Category Archives: tarbiyah

Sabar Unlimited: Karena sabar nggak berbatas

Kata orang tua, sabar itu nggak berbatas…
Kalau berbatas, namanya bukan sabar…
tapi sekedar penantian…

Menunggu sesuatu yang dinanti…
Menanti sesuatu yang ditunggu…

Sampai kapan penantian itu berakhir?
Tak berbatas… karena kita tidak akan pernah tahu
Jalan yang IA sediakan bagi kita…

Kita hanya diminta menunggu, dan terus menunggu
bersama ikhtiar yang tak habis-habis
bersama doa yang tak putus-putus
bersama prasangka baik terhadap Sang Pemilik Nasib

Jika yang dinanti itu tidak kunjung datang
maka lapangkanlah hati kita…
Karena itu mungkin washilah-Nya…
Untuk menjadikan kita orang yang kuat

Dan jika saat itu tiba… sesuai pinta kita
Sesungguhnya belum pantas kita lepas bergembira
Karena mungkin itu hanya sekedar ujian lainnya…
Akankah kita bersyukur… atau lupa dan kufur

Entah saat itu kapankah akan tiba…
Yaa… Allah Rabb penguasa hati-hati yang memohon lirih
Tundukkan hati ini dalam keridhaan atas ketentuan-Mu

“Haadza min fadhli rabbi, liabluanii a asykur, am akfur…”

Seandainya Pemerintah Kita Tidak Tuli…

Saya baca artikel ini, dan merasa perlu memberikan tanggapan seperti dibawah ini (Siapa tau orangnya menolak komentar saya):

Wallahu A’lam ya…
Saya termasuk yang pro terhadap Demonstrasi dengan banyak argumen:

Pertama, karena pengungkapan aspirasi paling murah dan dapat menggugah perhatian orang banyak adalah demonstrasi. Yakinlah mas, mau sekeren apapun konsep dan solusi yang anda buat untuk masalah bangsa ini, kalo anda nggak bisa menyampaikannya pada pejabat kita yang tuli dan mati hati di jakarta sana maka konsep anda sampai kapanpun hanya sekedar tumpukan kertas.
Kedua, mahasiswa dan demonstran itu bukan selebritis mas, temen2 kita yang buruh juga bukan artis. Tapi mereka punya aspirasi untuk pemerintah/legislatif. Apa anda pikir jika mereka ngirim perwakilan ke Istana/DPR suara mereka akan didenger? NGGAK mas! Kenyataan dilapangan: Kalo aspirasi kita-kita yang rakyat kecil ini mau didenger, nggak ada jalan lain bahwa Demonstrasi lah sarananya.
Ketiga, masalah kemudian banyak efek samping dari demonstrasi seperti kemacetan dan kerusuhan, itu sih balik lagi ke para demonstran dan manajemen massanya. Bukti nyatanya bahwa demonstrasi itu tidak selalu berefek buruk ada kok. Coba anda perhatikan kalo Kader PKS (bahkan sejak 1999 masih bernama PK) turun kejalan, sudah hampir dipastikan polisi udah nggak dibutuhkan di jalanan untuk menjaga ketertiban demo. Mereka udah bisa mengatur diri mereka sendiri.
Jadi kesimpulannya… ‘DEMO = Rusuh + Macet’ itu nggak benar…

Saya ingin menutup posting ini dengan 3 buah lagu aksi yang sampai sekarang masih melekat dihati:

Lagu pertama adalah lagu yang paling sering digunakan pada Aksi kabinet KM ITB masa Presiden Ahmad Mustofa hingga Anam:

Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan…
Kepada rakyat yang kebingungan, dipersimpang jalan…
Kepada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan…
sebuah catatan kebanggaan, dilembar sejarah manusia…

wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun kejalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta (2X)

Lagu kedua, kreasi dari rekan-rekan aktivis kiri. Tapi pesan dan semangat yang dibawa sebenarnya universal:

Buruh, Tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin Kota

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang perubahan

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang kebebasan

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

bagiku suatu langkah pasti

Lagu ketiga, kebanggaan mahasiswa ITB. Judulnya Kampusku, sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan militer terhadap mahasiswa selama orde baru. Sekarang jadi simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan rektorat terhadap kreativitas mahasiswanya:

“Kampusku rumahku, Kampusku negeriku
Kampusku kebebasanku, Kampusku wahana kami

Di sana kami DIBINA, menjadi MANUSIA DEWASA
Namun kini apa yang terjadi, ditindas semena-mena

Berjuta Rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan, kami semua cinta-cinta Indonesia.”

Semoga jadi janji yang tidak akan pernah mati:
SALAM GANESHA!! BAKTI KAMI, UNTUKMU TUHAN, BANGSA DAN ALMAMATER! MERDEKA!

Antara PKS dan celana Jeans

Alhamdulillah, minggu ini aku insya Allah akan terberdayakan lagi buat bantu-bantu di protokolernya DPW. Ada hal remeh temeh yang sedikit yang menggelitik aku untuk berkomentar. Yaitu instruksi saat brifing beberapa hari lalu. Hmm… nggak ada yang aneh dengan briefingnya, cuma instruksinya itu lho… di hari-H nanti kita yang cowok diminta untuk menggunakan celana jeans bro…! Tumben-tumbenan ini mah. Alasannya, itu rikuest dari panitia pusat untuk para protokoler sebagai bagian dari usaha “New Look, New Image” *gedubrak*. Aku sih tetep seneng-seneng aja, berhubung biasanya kalo tugas pasti dikasih seragam, minimal kaos ato kemeja. Tapi jangan salah ya… itu bukan berarti aku ikut nimbrung buat ngejar kaos/kemeja, itu mah sekedar side effect aja… yang utama, aku ada kesempatan beramal dan berinteraksi dengan ikhwah yang lain biar nggak futur.

Yang bikin menggelitik sebenarnya saat para protokoler tiba-tiba bengong dengan instruksi tadi. Berhubung emang rata-rata kagak pernah lepas dari celana bahan dikeseharian kita, instruksi ini emang agak sulit dipenuhi. Aku sendiri seumur-umur cuman pernah sekali punya celana jeans. Itu pun udah bertahun-tahun yang lalu, waktu aku belom tinggi-tinggi amat dan belom gembrot kaya bapak-bapak sekarang. Nah lho… sekarang pasukan protokoler kita jadi pada bingung. Dan saya yakin pertanyaan yang mungkin sama dalam pikiran kami semua adalah:

“Kemana ya ane nyari pinjeman celana jins?”

ato

“Hadooooh… masih ada duit nyisa nggak ya akhir bulan ini buat beli celana jeans?”

Tapi bukan kader PKS kalo kagak tsiqoh sama instruksi mas’ul. Toh ini bukan hal fundamental (ushul) yang butuh diperdebatkan lebih lanjut. Cuma sekedar sedikit manuver dakwah yang harapannya bisa semakin memperluas coverage area dari para kader ini. Bukankah dimasa lalupun wali songo melakukannya melalui akulturasi budaya kejawen? So, sambil manggut-manggut laskar bocah berjenggot itu pun sepakat mengusahakan agar jargon “New Look, New Image” itu bisa terlaksana. Untungnya dari mas’ul paham juga dengan kondisi kita-kita ini, dan memberikan penegasan “mohon diusahakan, tapi ya… kalo ternyata sulit juga nggak papa.”.

Sekian dan Wassalam

Admiring Pelangi

Dr. Taufikurahman for Bandung City

Banner Gede [BANGET]

Banner BIASA

About Pak Taufik:

Blogger Review: Dr. Taufikurahman
Serunya Blogger vs Blogger di Pilkada Jabar
Review Blogger di Pilwakot Bandung by Dhimas Lazuardi
Sindo 20/05/08
Blog Pak Arry
Pikiran Rakyat 20/05/08
Tribun Jabar

Ya Allah, setidaknya…

Akhir-akhir ini saya tiba-tiba takut ketemu jalan raya. Bukan lantaran punya pengalaman dipalak ato trauma karena pernah kena musibah di jalan raya, tapi nggak tau kenapa begitu ada di jalan raya saya langsung inget sama kematian. Bawaannya paranoid aja kalo udah ketemu jalanan semisal mau naik angkot ato nyebrang jalan. Saya sendiri nggak masalah dengan paranoia yang saya rasakan itu, Justru Alhamdulillah malah ada hikmahnya juga ternyata. Sekarang, kalo mo nyebrang jalan, naik angkot, atau turun angkot, Alhamdulillah spontan aja saya mengucap basmalah.

Takut mati sih nggak, cuman sedikit waswas kalo-kalo saya lupa baca basmalah trus terjadi apa-apa. Coba kalo ternyata tiba-tiba saya ketabrak angkot, keserempet truk ato seringan-ringannya nyemplung ke galian kabel. Mending kalo cuma celana robek, kena air comberan, ato ada lecet,luka, ato patah tulang, lha… kalo justru menemui ajal disitu, bisa gawat! Bisa-bisa keancam nggak husnul khotimah… walaupun pernah mesantren 4 taon di pesantren bernama Husnul Khotimah.

Hal ini ternyata kebawa-bawa juga selama perjalanan ke Kuningan dua minggu lalu dan Ciamis ahad kemarin. Diatas Elf (Angkot segede L300) antara tegallega-ciamis basmalah dan istighfar itu spontan aja keucap sepanjang perjalanan. Kebayang kan, gimana rasanya kalo bus ngebut itu ‘goyangannya’ kayak gimana? Nah… berhubung bodinya yang lebih kecil dan manuvernya yang lebih lincah, Elf yang beraksi di jalanan goyangannya kerasa lebih parah lagi. Apa lagi kalo udah lewat tikungan dan si supir ngebut seenaknya, kayaknya nyebut doa safar berulang-ulang serasa kurang apdol.

Campur aduknya perasaan antara mabok-puyeng karena goyangan si Elf dan bayangan kematian yang seakan-akan udah siap menjelang kalo lagi papasan dengan bus ato truk udah sulit dibedain. Tapi mungkin saking udah pasrahnya, rasa takut mati justru udah ilang. Sempet juga ada bayangan-bayangan berkelebat, diikuti pertanyaan

“Ya Allah… aku masih sempet nikah nggak ya?”

Tapi terus tiba-tiba pertanyaan itu berubah jadi permohonan…

“Ya Allah, please dunk… aku mohon banget… Setidaknya berikan aku mati syahid kalau engkau berkehendak aku mati disini…” dan tiba-tiba perasaanku lebih plong walaupun mulutku tetep nggak mau berhenti komat-kamit mengucap basmalah berulang-ulang.

Ternyata pengalaman mengingat maut itu belum berakhir sampe aku turun Elf sodara-sodara! Aku turun di desa Lumbung Sari, Kecamatan Lumbung, Ciamis. Tau nggak pemandangan apa yang pertama aku temui disitu? Ternyata ada yang baru aja meninggal sepertinya baru akan segera dishalatkan sedang aku diturunkan pas didepan masjid desa. Jadi, kesimpulannya… yang pertama kali kulihat adalah keranda mayat yang sedang dibawa oleh rombongan laki-laki diikuti oleh ibu-ibu yang membawa makanan dalam panci.

Sedikit hikmah yang bisa kuambil dari fenomena tersebut, orang desa lebih baik hati ketimbang orang kota. Hah… dapet dari mana tuh kesimpulan? Ternyata begini, kalo di kota, biasanya keluarga yang berduka cita kadang jadi direpotkan dua kali lipat lantaran selain harus mengurus jenazah juga harus menjamu pelayat. Kalo disini… begitu ada yang meninggal, tetangganya langsung melayat sambil membawa makanan kerumah duka untuk dimakan bersama. Setidaknya kulihat hal ini meringankan penderitaan dan kerepotan pihak keluarga yang ditinggalkan.

Sebenernya pengalaman menegangkannya bukan disitu… tapi beberapa saat setelah aku kabur dari kerumunan itu, solat di mesjid yang lain dan tepar ketiduran saking capeknya serta maboknya naik Elf tadi. Si bapak Doli yang jadi alasanku ke ciamis ini ternyata tidak disitu, tetapi sedang berada dikolam yang letaknya di desa yang berbeda. Aku dianter oleh seorang bapak-bapak yang nyaris nggak bisa bahasa selain bahasa sunda ciamis. Bahasa Indonesianya asli terbata-bata secara sah dan meyakinkan. Aku cuma bisa tersenyum dan ber “he-eh… he-eh…”ria sepanjang perjalanan, sambil meringis setiap tikungan yang kami lewati. Halah… gimana nggak? Dengan kondisi jalan penuh tikungan yang mendaki gunung, lewati lembah ala ninja hattori, si bapak itu membawa motornya miring ekstrim kayak Valentino Rossi yang biasa kita liat di tipi-tipi. Ya ampun… Ya Allah… please lah… seenggaknya kalo aku mati… tolong dunk… lurusin niatkuuu! Niatku lurus kan ya Allah? Aku kesini dalam rangka ngurus TA-ku… Jadi please ya Allah… setidaknya matikan aku dalam syahid!!!

Dan ternyata ekspresi kusut dan mabokku ini jelas terlihat sama rombongannya pak Doli. Disitu kulihat Dosen Pembimbingku -Bu Pingkan- serta putrinya yang [sayangnya] masih SMP, Pak Indra Jati (Dosen Sipil yang Eks. Dirjen Dikti), Pak Doli beserta anak istrinya. Mereka sedang melihat kolam tempat uji coba pakan organik untuk ikan. Selain itu ada juga Pak Ajat, Pak Usup dan beberapa petani ikan lokal yang dibina sama Pak Doli. Setidaknya 5 kali aku ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh 5 orang yang berbeda. Pertanyaannya: “Kamu capek yah?”. Berjam-jam kemudian, setelah aku sampe di Husnul Khotimah dan ketemu cermin baru aku nyadar seberapa kusutnya tampangku.

Ngomong-ngomong soal Husnul khotimah, aku jadi inget satu moment zikrul-maut lagi. Kolam ikan dan Rumah Pak doli letaknya ada di desa Panawangan, beberapa puluh kilo dari perbatasan Ciamis-Kuningan. Jarak dari Kuningan yang nggak seberapa jauh (hehehe… belom tau dia…) menerbitkan ide untuk mampir ke Husnul Khotimah dan pulang via jalur Cirebon – Majalengka – Sumedang. Nah… berhubung baru pertama kali  ngejajal daerah sini, aku baru tahu, jalan antara Ciamis-Kuningan itu berkelok-kelok dengan tanjakan yang curam kayak daerah puncak bogor. Aku juga baru tahu kalo supir bus di rute ini ugal-ugalannya minta ampun.

Saat itu sudah sekitar jam setengah 7 malam. Aku yang jadi penumpang ngerasain seakan bus itu lebih cocok disebut ‘ngesot’ ketimbang ‘ngebut’. Saking gedenya gaya sentrifugal (*halah* bener gak ya?) yang sanggup membuat pantatku bergeser kesana-kemari di kursi berderet 3 yang kosong. Udah nggak kepikiran lagi untuk tidur saat itu. Disini, bukan cuma basmalah lagi yang terucap. Setiap tikungan aku mengucap istighfar berulangkali. Ya Allah… seenggaknya kalau memang aku nggak sempet mendapatkan bidadari dunia… setidaknya segerakan aku bertemu dengan bidadari akhiratmu ya Allah…

Dan ternyata setelah doa itu ku ucap, aku ketiduran…

Indrie…

Pagi ini bermula nyaris biasa-biasa saja. Sama seperti hari-hari biasa, aku telat shalat subuh karena ketiduran abis witir. Halah, niatnya nambah pahala malah bablas. Setelah rutinitas pagi, mengejar nasi goreng salman yang berakhir dengan kegagalan, akupun beranjak bersiap akan kekampus. Aku mampir sebentar kemasjid, disitulah aku menerima sms dari ninda yang isinya mengabarkan bahwa pagi ini akan ada aksi. Aku segera beranjak ke gerbang, dan benarlah… jas almamater sudah mulai terlihat disana-sini.

“Akh, antum ikut aksi ya… ” Gilang segera menyambarku.

“Oke lah, tapi saya nggak bawa jas almamater euy…” jawabku, malasku segera hilang saat itu juga.

“Gampang lah, kita ada cadangan kok.” jawabnya kemudian.

Saat itu rombongan baru beberapa belas orang. Aku sebenarnya sudah nggak sabar menunggu. Berhubung sebenarnya agak gatel juga, kangen turun kejalan seperti Kabinet era Tove, Anas dan Anam. Sambil menunggu aku mencari bahan obrolan dengan beberapa orang, dan… Iyan pun datang. Akhirnya kita kembali bicara masalah Akreditasi untuk ikut DM2 KAMMI. Aku sih sebenarnya udah nyerah, berhubung besok deadline akreditasinya. Aku bilang kedia bahwa aku berencana ikut DM2 di kamda Jakarta saja.

Tiba-tiba…

“Pharao!!” seorang wanita yang suaranya kukenal tiba-tiba memanggilku.

“Indriiii…!!” Aku berteriak nggak percaya dengan siapa yang kulihat.

Indrie, ya… Indrie, salah satu teman terdekatku saat SMA dulu (lihat “Cerita Tentang Vie“). Penampilannya nyaris masih sama seperti dulu saat kami berpisah setelah SPMB. Ia kuliah di seberang pulau, kampus UNILA jurusan Kimia. Sudah nyaris 5 tahun kami tidak bertemu, aku kehilangan kontak sama sekali dengannya. Bahkan pada suatu kesempatan di masa liburan kudatang ke rumahnya, aku tidak dapat bertemu karena liburan itu ia tidak pulang kampung. Sama sekali nggak kami sangka-sangka, setelah selama ini, justru akhirnya kami bertemu di sini… Dikampusku… di Institut Teknologi Bandung.

Ah… setelah sekian lama, Indrie yang kukenal masih seperti dulu. Harus kuakui ada saat-saat dimana memori saat kami bersama di Moonzher kembali muncul, membuatku ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa tanpa beban dimana Aku, Tora, Yuni, Erni dan Indri masih berkumpul bersama, ngerjain tugas kelompok bersama, bikin yell-yell konyol bersama, cerita tentang gebetan ato artis idola masing-masing. Dan satu hal yang masih membekas adalah lagu-lagu westlife yang menjadi favorit indrie. Aku jadi ikutan hafal walaupun sejujurnya aku tidak terlalu menyukai boyband.

Tiba-tiba semua kenangan itu kembali menyeruak seakan terpanggil oleh sosoknya itu. Ia telah lulus dari studi S1-nya. Sekarang ia sedang mendaftar untuk mengambil S2 di kampusku yang super duper keren ini. Meski penampilannya masih nyaris sama seperti dulu, kami masing-masing telah tumbuh di dua lingkungan yang berbeda. Alhamdulillah, aku kembali ‘terjerumus’ dalam pelukan cinta dan ukhuwah di lingkar-lingkar halaqah, setelah selama 3 tahun di SMA hal itu menjadi suatu hal yang hilang dari hidupku. Belum banyak hal yang bisa kueksplorasi dari pengalamannya sepanjang 5 tahun ini. Aku hanya bisa berharap ia dapat lulus seleksi pendaftaran pasca sarjana, sehingga dapat melanjutkan studinya di sini.

Entahlah… aku tidak dapat mendeterminasikan bagaimana perasaanku secara persis saat kelas 1 SMA dulu. Beberapa teman lain juga menganggap bahwa hubungan kami terlalu dekat jika hanya sebatas teman. Meski begitu, backgroundku yang mesantren semasa MTs dulu memberikan sekat yang tidak ingin kulewati. Namun jujur, secara manusiawi sesuatu yang lebih dalam dari sekedar pertemanan sempat muncul tahun pertama kami sekelas. Walaupun begitu, as far as I know, kami berdua sama-sama menganggap bahwa kami hanya teman biasa saja.

Pada pertemuan tadi pagi tak banyak yang bisa kami obrolkan, hanya sedikit tentang kabar teman-teman kami, cerita soal adiknya yang kini di Seni Rupa ITB, cerita soal ibunya yang melihat sosokku sedang berkeliaran dikampus serta tak lupa bertukar nomor HP. Darinya Aku mendapat kabar terbaru soal salah satu teman kami dulu… Erni menikah!! Kuingat ia sempat bilang: “Gile nih, temen-temen gue udah pada nikah, gue aja sampe sekarang belom ada pacar.” Aku cuma bisa tersenyum datar mengingat apa yang ku jalani sekarang, bingung.

“Lo mo datang gak Rao?” tanyanya.

“Yah, gue sih pengennya dateng Drie. Tar lo calling2 gue lah, biar kita barengan kesananya.” jawabku.

Dan penggalan percakapan itu menjadi akhir perjumpaan kami. Perjumpaan yang membawaku pada perenungan panjang tentang masa lalu, hari ini dan masa depan. Semua hal yang kini masih tersimpan sebagai misteri dibalik kehidupanku yang berjalan entah akan kemana.

Finding My Own Edensor 1

Nggak nyambung-nyambung banget sama judulnya sih. Habis shalat jumat ini tiba-tiba jadi inget Edensor, seri ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang sekarang jadi salah satu bacaan paling berpengaruh di dunia sastra indonesia. Ya, inget gimana aku kehilangan kontak dengan Indrie 5 tahun ini mengingatkan aku dengan perjalanan ikal menemukan si… (haduh gw lupa) pacarnya yang dulu.

Ada sedikit (sedikiiiiiiit banget) kemiripan antara kisah keliling eropanya si Ikal denganku. Bedanya aku bukan keliling eropa, tapi keliling ke seantero dunia internet ditemani dukun paling sakti saat ini… Mbah Gugel. Misinya satu, menemukan kembali kontak dengan teman-temanku semasa SMA dulu, terutamanya si Indrie dan tentu saja Vie.

Dan akhirnya setelah pencarian selama 5 tahun ini, kenyataannya aku bukan menemukan mereka (kecuali Tora, yang ternyata tumbuh jadi mahasiswa-doyan-aksi sama sepertiku) tetapi menemukan kesimpulan lain dari pencarianku itu. Aku menemukan cinta yang berbeda dari apa yang kupahami semasa SMA.

Aku menemukan definisi sahabat yang berbeda dari apa yang kutemukan di masa-masa konyol kelas satu SMA. Di kampus ini pula aku menemukan ketertarikan terhadap sosok-sosok bidadari seperti Senja, Embun dan Pelangi, yang begitu jauh berbeda dari sosok Vie yang ku mimpi-mimpikan dulu.

Di kampus ini aku menemukan Edensorku…
Saudara-saudara baru yang mengenalkan aku dengan jatidiriku sebagai seorang muslim yang utuh
Yang tak henti mengingatkanku saat aku beranjak rapuh dan luluh karena kealpaanku sebagai manusia
Uluran tangan yang hangat menjabat erat tanganku yang hampir menyerah dalam keputusasaan
Jiwa-jiwa yang tidak beranjak mati walau badai menghempas mereka di retas jalan ini

Disini kutemukan kembali Edensorku…
Dunia yang dulu begitu akrab memelukku diantara sepinya malam yang menusuk dan raka’at-raka’at yang hening
Pagi yang senantiasa cerah disambut oleh hiruk-pikuk para santri mengejar dhuha disela jam-jam sekolah
Siang yang garang ditengah rutinitas mencuci, makan, bermain bola atau sekedar bercanda ria…
Sore yang kembali cerah menyapa seperti dulu saat aku masih menghafal ayat-ayat dari lisan yang terbata-bata

Dikampus ini kutemukan kembali… hangatnya Tarbiyah…

Gundah…

Tuhan, lapangkanlah dadaku agar selalu ada ruang untukku meletakkan harapan
Bahwa hanya Engkaulah tempatku dapat berharap….
Bahwa rencana Mu akan senantiasa menjadi pilihan terbaikMu bagiku…

Tuhan sisakan sedikit rongga lagi agar aku tetap dapat menjernihkan hati
dari prasangka yang senantiasa menghantui…
Membayangi langkah-langkah saudara ku di sudut mataku…

Waspada BREADTALK!

Tulisan ini saya ambil dari milisnya APRES-ITB. I think it urgent to be shared. So, bagi yang merasa muslim, silahkan baca:
Assalamualaikum Wr Wb.
Saya anggap berita inio penting dan perlu segera disebarkan, karena perusahaan ini ada dimana-mana Mall dan sering antri untuk beli di outletnya. Lihat juga attachment tentang Keutamaan menjaga kehalalan makanan
Kutipan :
MUI “Angkat Tangan” Kehalalan Roti BreadTalk
Selasa, 08 April 2008

Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat-tangan terhadap kehalalan produk roti BreadTalk. BreadTalk dianggap mengabaikan peringatan MUI

Hidayatullah. com–Kehalalan roti BreadTalk kembali dipertanyakan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak lagi bertanggung jawab atas kehalalan roti produksi PT Talkindo Selaksa Anugerah itu.
“Kami sampaikan kepada masyarakat, kami tidak bisa menjamin masyarakat lagi mengenai kehalalan roti BreadTalk,” ujar Kepala Bidang Sertifikasi Halal LPPOM MUI Muti Arintawati.
Muti, sebagaimana disampaikan okezone, Selasa (8/4) mengatakan, manajemen produsen roti milik pengusaha Johnny Andrean itu tidak memiliki itikad baik untuk memperpanjang sertifikat kehahalan BreadTalk. Sertifikat kehalalan dari MUI yang dimiliki BreadTalk sudah kadaluarsa sejak September 2007 lalu.
“Karena sertifikat itu hanya berlaku dua tahun. Kami sudah sampaikan beberapa kali surat peringatan tapi tidak direspons. Jadi kami tegaskan lagi kepada masyarakat Muslim bahwa MUI tidak lagi bertanggung jawab dengan kehalalan BreadTalk,” tandasnya.
BreadTalk didirikan pada tahun 6 Maret 2003 oleh George Quek, seorang wirausahawan yang sebelumnya memulai jaringan food court yang sukses di Singapura, Food Junction. Konsepnya berbeda dibandingkan dengan toko-toko roti lainnya pada umumnya, dengan memerhatikan penampilan toko yang dirancang agar terlihat eksklusif serta memperlihatkan dapur pembuatan roti kepada para pengunjungnya melalui kaca transparan.
Tahun 2005, MUI pernah mengumumkan BreadTalk, Hoka Hoka Bento, dan Bir Bintang sebagai makanan dengan kategori subhat. “BreadTalk dan Hoka Hoka Bento dinyatakan syubhat (meragukan) dan Bir Bintang 0 persen alkohol dinyatakan haram,” demikian ujar Sekretaris Umum MUI, Dien Syamsudin, saat jumpa pers kala itu. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah. com]

Kutipan selesai
Wassalam

Ke-tidaknetral-an detikbandung.com

Kalo diliat-liat, sepertinya detikbandung kok berat sebelah ya? Artikel-artikel berkaitan pilgub jabar cenderung menyerang ke PKS. Bisa diliat juga di artikel tentang pelempar bom molotov di kab. bandung juga yang di tekankan di sana tentang pelakunya yang diduga sakit jiwa sehingga nggak pantes dihukum. Berita lainnya:

Btw, selain itu statement Gusdur kok tendensius banget ya (walaupun ~seperti biasa~ ngaco dan nggak berdasar)?

Menanggapi hal ini, Gus Dur merasa bahwa pilgub Jabar memang bagian dari sebuah konspirasi besar. Dirinya menegaskan akan membeberkan konspirasi tersebut.

Pilgub Jabar ini sebenarnya cuma bagian dari konspirasi besar. Dan ini harus segera dibeberkan di depan umum,” ungkap Gus Dur dalam rilis yang dikirimkan ke redaksi detikbandung, Sabtu (19/4/2008).

Menurutnya konspirasi di Pilgub ini sudah jelas. Diungkapkan Gus Dur, ada pihak yang menghalangi pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim memimpin Jabar dikarenakan perbedaan kepentingan.

“Saya tahu sekali kalau Pak Agum tuh jujur orangnya. Bersih gitu,” kata Gus Dur.

……

Disebutkan juga bahwa selama ini Aman selalu menjadi korban Black Campaign oleh pasangan calon lain. Salah satu contoh yang diberikan oleh Nurul M. Anggalaksana, kasus di Cianjur dimana oknum PKS diduga memasang pamflet berisi pencemaran nama Aman.

Sudah, PKS itu ditangkapi saja dan calonnya didiskualifikasi. Saya tahu mereka dapat dana dari mana saja untuk membiayai semuanya,” tegas Gus Dur seperti dilansir dalam rilis.

Didetikbandung juga sepertinya emang sempet jadi tempat kampanyenya AMAN. Di kode html halamannya juga masih kesisa embed-an iklannya tuh(dikasih warna pink).

<!-- Content -->
<table width="865" border="0" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" id="contentdalam">
<tr class="c001">
<td valign="top" class="c002"><img src="http://www.detikbandung.com/image/daerah001.gif" width="3" height="1" hspace="0" vspace="0" border="0" /></td>
<td valign="top"><img src="http://www.detikbandung.com/image/daerah002.gif" width="8" height="1" hspace="0" vspace="0" border="0" /></td>
<td valign="top" id="kiri">
<div id="bannerB1">
        <a href="http://ad.detik.com/link/detik-bandung/bdg-iringpersonal.ad" target="_blank">
<img src='http://ad.detik.com/images/detik-bandung/bdg-iringpersonal300x250.gif' WIDTH='300' HEIGHT='250' border="0"></a>
<!--<EMBED NAME='flashfile' src='http://ad.detik.com/images/detik-bandung/bdg-cagubaman300x250.swf' menu='false' quality='high' WIDTH='300' HEIGHT=250 TYPE ='application/x-shockwave-flash'></EMBED> -->

Gus… gus, bikin statement ini mikir nggak sih? Kayak saya aja. Ckckckck…