Antara PKS dan celana Jeans

Alhamdulillah, minggu ini aku insya Allah akan terberdayakan lagi buat bantu-bantu di protokolernya DPW. Ada hal remeh temeh yang sedikit yang menggelitik aku untuk berkomentar. Yaitu instruksi saat brifing beberapa hari lalu. Hmm… nggak ada yang aneh dengan briefingnya, cuma instruksinya itu lho… di hari-H nanti kita yang cowok diminta untuk menggunakan celana jeans bro…! Tumben-tumbenan ini mah. Alasannya, itu rikuest dari panitia pusat untuk para protokoler sebagai bagian dari usaha “New Look, New Image” *gedubrak*. Aku sih tetep seneng-seneng aja, berhubung biasanya kalo tugas pasti dikasih seragam, minimal kaos ato kemeja. Tapi jangan salah ya… itu bukan berarti aku ikut nimbrung buat ngejar kaos/kemeja, itu mah sekedar side effect aja… yang utama, aku ada kesempatan beramal dan berinteraksi dengan ikhwah yang lain biar nggak futur.

Yang bikin menggelitik sebenarnya saat para protokoler tiba-tiba bengong dengan instruksi tadi. Berhubung emang rata-rata kagak pernah lepas dari celana bahan dikeseharian kita, instruksi ini emang agak sulit dipenuhi. Aku sendiri seumur-umur cuman pernah sekali punya celana jeans. Itu pun udah bertahun-tahun yang lalu, waktu aku belom tinggi-tinggi amat dan belom gembrot kaya bapak-bapak sekarang. Nah lho… sekarang pasukan protokoler kita jadi pada bingung. Dan saya yakin pertanyaan yang mungkin sama dalam pikiran kami semua adalah:

“Kemana ya ane nyari pinjeman celana jins?”

ato

“Hadooooh… masih ada duit nyisa nggak ya akhir bulan ini buat beli celana jeans?”

Tapi bukan kader PKS kalo kagak tsiqoh sama instruksi mas’ul. Toh ini bukan hal fundamental (ushul) yang butuh diperdebatkan lebih lanjut. Cuma sekedar sedikit manuver dakwah yang harapannya bisa semakin memperluas coverage area dari para kader ini. Bukankah dimasa lalupun wali songo melakukannya melalui akulturasi budaya kejawen? So, sambil manggut-manggut laskar bocah berjenggot itu pun sepakat mengusahakan agar jargon “New Look, New Image” itu bisa terlaksana. Untungnya dari mas’ul paham juga dengan kondisi kita-kita ini, dan memberikan penegasan “mohon diusahakan, tapi ya… kalo ternyata sulit juga nggak papa.”.

Sekian dan Wassalam

Admiring Pelangi

11 thoughts on “Antara PKS dan celana Jeans”

  1. Kok… baru ini saya dengar ya… bukannya… (katanya celana jeans identik dengan… dunia barat…dan memberikan dukungan pada anti Islam)… dulu… (waktu masih mahasiswa) kalau ada teman yang berbusana jeans… sering jadi bahan petuah… atau karena sekarang jeansnya produksi… cibaduyut, jadi untuk promosi… produksi dalam negeri????

    yantis last blog post..Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah

  2. ketika sesuatu sudah menjadi besar
    dan kemenangan demi kemenangan dapat diraih,
    maka manusia akan berbondong-bondong mengikuti-nya…

    pokoke’ PKS-lah

  3. beneran kecepatan loading-nya lambat bro,
    sayang jika tidak diperbaiki,
    bisa-bisa pengunjung males untuk datang lagi.

  4. @ calon akhwat:
    Tentu insya Allah, tidak ada alasan saya untuk tidak tsiqah dengan instruksi tersebut. Kalo soal isi tulisannya seperti curhat… Yaa… memang curhat ukh, tapi saya berharap ini jadi curhat yang positif.

    @ Mbak Yanti
    Celana Jeans = Barat?
    Hmm… kalo gitu bagaimana dengan komputer, Handphone, pesawat terbang dll? Bukankah itu produk barat kebudayaan barat juga?
    Kalau dari sudut pandang saya, masalah penolakan tersebut esensinya lebih pada menggugat ketergantungan kita pada produk2 produksi barat tersebut. Dalam konteks yang berbeda, kultur dan kebiasaan dari objek dakwah merupakan pintu bagi seorang da’i untuk masuk dan mengikat hati si objek.
    Saya jadi ingat cerita tentang seorang ustadz yang belajar seluk beluk per-anjing-an (maksudnya metode pemeliharaan anjing) untuk mendekati seorang objek dakwahnya yang potensial, yang kebetulan memang hobi memelihara anjing. Kira-kira masalah jeans tersebut kurang lebih berhubungan dengan contoh tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *