kembali…-(gak ada judul)

1 Mei 2007


Gundah itu datang lagi… dan entah sampai kapan

Entah sampai kapan ku katakan ucap ini

Setiap kata sekejap berubah tak berarti

Tak ada yang terungkap kecuali sepi

Ingin hati ini berteriak, menghunjam caci maki

Menampar dengan setiap hujat yang tersisa

Asa ini berteriak, berontak tak ingin diingkari

Aku ingin kembali…. satu ucap terulur janji

Kucemburu pada rona merah mentari senja

Yang tak henti bersinar hingga akhir senja

Saat kutatap langit ia masih saja tersenyum

Walau gelap malam segera menutupinya

Wahai senja, ku ingin bertanya….

Adakah secuil lelah yang menghalangimu sejenak saja?

Adakah luka redupkan sinarmu sekejap saja?

Senja….. sejuta kata takkan pernah punya arti

Ku hanya ingin berteriak, “kembali!!”

Entah akan kah punya arti

Ku hanya ingin berteriak, “kembali!!”

True Colors

Di sebuah channel TV lokal Bandung tadi sore gw nonton rekaman live accoustic performance dari Phil Collins (mmm… entah sih, ato genesis ya…?). Pas kebetulan baru banget nyalain TV, dan lagu yang dibawain judulnya True Colors. Sedikit penggalan lagunya “show me your true colors, thats why I love U….. bla bla bla”, yang walo gak ngerti-ngerti amat kayaknya sih kurang lebih temanya adalah tentang bagaimana keberagaman menjadi sesuatu yang harus kita syukuri dan apresiasi. Langsung aja inget sama isu pluralisme yang sering di gembar-gemborin sama anak liberal.

Bicara soal keberagaman, berbagai sudut pandang dan latar belakang telah mengakui bahwa keberagaman yang kita temukan dalam hidup ini merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dan potensi yang maha dahsyat. Anugerah tak ternilai karena tanpa adanya keberagaman, kita sebagai manusia dengan berbagai kekurangannya tidak dapat saling melengkapi. Potensi maha dasyat karena keberagaman memungkinkan kita untuk menciptakan kombinasi dan probabilitas yang tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan, menyebabkan hidup kita misterius dan penuh kejutan.

Bayangkan jika kita diciptakan dengan pola pikiran yang sama, latar belakang sama, watak yang sama…. betapa membosankan dunia. Tidak akan ada perdebatan dan diskusi yang seru, rapat yang dinamis, bahkan tidak ada sebutan baik-buruk, cantik-tampan-jelek, pintar-bodoh-lemot karena semuanya sama. Bayangkan jika ada suatu problem yang harus dipecahkan, semua berpikir ke arah yang sama. Bagaimana jika itu jalan buntu? Bisa-bisa jawaban ato solusi dari masalah itu gak akan pernah ditemukan.

Dalam ilmu biologi, diversitas menyebabkan kita survive dan dapat beregenerasi hingga hari ini. Kromosom kita yang jumlahnya dari dulu segitu-gitu aja (46 biji) menyimpan entah berapa banyak kombinasi yang unik yang membuat manusia tidak ada yang identik dengan manusia yang lain. Setiap orang menjadi memiliki berbagai temperamen, imunitas yang beragam terhadap berbagai macam penyakit, berbagai ukuran tubuh yang begitu unik. Bayangkan jika tinggi setiap orang sama! Betapa tidak serunya permainan basket.

Dalam ilmu manajemen terutama jika berkaitan dengan manajemen SDM, keragaman manusia menjadi suatu keuntungan sekaligus kesulitan tersendiri. Terdapat berbagai tipe pekerja dengan keterampilan dan keahlian yang khas sehingga dapat mengisi suatu posisi yang memiliki kriteria spesifik. Negatifnya kualitas pekerja beragam, karakter psikologisnya unik sehingga treatmen bagi tiap pekerja beragam dan tidak mudah di generalisir. Tapi dalam teori yang sangat fundamental dalam ilmu manajemen yaitu teori Taylor, pada dasarnya keragaman karakteristik orang adalah potensi yang memungkinkan terjadinya suatu pembagian kerja yang optimal karena setiap orang dapat diposisikan sesuai spesifikasi dan kekhasannya masing-masing. Hal ini secara filosofis merupakan hakikat dari Teamwork yaitu kesatuan kerja yang setiap elemen didalamnya dapat saling melengkapi sehingga tercipta suatu capaian kinerja optimal.

Hukum dan aturan kemudian menjadi suatu faktor penting agar suatu keragaman dapat kita optimalkan sebagai kekuatan bagi suatu komunitas. Hukum dan aturan menjadi suatu bentuk transaksi yang menjamin bahwa kelebihan yang dimiliki seseorang pada suatu aspek tidak berdampak merugikan bagi orang yang kurang dalam aspek yang sama, yang kuat tidak menindas yang lemah.

Sebenernya pengen dilanjutin ke masalah pluralisme vs pluralitas dan fitrah hakiki manusia serta mengapa logika pluralisme itu gak logis tapi gak jadi dimasukin, ntar ajah….

Yu dadah babay…… wassalamualaikum

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Bulan kemarin adalah bulan dimana aku paling rajin posting. Setelah sekian lama berhenti posting, ada berbagai hal yang mendorong ku untuk mulai kembali menulis. Seperti aku bilang beberapa saat lalu, kadang ide begitu mudah datang. Kadang seperti banjir yang melanda jakarta, deras walau tidak diundang. Tapi ada saatnya aku sulit sekali menyelesaikan satu tema secara utuh. Sepertinya untuk diriku sendiri hal ini harus ku analisis, di-troubleshooting, karena kupikir aku harus sedikit demi sedikit belajar untuk konstan menulis apapun kendala yang akan aku hadapi.

Aku coba berkaca pada blog seorang teman. Dibandingkan dengan dirinya jelas aku tidak ada apa-apanya. Aku coba berhitung frekuensi tulisannya dan kudapati rata-rata 3 koma sekian posting per bulan. Bukan angka yang besar, tapi patut digarisbawahi KONSTAN. Aku coba membayangkan tentang bagaimana seorang jurnalis profesional menulis. Mereka pasti dituntut untuk dapat menulis bagaimanapun kondisinya. Apakah sedang moody atau rileks, tuntutan profesi akan mendorong mereka untuk dapat mewartakan kebenaran plus melibatkan emosional serta keberpihakan mereka pada kebenaran itu agar orang bisa merasakannya dan pesan yang diharapkan bisa tersampaikan.

Bayangkan bagaimana jika suatu saat ia mogok menulis, menurunkan artikel. Padahal ada suatu isu yang masyarakat secepatnya harus tahu, kasus korupsi misalnya. Jika berita itu tidak segera sampai ke publik momennya akan hilang. Reaksi masyarakat tidak cukup massif untuk membuat si penjahatnya plus aparat mendapatkan tekanan. Kalau ternyata si wartawan berada dalam posisi kunci, dimana ia memiliki data paling lengkap dibandingkan wartawan lainnya, bisa-bisa sang koruptor sudah keburu berkelit dan kasus pun tenggelam tanpa penyelesaian.

That just an example…. Tapi sebagai refleksi, sepertinya aku harus berusaha untuk tidak berhenti menulis. Kadang tulisan dapat menjadi tempat diri kita bercermin saat kita tidak bisa bercermin pada diri kita sendiri. Karena ada hal yang bisa jadi kita sembunyikan dari diri kita sendiri. Sesuatu yang kita menolak untuk menerimanya. Saat kita menulis, secara tidak sadar kita bisa jadi menemukan kebenaran yang kita ingkari tersebut dan mengakui sejujurnya kebenaran itu walau pahit. Mmm, berat sih… berat untuk diakui.

Mengenai mengapa menulis di blog, sebenarnya jika diliat dari fenomena sosial sendiri, blog merupakan trend/kultur yang berkembang sebagai suatu pengaruh dari kebebasan mengungkapkan pendapat yang tidak terbendung didunia maya. Tidak ada yang dapat membatasi arus informasi sehingga kemudian dibutuhkan suatu wadah/sarana dimana semua orang bisa menuliskan opininya terhadap berbagai fenomena dalam persepsi mereka secara bebas. Blog menjadi wahana bagi seseorang untuk mewartakan apapun semau mereka kepada siapapun (jika ada yang membacanya) di internet. Blog bagaikan sebuah koran pribadi yang isinya dapat di atur sesuka authornya, yang bisa memasukkan apapun mulai dari surat cinta, sumpah-serapah, perenungan, curhat sampai sampah-sampah yang tidak perlu punya arti sekalipun.

Aku pribadi menjadikan blog sebagai wahana pencurahan daya kreativitas dan tempat berekspresi. Aku nyaris tak peduli ada atau tidak yang membaca blog ku ini, yang penting apa yang keluar dari imajinasi ku, dari otak ku, dari hati ku terdokumentasikan, tidak hilang terbawa angin. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sejujurnya walau tidak berharap banyak akan dibaca orang, aku masih tetap berharap bahwa tulisan yang ku buat selalu punya arti, bukan setumpuk sampah yang memenuhi server belaka. Maka dari itu aku tetap berharap, kalo toh dibaca orang maka ada inspirasi yang dapat diambil, ada hikmah yang bisa dipetik, seminimal-minimalnya orang enjoy dan have some fun saat membaca tulisan-tulisan ku.

Aku tidak seratus persen masa bodo jika tidak ada yang membaca tulisanku. Bagaimanapun blog ini adalah wujud kesepian yang aku ungkapkan. Sejujur-jujurnya aku menyisakan harapan bahwa blog ini di baca oleh seseorang, yeah… that person. Jika tidak ada yang membaca blog ini sekalipun, aku masih berharap dia membacanya. Hmmm, siapa ya…. Let’s put this thing always be a secret.

menunggu (dari masa2 SMU)

Sebuah lagu dari masa-masa putih abu-abu. Entah aku ciptakan kapan, yang
pasti ekspresi dari kesepian yang aku alami dan angan yang melayang entah
kemana. Aku suka lagu ini karena komposisi bass yang aku buat lumayan rame
dibanding laguku yang lain.

Ada

sih yang lebih gila bassnya, “Indah” sama “superhero”, tapi tetep aja
masing-masing punya uniqueness sendiri.

Menunggu

Ku amati sepatuku masih
ditempatnya, belum berubah bersama dengan kakiku

Kupijakkan disini menunggu
waktu… disini kuamati awan putus asa hampiri diriku

 

Membelai angin berlalu, menunggu
dan tetap kutunggu

Awan indah yang cerah seperti
dulu

Akankah ini berakhir dengan
berlalunya waktu

Saat yang ku harap hanya
dirimu

 

Reff:

Akankah semua ini ‘kan
berakhir,

Kita ‘kan dapat bersama
lagi….

Saat khilafku membuatmu
pergi dan tinggalkan aku

Menyisakan luka ku disini

 

Akankah kutemui pengganti
dirimu,

Saat kau bawa semua angan
ku jauh…

Dan tak ada yang ‘kan dapat
temani aku disini

Memahami ku seperti dirimu

 

Semua keraguanku masih tak
terjawab, nafasmu sentuhmu seakan masih kurasakan

Kupandangi fotomu hingga ku
bosan, namun perasaan ini tak dapat ku tahan trus menjadi beban

 

Kutulis sebuah lagu,
sekedar mengisi waktu

Namun yang ku bayangkan
hanyalah dirimu

Saat ku coba lupakan dan
coba untuk bertahan

Namun di benakku hanya dirimu

 

Back to reff….

 

 

 

gak ada judul- 1Mei2007

Gundah itu
datang lagi… dan entah sampai kapan

Entah
sampai kapan ku katakan ucap ini

Setiap kata
sekejap berubah tak berarti

Tak ada
yang terungkap kecuali sepi

 

Ingin hati
ini berteriak, menghunjam caci maki

Menampar
dengan setiap hujat yang tersisa

Asa ini
berteriak, berontak tak ingin diingkari

Aku ingin
kembali…. satu ucap terulur janji

 

Kucemburu
pada rona merah mentari senja

Yang tak
henti bersinar hingga akhir senja

Saat
kutatap langit ia masih saja tersenyum

Walau gelap
malam segera menutupinya

 

Wahai
senja, ku ingin bertanya….

Adakah
secuil lelah yang menghalangimu sejenak saja?

Adakah luka
redupkan sinarmu sekejap saja?

 

Senja…..
sejuta kata takkan pernah punya arti

Ku hanya
ingin berteriak, “kembali!!”

Entah akan
kah punya arti

Ku hanya ingin
berteriak, “kembali!!”

 

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Mencoba untuk tidak pernah
berhenti menulis

Bulan kemarin adalah bulan dimana aku paling rajin posting. Setelah sekian
lama berhenti posting, ada berbagai hal yang mendorong ku untuk mulai kembali
menulis. Seperti aku bilang beberapa saat lalu, kadang ide begitu mudah datang.
Kadang seperti banjir yang melanda jakarta, deras walau tidak diundang. Tapi
ada saatnya aku sulit sekali menyelesaikan satu tema secara utuh. Sepertinya
untuk diriku sendiri hal ini harus ku analisis, di-troubleshooting, karena
kupikir aku harus sedikit demi sedikit belajar untuk konstan menulis apapun
kendala yang akan aku hadapi.

Aku coba berkaca pada blog seorang teman. Dibandingkan dengan dirinya jelas
aku tidak ada apa-apanya. Aku coba berhitung frekuensi tulisannya dan kudapati
rata-rata 3 koma sekian posting per bulan. Bukan angka yang besar, tapi patut
digarisbawahi KONSTAN. Aku coba membayangkan tentang bagaimana seorang
jurnalis profesional menulis. Mereka pasti dituntut untuk dapat menulis
bagaimanapun kondisinya. Apakah sedang moody atau rileks, tuntutan profesi akan
mendorong mereka untuk dapat mewartakan kebenaran plus melibatkan emosional
serta keberpihakan mereka pada kebenaran itu agar orang bisa merasakannya dan
pesan yang diharapkan bisa tersampaikan.

Bayangkan bagaimana jika suatu saat ia mogok menulis, menurunkan artikel. Padahal
ada suatu isu yang masyarakat secepatnya harus tahu, kasus korupsi misalnya. Jika
berita itu tidak segera sampai ke publik momennya akan hilang. Reaksi
masyarakat tidak cukup massif untuk membuat si penjahatnya plus aparat
mendapatkan tekanan. Kalau ternyata si wartawan berada dalam posisi kunci,
dimana ia memiliki data paling lengkap dibandingkan wartawan lainnya, bisa-bisa
sang koruptor sudah keburu berkelit dan kasus pun tenggelam tanpa penyelesaian.

That just an example…. Tapi sebagai refleksi, sepertinya aku
harus berusaha untuk tidak berhenti menulis. Kadang tulisan dapat menjadi
tempat diri kita bercermin saat kita tidak bisa bercermin pada diri kita
sendiri. Karena ada hal yang bisa jadi kita sembunyikan dari diri kita sendiri.
Sesuatu yang kita menolak untuk menerimanya. Saat kita menulis, secara tidak
sadar kita bisa jadi menemukan kebenaran yang kita ingkari tersebut dan
mengakui sejujurnya kebenaran itu walau pahit. Mmm, berat sih… berat untuk
diakui.

Mengenai mengapa menulis di blog, sebenarnya jika diliat dari fenomena
sosial sendiri, blog merupakan trend/kultur yang berkembang sebagai suatu
pengaruh dari kebebasan mengungkapkan pendapat yang tidak terbendung didunia
maya. Tidak ada yang dapat membatasi arus informasi sehingga kemudian
dibutuhkan suatu wadah/sarana dimana semua orang bisa menuliskan opininya
terhadap berbagai fenomena dalam persepsi mereka secara bebas. Blog menjadi
wahana bagi seseorang untuk mewartakan apapun semau mereka kepada siapapun
(jika ada yang membacanya) di internet. Blog bagaikan sebuah koran pribadi yang
isinya dapat di atur sesuka authornya, yang bisa memasukkan apapun mulai dari
surat cinta, sumpah-serapah, perenungan, curhat sampai sampah-sampah yang tidak
perlu punya arti sekalipun.

Aku pribadi menjadikan blog sebagai wahana pencurahan daya kreativitas dan
tempat berekspresi. Aku nyaris tak peduli ada atau tidak yang membaca blog ku
ini, yang penting apa yang keluar dari imajinasi ku, dari otak ku, dari hati ku
terdokumentasikan, tidak hilang terbawa angin. Tetapi tidak berhenti sampai
disitu, sejujurnya walau tidak berharap banyak akan dibaca orang, aku masih
tetap berharap bahwa tulisan yang ku buat selalu punya arti, bukan setumpuk
sampah yang memenuhi server belaka. Maka dari itu aku tetap berharap, kalo toh
dibaca orang maka ada inspirasi yang dapat diambil, ada hikmah yang bisa
dipetik, seminimal-minimalnya orang enjoy
dan have some fun saat membaca
tulisan-tulisan ku.

Aku tidak seratus persen masa bodo jika tidak ada yang membaca tulisanku. Bagaimanapun
blog ini adalah wujud kesepian yang aku ungkapkan. Sejujur-jujurnya aku
menyisakan harapan bahwa blog ini di baca oleh seseorang, yeah… that person. Jika
tidak ada yang membaca blog ini sekalipun, aku masih berharap dia membacanya.
Hmmm, siapa ya…. Let’s put this thing always be a secret.

True Colors

Di sebuah channel TV lokal Bandung tadi sore gw nonton
rekaman live accoustic performance dari Phil Collins (mmm… entah sih, ato
genesis ya…?). Pas kebetulan baru banget nyalain TV, dan lagu yang dibawain
judulnya True Colors. Sedikit penggalan lagunya “show me your true colors, thats why I love U….. bla bla bla”,
yang walo gak ngerti-ngerti amat kayaknya sih kurang lebih temanya adalah
tentang bagaimana keberagaman menjadi sesuatu yang harus kita syukuri dan
apresiasi. Langsung aja inget sama isu pluralisme yang sering di
gembar-gemborin sama anak liberal.

Bicara soal keberagaman, berbagai sudut pandang dan latar
belakang telah mengakui bahwa keberagaman yang kita temukan dalam hidup ini
merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dan potensi yang maha dahsyat.
Anugerah tak ternilai karena tanpa adanya keberagaman, kita sebagai manusia
dengan berbagai kekurangannya tidak dapat saling melengkapi. Potensi maha
dasyat karena keberagaman memungkinkan kita untuk menciptakan kombinasi dan
probabilitas yang tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan, menyebabkan hidup
kita misterius dan penuh kejutan.

Bayangkan jika kita diciptakan dengan pola pikiran yang
sama, latar belakang sama, watak yang sama…. betapa membosankan dunia. Tidak
akan ada perdebatan dan diskusi yang seru, rapat yang dinamis, bahkan tidak ada
sebutan baik-buruk, cantik-tampan-jelek, pintar-bodoh-lemot karena semuanya
sama. Bayangkan jika ada suatu problem yang harus dipecahkan, semua berpikir ke
arah yang sama. Bagaimana jika itu jalan buntu? Bisa-bisa jawaban ato solusi
dari masalah itu gak akan pernah ditemukan.

Dalam ilmu biologi, diversitas menyebabkan kita survive
dan dapat beregenerasi hingga hari ini. Kromosom kita yang jumlahnya dari dulu
segitu-gitu aja (46 biji) menyimpan entah berapa banyak kombinasi yang unik
yang membuat manusia tidak ada yang identik dengan manusia yang lain. Setiap orang
menjadi memiliki berbagai temperamen, imunitas yang beragam terhadap berbagai
macam penyakit, berbagai ukuran tubuh yang begitu unik. Bayangkan jika tinggi
setiap orang sama! Betapa tidak serunya permainan basket.

Dalam ilmu manajemen terutama jika berkaitan dengan
manajemen SDM, keragaman manusia menjadi suatu keuntungan sekaligus kesulitan
tersendiri. Terdapat berbagai tipe pekerja dengan keterampilan dan keahlian
yang khas sehingga dapat mengisi suatu posisi yang memiliki kriteria spesifik.
Negatifnya kualitas pekerja beragam, karakter psikologisnya unik sehingga
treatmen bagi tiap pekerja beragam dan tidak mudah di generalisir. Tapi dalam
teori yang sangat fundamental dalam ilmu manajemen yaitu teori Taylor, pada
dasarnya keragaman karakteristik orang adalah potensi yang memungkinkan
terjadinya suatu pembagian kerja yang optimal karena setiap orang dapat
diposisikan sesuai spesifikasi dan kekhasannya masing-masing. Hal ini secara
filosofis merupakan hakikat dari Teamwork
yaitu kesatuan kerja yang setiap elemen didalamnya dapat saling melengkapi
sehingga tercipta suatu capaian kinerja optimal.

Hukum dan aturan kemudian menjadi suatu faktor penting agar
suatu keragaman dapat kita optimalkan sebagai kekuatan bagi suatu komunitas.
Hukum dan aturan menjadi suatu bentuk transaksi yang menjamin bahwa kelebihan
yang dimiliki seseorang pada suatu aspek tidak berdampak merugikan bagi orang
yang kurang dalam aspek yang sama, yang kuat tidak menindas yang lemah.

Sebenernya pengen dilanjutin ke masalah pluralisme vs
pluralitas dan fitrah hakiki manusia serta mengapa logika pluralisme itu gak
logis tapi gak jadi dimasukin, ntar ajah….

Yu dadah babay…… wassalamualaikum

setahun kedepan

Bismillah

Setahun
kedepan

Pagi ini aku kuliah lagi. Gak kerasa dalam hitungan minggu
UAS akan menjelang. Beberapa kuliah sudah memberikan early warning waktu ujian.
Beberapa yang lain memberikan penugasan untuk persyaratan nilai akhir kuliah.
Dari tengah semester aku sudah bisa memprediksi, mana matakuliah yang
kemungkinan akan baik hasilnya dan mana yang berprospek membutuhkan ‘pendalaman
materi’ di semester akan datang.

Semester genap ini punya nilai tersendiri untuk ku dan
rata-rata rekan 2003. Ya…. normalnya juli ini adalah waktu wisuda bagi mereka
yang telah menyelesaikan Tugas Akhirnya. Tiba-tiba aku jadi teringat dengan hal
ini saat dikelas tadi rekan yang duduk didepan bangkuku membawa draft laporan
TA-nya. Perasaanku? Sejujurnya sedikit gundah. Bukan karena khawatir sebentar
lagi akan banyak rekan yang lulus, tetapi karena khawatir dengan TA-ku yang
belum juga aku mulai.

Aku sendiri agak aneh dengan diriku, sulit berkonsentrasi
pada suatu hal dalam waktu lama. Banyak hal dengan mudah mengalihkan fokus
perhatian ku sehingga beberapa hal yang seharusnya dapat selesai dalam waktu
singkat harus ku selesaikan dengan waktu lebih lama. Sepertinya sulit
menentukan prioritas adalah inti masalah ku. Bagiku setiap hal adalah penting
dan semua harus dikejar. Ini menyebabkan ku selalu bermasalah dengan
multi-tasking. Tetapi satu hal yang kusadari, aku harus terus belajar
menentukan prioritas sambil tetap berusaha untuk dapat mengatur waktu agar
dapat mengejar beberapa hal dalam waktu yang bersamaan.

perlahan tapi pasti…..

Perlahan
tapi pasti

Sesak
itu datang lagi

Perlahan
tapi pasti

Bisik-bisik
itu mengenyahkan ku kembali

Perlahan
tapi pasti

Kesempatan
itu sirna tak datang lagi

Perlahan
tapi pasti

Cahaya
itu redup, entah akankah kembali

Perlahan
tapi pasti

Seribu
bungkam memapahku kelorong gelap lagi

Perlahan
tapi pasti

Yaa
Allah…. aku tak tahu jalan kembali……

 

Perlahan
tapi pasti

Denyut
itu kembali

Perlahan
tapi pasti

Tak
ingin musnah disini

Perlahan
tapi pasti

Kesadaran
ku berontak, tak ingin berhenti

Perlahan
tapi pasti

Belenggu
itu lapuk terkorosi

Perlahan
tapi pasti

Sebuah
azam terpatri dalam janji

Perlahan
tapi pasti

Yaa….
Allah izinkan aku tetap disini

 

Perlahan
tapi pasti

Ku
retas jalin jalan surgawi

Namun
entah sampai kapan…….

 

(Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa
tukadzdzibaan
)

Ciburial
28-04-07

Just another Ardian Perdana Putra: Muda, Berkarya, Melayani site