One Step Closer to be A Batik Designer

8
April 2007

One Step Closer to be A Batik Designer

Sebagai orang dengan karakter
rada sanguin, secara naluriah kadang gw terjebak dalam kondisi mencari-cari
eksistensi, pengakuan, pengen dilihat dan diapresiasi orang, walo pun disisi
lain sisi plegmatis gw memposisikan gw dalam kondisi, selalu ingin kabur ketika
bertemu masalah yang rumit. Cukup menarik buat gw, disatu saat gw bisa jadi
orang yang gak tau malu,nyablak, pokoknya eksis lah…., tapi saat ketemu suatu
kondisi yang dari awal gw pesimis bisa melaluinya gw bisa jadi introvert
banget…. Kemudian jadi suatu hal yang menjengkelkan bagi temen-temen gw kalo
hal kaya tadi udah muncul.

Secara jujur terus terang, gw
emang harus mengakui, disaat umur gw hampir ¼ abad (tahun ini 25 jek…, waktu
yang tepat untuk menikah hehehe) gw menemukan diri gw sebagai orang yang
bermental balita. Gak dewasa adalah kata yang cukup tepat. Sampe-sampe klo ada
obrolan ato ceramah yang nyebut soal ketidak dewasaan ini, gw selalu ngerasa
yang mereka omongin gak lain adalah gw…. Nyepet gw… gw nyadar hal tersebut
adalah penyakit yang harus gw obati segera. Karena gak mungkin gw bisa ngerubah
hal yang lebih besar, organisasi ato komunitas, klo gw gak bisa ngatasi
penyakit dalam diri gw ini. Lagi pula sekarang udah masuk masa-masa kritis.
Masa-masa dimana gw seharusnya udah matang, siap dikirim ke rumah calon mertua.
Tapi….. gw harus mikir juga, ada gitu akhwat yang mau sama orang bermental
childish kaya gw? Jangan-jangan nggak…. Bisa keancem “bidadari ku datang dari
selembar kertas” gak bakal terwujud…..

Yang diatas just intermezzo aja,
gak perlu didiskusikan panjang lebar…. (lho gw yg banyak omong ya…). Nyambung
ke masalah personality lagi (oiya, jam 9 ntar gw kuliah psikologi industri nih…
satu-satunya non TI adalah gw…), gw kemarin seneng banget, sepertinya gw gak
separah yg gw kira. Ternyata gw bisa sedikit agak kongkrit juga. Desain batik
gw ternyata cukup disukai sama sebuah studio (lebih tepatnya kakaknya temen
sih…) dan dia tertarik untuk mengupgrade gw dan make desain gw untuk produksi
di pabrik tekstil. Sebuah apresiasi yang jarang gw dapat, apalagi jika
mengingat gw baru mula belajar bikin batik baru sekitar 2-3 minggu.

Gw sebenarnya sering stress, so
depress, karena ngerasa jadi orang yang useless, bikin orang kecewa, gak bisa
diandalkan… sampe mungkin pada tahap paranoid, klo gw nerima suatu amanah,
jangan-jangan gw cuma bakal bikin kacau. Karena gw pikir udah banyak orang yang
gw kecewakan. Gw jadi trauma megang ketua kepanitiaan. Tapi dengan prospek yg
baru gw dapet ini, gw jadi mulai hopefull lagi…. Ternyata gw ada gunanya juga
(hehe…).

Mengenai belajar batik, bwt gw
suatu proses yang berkesan tapi campur aduk, antara bingung, ingin tahu, fun
tapi kadang menjengkelkan. Gw pengen banget nyeritain prosesnya. Awalnya gw
ditawarin Teh Widi untuk bikin desain batik. Gw cukup antusias tapi gak
serius-serius amat, karena awalnya gw pikir asal bisa bikin motif berulang hal
tersebut gampanglah…. Mulailah gw cari-cari info, tutorial photoshop di
internet, terutama teknik bikin cetakan offset, dan bermain dengan pattern. Gw
juga mulai nyari contoh-contoh desain batik di internet. Tapi ternyata jalannya
gak semudah gw kira, sulit banget nyari contoh motif batik diinternet, dan
beberapa hari pertama gw ngedesain, gw cuma mengandalkan naluri gw aja.

 

Akhirnya setelah suatu proses
yang rada membingungkan motif pertama pun jadi, Sebuah motif bunga-kupu-kupu
hasil ngolah gambar dari internet yang awalnya sederhana pisan. Tapi setelah gw
pikir lagi, yg gw buat ternyata bukan batik. Cuma sebuah motif yang memang bisa
di aplikasikan ke tekstil tapi gak ada nuansa batiknya.

Eksperimen gw selanjutnya gw coba
beralih ke Coreldraw. Proses selanjutnya (awalnya) cukup menyenangkan, karena
walopun I have no idea if it was batik or
not
, ngolah bidang-bidang sederhana (kotak, segitiga, lingkaran, bintang)
menjadi rangkaian bentuk yg rumit begitu menantang. It was so fun, playing with shape in corel draw, gw cuma perlu
ngandelin naluri teknis gw, selanjutnya masalah akurasi dan presisi serahkan ke
Corel. Untuk pertama kalinya gw merasakan permainan angka dan ukuran yang
menyenangkan dengan Corel. Semua berjalan begitu indah sampai pada suatu titik,
gw mulai khawatir karena gw bener-bener merasa harus mencari tahu motif batik
seharusnya seperti apa.

Gw juga rada stress juga saat
utak-atik bentuk yang gw lalukan di corel akhirnya mentok juga. Gw udah bikin
banyak bentuk, tapi gak ada yg cukup match untuk jadi kesatuan motif, apa lagi
untuk bisa disebut batik. Ternyata kebingungan gw gak berjalan lama karena
tiba-tiba ada lampu menyala di samping kepala gw (hehe komik banget ya….) pas
gw solat jumat. Klo sholat jumat itu, ibaratnya motif batik ngumpul semua di
masjid… banyak bapak-bapak yang pake batik buat jumatan. Apalagi di BATAN ato
Salman. Wuih…. Mau batik tipe seragam sekolah sampe batik yang “kinclong” pisan
mah ada lah…. Akhirnya dari situ lah inspirasi untuk bikin motif selanjutnya
datang lagi.

 

Cerita Tentang Vie(part 1)

Cerita
Tentang Vie

 

Tiba-tiba saja teringat tentang beberapa tahun yang lalu.
Saat aku baru saja kuliah ke Bandung. Cerita yang untukku sangat konyol
walaupun bisa jadi biasa saja buat kalian. Cerita peninggalan jaman SMU ini,
entah mengapa tiba-tiba muncul kembali. Ceritanya dimulai sekitar 6,5 tahun
yang lalu. Juli 2000, masa-masa pertamaku melihat dunia luar setelah selama 4
tahun belajar di pesantren.

Pure Jail, begitulah angkatan atas menyebut pesantren
kami. Di pesantren, hubungan antar lawan jenis nyaris tidak ada. Kelas kami
dipisah, sehingga tidak terjadi kontak sama sekali antara santri putra dan
putri. Segala aturan yang diberlakukan pun dibuat untuk memastikan hal itu
terjadi, walaupun sebenarnya ada juga yang bandel dan melanggar.Tapi resikonya
adalah siap-siap untuk dibotak atau dikeluarkan. Fenomena ”cinta monyet” santri
menjadi warna tersendiri yang menjadi bumbu dari kehidupan dibalik pagar
pesantren.

Empat tahun dipesantren membentukku menjadi figur yang
dingin kepada lawan jenis. Saat memutuskan pindah sekolah selepas MTs agak
terjadi ”jet lag”, aku kikuk menghadapi teman wanita di sekolah baruku. Islam
memang mengatur masalah hubungan lawan jenis dan batas-batasnya, dan aku
menjadikan sikap ku itu sebagai prinsip yang harus ku pegang. Hal ini kusadari
sebagai sesuatu yang pantas ku syukuri, karena hingga kini aku rasa aku pantas
berbangga dengan rekor ”tidak pernah pacaran” yang tetap ku jaga.

Namun begitu, pengaruh lingkungan ternyata begitu kuat
untuk mengikis sedikit demi sedikit prinsip hasil gemblengan bertahun-tahun di
pesantren. Aku mulai bersikap ”adaptif dan reseptif” terhadap nilai-nilai dan
kultur anak-anak sepantaran ku (walaupun sebenarnya aku lebih tua dua angkatan
seharusnya). Aku mulai belajar gitar, dengan gitar butut peninggalan Alm. Om
ku. Budaya pop sedikit banyak mempengaruhi, walaupun aku cenderung selektif
juga. Bagai manapun aku masih punya pertahanan diri untuk tidak meniru
semuanya.

Hari pertama sekolah, seperti tradisi yang biasa ada, MOS
berjalan dengan sangat garing. Aku tidak terkesan sedikitpun dengan acara ini,
karena aku terbiasa kabur dan sembunyi jika ada acara baris-berbaris semacam
ini saat di pesantren. Tetapi tetap saja ada yang masih dapat kunikmati, jadi
tidak sepenuhnya MOS menjadi mimpi buruk. Teteh pendamping kelasku -sebut saja
Rani-, kelas 2, berjilbab, anak Paskibra, begitu ceria dan gak bisa diam (saat aku
menulis kisah ini, aku baru sadar kalau dia mirip seorang seniorku di Kampus
yang begitu ”bercahaya”). Selain itu, ada seorang siswi baru dibarisan yang
menarik perhatian ku. Vie, sebut saja begitu. Roknya pendek, diatas lutut
membuat seragamnya lebih mencolok dibanding siswi lain. Ia seorang muslim namun
sekolah di SMP katolik, membuatnya memiliki kultur yang sedikit asing buatku
dibandingkan teman yang lain.

Alkisah, selesailah hari-hari nan aneh itu dan sekolah pun
dimulai. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang. Aku memilih duduk didepan,
barisan kedua dari meja guru dengan teman sebangkuku Tora, seorang batak muslim
yang orang tuanya adalah mualaf. Di belakang meja ku ada Indrie dan Yuli, dua
cewek ini ramenya minta ampun. Kami berempat tanpa sadar menjadi tim yang klop.
Berbagai tugas kelompok sekolah kami kerjakan dengan formasi tim yang hampir
selalu sama. Akhirnya kami menjadi seperti sebuah geng yang hampir setiap waktu
bercanda. Diluar itu semua, aku menjadi ”secret admirer” dari Vie, yang duduk
di baris ke 4 dekat jendela.

Entah mana yang lebih berpengaruh, kedekatan ku dengan
geng ku atau karena keinginan ku untuk terlihat menonjol dihadapan Vie membuat
ku bergitu menikmati belajar, walau untuk ukuran anak-anak dikelas aku termasuk
salahsatu yang paling santai. Namun, toh tanpa usaha dan target yang
muluk-muluk, ternyata aku rangking pertama di Cawu 1 itu. Hal ini untukku dan
orang tuaku adalah hal yang mengagetkan. Jika masuk 5 besar aku masih tidak
terlalu kaget, karena hal itu sudah tradisi saat di pesantren. Tapi untuk jadi
juara kelas, aku bahkan tidak berani bermimpi.

Ada satu kegemaran baru ku saat SMU, menggambar, terutama
komik. Saat kelas tiga MTs sebenarnya hoby ini mulai ada. Awalnya aku suka
menggambar Conan, tetapi lama-lama aku memiliki style ngomik sendiri. Saat
kelas satu ini aku mulai sedikit banyak meng-improve skill komikku. Aku pun
mulai membuat komik-komik pendek, dan entah mengapa aku memasukkan tokoh Vie
didalam komikku. Aku memberinya nama ”Tiara” disana, namun karena iseng saja
maka komik itu hanya jadi dua scene. Selebihnya aku kesulitan untuk membuat
cerita dan cenderung tidak fokus sehingga ada beberapa kerangka cerita yang
muncul dibenakku, tetapi tidak satupun kulanjutkan jadi cerita yang utuh.
Sampai sekarang, pengembangan cerita tetap menjadi kelemahanku. Aku malah lebih
suka menguatkan teknik dengan gambaran-gambaran spontan yang memenuhi buku
catatan ku disekolah.

Ada lagi hobby lain yang berkembang, berpuisi. Entah
kesambet setan apa, aku jadi suka corat-coret puisi di buku catatan. Hingga
kini beberapa diantaranya masih rapi tersimpan dikamar kost ku. Yah, bukan
puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail, hanya coretan kata seorang siswa
kampungan yang tenggelam dalam kegundahan cinta monyet. Kadang aku menuangkan
fenomena-fenomena yang kulihat di sekitarku dalam rangkaian kata yang implisit.
Puisi tentang ”dia” pun tak luput ku buat, bahkan aku pernah tuangkan dalam
lagu dengan judul namanya.

Hasratku untuk eksist dikelas, semakin meninggi. Aku tidak
puas hanya sekedar jadi ranking satu saja. Dari sanalah aku mengenal basket.
Awalnya hanya karena basket masuk dalam mata pelajaran olah raga saja. Namun
aku – yang awalnya mendribble pun gak bisa – tiba-tiba saja jadi begitu cinta
dengan basket dengan support yang kudapatkan dari rekan-rekanku.

Rekan-rekanku yang cowok rata-rata senang olah raga
apapun. Sedangkan aku, sejak dulu aku lemah dengan olah raga. Walaupun di
pesantren lari pagi adalah ”menu rutin” dua kali dalam sepekan, aku lebih
sering kabur atau kadang memotong jalan, karena bagiku jarak yang kami tempuh
sangat jauh dan aku selalu tertinggal. Saat aku mulai mengenal basket di SMU
ini aku sebenarnya sangat malu, karena aku tahu kalau rata-rata anak SMU saat
itu pasti bisa basket. Namun aku bersyukur bahwa teman sekelasku tidak
merendahkanku, bahkan bereka begitu besar memberikan semangat dan dukungan. Aku
banyak belajar teknik-teknik basket dari interaksiku dengan anak kelasku ini.
Saat itu aku jadi begitu mencintai basket, begitu haus akan semangat untuk bisa
dan mahir dalam olahraga ini.

Ternyata aku tidak ditempatkan dikelas yang salah. Karena
ternyata kelasku menjadi kelas yang paling maniak basket. Diawali dengan sebuah
inisiatif dari beberapa rekan ku (ada Leo, James, Fajar, Ferry, Liga dll), kami
melakukan latihan mandiri di lapangan ITI atau Puspiptek sehabis jam olahraga.
Berawal dari sana, entah dimulai dari siapa intensitas permainan basket kami
tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Dengan adanya rekan yang rutin membawa bola,
kami jadi begitu betah di sekolah. Tiba-tiba saja menjadi sebuah trend, bahwa
lapangan basket sekolah yang biasanya sepi kecuali saat jam Olah raga,
tiba-tiba saja selalu ramai dengan basket. Hal yang perlu di garis bawahi
adalah, kelas kamilah pelopornya.

Tiba-tiba saja kultur kami anak kelas satu berubah, tiada
hari tanpa basket. Tidak peduli pagi sebelum kami masuk kelas (kelas 1 masuk
siang) atau tengah hari bolong sebelum masuk, saat istirahat, saat jam pulang
bahkan saat ada jam kosong di kelas, kami manfaatkan sebesar-besarnya untuk
kepentingan BASKET. Secara spontan anak-anak kelas lain ikut turun dan
bergabung, sampai-sampai para guru kesulitan untuk melarangan spontanitas
anak-anak untuk tidak turun ke lapangan. Kenangan kelas satu ini begitu indah,
sayang akhirnya menjadi mimpi yang sedikit buruk buat ku.

 

Hari itu adalah hari terakhir pertemuan olahraga sebelum
ujian caturwulan 3. Seminggu lagi ujian akan dimulai. Seperti biasa setelah
sesi wajib pengambilan nilai, waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bermain
dilapangan. Awalnya hanya adu three point aja, tapi kemudian kami memutuskan
main setengah lapangan. Awalnya aku agak enggan untuk bergabung, tapi kemudian
aku ikut. Setelah sekian lama main, saat aku coba memblok sebuah tembakan,
Ferry menabrakku gak sengaja. Keseimbangan ku hilang dan jatuh berguling
beberapa kali. Aku, yang mengira itu hanya jatuh biasa saja coba untuk bangkit,
tetapi saat kuangkat tangan kananku….. tangan ku menggantung tidak bergerak.
Aku tiba-tiba saja seperti melihat sekelilingku dalam mimpi, kesadaranku hampir
hilang, tapi aku segera tersadar…. tangan ku patah…..

Beberapa rekan segera menolong, tangan kananku segera
ditopangkan ditangan kiriku. Saat itu tidak terlalu terasa sakit, walaupun
sedikit ngilu. Apa yang kurasakan lebih karena trauma pada kejadian yang sama
sekali tidak ku duga. Sekilas aku melihat Vie memandang ketakutan dan menutup
mata saat ferry membawaku ke guru Olahraga yang sedang bicara pada siswi
kelasku.

Aku segera dibawa ke ke klinik Puspitek untuk mendapatkan
penanganan P3K. Wali kelasku segera menjemput orangtuaku kerumah. Segalanya
jadi serba panik. Indrie, Tora, dan Yuli menyusulku ke klinik. Setelah orangtua
ku datang, aku dibawa ke RS Fatmawati.

Aku agak merasa bersalah kepada orangtuaku walaupun ini
adalah suatu kecelakaan, karena mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup
besar untuk pengobatan ku ini.Untunglah kami sedikit terbantu dengan adanya
askes, karena ibuku pegawai negeri. Ada dua opsi yang ditawarkan dokter saat
itu, menggunakan gips dengan resiko tulang tersambung tidak lurus seperti
semula serta recovery yang cukup lama (3-7 bulan) atau operasi pasang pen (aku
sampai sekarang gak tau gimana nyebutnya), yang mahal tetapi hasilnya lebih
terjamin serta recovery yang cepat. Akhirnya aku dan orangtua ku memilih
operasi, karena kami tak ingin aku cuti sekolah, dan aku pun tidak mau
berlama-lama jauh dari Vie.

Aku cukup betah dirumah sakit, tetapi aku juga harus sadar
jika semakin lama aku dirumah sakit maka semakin besar biaya yang ditanggung
oleh orang tuaku. Akhirnya, setelah aku dioperasi, tiga hari kemudian aku
langsung pulang. Dua hari istirahat dirumah, setelah itu aku ke sekolah, karena
harus mengejar ujian yang sudah 3 hari berjalan. Tetapi sebenarnya aku tidak
ada persiapan samasekali.

Ujian terlihat begitu berat untukku, apalagi tangan
kananku belum bisa digerakkan sehingga satu-satunya opsi adalah aku ujian
dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali belum pernah belajar nulis kidal.
Terbayang olehku nilai yang akan keluar akan seperti apa anjloknya. Ujian
bagiku sudah seperti hanya formalitas saja, sekedar menggugurkan kewajiban
sebagai siswa.

Tetapi kekhawatiranku tidak terbukti, ternyata guru-guru
seperti kasihan dan memberiku nilai yang cukup baik. Akhirnya aku masih menjadi
juara kelas, walaupun sedikit kurang puas karena nilaiku bukan murni hasil
kemampuanku.

Aku kembali bertemu indrie dan kawan ku dikelas, hal ini
membangkitkan semangatku lagi. Dari rekan-rekanku aku dengar bahwa setelah aku
kecelakaan, basket dilarang disekolah ku, terutama saat jam sekolah. Hal yang
sama sekali tidak kami harapkan. Saat itu salah satu yang harapkan adalah
segera sembuh dan kembali ke lapangan. AKU KANGEN SAMA BASKET….

 

Juli 2001…. Gak kerasa sudah satu tahun aku di sekolah
ini. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa dulu, aku hampir saja masuk sebuah sekolah
asrama lagi. Insan cendikia, satu-satunya saingan SMU ku di kecamatan. Mereka
telah terkenal, melanglang buana diberbagai kompetisi nasional. Sebuah sekolah
favorit yang didirikan oleh Habibie.

Dulu, sekolah ini memberikan beasiswa bagi seluruh
siswanya, setelah Habibie turun dari pemerintahan beasiswa itu ditarik oleh
pemerintah. Aku adalah angkatan yang kena getahnya. Beasiswa hanya diberikan
pada 10 orang terbaik saat seleksi, dan aku tidak termasuk didalamnya.

Akhirnya harapan ku untuk masuk sekolah unggulan pupus,
karena biaya masuk saat itu 7,5 juta. Angka yang gak kebayang buat keluarga
kami yang setiap lebaran harus berpikir dua kali untuk mudik ke Semarang.
Tetapi sebenarnya keputusan untuk tidak masuk ke sekolah itu lebih merupakan
keputusan yang diserahkan orangtuaku padaku. Aku memilih untuk tidak masuk
kesana, karena bagiku kulturnya terlihat asing dan terlalu mewah untukku.

Karena itulah aku memutuskan masuk ke SMU tetangga ini.
Satu harapan yang aku pernah tetapkan, aku memang tidak masuk sekolah favorit,
tapi aku akan jadi orang yang memfavoritkan sekolah ini. Sesuatu yang awalnya
hanya mimpi belaka, tiba-tiba saja menjadi kenyataan!

Kelas satu adalah salah satu masa paling bahagia di SMU.
Saat aku masuk kelas dua, formasi kelas berubah total. Hanya ada 2-3 orang yang
berasal dari kelasku dulu plus beberapa yang kukenal di kelas lain. Sisanya,
benar-benar teman baru untukku. Situasi kelas terasa sekali berpengaruh pada
semangat belajarku. Aku pisah kelas dengan Vie.

Aku duduk dengan David seorang protestan yang taat.
Cita-citanya adalah menjadi pendeta. Kami duduk dekat jendela yang menghadap ke
depan kelas. Kami duduk bergantian di bangku pojok bergiliran setiap minggunya.
Hehe, sebenarnya ini sudah menjadi strategiku untuk tetap bisa melihat Vie yang
letak kelasnya menyiku dengan kelasku.

Saat itu aku rasakan semangat belajarku makin menurun,
ditambah lagi beberapa juara kelas ada di kelasku. Aku semakin larut dalam hoby
menggambarku. Belajar gitar dan membuat lagu juga menyita fokus belajarku.
Akhirnya efeknya pada cawu 1 aku anjlok menjadi ranking 5. Aku sedikit shock
juga, karena sudah mulai terbiasa masuk ”satu besar”.

Di akhir cawu satu ini ada seleksi olimpiade sains. Karena
nilai ku yang ”cukup” anjlok aku sebenarnya nyaris tidak diperhitungkan. Tapi
aku mengajukan diri karena untungnya syaratnya minimal masuk 5 besar.
Alhamdulillah, nyaris saja…..

Saat para jawara mengejar pelajaran Fisika, Kimia dan
Matematika, aku lebih memilih ikut seleksi di biologi. Padahal aku sebenarnya
tidak terlalu cinta dengan pelajaran ini. Yang aku senangi dari biologi hanya
karena ada aspek sejarah dan banyaknya nama latin (sesuatu yang kadang membuat
orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

Ternyata hal ini jadi berkah tersendiri untuk ku. Karena
ternyata aku nyaris tanpa lawan dalam seleksi ini, dan otomatis aku melenggang
bebas menjadi wakil sekolah. One step ahead coy…..!!!

Keuntungan yang ku peroleh pada tahun itu adalah SMU ku
mendapat jatah undangan seleksi olimpiade dua kali. Satu ikut seleksi wilayah
Jabotabek di SMU 70, dan satu lagi seleksi Kabupaten di SMU Insan cendekia.
Banyak kekacrutan yang kualami di seleksi ini.

Saat di Jabotabek, kami nyaris tidak ada target, karena
tingkat persaingannya sudah langsung selevel propinsi. Aku sih menikmati
jalan-jalannya saja, maklum orang udik. Lagipula aku terhitung cuma ”anak
bawang” karena tumpuan terbesarnya saat itu adalah kelas 3. Akhirnya memang
kami pulang tanpa hasil sama sekali, selain sekotak KFC dan name tag (kalo udah
gini, yang ada adalah food oriented).

Persiapan untuk seleksi kabupaten pun benar-benar ala
kadarnya saja. Bahkan aku tiba ditempat seleksi telat agak lama. Untungnya dari
soal bahan latihan yang kuperoleh ternyata sebagiannya keluar lagi, bahkan sama
persis(ini bukti kekacrutan sistem dan kualitas pendidikan kita). Alhasil aku
melenggang lolos ke tingkat propinsi bersama dua orang anak Insan cendikia dan
2 anak dari kecamatan lainnya.

Seleksi dilakukan di SMU I Tangerang, sebuah sekolah yang letaknya
terpencil, walaupun katanya masuk kodya tangerang. Ada kenangan buruk yang
kuperoleh di seleksi propinsi ini. Aku datang ke ruang seleksi (sekali lagi)
dalam keadaan terlambat, tetapi tidak terlalu masalah karena sekalilagi, soal
yang digunakan dalam seleksi ini ternyata diambil dari Soal olimpiade
internasional tahun sebelumnya, dan aku sudah menggunakan soal ini saat latihan
soal di sekolah. Alhasil, setelah dua sesi test, aku keluar dan bersiap untuk
pulang.

Aku sempat berkenalan dengan anak-anak IC, salah satunya
adalah anak guru pembimbing olimpiade ku, Bu Wida. Yang lain ada Ferta, cewek
berjilbab yang gak bisa diam dan cukup rame. Ibu guru pendamping dari insan
cendikia mengajakku untuk pulang bareng mobil mereka. Tapi tawaran itu kutolak
karena guruku pasti sedang menunggu diluar. Dan mereka akhirnya pulang lebih
dulu.

Kekacrutan terjadi disini, guruku dan mobil pinjamannya
tidak nampak sedikitpun. Setelah celingak-celinguk lama pun tetap tidak ada
tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja aku panik dalam hati(ada ya, panik
dalam hati?). Apa jangan-jangan aku ditinggal pulang? Atau jangan-jangan guru
IC mengajakku pulang karena dititipi oleh guruku? Tempat yang asing membuatku
serba salah, malu bertanya dan sesat dijalan (naon deui siah…. kayak pepatah
aja).

Tapi aku coba berpikir sedikit rasional. Hampir tak mungkin
guruku meninggalkan ku begitu saja. Masak ”duta Sekolah” dibiarkan nangkring
seperti anak hilang gini? Dengan segala keberanian yang tersisa aku beranikan
bertanya pada seorang guru disana. Awalnya beliau tidak tahu, tetapi kemudian
salah satu rekan gurunya mengatakan, guruku dan supir mobil itu sedang ke
bengkel karena mobil kami tiba-tiba saja rusak. Akhirnya dengan sangat tidak
nyaman aku mennunggu selama beberapa jam. Setelah sekian lama menunggu guruku
datang juga. Aku yang jengkel hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tidak makan
siang hari itu….!! aku pulang kerumah masih dalam keadaan dongkol.

Hasil seleksi propinsi kali ini tak sabar kutunggu. Beberapa
hari kutanyakan kepada guruku. Tetapi setelah lebih dari sebulan tak kunjung
juga ada beritanya.Akhirnya hasil seleksi yang kuharapkan itu kulupakan begitu
saja. Aku kembali ”sibuk” dengan komik dan gitar butut ku lagi.

Tak terasa hampir setahun aku di kelas dua. Ujian
pamungkas tahun ini telah didepan mata. Hasil
ujianku akhir tahun ini tidak terlalu memuaskan. Aku masih saja berada di
peringkat 5 besar. Olimpiade tidak pernah terlintas lagi dipikiranku,
seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi di kehidupanku. Yah… ternyata
petualanganku di Olimpiade sains mungkin memang harus berakhir di propinsi.

Aku tetaplah aku yang dikenal biasa-biasa saja, masih
seorang ardian yang sering lupa mengerjakan PR, nyontek tugas sekolah, sering
keluyuran setelah pulang sekolah, rajin membaca komik, yah… itulah aku. Tapi
ada satu prinsip yang selalu aku pegang, bahwa walaupun aku seperti itu buatku
HARAM untuk mencontek saat ujian. Kenapa? Karena bagiku PR, tugas, latihan soal
hanyalah sebuah sarana latihan dan menyerap wawasan. Ujian yang sebenarnya
bagiku adalah saat Ulangan harian dan Ulangan Umum. Lagipula hal ini didukung
sifat ku yang agak sedikit sulit percaya orang. Jadi, dari pengalaman nyontek
yang pernah kulakukan, saat aku lihat jawaban orang lain aku lebih sering tidak
percaya akan jawaban orang tersebut, dan yakin jawaban ku pasti lebih baik. So,
percuma saja kan nyontek?

 

Akhirnya, masa kelas dua berakhir begitu saja. Tetapi,
sepertinya sayang jika aku gak cerita tentang sisi selain akademik ku. Sebenarnya
aku pernah punya keinginan untuk aktif di OSIS, tapi sepertinya sulit untuk bergabung, karena aku tidak tahu
kemana harus memulainya. Tapi secara gak sengaja ternyata aku terperosok ke
organisasi yang lain, yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Agak aneh
juga ya, kok aku bisa masuk koperasi siswa SMU. Berawal disuatu jam pelajaran
saat kelas satu, saat itu sedikit boring. Tiba-tiba saja ada beberapa siswa
senior yang meminta izin masuk, untuk roadshow. Dan akhirnya mereka
mempresentasikan tentang koperasi siswa. Dipresentasi mereka disebutkan bahwa
ekskul ini adalah wahana belajar masalah pembukuan, akuntansi, dan ekonomi.
”Mmm… not bad, sepertinya bisa dicoba.” begitu pikir ku. Saat ditawarkan untuk
mengisi form bagi yang ingin mendaftar, aku mengajukan diri.

Aku sempat pernah menyesal suatu ketika, yaitu waktu
OSPEK/pelantikan ekskul ini. Pusing juga, memang tradisi dan kultur SMU yang
masih kekanak-kanakan membuat prosesi perpeloncoan seakan wajib ada setiap
tahun. Tapi, ada baiknya juga, karena ternyata memang ada suatu pengikatan
komitmen yang terbangun. Tapi aku tidak suka diintimidasi!! Di pesantren aku
termasuk tipe pemberontak…. tidak ada istilah takluk dengan peraturan…. dan
sekarang ada yang sok superior dari ku…. rasanya sangat tidak enak sekali.
Untungnya hal itu hanya terjadi sekali saja.

Setelah dilantik, kami mulai berkenalan dengan koperasi
siswa yang sebenarnya. Kopsis kami ternyata pernah menjadi kopsis prototipe
bagi daerah tangerang, dan merupakan koperasi siswa terbaik didaerah ini. Tapi
”baik” yang dimaksud ternyata tidak seperti yang ku kira. Ternyata koperasi ini
disebut koperasi siswa karena dikelola oleh siswa. Tetapi secara permodalan,
ini sebenarnya murni dari dan untuk guru. Satu-satunya yang bisa jadi nilai
lebih adalah kita bisa belajar disini…. belajar jadi penjaga koperasi… cape
deh.

Dengan berjalannya waktu, pengurus yang melantikku
akhirnya harus memasuki masa kelas tiga yang sibuk persiapan UAN/UAS. Maka
tibalah saat kami kelas dua didorong untuk maju mengambilalih kepengurusan. Di
suatu siang diadakan musyawarah anggota untuk suksesi, yang “dipaksa” maju saat
itu ada 3 orang, yaitu aku, Agus ”tenjo” dan cewe(hadoooh….gw lupa namanya).

Dari prosesi yang garing itu, akhirnya terpilihlah si
cewek sebagai ketua, sedangkan untuk wakil ketua aku lah yang terpilih. Task
pertama kami adalah, melakukan OSPEK bagi para anggota baru (sejarah kembali
berulang…..). Tapi ada satu hal yang tidak ingin aku lakukan, yaitu bersikap
seperti seniorku dulu. Aku ingin menjadi senior yang baik dan bisa berbagi
sesuatu pada rekan-rekan seaktivitasku itu.

Singkat cerita, datanglah hari yang ditentukan. Kami akan
melakukan proses pelantikan komplek Puspiptek. Disana terjadi beberapa insiden,
salah satunya adalah saat ada peserta yang roknya sobek di bagian paha
(kebayang gak paniknya anak cewek kalo kondisinya seperti itu?).

Arti sebuah nama….

5Apr07

Seberapa
besarkah arti sebuah nama?

Hemmmmm…… lagi pengen kenalan. Sejak pertama ngisi blog
kayaknya aku blom pernah bener-bener memperkenalkan diri. Ya…. Mungkin saatnya.
Perkenalkan namaku Ardian Perdana Putra. Namaku ini ada ceritanya loh…. Aku
lahir bulan agustus 1983 dalam kondisi prematur 8 bulan…..[“Another grey
day-Maaya Sakamoto” ON]. Jadi seandainya normal, aku bakal lebih muda ya…..
namanya bukan ardian dong, eh… jangan-jangan gw bakal dinamain Septian…. Ato
sepdian (halah ngaco…. Becanda]. Nama depan ku ini yg unik….. AR adalah nama
bokap (Aris), DI dari nama ibu (walopun ga pas-pas bgt siy, Dyah, kalo ini
beneran kayaknya nama gw harusnya ditulis ARDYAN), AN itu singkatan dari Anak.
Ya…. Tapi kata ibuku ini sih versi yang gak jelas kevalidannya. Yang pasti kita
sama-sama tahu lah ya…. Maksud dari PERDANA PUTRA…. Paling duluan nongol.

Ngomong-ngomong aku gak punya nama keluarga lho….. aku
sempet bingung waktu kecil. Apa lagi pas belajar bahasa inggris. Bingung,
soalnya klo orang sono kan klo nama belakang itu biasanya nama keluarga. Ya
gitu lah…..

Klo bicara soal nama kayanya bagus juga bicara soal
panggilan dari SD ampe Kuliah… soalnya hampir pasti selalu ganti, dan herannya
gak nyambung sama nama asli.

Panggilan di SD itu sebenernya standar…. ARDI aja, cuma
terus nambah…. Gw pernah dipanggil “profesor” sama anak-anak, soalnya cita-cita
gw dulu astronot dan Ilmuwan. Ya… SD gak banyak kesan…. Maklum
pedalaman….(pedalaman depok), masa-masa gw gak jadi jagoan…. Jadi bulan-bulanan
temen yang superior. Tapi mereka gak berkutik pas lulus dunks….. dengan NEM
lumayan tinggi gw masuk SMP favorit waktu itu, temen2 gue harus nyari sekolah
swasta. Beruntung juga, soalnya gak pernah nyangka bgt. Gimana nggak lha wong
pas kelas tiga aja gw nyaris gak naik kelas.

Pas SMP, walo pun Cuma sebentar (1 tahun) tapi kenangannya
lumayan, terutama cinta monyetnya. Di kelas gw, 1.2 gw dipanggil Mpe… karena
sipit…. Lengkapnya Mpe Tong Seng. Gw ngamuk sebenernya, tapi apa daya, tetep
aja anak2 manggil gw kayak gitu. Temen-temen gw udah mulai kenal cimeng, BK ato
minimal rokok. Gw? Gak usah diceritain lah… Tiba-tiba masa2 yang sebentar itu
putus…. Gw masuk pesantren.

Dipesantren gw dapet panggilan baru lagi, PePe. Tahun
pertama, gw masuk kamar 12 (dganti nama jadi Hudzaifah Ibnu Yaman @ asrama
Khandaq). Kamar Hudzaifah dikenal sebagai kamar “Kandang Macan”. Gak ada senior
yang cukup sabar untuk ngurus kamar itu. Satu per satu berguguran digantikan
pengurus baru. Bahkan Kak Addin angkatan pertama MA(Gw angkatan III MTs) yang
paling disegani sekalipun akhirnya gak dikamar itu lagi. Kamar itu kacrut bukan
maen lah….. hari-hari pertama aja gw langsung ngajak ribut salah satu preman
kamar itu. Kris… dia akhirnya gak lama di pesantren, keluar barengan sama
sodaranya Mustofa abis kena kasus kemasukan jin yang bikin heboh satu ma’had.

Cerita kebandelan gw cuma beberapa orang yang tahu. Jadi
ustad-ustad dipondok masih nganggep gw santri yg biasa-biasa aja. Paling yg tau
sisi gelap gw Cuma Ust. Alm. Dadang Sa’dan. Gw kadang suka kabur dari pondok
bukan pas waktunya izin. Aturan di pondok, boleh izin Cuma 2 minggu sekali di
hari jumat(hari libur resminya pesantren). Shift izinnya ikhwan sama akhwat
beda jum’at. Tapi tetep aja, gw denger sekarang santri lebih bandel. Dengan
adanya HP, santri Ikhwan dan akhwat ada yg bisa janjian untuk ketemu dikota,
pacaran. Kalo zaman gw itu mah hal langka, apalagi sampe pacaran, santri paling
bandel aja ga bisa. Biasanya gw ke kota kuningan jalan-jalan, belanja, nonton
dll.

Panggilan Pepe bertahan sampai tahun terakhir…. Masa-masa
penuh suka-duka, masa paling soleh sekaligus paling brandalan….. Gw Bertahan di
5 besar mulai kelas 2 sampai 4(1-3 SMP normal, tahun pertama tahap I’dad).
Semua karena gw deket dan sobatan banget sama Hidayat, Yayat, Zulfahmi dll yang
pinter dan soleh. Gw banyak ngikutin cara belajar mereka (terutama pas ujian)
dan karena daya inget gw yg lumayan kenceng, dalam semalam belajar, materi
secaturwulan gw bisa kuasain diluar
kepala. Akhirnya pas ujian gw bisa sedikiiiiit di bawah level mereka. Kebetulan
gak susah2 amat, rata-rata materi hafalan dalam bahasa arab. Ditunjang dengan
pengetahuan umum gw yang lebih lumayan membuat nilai gw kedongkrak. Jadi klo
terima raport (ada 2 macem raport, Ma’had dan MTs/Depag) gw kalah di raport
ma’had, tapi unggul di raport Depag.

Hingga akhir masa-masa pesantren gw lumayan naik pesat,
dan akhirnya lulus dengan NEM terbaik ke-3 di Pesantren. Aku yang emang sejak
kelas 3 udah gak tahan dengan aturan yang ketat di pondok dan memang ingin
melanjutkan ke sekolah umum untuk mengejar PTN. Setelah diskusi yang
berbelit-belit akhirnya aku direstui (terutama Ibuku, Ayah dari awal gak setuju
aku masuk pesantren) dan boleh pindah dengan “beberapa syarat”.

Kemudian masuklah aku ke SMUN I Serpong (Setelah sempat
tes di Insan Cendikia, lulus sih 20 besar, sayangnya biayanya membuat ku
mengurungkan diri). Tahun awal diwarnai jet-lag…. dari pesantren yang homogen
ke SMU yang plural dan Heterogen. Tapi mata ku ternyata cukup pintar
beradaptasi, dan kembali cinta monyet mengisi hari-hari SMU. Cuma gw mah
keitung cupu bgt lah. Gw cuma bisa jadi secret admirer. Udah, mentok!! Lebih
dari itu cuma sekali gw nyatain “hal berbau monyet” itu, pas gw mau hijrah ke
bandung sebelum naik kereta (gariiiiing……).

Yang gak gw sangka-sangka, tahun pertama begitu gemilang
buat gw. Gw gak pernah seumur-umur mimpi jadi ranking I, dan ternyata kejadian
dong…. Hattrick!! Tiga kali berturut-turut di kelas I. Padahal cawu 3 gw
kecelakaan, beberapa hari menjelang ujian Cawu gw cedera dari basket,
ujung-ujungnya tangan kanan gw patah dan gw harus ujian dengan tangan kiri….. yah….
Harus diakui, rada-rada sedikit ketolong nilai “kasih sayang”. Tapi eit… jangan
salah nilai gw kedongkrak gak dateng dengan sendirinya ya…. Ulangan harian gw
lumayan, yang bikin nilai gw ketolong.

Balik lagi kesoal panggilan…. Gara-gara indrie, temen duduk
sebarisan pas kelas I, gw sempet nyaris dipanggil Firaun…. Gara-garanya dia
ngliat gambar patung firaun di buku sejarah, dan katanya sih, mirip gw…
Ting..tong… tau-tau dia teriak keliling kelas… dan efeknya sampe beberapa
minggu gw tetep dipanggil Firaun. Tapi kemudian gw bilang keanak-anak, Firaun
kurang keren…. gw tawarin “Pharaoh” sebagai penggantinya, untungnya anak-anak
mau aja…. Akhirnya mulailah 3 tahun gw di SMU dengan panggilan baru…

Herannya ternyata terjadi juga distorsi, naik kelas
berarti ganti temen. Panggilan itu (Pharaoh) pun akhirnya berevolusi…(ciee…..
Huekkk…). Panggilan itu ditulis dengan bermacam madzhab…. Kadang-kadang Farao,
parau, Varau dll. Ujung-ujungnya gw resmiin panggilan itu jadi tinggal 3huruf:
RAO!! Klo tandatangan unofficial A-nya gw balik. Sampe sekarang, panggilan RAO
masih tetep dipake di APRES. Anak-anak apres gak pada tahu nama gw Ardian,
mreka taunya RAO.

First…. of my CONFESSIOgraphy

Sebuah tekad! atau nekat?

 

Perkenalkan, namaku Ardian
Perdana Putra, seseorang yang biasa-biasa saja.

Aku gak pernah tahu kapan aku mulai sadar kalo aku hidup,
yang pasti sekarang jelas akan berbeda ceritanya jika aku gak sadar tentang
mengapa aku masih hidup.

Aku lahir bertahun-tahun yang lalu, 28 agustus 1983 di
daerah Kampung Melayu, Jakarta timur. Saat itu orang tuaku masih numpang di
rumah nenek, tetapi tak lama kemudian kami pindah ke kontrakan di daerah
mampang, karena kantor ibuku, BATAN ada di daerah mampang prapatan.

Entah apakah ini pertama kalinya aku coba untuk menuliskan
diary/kisah hidup. Tetapi seingat ku sejak SD sebenarnya keinginan itu pernah
ada, tapi tidak pernah terlaksana. Memang keinginan itu tak kunjung terlaksana
terpengaruh oleh karakter ku yang gampang bosan dan senang mencoba, jadi saat
keinginan itu ada, kadang hanya terlaksana beberapa kali, lalu lupa. Bisa
jadi keinginan itu juga belum aku pahami
tujuannya sehingga tidak ada dorongan cukup kuat untuk membuatnya berlangsung
lama. Cuma mungkin sekarang berbeda, karena aku punya harapan dan hasrat lain
dari tulisan ini.

Aku memang belum pernah menuliskan “diary” secara harfiah.
Kenyataannya ada sedikit jiwa ekspresif didiriku yang membuat aku punya
dorongan kuat untuk menuangkan imajinasi, atau lintasan pikiran yang ada
dikepalaku secara tiba-tiba. Jadi secara nonformal aku menuangkan “diary”ku
dalam berbagai bentuk. Kadang coretan-coretan abstrak tertuang begitu saja
tanpa bisa dipahami orang lain. Saat MTs dan SMU aku suka menggambar maka aku
tuangkan dalam gambar, aku juga kadang menuangkannya dalam bentuk puisi.

Tetapi kadang aku juga tidak dapat menuangkannya kebentuk
apapun. Biasanya itu terjadi jika aku sudah memendam dan mengolah imajinasi
tersebut hingga begitu rumit diotakku. Mereka jadi sulit keluar dan hanya
muncul potongan-potongannya saja. Makanya pemikiran ku kadang sulit diterima
orang karena aku punya dunia sendiri dalam kepalaku.

Sebuah tekad! atau nekat?

 

Perkenalkan, namaku Ardian
Perdana Putra, seseorang yang biasa-biasa saja.

Aku gak pernah tahu kapan aku mulai sadar kalo aku hidup,
yang pasti sekarang jelas akan berbeda ceritanya jika aku gak sadar tentang
mengapa aku masih hidup.

Aku lahir bertahun-tahun yang lalu, 28 agustus 1983 di
daerah Kampung Melayu, Jakarta timur. Saat itu orang tuaku masih numpang di
rumah nenek, tetapi tak lama kemudian kami pindah ke kontrakan di daerah
mampang, karena kantor ibuku, BATAN ada di daerah mampang prapatan.

Entah apakah ini pertama kalinya aku coba untuk menuliskan
diary/kisah hidup. Tetapi seingat ku sejak SD sebenarnya keinginan itu pernah
ada, tapi tidak pernah terlaksana. Memang keinginan itu tak kunjung terlaksana
terpengaruh oleh karakter ku yang gampang bosan dan senang mencoba, jadi saat
keinginan itu ada, kadang hanya terlaksana beberapa kali, lalu lupa. Bisa
jadi keinginan itu juga belum aku pahami
tujuannya sehingga tidak ada dorongan cukup kuat untuk membuatnya berlangsung
lama. Cuma mungkin sekarang berbeda, karena aku punya harapan dan hasrat lain
dari tulisan ini.

Aku memang belum pernah menuliskan “diary” secara harfiah.
Kenyataannya ada sedikit jiwa ekspresif didiriku yang membuat aku punya
dorongan kuat untuk menuangkan imajinasi, atau lintasan pikiran yang ada
dikepalaku secara tiba-tiba. Jadi secara nonformal aku menuangkan “diary”ku
dalam berbagai bentuk. Kadang coretan-coretan abstrak tertuang begitu saja
tanpa bisa dipahami orang lain. Saat MTs dan SMU aku suka menggambar maka aku
tuangkan dalam gambar, aku juga kadang menuangkannya dalam bentuk puisi.

Tetapi kadang aku juga tidak dapat menuangkannya kebentuk
apapun. Biasanya itu terjadi jika aku sudah memendam dan mengolah imajinasi
tersebut hingga begitu rumit diotakku. Mereka jadi sulit keluar dan hanya
muncul potongan-potongannya saja. Makanya pemikiran ku kadang sulit diterima
orang karena aku punya dunia sendiri dalam kepalaku.

hmm….. jadi inget….. pada jaman dahulu bgt, aq…

hmm….. jadi inget….. pada jaman dahulu bgt, aq pernah nulis tentang membaca….. membaca alam…. membaca fenomena…. membaca realita…… sesuatu yang lebih esensial dari membaca dengan arti harfiah.

tanpa aku sadari, di setiap detik yang di lalui, disetiap langkah yang mengayun, disetiap detak jantung yang berdegup terdapat hikmah yang jika saja kita jeli, maka akan menjadi suatu wasilah untuk menjalani hidup ini secara lebih baik. bukankah hikmah adalah suatu harta terpendam bagi seorang muslim? yang jika ia temukan di dalam perjalanan hidupnya maka dia lah yang paling berhak mendapatkannya….. begitulah mutiara hadis menjelaskan.

coba untuk meninggalkan dialektika teori, sekarang gimana dengan apa yg aku lihat hari ini…. kemarin…. beberapa saat yang lalu? nampaknya melakukannya secara praktek gak semudah kalimat tadi. gimana ya….. gimana ya…..

dari blog-blog yang aku baca, apa ya yang bisa aku ambil?

Bismillahirrahmanirrahim….. Hmmmm…. Mulai nulis l…

Bismillahirrahmanirrahim…..

Hmmmm…. Mulai nulis lagi neh…. Setelah sekian lama.

Beberapa hari ini lagi sering baca blog orang. Blog dibuat emang untuk “curhat berjamaah” kan? Kalo nggak ngapain juga di posting ke internet….. ya kan…..?

Mmmm…. Ngomong-ngomong soal ngebaca tulisan orang di blog, lagi agak sedikit sensi kli ya…. Jadi pas baca kaya ada perasaan jlab…. Jleb…. Kesepet gitu deh…. Bukan karena kegeeran si penulisnya nulis ttg gw…. Tapi karena isi tulisannya bikin gw mikir sih…. Kadang klo gw mratiin karakter orang, gw jadi suka ngebanding-bandingin si orang itu ama diri gw…. Gw kadang memposisikan diri gw dalam keadaan si orang itu…

Tp mungkin aga beda dengan beberapa waktu lalu, gw lagi susah untuk menangis. Gak tau nih, rada mengkhawatirkan jg…. Sebenarnya gw risau jg, takut hati gua udah gak lembut lagi….(cieee….). Soalnya satu hal yang sebenarnya sangat gw syukuri adalah gw dikasih hati yang gampang tersentuh dengan suatu fenomena dari orang yg gw lg perhatiin masalahnya. Gak bilang empati gw bagus ya… soalnya gw kadang juga rada lemot ngeliat kondisi sosial sekitar gw…. Ssst…. jgn bilang-bilang, gw rada introvert jg kadang-kadang.

Oiya, dari tulisan-tulisan di blog yg gw baca itu ada beberapa tulisan yg menarik. Misalnya tentang ada yg deket banget dengan keluarganya, ato tentang temennya yang lagi sakit, ato tentang aktivitasnya…. Hmm…. Kenapa gw ngiri ya? Kenapa gw jadi ngrasa pengen meledak ya….? Kenapa gw jadi rada nyesel ya? Kenapa gw jadi rada stress? Gw pengen bangkit…. Gw pengen enerjik…. Gw pengen punya tujuan hidup yang jelas lagi…. Dan tau harus ngapain…. Sekarang? Gw lagi bingung, mikir-mikir kebelakang….. ngerunut mimpi-mimpi yg pernah gw bangun dan sekarang tiba-tiba gw bingung…. Terlalu banyak mimpi yang pernah ada, dan gw bingung mana yg harus gw tuju…..

Semoga dengan gw menulis sekarang gw bisa rada jelas ngeliat “path” yang harus gw tempuh…. Tapi untuk sekedar ngasi tau, gw gak mau melewati jalan hidup gw selanjutnya secara biasa-biasa aja…. Bukan dengan jalan yang biasa ditempuh orang kebanyakan…. Gw harus jadi SEJARAH…. Makanya itu gw bingung…. Mau kemana.

Karena apalah artinya jika kta gak pernah memberi arti bagi orang-orang yg pernah kita kenal…. Bahkan Naruto pun, yang dalam ceritanya dogol… rada bloon, ceroboh…. Bisa menjadi orang yang berarti…. jauuuuuuuuh sangat sangat berarti bagi sekitarnya.

Our “Kyuubi”, initial writing of me…..

hm…. setelah sekian lama ga posting masih bingung mo nulis apa sebenernya. tapi I think gw harus mulai nulis2 lagi, ‘coz that’s the best way to woke “My Kyuubi” up.
Talking about “kyuubi”, this is how i call Our inner potential power beneath our soul. I take the term “Kyuubi” refering to Manga story of “NARUTO”. In that story is described that for the reason to save his village from massive destruction by a demon called “Kyuubi” (it means nine tailed demon fox which popular in many japanese folktales), the Head of Village sacrificed his life to seal that demon in the body of a baby. in the result this village saved, but in the future this baby named “Naruto” suffering discrimination from all villagers which their family and relatives gone by the attack of Kyuubi.
Naruto as a child becoming naughty and searching for love and attention from the people. Until some ninja of the village accept him as an ordinary people. From that time his journey to become a powerful and greatest ninja (and then becoming a Hokage -head of village- like his hero “the Forth Hokage/ yondaime”) begin.
The essential value of this story…. (a partial one, which i think related to the human potential) is how naruto learn to be “friendly” with his “super-duper-massive-strength” of The Demon inside his body. this super power is tends to become Dangerous for a whole Ninja world if there is no one control it. It become so powerfull power to become a greatest human for it’s owner….. if the owner know the way to control it.
I think in a real world of Us it very similar of our inner potential….., it can be very destructive or very constructive depends on the owner……
For me, my “kyuubi” is my Imagination, my idea, my thinking. For me, there is nothing I can trust more than my own thinking. Because it’s the essential power of us……

Our “Kyuubi”, initial writing of me…..

hm…. setelah sekian lama ga posting masih bingung mo nulis apa sebenernya. tapi I think gw harus mulai nulis2 lagi, ‘coz that’s the best way to woke “My Kyuubi” up.
Talking about “kyuubi”, this is how i call Our inner potential power beneath our soul. I take the term “Kyuubi” refering to Manga story of “NARUTO”. In that story is described that for the reason to save his village from massive destruction by a demon called “Kyuubi” (it means nine tailed demon fox which popular in many japanese folktales), the Head of Village sacrificed his life to seal that demon in the body of a baby. in the result this village saved, but in the future this baby named “Naruto” suffering discrimination from all villagers which their family and relatives gone by the attack of Kyuubi.
Naruto as a child becoming naughty and searching for love and attention from the people. Until some ninja of the village accept him as an ordinary people. From that time his journey to become a powerful and greatest ninja (and then becoming a Hokage -head of village- like his hero “the Forth Hokage/ yondaime”) begin.
The essential value of this story…. (a partial one, which i think related to the human potential) is how naruto learn to be “friendly” with his “super-duper-massive-strength” of The Demon inside his body. this super power is tends to become Dangerous for a whole Ninja world if there is no one control it. It become so powerfull power to become a greatest human for it’s owner….. if the owner know the way to control it.
I think in a real world of Us it very similar of our inner potential….., it can be very destructive or very constructive depends on the owner……
For me, my “kyuubi” is my Imagination, my idea, my thinking. For me, there is nothing I can trust more than my own thinking. Because it’s the essential power of us……

My newest Song: Dibalik cermin

Di Balik Cermin…..

Pucat….. tergambar wajahmu tanpa senyum menghias dibibirmu

Galau…. kosong pandangan mu menerawang tak tahu akan kemana

_____________________________________________________

_____________________________________________________

Dimanakah senyummu yang dulu yang warnai setiap hari mu

Dimanakah ceria kilau mu yang selalu hangat menyongsong mentari

Dimanakah…. dimanakah…..(2x)

Reff…

Wahai kau yang ada dibalik cermin tinggalkan sepi, sambut sang pagi

Wahai kau yang ada dibalik cermin tiba saat kau berhenti

Memandang masa lalu yang sunyi, bersinarlah secerah mentari…

Biarkan rona indahmu kembali…..

Just another Ardian Perdana Putra: Muda, Berkarya, Melayani site