cukup match untuk jadi kesatuan motif, apa lagi untuk bisa disebut batik. Ternyata kebingungan gw gak berjalan lama karena tiba-tiba ada lampu menyala di samping kepala gw (hehe komik banget ya….) pas gw solat jumat. Klo sholat jumat itu, ibaratnya motif batik ngumpul semua di masjid… banyak bapak-bapak yang pake batik buat jumatan. Apalagi di BATAN ato Salman. Wuih…. Mau batik tipe seragam sekolah sampe batik yang “kinclong” pisan mah ada lah…. Akhirnya dari situ lah inspirasi untuk bikin motif selanjutnya datang lagi.

———————————————————————————————

10 April 2007

Bercermin pada “ketidak dewasaan”

Beberapa hari ini gw jadi rada sensi mendengar kata “ketidak-dewasaan”. Klo nginget-nginget 1-2 minggu yang lalu gw pernah curhat sama seseorang, gw emang ngakuin kadang-kadang gw emang sering menyikapi masalah yang gw hadapi secara “tidak dewasa”. Makanya, saat gw denger istilah itu lagi intens disebut-sebut di forum, ato juga didepan gw, gw jadi ngerasa klo orang yang pengen disepet kayanya gw.

Gw jadi bertanya-tanya, harus begini kah treatmen yang diberikan untuk mengobati ketidak-dewasaan gw? Ato ini cuma prasangka gw aja? Ato sebenarnya “ketidak dewasaan” adalah suatu penyakit yang sudah mewabah sehingga gw sebenernya hanya bagian kecil dari orang-orang yang mengalami “ketidak dewasaan akut”? Gw sih rada bingung aja, soalnya hal-hal yang terjadi beberapa hari ini dengan curhatan gw tadi serasa janggal untuk disebut “coincidence”/ketidak sengajaan, klo gw mendengarnya berkali-kali didepan telinga gw.

Bahkan ada seorang angkatan 2005 dengan entengnya bicara didepan gw, “Kang, kapan sih dewasanya?”. What the Hell with that talk? Apa maksudnya omongan itu? Apa iya, [mode paranoid “ON”] ketidak dewasaan gw adalah sudah menjadi rahasia umum, yang beredar dari mulut kemulut? Sehingga gak ada orang seisi dunia yang gak tau klo gw emang rada childish dalam menyikapi masalah hidup gw? Apa jangan-jangan gw merupakan objek studi kasus yang dilakukan di lingkar-lingkar halaqah, sampe-sampe 2005 aja bisa seenaknya ngejudge gw?

Gw pengen ngaku, BIAR SEMUA ORANG TAU!! Gw emang rada kurang dewasa dalam menyikapi permasalahan rumit yg gw hadapi!! Tapi satu hal, yang kalian juga mesti tahu, GW JUGA PENGEN BERUBAH!! GW JG PENGEN BISA LEBIH DEWASA DALAM MENYIKAPI PERMASALAHAN YG GW HADAPI!! Hanya “the question is How To…?”. Karena selama ini yg mereka bilangin cuma MASALAH gw, gak pernah SOLUSI masalah gw ini?

Gw juga pingin bisa kongkrit! Gw pingin bisa jadi orang yang dapat diandalkan dalam team! Gw pingin, klo ada yang salah/harus dibenahi di komunitas gw maka gw jadi orang yang pertama melakukan perbaikan….!! But the question Is : “How to….?”. karena gak ada yang bilang ke gw, apa obat dari kelakuan gw ini? Bukankah dengan mereka terus menerus membicarakan masalah gw (ato gw sebagai masalah) dan berhenti sampai disitu tanpa kemudian ngasih solusi, mereka cuma menambah jumlah orang yang gak dewasa dikampus ini? Padahal katanya, selalu bicara masalah tanpa solusi adalah ciri ketidak dewasaan kita.

Gw pikir ini curhatan yg rada childish dari gw. Tapi seperti gw bilang diatas, GW PENGEN BERUBAH, TAPI GAK TAU CARANYA!! Makanya, gw keluarin tulisan ini di blog gw biar gw bisa dapet input, masukan yg semoga membawa pada kebaikan? Gw percaya apa yang gw lakukan ini sebagai usaha untuk menjadi lebih berintegritas. Mengatakan HITAM adalah HITAM, PUTIH adalah PUTIH. Berani mengaku salah, untuk menuju suatu perbaikan!!

==Ardian Perdana Putra==

Sebuah Tekad!! Atau nekat??

Tentang “Ketidak-dewasaan”

10 April 2007

Bercermin
pada “ketidak dewasaan”

Beberapa hari ini gw jadi rada sensi mendengar kata
“ketidak-dewasaan”. Klo nginget-nginget 1-2 minggu yang lalu gw pernah curhat
sama seseorang, gw emang ngakuin kadang-kadang gw emang sering menyikapi
masalah yang gw hadapi secara “tidak dewasa”. Makanya, saat gw denger istilah
itu lagi intens disebut-sebut di forum, ato juga didepan gw, gw jadi ngerasa
klo orang yang pengen disepet kayanya gw.

Gw jadi bertanya-tanya, harus begini kah treatmen yang
diberikan untuk mengobati ketidak-dewasaan gw? Ato ini cuma prasangka gw aja?
Ato sebenarnya “ketidak dewasaan” adalah suatu penyakit yang sudah mewabah
sehingga gw sebenernya hanya bagian kecil dari orang-orang yang mengalami
“ketidak dewasaan akut”? Gw sih rada bingung aja, soalnya hal-hal yang terjadi
beberapa hari ini dengan curhatan gw tadi serasa janggal untuk disebut
“coincidence”/ketidak sengajaan, klo gw mendengarnya berkali-kali didepan
telinga gw.

Bahkan ada seorang angkatan 2005 dengan entengnya bicara
didepan gw, “Kang, kapan sih dewasanya?”. What the Hell with that talk? Apa
maksudnya omongan itu? Apa iya, [mode paranoid “ON”] ketidak dewasaan gw adalah
sudah menjadi rahasia umum, yang beredar dari mulut kemulut? Sehingga gak ada
orang seisi dunia yang gak tau klo gw emang rada childish dalam menyikapi
masalah hidup gw? Apa jangan-jangan gw merupakan objek studi kasus yang
dilakukan di lingkar-lingkar halaqah, sampe-sampe 2005 aja bisa seenaknya
ngejudge gw?

Gw pengen ngaku, BIAR SEMUA ORANG TAU!! Gw emang rada
kurang dewasa dalam menyikapi permasalahan rumit yg gw hadapi!! Tapi satu hal,
yang kalian juga mesti tahu, GW JUGA PENGEN BERUBAH!! GW JG PENGEN BISA LEBIH
DEWASA DALAM MENYIKAPI PERMASALAHAN YG GW HADAPI!! Hanya “the question is How
To…?”. Karena selama ini yg mereka bilangin cuma MASALAH gw, gak pernah SOLUSI
masalah gw ini?

Gw juga pingin bisa kongkrit! Gw pingin bisa jadi orang
yang dapat diandalkan dalam team! Gw pingin, klo ada yang salah/harus dibenahi
di komunitas gw maka gw jadi orang yang pertama melakukan perbaikan….!! But the
question Is : “How to….?”. karena gak ada yang bilang ke gw, apa obat dari
kelakuan gw ini? Bukankah dengan mereka terus menerus membicarakan masalah gw
(ato gw sebagai masalah) dan berhenti sampai disitu tanpa kemudian ngasih
solusi, mereka cuma menambah jumlah orang yang gak dewasa dikampus ini? Padahal
katanya, selalu bicara masalah tanpa solusi adalah ciri ketidak dewasaan kita.

Gw pikir ini curhatan yg rada childish dari gw. Tapi seperti
gw bilang diatas, GW PENGEN BERUBAH, TAPI GAK TAU CARANYA!! Makanya, gw
keluarin tulisan ini di blog gw biar gw bisa dapet input, masukan yg semoga
membawa pada kebaikan? Gw percaya apa yang gw lakukan ini sebagai usaha untuk
menjadi lebih berintegritas. Mengatakan HITAM adalah HITAM, PUTIH adalah PUTIH.
Berani mengaku salah, untuk menuju suatu perbaikan!!

 

 

 

 

 

 

 

 

==Ardian Perdana Putra==

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Tekad!! Atau nekat??

 

 

 

 

 

 

 

 

Just another Ardian Perdana Putra: Muda, Berkarya, Melayani site