Category Archives: mahasiswa

SYEC, Business Plan dan Quo Vadis Technopreneur ITB?

SYEC, Business Plan dan Quo
Vadis Technopreneur ITB?

 

Beberapa hari yang lalu akhirnya proposal
business plan untuk SYE-Challenge selesai juga. Akhirnya jadi juga nimbrung di
kompetisi ini, padahal sebenernya beberapa minggu yang lalu udah sempet down
dan gak kepikiran lagi ikut SYEC. Emang, gini nih kalo punya otak kreatif tapi
semangat angin-anginan. Kalo lagi punya ide suka gak kira-kira, maksain
Business plan jadi dalam semalam walau harus begadang dijalanin aja.
Ujung-ujungnya besoknya sakit, gejala tifus.

Tapi alhamdulillah, ada berkahnya juga
walopun sempet sakit pas udah deket UAS. Business Plan itu udah lewat 50% dalam
semalam, jadinya agak sayang kalo gak di jadiin sekalian. Bisnis yang dibuat
cukup menjanjikan, jadinya gak mikir panjang lagi langsung aku putusin untuk
dikirim. Kebetulan ditagih juga sih sama panitia, ada early warningnya segala.

SYEC sendiri singkatannya adalah Sampoerna
Youth Economic Challenge, suatu kompetisi Business Plan tingkat nasional hasil
kerjasama Sampoerna Foundation dengan FE UI. Kalo cerita sampe ikut lomba ini
sebenernya setengah koinsiden, gak sengaja liat milis. Kebetulan aku, Luthfi,
dan Sayid udah keburu bikin tim untuk IEC2, sayangnya proposal bisnis yang kami
ajukan gak lolos.

Emang sih, idenya rada sedikit maksain,
ide dari 3 orang disatuin. Ujung-ujungnya emang konsepnya rada ngambang dan aku
sendiri sempet down juga karena konsep itu akhirnya rada mentok di bagian
finansialnya. Cuman kita sepakat untuk ngejar dua kompetisi lagi, SYEC atau
kompetisinya Kokesma. Akhirnya kemudian muncullah ide bisnis sarapan pagi
fastfood. Sebenarnya sayid sama luthfi gak tahu menahu kalo akhirnya tim ini
udah didaftarin. Ide sampe jadi proposal pun bisa dibilang aku buat “sepihak”.
Untungnya respon mereka baik, dan ikut kalo nantinya kita lolos ke babak
selanjutnya.

Kalo liat peta persaingan, alhamdulillah
gak terlalu berat. Hari ini iseng-iseng ngitung kemungkinan lolos ke babak
selanjutnya. Hasilnya lumayan memberikan harapan. Dari 405 tim yang
mencantumkan nama, hanya 45 tim yang akhirnya mengirim proposal bisnisnya. Jadi
pada “level 0”, yang lolos “seleksi” 11% dari 405 tim. Untuk lolos babak
selanjutnya peluangnya 2:5, karena hanya akan ada 18 tim yang ikut babak
pembekalan mulai 8 Juli nanti.

Aku gak terlalu tahu medan, dan gak bisa
ngukur apakah proposal kami kualitasnya cukup bagus dibanding yang lain. Jadi
masih blank posisi kita dalam peta persaingan. Tapi jika ternyata lolos, babak
selanjutnya akan lebih ringan karena persaingannya 9 banding 18, alias fifty :
fifty. At least kalo kami tim terburuk ke-10 dari bawah kita masih lolos ke
babak final yang akan menentukan 3 dari 9 tim yang berhak untuk dimodali usaha.

Aku setengah bingung, setengah optimis.
Aku pengen banget bisnis ini jalan, dengan atau tanpa lolos SYEC. Tapi lebih
baik kalo lolos sih, gak susah nyari modal. Tapi, kalo pun gak, aku punya
rencana untuk tetep jalan dan nyari investor. The problem is, who will be my
team? Aku gak tau siapa aja yang mau total 100% ngejalanin bisnis ini. Hal ini
nambah kusut pikiran aku yang rada terkejut pas liat Cuma ada tim Prespro
Company sebagai wakil ITB di SYEC. Padahal kita punya IEC, tapi kemana calon
interpreneur ITB?

setahun kedepan

Bismillah

Setahun
kedepan

Pagi ini aku kuliah lagi. Gak kerasa dalam hitungan minggu
UAS akan menjelang. Beberapa kuliah sudah memberikan early warning waktu ujian.
Beberapa yang lain memberikan penugasan untuk persyaratan nilai akhir kuliah.
Dari tengah semester aku sudah bisa memprediksi, mana matakuliah yang
kemungkinan akan baik hasilnya dan mana yang berprospek membutuhkan ‘pendalaman
materi’ di semester akan datang.

Semester genap ini punya nilai tersendiri untuk ku dan
rata-rata rekan 2003. Ya…. normalnya juli ini adalah waktu wisuda bagi mereka
yang telah menyelesaikan Tugas Akhirnya. Tiba-tiba aku jadi teringat dengan hal
ini saat dikelas tadi rekan yang duduk didepan bangkuku membawa draft laporan
TA-nya. Perasaanku? Sejujurnya sedikit gundah. Bukan karena khawatir sebentar
lagi akan banyak rekan yang lulus, tetapi karena khawatir dengan TA-ku yang
belum juga aku mulai.

Aku sendiri agak aneh dengan diriku, sulit berkonsentrasi
pada suatu hal dalam waktu lama. Banyak hal dengan mudah mengalihkan fokus
perhatian ku sehingga beberapa hal yang seharusnya dapat selesai dalam waktu
singkat harus ku selesaikan dengan waktu lebih lama. Sepertinya sulit
menentukan prioritas adalah inti masalah ku. Bagiku setiap hal adalah penting
dan semua harus dikejar. Ini menyebabkan ku selalu bermasalah dengan
multi-tasking. Tetapi satu hal yang kusadari, aku harus terus belajar
menentukan prioritas sambil tetap berusaha untuk dapat mengatur waktu agar
dapat mengejar beberapa hal dalam waktu yang bersamaan.

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi, sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami lewati ini….

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat. Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal) yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi. Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar, kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan gerah yang luar biasa.

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit. Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini. Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR… It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk menerima kunjungan dari kami.

23 April 2007

Orang tua saja saya gak punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!! Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini. Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana” pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”. Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala, beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA. Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan “Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang. Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau, saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB. Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption watch.

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta, sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran
dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun
mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini
semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi
dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan
oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi,
sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami
lewati ini….

 

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai
lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting
stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat.
Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya
rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu
pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan
rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan
utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain
adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya
kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi
dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi
banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan
keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan
benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa
tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang
hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang
sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan
dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal)
yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi
sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya
dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa
terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah
diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi.
Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar
dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa
staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata
kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar,
kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan
gerah yang luar biasa.

 

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit.
Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari
sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada
kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi
Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini.
Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan
Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya
membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes
dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak
sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku
mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa
mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan
akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR…
It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut
pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and
blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled
crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk
menerima kunjungan dari kami.

 

23 April 2007

Orang tua saja saya gak
punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!!
Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still
unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing
special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku
makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang
terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini.
Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus
tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba
meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi
karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku
maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah
masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri
dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana”
pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si
satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai
jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”.
Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus
kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia
punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang
plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika
diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan
tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala,
beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami
pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts
from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan
kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah
melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA.
Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia
lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan
“Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan
bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang
bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak
akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia
tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar
Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah
Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang.
Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau,
saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

 

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB.
Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu
kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi
nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi
tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian
sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan
sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil
didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi
kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption
watch.

 

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama
kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan
pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam
di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi
ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan
untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya
mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang
benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta,
sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan
jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan
perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Tentang “Ketidak-dewasaan”

10 April 2007

Bercermin
pada “ketidak dewasaan”

Beberapa hari ini gw jadi rada sensi mendengar kata
“ketidak-dewasaan”. Klo nginget-nginget 1-2 minggu yang lalu gw pernah curhat
sama seseorang, gw emang ngakuin kadang-kadang gw emang sering menyikapi
masalah yang gw hadapi secara “tidak dewasa”. Makanya, saat gw denger istilah
itu lagi intens disebut-sebut di forum, ato juga didepan gw, gw jadi ngerasa
klo orang yang pengen disepet kayanya gw.

Gw jadi bertanya-tanya, harus begini kah treatmen yang
diberikan untuk mengobati ketidak-dewasaan gw? Ato ini cuma prasangka gw aja?
Ato sebenarnya “ketidak dewasaan” adalah suatu penyakit yang sudah mewabah
sehingga gw sebenernya hanya bagian kecil dari orang-orang yang mengalami
“ketidak dewasaan akut”? Gw sih rada bingung aja, soalnya hal-hal yang terjadi
beberapa hari ini dengan curhatan gw tadi serasa janggal untuk disebut
“coincidence”/ketidak sengajaan, klo gw mendengarnya berkali-kali didepan
telinga gw.

Bahkan ada seorang angkatan 2005 dengan entengnya bicara
didepan gw, “Kang, kapan sih dewasanya?”. What the Hell with that talk? Apa
maksudnya omongan itu? Apa iya, [mode paranoid “ON”] ketidak dewasaan gw adalah
sudah menjadi rahasia umum, yang beredar dari mulut kemulut? Sehingga gak ada
orang seisi dunia yang gak tau klo gw emang rada childish dalam menyikapi
masalah hidup gw? Apa jangan-jangan gw merupakan objek studi kasus yang
dilakukan di lingkar-lingkar halaqah, sampe-sampe 2005 aja bisa seenaknya
ngejudge gw?

Gw pengen ngaku, BIAR SEMUA ORANG TAU!! Gw emang rada
kurang dewasa dalam menyikapi permasalahan rumit yg gw hadapi!! Tapi satu hal,
yang kalian juga mesti tahu, GW JUGA PENGEN BERUBAH!! GW JG PENGEN BISA LEBIH
DEWASA DALAM MENYIKAPI PERMASALAHAN YG GW HADAPI!! Hanya “the question is How
To…?”. Karena selama ini yg mereka bilangin cuma MASALAH gw, gak pernah SOLUSI
masalah gw ini?

Gw juga pingin bisa kongkrit! Gw pingin bisa jadi orang
yang dapat diandalkan dalam team! Gw pingin, klo ada yang salah/harus dibenahi
di komunitas gw maka gw jadi orang yang pertama melakukan perbaikan….!! But the
question Is : “How to….?”. karena gak ada yang bilang ke gw, apa obat dari
kelakuan gw ini? Bukankah dengan mereka terus menerus membicarakan masalah gw
(ato gw sebagai masalah) dan berhenti sampai disitu tanpa kemudian ngasih
solusi, mereka cuma menambah jumlah orang yang gak dewasa dikampus ini? Padahal
katanya, selalu bicara masalah tanpa solusi adalah ciri ketidak dewasaan kita.

Gw pikir ini curhatan yg rada childish dari gw. Tapi seperti
gw bilang diatas, GW PENGEN BERUBAH, TAPI GAK TAU CARANYA!! Makanya, gw
keluarin tulisan ini di blog gw biar gw bisa dapet input, masukan yg semoga
membawa pada kebaikan? Gw percaya apa yang gw lakukan ini sebagai usaha untuk
menjadi lebih berintegritas. Mengatakan HITAM adalah HITAM, PUTIH adalah PUTIH.
Berani mengaku salah, untuk menuju suatu perbaikan!!

 

 

 

 

 

 

 

 

==Ardian Perdana Putra==

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Tekad!! Atau nekat??

 

 

 

 

 

 

 

 

nemu orang asin… eh asing di dalem sekre….

Pledoi bwt Bapak maling…..
pagi ini rada dapet pengalaman rada unik, semalem nginep disekre kabinet KM ITB, ktiduran karena cape. pagi pagi abis subuh niatnya mau ngerjain laporan tapi komputer sekre lemot, jadi gak banyak yg bisa dilakukan. yah, akhirnya nyetel “jadikan aku yang kedua”(mars poligami kalo kata anak-anak, tapi kata gw mah lagu tentang “itsar dan salamatushhadr“) dulu.
lagi asyik beberapa saat ngutakngatik pembahasan, sekelebat ngliat ada yang lewat dari pintu yang kebuka sedikit. langsung aja, naluri “ngejar maling” aku bangkit, keyboard aku lempar langsung aku labrak aja tuh orang. dia yg blom pake sepatu kaget…

kmu siapa?”
“ah gak mas, cuma numpang tidur, kecapean….”
“kok tau-tau ada di dalem?”
“ya, saya numpang tidur Aa.. kecapean….”
“emang bapak dari mana?”
“dari ciumbuleuit…”
lho kok dari ciumbuleuit, bisa kecapean terus ketiduran? emang aslinya mana?
saya dari panti asuhan *******”
“Saya periksa tasnya ya pak….?”
oh iya….”
aku cuma nemuin ada celana jins belel, sabun cair ukuran raksasa, handuk… tp aku curiga juga, karena alesan yang rada gak rasional diatas.
setelah aku interogasi, aku dapet info, namanya ngakunyatomi Hidayat“, yatim piatu, lahir 82, keluar dari panti asuhan tahun 2001, trus selama ini nggelandang, gak punya kartu identitas, gak punya tempat tinggal yang jelas, kerja serabutan(tukang bangunan>masak gampang banget orang percaya gitu aja nyomot orang jadi kuli bangunan, kadang dirumah makan….), ngakunya ke ITB jarang, seringnya nginep dimushala.
dari berbagai pertanyaan yang aku ajuin(selama dijalan ke pos satpam) gak ada yang bisa jadi bukti, kalo dia maling… (ato aku aja yang lagi rada apes sampe gak ada barang bukti). tapi di kantong celanannya ada pin KM ITB(kotak acrilic) dan pin bendera palestina. gak jelas bgt sih…. gingung. pas aku nulis ini aku baru nyadar, ada petunjuk baru…. pin km itbnya masih bagus bgt, padahal dia bilang dia simpen setahun…

di kantong dompetnya banyak gambar “kebon binatang” gak tau dapet dari mana….
duh, bingung…. jadi ketunda ngerjain laporan kp gara-gara nglaporin dia ke pos satpam.

terus terang sedikit ada rasa gak tega…. gimana kalo dia beneran gelandangan… gimana kalo sebenarnya dia memang bener-bener polos… buka dipolos-polosin….. pusing….

rasanya pengen ngehajar…. kalo ketemu maling gitar ku, sepatu Upi, rice cooker ibuku, sendal army, baju OSKM 06, dan simpenan “sembako nginep”….


ardian perdana putra

PRESPRO Design Co.Bandung

Company Profile, Brand&Logo Design, Graphic&multimedia Design, Creative Advertising, Comic-studio
Markaz Plesiran Building, 2nd Floor, Northeast Room
Phone: 022-2516823, 085624878208 mail: delcardino@yahoo.com

—–=====Sebuah Tekad!! Atau Nekat??=====—–

*****jodohkudatanglewatselembarkertas*****

nemu orang asin… eh asing di dalem sekre….

Pledoi bwt Bapak maling…..
pagi ini rada dapet pengalaman rada unik, semalem nginep disekre kabinet KM ITB, ktiduran karena cape. pagi pagi abis subuh niatnya mau ngerjain laporan tapi komputer sekre lemot, jadi gak banyak yg bisa dilakukan. yah, akhirnya nyetel “jadikan aku yang kedua”(mars poligami kalo kata anak-anak, tapi kata gw mah lagu tentang “itsar dan salamatushhadr“) dulu.
lagi asyik beberapa saat ngutakngatik pembahasan, sekelebat ngliat ada yang lewat dari pintu yang kebuka sedikit. langsung aja, naluri “ngejar maling” aku bangkit, keyboard aku lempar langsung aku labrak aja tuh orang. dia yg blom pake sepatu kaget…

kmu siapa?”
“ah gak mas, cuma numpang tidur, kecapean….”
“kok tau-tau ada di dalem?”
“ya, saya numpang tidur Aa.. kecapean….”
“emang bapak dari mana?”
“dari ciumbuleuit…”
lho kok dari ciumbuleuit, bisa kecapean terus ketiduran? emang aslinya mana?
saya dari panti asuhan *******”
“Saya periksa tasnya ya pak….?”
oh iya….”
aku cuma nemuin ada celana jins belel, sabun cair ukuran raksasa, handuk… tp aku curiga juga, karena alesan yang rada gak rasional diatas.
setelah aku interogasi, aku dapet info, namanya ngakunyatomi Hidayat“, yatim piatu, lahir 82, keluar dari panti asuhan tahun 2001, trus selama ini nggelandang, gak punya kartu identitas, gak punya tempat tinggal yang jelas, kerja serabutan(tukang bangunan>masak gampang banget orang percaya gitu aja nyomot orang jadi kuli bangunan, kadang dirumah makan….), ngakunya ke ITB jarang, seringnya nginep dimushala.
dari berbagai pertanyaan yang aku ajuin(selama dijalan ke pos satpam) gak ada yang bisa jadi bukti, kalo dia maling… (ato aku aja yang lagi rada apes sampe gak ada barang bukti). tapi di kantong celanannya ada pin KM ITB(kotak acrilic) dan pin bendera palestina. gak jelas bgt sih…. gingung. pas aku nulis ini aku baru nyadar, ada petunjuk baru…. pin km itbnya masih bagus bgt, padahal dia bilang dia simpen setahun…

di kantong dompetnya banyak gambar “kebon binatang” gak tau dapet dari mana….
duh, bingung…. jadi ketunda ngerjain laporan kp gara-gara nglaporin dia ke pos satpam.

terus terang sedikit ada rasa gak tega…. gimana kalo dia beneran gelandangan… gimana kalo sebenarnya dia memang bener-bener polos… buka dipolos-polosin….. pusing….

rasanya pengen ngehajar…. kalo ketemu maling gitar ku, sepatu Upi, rice cooker ibuku, sendal army, baju OSKM 06, dan simpenan “sembako nginep”….


ardian perdana putra

PRESPRO Design Co.Bandung

Company Profile, Brand&Logo Design, Graphic&multimedia Design, Creative Advertising, Comic-studio
Markaz Plesiran Building, 2nd Floor, Northeast Room
Phone: 022-2516823, 085624878208 mail: delcardino@yahoo.com

—–=====Sebuah Tekad!! Atau Nekat??=====—–

*****jodohkudatanglewatselembarkertas*****

MENGOPTIMALKAN IKLIM BERAKTIVITAS DALAM

MENGOPTIMALKAN IKLIM BERAKTIVITAS DALAM

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ANGGOTA

Diedit
dari “Analisis kondisi Kader dan Kaderisasi Nymphaea Sekarang”,

 September 2004

Oleh
: Ardian Perdana Putra

 

Apa yang bisa diharapkan dari kondisi
kaderisasi yang monoton dan hanya menjadi suatu tradisi yang berulang-ulang
tiap tahun? Kaderisasi awal Nymphaea tiap tahunnya disikapi tidak jauh berbeda
dengan acara Wisudaan setiap tiga kali setahun. Mengapa saya bilang begitu?
Kita lihat saja, variasi dan temanya boleh beda, tapi polanya tidak pernah
berubah.

Saya jadi bertanya-tanya, kaderisasi ada karena kita
butuh kader
, atau karena setiap tahun akan datang mahasiswa angkatan
baru di biologi
? Jika opsi pertama yang sedang kita lakukan, maka tentunya
kita sadar, kaderisasi muncul karena Himpunan ingin bergerak dari suatu kondisi
menuju kondisi yang lebih baik (dengan kata lain himpunan telah memiliki
suatu visi masa depan
yang dicerminkan dengan adanya suatu gambaran
“bagaimana seharus Nymphaea beberapa tahun lagi?”) . Dari sini kemudian akan
didapat suatu targetan-targetan pencapaian dari aktivitas himpunan dalam
beberapa tahun
. Kemudian barulah muncul kriteria-kriteria kebutuhan
kader untuk mendukung terlaksananya targetan-targetan tersebut
.

Kenyataannya di himpunan kita, yang terjadi adalah
pemegang wewenang pelaksanaan kaderisasi (badan pengurus Nymphaea), tidak
memfungsikan diri dengan memperhatikan analisis kebutuhan himpunan akan kader
yang tak lain timbul dari alur diatas. Yang terjadi adalah sebelum konsep dan
arah kaderisasi yang jelas muncul, yang lebih dulu terlintas dalam otak kita
adalah “kaderisasi awal Nymphaea terbagi 2 tahap, interaksi dan Intensif
(PPLN)”.

Sebenarnya, jika semangat berkegiatan bisa lebih
dihidupkan maka profesionalitas kader akan ter-upgrade dengan sendirinya.
Tetapi tentunya bukan sekedar sebuah semangat semata. Perlu adanya suatu
kepengurusan dengan karakter yang mendukung munculnya kreativitas dan ide-ide
cemerlang dari anggota. Hal tersebut kemudian saya rumuskan dalam misi yang
saya tawarkan, yaitu:

1. Membuka
peluang berkegiatan bagi seluruh anggota dalam orientasi pengembangan SDA di
berbagai bidang.

2.  Membentuk kepengurusan yang profesional,
akomodatif dan fasilitatif dengan membuka partisipasi anggota dalam
pewujudannya.

3. mengembangkan
pola komunikasi yang intensif dan efektif di himpunan, mewujudkan hubungan
kooperatif, mutual, dan sejajar dengan elemen kemahasiswaan lainnya, serta
menjalin kemitraan dengan departemen, elemen masyarakat.

4. membangun
orientasi pengabdian masyarakat dalam pengembangan potensi kebiologian.

Memang,
sebagai suatu lembaga yang sudah diberikan kepercayaan untuk mengelola
keberlangsungan himpunan, badan pengurus dituntut untuk mampu menyediakan
berbagai fasilitas yang membuka peluang anggota untuk terlibat dalam
berkegiatan, dalam bentuk pengadaan event yang menyerap orang banyak, support
akademik agar terbentuk pola yang seimbang antara keorganisasian dan
perkuliahan, mengusahakan ketercukupan finansial dari anggota dan berbagai
sistem pendukung agar tercipta suatu kondisi yang kondusif bagi pengembangan
soft skill dan kemampuan sosio-manajerialnya. Namun hal tersebut tidak akan
tercipta tanpa adanya support anggota. Karena himpunan pada hakikatnya adalah
keseluruhan anggota.

visi,misi,proker

Visi:

“ Dinamisasi Iklim beraktifitas di Nymphaea,
menuju Pengembangan Sumber Daya Anggota yang Efektif dan Kontributif”

 

Misi:

1. Membuka peluang berkegiatan bagi seluruh anggota dalam orientasi
pengembangan SDA di berbagai bidang.

2.  Membentuk kepengurusan yang
profesional, akomodatif dan fasilitatif dengan membuka partisipasi anggota
dalam pewujudannya.

3. mengembangkan pola komunikasi yang intensif dan efektif di
himpunan, mewujudkan hubungan kooperatif, mutual, dan sejajar dengan elemen
kemahasiswaan lainnya, serta menjalin kemitraan dengan departemen, elemen
masyarakat.

4. membangun orientasi pengabdian masyarakat dalam pengembangan
potensi kebiologian.

 

Proker:

a. Kondisional:

NHT (Nymphaea Home Tournamen)

Deskripsi :Sebuah
usaha untuk memfasilitasi minat dan
bakat anggota melalui lomba-lomba dan mengakrabkan anggota Nymphaea.

Pelaksanaan :
Bulan mei atau pasca UAS.

Tema :
belum terpikirkan.

 

Diklat Badan Pengurus

Deskripsi :
Pembekalan pengurus inti dan staf-stafnya dalam rangka penyatuan persepsi dan
merumuskan strategi pencapaian visi dan misi kepengurusan. Dibuat satu paket
bersama Musyawarah kerja.

Pelaksanaan :
sebelum serah terima jabatan Kahim, atau bulan pertama kepengurusan (Mei).

 

Bioexpo 2006

Deskripsi :
Serangkaian acara dalam kerangka keprofesian dan kebiologian dengan penekanan
orientasi Pengabdian Masyarakat. Hal yang ingin dicapai adalah kampanye publik
tentang aplikasi lintas disiplin antara biologi dan bidang-bidang ilmu lainnya
(yang terpikirkan: perminyakan dengan MEOR-nya, Pertambangan dengan bakteri
pemurni logam, rekayasa teknologi pangan dan sumber pangan alternatif, Konsep
green city dengan TL dan PL dll.). rangkaian acara itu akan dimulai dari awal
kepengurusan hingga akhir Pebruari. Dimulai dengan seminar FKHD dengan tema
Keprofesian berorientasi Pengabdian masyarakat.

Pelaksanaan :
sepanjang kepengurusan.

 

Nymphaea Goes To Pimnas

Deskripsi :
Usaha untuk merangsang semangat keilmuan yang prestatif di departemen melalui
support dalam pengadaan penelitian independen mahasiswa. Support dapat berupa
pengusahaan beasiswa riset, pembenahan di N-brain, kuliah orientasi (suatu
pembekalan awal bagi yang akan mengambil mata-kuliah Proyek ekologi, proyek
Mikro dan Biosistematik dengan targetan pembelajaran yang lebih optimal di
kuliah-kuliah tersebut).

Pelaksanaan :
sepanjang kepengurusan.

 

b. Yang lain : Wisudaan, Kaderisasi awal (interaksi), magang angkatan 2005,
Program pengenalan lapangan.