Ke-tidaknetral-an detikbandung.com

Kalo diliat-liat, sepertinya detikbandung kok berat sebelah ya? Artikel-artikel berkaitan pilgub jabar cenderung menyerang ke PKS. Bisa diliat juga di artikel tentang pelempar bom molotov di kab. bandung juga yang di tekankan di sana tentang pelakunya yang diduga sakit jiwa sehingga nggak pantes dihukum. Berita lainnya:

Btw, selain itu statement Gusdur kok tendensius banget ya (walaupun ~seperti biasa~ ngaco dan nggak berdasar)?

Menanggapi hal ini, Gus Dur merasa bahwa pilgub Jabar memang bagian dari sebuah konspirasi besar. Dirinya menegaskan akan membeberkan konspirasi tersebut.

Pilgub Jabar ini sebenarnya cuma bagian dari konspirasi besar. Dan ini harus segera dibeberkan di depan umum,” ungkap Gus Dur dalam rilis yang dikirimkan ke redaksi detikbandung, Sabtu (19/4/2008).

Menurutnya konspirasi di Pilgub ini sudah jelas. Diungkapkan Gus Dur, ada pihak yang menghalangi pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim memimpin Jabar dikarenakan perbedaan kepentingan.

“Saya tahu sekali kalau Pak Agum tuh jujur orangnya. Bersih gitu,” kata Gus Dur.

……

Disebutkan juga bahwa selama ini Aman selalu menjadi korban Black Campaign oleh pasangan calon lain. Salah satu contoh yang diberikan oleh Nurul M. Anggalaksana, kasus di Cianjur dimana oknum PKS diduga memasang pamflet berisi pencemaran nama Aman.

Sudah, PKS itu ditangkapi saja dan calonnya didiskualifikasi. Saya tahu mereka dapat dana dari mana saja untuk membiayai semuanya,” tegas Gus Dur seperti dilansir dalam rilis.

Didetikbandung juga sepertinya emang sempet jadi tempat kampanyenya AMAN. Di kode html halamannya juga masih kesisa embed-an iklannya tuh(dikasih warna pink).

<!-- Content -->
<table width="865" border="0" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" id="contentdalam">
<tr class="c001">
<td valign="top" class="c002"><img src="http://www.detikbandung.com/image/daerah001.gif" width="3" height="1" hspace="0" vspace="0" border="0" /></td>
<td valign="top"><img src="http://www.detikbandung.com/image/daerah002.gif" width="8" height="1" hspace="0" vspace="0" border="0" /></td>
<td valign="top" id="kiri">
<div id="bannerB1">
        <a href="http://ad.detik.com/link/detik-bandung/bdg-iringpersonal.ad" target="_blank">
<img src='http://ad.detik.com/images/detik-bandung/bdg-iringpersonal300x250.gif' WIDTH='300' HEIGHT='250' border="0"></a>
<!--<EMBED NAME='flashfile' src='http://ad.detik.com/images/detik-bandung/bdg-cagubaman300x250.swf' menu='false' quality='high' WIDTH='300' HEIGHT=250 TYPE ='application/x-shockwave-flash'></EMBED> -->

Gus… gus, bikin statement ini mikir nggak sih? Kayak saya aja. Ckckckck…

Blogger Keadilan Sejahtera… just an iseng banner!

Akhir pekan kemarin iseng iseng bikin desain beberapa banner sekalian mempraktekkan tutorial yang saya pelajari. Tutorial dari majalahnya comlabs ITB itu membahas tentang cara bikin button yang berkilau glossy kayak tampilannya window vista pake Corel X3. Trus kepikiran bikin banner iseng seperti tertera dibawah ini. Biar nggak dibilang melakukan operasi klaim-klaiman, disini saya coba sampaikan asalnya kenapa sampe kepikiran bikin banner ini.

Jadi ceritanya gini, sebagai Homo bloggerensis subspesies Narciscii, cuap-cuap dan celotehan saya di blog ini sebelumnya bisa dibilang agak nggak ke kontrol. Suka nyebut-nyebut sembarangan, nggak sopan ke yang lebih tua, yang setelah saya pikir-pikir (puaaaaannjjjaaaaaaaang) kadang nggak pantes. Makanya kemudian saya memutuskan ingin memperbaiki diri. Caranya adalah bikin resolusi untuk diri sendiri. Isi resolusinya adalah “ingin menjadi blogger muslim yang Peduli, Kritis dan Santun“.

Penjabaran poin-poinnya seperti ini:

  • Peduli disini artinya jadi blogger yang peka terhadap lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Nggak cuma sekedar jadi blogger narsis yang sibuk mikirin diri sendiri (jleb… kok gw banget ya?).
  • Kritis artinya nggak cuma sekedar peduli dan ‘menolak dengan hati‘ (kayak pernah denger slogan yang mirip deh… hehehe) kalo ada sesuatu yang nggak beres. Kritis disini harapannya, aku sebagai blogger juga bisa bertindak dengan lisan dan perbuatan.
  • Nah… satu lagi, Santun artinya dalam mengekspresikan diri, berkreativitas dan mengungkapkan kekritisan, ada nilai-nilai etika yang dijaga agar jangan sampai bikin orang sakit perut… apa lagi sakit hati.

Yeah… nggak ada yang sempurna dimuka bumi ini, namanya juga belajar. Tapi kalo nggak meniatkan diri untuk berubah, kapan lagi mau memperbaiki diri. Kita kan cuma disuruh untuk berusaha dan terus berusaha. Masalah hasil… itu ada faktor x yang menentukannya, yaitu kehendak Allah.

Niatku awalnya banner ini aku buat untuk pribadi lho. Tapi sengaja kubikin banyak macem, biar kalo bosen bisa ganti sesukanya. Tapi trus aku dapet ide lain, kalo bisa dipajang semua di blog mungkin bisa bermanfaat buat blogger lain. Siapa tahu ada yang berniat bikin resolusi sejenis buat dirinya masing-masing. Makanya kemudian aku buat semua logo ini bisa dipajang dalam satu posting berikut dengan kode htmlnya biar memudahkan orang untuk copy-paste ke dalam blognya.

Walaupun begitu, sebenernya ada satu hal yang aku takutkan. Yaitu saat ada yang masang, cuman tujuannya nggak baik, yaitu bikin ulah yang mencemarkan citra partai yang masih kupilih karena masih istiqomah dengan kejujuran dan kesantunan kadernya dalam berpolitik. Oleh karena itu aku menetapkan syarat buat mereka yang tertarik untuk memasang banner ini di blog masing-masing. Syarat ini wajib diikuti sebelum anda memutuskan memasang banner ini.

Syarat-syarat:

  • Blogger indonesia, apapun latar belakang suku, daerah dan agamanya, rajin posting min. 1 bulan 1 posting (tulisan sendiri).
  • Blog yang dipasangi banner tidak didominasi iklan (proporsi artikel harus lebih banyak dari iklan), dan mayoritas postingannya merupakan tulisan si pemiliknya, bukan BLOG COPY PASTE.
  • Bersedia memperbaiki diri menjadi seorang blogger yang Santun, Kritis dan Peduli seperti definisi diatas.
  • Bersedia menjaga citra positif yang dimiliki PKS sebagai lembaga (Karena dibanner ada logonya) dan tidak menyalahgunakan banner ini untuk tujuan propaganda negatif dan fitnah dengan mengatasnamakan PKS.
  • Bersedia memberikan janji tertulis untuk menaati persyaratan ini dalam bentuk komentar di artikel ini. Janji menggunakan nama asli (bukan nickname) dan email yang valid.
  • Persyaratan dapat berubah sesuai kebutuhan dan pertimbangan kemaslahatan orang banyak.

Saya nggak bisa memblokir blog anda jika anda tidak menaati poin-poin diatas. Tapi saya berhak untuk memamerkan Blacklist orang-orang yang menyalahgunakan banner ini.

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/BKS1.png" alt="" /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks-keren.png” alt=”” width=”191″ height=”113″ /></a>


<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks2.png” alt=”” width=”191″ height=”120″ /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks3.png” alt=”” /></a>

<a href=”http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner”><img src=”http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks4.png” alt=”” /></a>

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloks5.png" alt="" /></a>

<a href="http://ardee.cmsku.org/2008/04/blogger-keadilan-sejahtera-just-an-iseng-banner"><img src="http://ardee.cmsku.org/wp-content/gallery/portofolio/bloksV2.1.png" alt="" /></a>

Mak… aku jatuh cinta mak…

Mak… aku jatuh cinta Mak…
Pada bidadari misterius yang tiba-tiba nongol dengan sejuta keunikannya
Pada makhluk yang sebenarnya akupun tak tau persis seperti apa dirinya
Mak… coba deh lihat wajahku kalo lagi ngaca…
Tampangku yang nggantengnya standar ini terlihat kuyu
Lesu karena dadaku yang berdegup kencang nggak habis-habis
Rasa takutku yang nggak jelas ini membayangiku kemanapun mak…

Mak… aku jatuh cinta Mak…
Pada seorang akhwat yang berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak berkali-kali
Tetapi di waktu yang lain membuatku merenung tentang apa seharusnya arti C-I-N-T-A
Mak… coba deh sekali-sekali mampir ke otakku
setiap bayangannya lewat didepan pintu pikiranku aku cuma bisa menggedor-gedor dinding hatiku
seraya berteriak “Please yaa Allah… sisakan satu kapling di hatinya untukku… ”

Mak… serius beneran lho Mak… aku jatuh cinta
Pada seseorang yang berusaha untuk tidak kusentuh sebelum mendapat izin darimu
yang mati-matian kuberi jarak, hingga waktu yang tepat itu tiba
Tapi Mak… hatiku ini semakin uring-uringan memikirkannya Mak…
Ibarat bunga… lebah yang lain dapat kapanpun menghampirinya…
dan aku dalam harap-harap cemas hanya dapat berucap pasrah…
“please ya Allah… please… jadikan ia bidadariku dunia akhirat”

[untuk pertama kalinya… aku bisa meneteskan airmata karena makhluk asing yang bernama wanita]

Soulmate

Soulmate

[Markaz, 27 jan 2008; “Semoga Allah berkenan mempertemukan kita di surganya…”]

Sebuah hari diawal 2005

“Assalamualaikum Akhi…” sebuah suara memanggilku dari selasar kantin Salman. Kulihat seorang ikhwan berkacamata, dengan jaket Gamais coklat muda menghampiriku. Aku lupa-lupa ingat apakah aku pernah berkenalan dengannya.

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb.” kujawab salam itu dengan sedikit ragu. Tapi aku segera ingat bahwa beberapa waktu sebelumnya aku bertemu dengannya di acara briefing peserta sebuah daurah yang akan segera berlangsung.

“Eh, kalo D*** jadinya kapan sih?” tanyanya dengan akrab.

Masyaa Allah… nih anak, dengan seenaknya menanyakan hal itu di tempat umum seperti ini” batinku.

“Antum gimana sih, kan besok berangkatnya…” jawabku heran. Kok bisa ya dia nggak tau.

Respon berikutnya benar-benar membuatku terbengong-bengong, tiba-tiba saja dia tertawa ngakak tanpa dosa seperti anak kecil sama sekali tidak peduli dengan dimana kami berada saat itu.

Sebut saja Insan, seorang mahasiswa seangkatanku asal jakarta dengan logat betawi medok. Aku hanya mengenalnya sekilas saja di daurah itu. Sedikit kesan yang melekat di benakku, ia adalah figur yang kocak dan easy-going dalam melihat sesuatu. Hal ini cukup mencairkan suasana antar peserta yang kaku pada hari pertama. Kami memiliki kesamaan dalam beberapa hal, diantaranya sama-sama sulit dibangunkan saat giliran hirosah/jaga malam. Selain itu kami sama-sama ada di ‘barisan paling depan’ dalam mengejar jajanan disekitar lokasi daurah. Maklumlah, badan kami yang sama-sama ber‘porsi’ besar tidak tercukupi dengan makanan yang disediakan panitia. Sayangnya, sepulangnya dari daurah dia segera harus dirawat dirumah sakit karena masalah pencernaan.

Setelah daurah itu, tak banyak hal yang kutahu soal beliau. Kami hanya saling bertegur sapa saat berpapasan. Aktivitasku di kemahasiswaan dan beliau di Gamais membuat kami jarang bertemu.

[ … ]

Pertengahan 2005

Awal tahun ajaran baru telah datang. Dari seorang rekan yang ada di YPM Salman aku mendapat kabar bahwa akan dibuka pendaftaran anggota baru di asrama Salman. Kebetulan orangtuaku memberi ‘warning’ untuk mencari tempat kost yang semurah mungkin karena kebutuhan keluarga yang cukup banyak diawal tahun ajaran baru itu. Tanpa membuang waktu lagi aku segera mendaftar dan melengkapi prosedur. Aku yakin bahwa prasyarat minimal seleksi masih dapat kupenuhi walaupun untuk masalah akademik IP-ku pas-pasan.

Saat itu aku sedang harus fokus di persiapan OSKM dimana aku menjadi koordinator di salah satu tim. Kostku jarang kutempati karena selalu menginap dikampus. Saat itulah aku melihat bahwa keberadaan tempat tinggal yang dekat dengan kampus menjadi sebuah kebutuhan. Dan asrama salman adalah lokasi ideal sesuai kriteriaku itu.

Proses seleksi berjalan agak terlambat, padahal batas waktu habisnya sewa kostku telah lewat. Maka untuk sementara sebagian besar barang-barangku kutitipkan di salah satu sekretariat unit di gedung kayu. Aku mandi di kamar mandi masjid dan menginap dimanapun yang memungkinkanku untuk menginap seperti di himpunan atau di gedung kayu. Saat itulah akhirnya aku mendapat kabar bahwa namaku terdaftar dalam calon penghuni asrama dan diperbolehkan untuk mulai memasukkan barang ke asrama. Segera kupindahkan barang-barang yang sempat mengundang komplain dari anggota unit itu.

Kegembiraanku tidak berlangsung lama. Adanya perubahan prasyarat dari YPM menempatkanku pada posisi sulit. IP-ku yang pas-pasan membuatku tidak memenuhi rumusan prasyarat yang baru. Aku menjadi ‘tunawisma’ untuk yang kedua kalinya dan sekali lagi jadi penghuni gelap di gedung kayu.

Aku bingung karena sudah terlanjur bilang ke orangtua mengenai diterimanya aku masuk asrama. Saat itulah aku bertemu kembali dengan Insan yang segera menjadi sasaran curhatku yang bingung mencari tempat tinggal. Saat itu juga dia langsung menawarkan tempat tinggal sementara di kontrakan yang ia sewa bersama rekan-rekan ikhwah di Pelesiran. Aku belum juga terlalu akrab dengan beliau saat itu. Bahkan saat itu pertemuan kami setelah sekian lama tidak berpapasan di Salman.

Tanpa pikir panjang aku segera mengiyakan tawaran itu. Segera barang-barangku yang memenuhi bioter kupindahkan ke ‘Markaz’. Aku memang tidak mendapat kamar disana, tapi bagiku yang sudah berhari-hari tidur ala kadarnya di Salman, tidur diruang tengah sudah lebih dari cukup. Aku kadang tidur di karpet dengan jaket tebal peninggalan Ospek, terkadang pula aku tidur disofa rotan reot yang tidak seberapa lebar, yang membuatku harus melipat badan. Ramadhan tinggal dalam hitungan hari, sehingga bagiku saat itu lebih baik daripada harus menghabiskan Ramadhan dalam gedung kayu.

Tak lama kemudian Insan memutuskan pindah ke sebuah asrama, dia menawarkan kamarnya dilantai dua untuk kutempati bersama ikhwan yang lain. Aku akhirnya membayar beberapa ratus ribu untuk sekedar pengganti sisa masa kontraknya itu. Beberapa saat tinggal disana membuatku mengenal rekan-rekan baru secara lebih intens disana.

[ … ]

Januari 2006

Kata orang, kalau ingin mengenal lebih jauh tentang seseorang maka kita dapat melakukan perjalanan dengannya, makan bersama dengannya atau menginap bersamanya. Karena kami satu kontrakan, aku dan ikhwan yang lain jadi saling tahu lebih jauh satu sama lain. Tapi tidak ada yang lebih akrab denganku selain Insan. Dari interaksiku selama beberapa bulan, kami jadi lebih saling terbuka tentang masalah masing-masing. Kesamaan dalam masalah kestabilan amalan yaumian dan hubungan dengan lawan jenis jadi satu hal yang justru membuat kami bisa saling mengingatkan. Kami jadi tahu rahasia masing-masing yang tidak diketahui ikhwan yang lain. Kami sadar bahwa masalah-masalah itu adalah qadhaya bagi jama’ah, tetapi justru karena kesamaan-kesamaan itulah kami lebih mudah untuk saling menasehati dalam mengatasi kekacrutan masing-masing.

Pernah selama beberapa minggu aku jarang pulang ke Markaz, masalahnya adalah lagi-lagi ada pemberlakuan wajib tilawah bagi seluruh penghuni kontrakan. Aku seyakin-yakinnya yakin bahwa maksud dan tujuannya adalah bagi kemaslahatan dakwah sendiri. Ini masalah tarbiyah ruhiyah kami sebagai seorang Akh. Tetapi aku disisi lain merasa terganggu dengan sistem aturan semacam itu. Melihat jauh kebelakang, semasa dipesantren dulu pun, aturan yang ketat justru semakin membangkitkan semangatku untuk melawan aturan tersebut. Aku memang bukan tipe orang yang senang diatur.

Begitu pula dengan tahfidz dan mabit. Aku cenderung resisten dengan ajakan yang bersifat memaksa dari Rio, Andi, dan Angga. Kalau sudah begitu, apapun alasannya aku akan menolak, walaupun resikonya beberapa hari selanjutnya komunikasi antar kami akan kaku tidak akrab seperti sebelumnya. Toh kemudian kekakuan itu segera menghilang seiring waktu yang membuat kami lupa kejadian-kejadian itu.

Hal ini jauh berbeda dengan kondisi jika Insan yang bicara padaku, atau sebaliknya. Dalam beberapa kepanitiaan, aku berkerja dalam tim yang sama dengan beliau. Tak jarang kekonyolan-kekonyolan yang muncul dari kami berdua membuat kami semakin akrab. Terkadang memang ada sesi pundung-pundungan, tetapi taklama kami berdua akan segera bermaaf-maafan. Inilah mengapa kami bisa lebih menerima nasehat satu sama lain. Mengenai tilawah, hubungan ikhwan-akhwat atau hal-hal lainnya.

Dalam sebuah kepanitiaan daurah, aku pulang ke Markaz diantar Insan. Waktu itu baru saja terjadi insiden ceroboh yang sempat membuat kami ngakak berdua diatas motor. Aku harus berganti baju karena akan kekampus, sedangkan ia akan menjemput seorang ustadz di Kebon Kembang. Sebelum kami sampai dirumah, kami makan bubur di tempat langganan Insan sewaktu masih di Pelesiran.

“Eh Ar… kayaknya seru juga ya kalo ntar kita udah punya anak cucu, trus kita cerita-cerita soal pengalaman-pengalaman konyol kita waktu jadi panitia daurah kayak gini.” ujarnya sambil mulai menyantap bubur itu.

“Iya sih San, tapi…” aku terhenti sejenak, “masalahnya apa mungkin ya kita masih tetep dijaga (oleh Allah) untuk tetap istiqamah disini… (di jama’ah). Lo tau lah, kondisi tilawah gue kayak gimana.”

“Eh Ar… masalah tilawah mah kita sama-sama kacrut. Tapi serius lho Ar… walopun amburadul, menurut gue yang penting rutinnya.” ucapnya sambil menyambar kerupuk. “Gini-gini… jujur ya Ar… walopun jarang juga gue bisa nyampe sejuz sehari, tapi gue tetep ngusahain banget tilawah walopun cuma 1-2 lembar”.

“Masalahnya dirumah nggak kayak gitu San…” ucapku sambil menghabiskan suapan terakhir, “Gue lagi males pulang ke Markaz, soalnya selalu aja langsung ditodong soal tilawah sama anak-anak.” ujarku sebelum akhirnya memesan satu mangkok lagi.

“Gue setuju sih… emang seru seandainya kita semua bisa kumpul lagi pas udah punya anak-cucu. InsyaAllah banyak cerita sepanjang aktivitas kita di ITeBe. Tapi… nggak ada yang bisa ngejamin kita bakal tetep ada gabung di dakwah selepas dari kampus.” aku melanjutkan kembali sarapan kloter kedua ku.

“Ya… selepas dikampus sih nggak ada dari kita yang tahu Ar. Akupun pernah sekali-dua kali terpikirkan untuk keluar dan lepas…”

“Heh… gue jitak lo kalo sampe insilakh…” potongku setengah bercanda sebelum sempat dia melanjutkan ucapannya.

“Lha… kalo lo yang lepas, gimana?” balasnya sambil ikut memesan satu porsi lagi.

“Ya… lo jitak gue lah…” jawabku asal sambil tetap asyik dengan buburku.

“Lho… kalo kita berdua lepas gimana?” sambarnya nggak mau kalah.

“Ya… udah, kita jitak-jitakan…” sahutku yang segera di sambut tawa kami berdua.

Nggak kerasa. Kita sudah sama-sama ditahun terakhir. Sama-sama berjuang untuk segera nyemplung ke arena dakwah yang baru dan lebih Riil di masyarakat. Aku dan Insan sama seperti dulu, masih dengan candaan-candaan khas kami. Semakin banyak kisah dan obrolan konyol yang kadang-kadang masih saja nyerempet ke topik lawan jenis. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan yang ada, ternyata kami masih disatukan dalam panji yang sama… Insya Allah… bersama doa yang tulus, semoga tetap sama-sama istiqamah hingga ajal menjemput… Sehingga Allah mempertemukan kembali kami dan semua ikhwah lainnya di Surganya kelak. Amin…

Allahumma innaKa ta’lam, Annnahadzihil Quluub… Qad ijtama’at ‘ala mahabbatika, Waltaqqat ’ala Tha‘atika, Wa tawahhadat ‘ala Da’watika, Wa ta’ahadat ala nasyrati Syari’atika, Fawatsiqillahumma rabithatahaa… Wa adimmuddahaa… Wahdiha subulaha… Wamla’haa binuurikalladzi laa yakhbuu… Wasyrah shuduuraha bi faidzil iimaani Bika… Wajamilit tawakkuli ‘Alaika… Wa’ahyiha bi Ma’rifatika…Wa’amithaa ala SYAHADATI fii sabiilika… Innaka ni’mal maulaa wa ni’mannashir…

Wassalam….

*Admiring Senja*

Nb: Insan, Rio, Andi dan Angga adalah karakter nyata yang disamarkan (walaupun kemungkinan tetap dikenali siapa orangnya)

Sulitnya Merubah Mindset…

Dalam suatu taushiyah dipaparkan bahwa kualitas dan kondisi tarbiyah suatu kaum bisa dilihat dari topik obrolannya. Jika isi obrolan itu tidak lepas dari mengingat Allah, Amal dan pembinaan diri, maka kondisi masyarakat atau kaum itu sedang sangat sehat dan mengalami kemajuan. Tetapi jika isi obrolannya tersebut tidak lepas dari Ghibah (gosip), Candaan dan Gurauan, apa lagi mengarah pada seputar kebutuhan ego dan syahwat, maka serendah itulah kualitas dari masyarakat tersebut.

Dan…. Jleb… saya tersinggung dengan kalimat saya sendiri. Tiba-tiba saja saya ngerasa bodoh… ceroboh… dan rendah. Seberapa seringkah saya mengingat kelompok yang saya pegang? Amal yaumiyan saya yang masih segitu-segitu saja? Gimana mandegnya gerbong yang saya tumpangi berjalan?

Kemudian saya teringat dengan seberapa sering saya berdoa meminta kemudahan jodoh? Menghabiskan waktu-waktu saya untuk mendengarkan lagu favorit saya? Memikirkan bisnis saya? Lalu mana waktu untuk aku curhat dan berkonsultasi pribadi denganNYA?

Aku semakin merasa malu dengan diriku sendiri. Kalau saja memukul kepalaku akan meringankan sedikit beban pikiranku, maka akan aku pukul kepala ini sekencang – kencangnya… Bakaaaaaaaa (bodoh, bahasa jepang red.)!!!  Kata seorang rekan aku itu kurang amanah… atau kurang amal (tuh kan, jadi inget dampratan Akhwat 1,5 tahun lalu…)

Fenomena tadi aku rangkum menjadi sebuah kesimpulan… Merubah mindset memang tidak mudah… begitu pintu ta’aruf kubuka kuncinya… begitu saja tema-tema sejenis melayang dipikiran ku. Begitu sulit rasanya menghapus bayangan-bayangan itu kuhapus habis… Dan aku semakin merasa bodoh… ceroboh…

Bodohnya, kebodohan yang paling bodoh adalah hal tadi diperparah dengan mulut bawelku yang nggak bisa tahan untuk nggak cerita ke rekan yang lain… This stupid blabbermouth, makes things worse!!

Akhirnya, sepertinya aku harus merubah doaku…

bukan meminta untuk dilapangkan hati… tetapi untuk dimudahkan menutup mulut kecuali untuk kebutuhan yang seperlunya….

Wallahu A’lam bisshawab

Eighties Memory: Lost in Your Eyes (Debbie Gibson)

LOST IN YOUR EYES (Debbie Gibson)

I get lost, in your eyes
And I feel my spirits rise
And soar like the wind
Is it love that I am in?
I get weak in a glance
Isn’t this what’s called romance?
And that’s what I know
Cause when I’m lost
I can’t let go

(Chorus)
I don’t mind
Not knowing what I’m headed for
You can take me to the skies
It’s like being lost in heaven
When (and) I’m lost in your eyes

I just felt
Don’t know why
Something is there
We can’t deny
Ooh, when I first knew
Was when I first looked at you
And if I
Can’t find my way
If salvation
Seems miles away
Oh, I’ll be found
When I’m lost in your eyes

(Repeat Chorus)

I get weak in a glance
Isn’t this what’s called romance
Oh, I’ll be found
When I am lost In your eyes.

Pertanyaan Bodoh…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Astagfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…

Kesalahan yang kita lakukan terkadang harus kita bayar dengan mahal…

Buat ku, mahal itu bisa senilai dengan harga diri. Ya… gimana rasanya jika kita melakukan suatu kebodohan, didepan orang banyak yang membuat ekspresi stress kita nggak bisa sedikit pun menyembunyikannya?

Hari ini aku melakukan hal itu… dengan mengajukan suatu pertanyaan yang setelah terbengong-bengong beberapa saat ternyata kusadari bukan hal yang pantas ditanyakan pada seorang akhwat. Jderrrrrr…… gila!! Aku bertanya tentang kriteria seorang perempuan dalam memilih pasanganya! Dan gak kebayang seberapa gede rasa malu yang muncul dari efek pertanyaan bodoh itu.

Sepanjang shalat, aku jadi tidak fokus. Saat makan pun setiap beberapa menit aku mengaduh, menggerutu “bodoooooh….” sambil memukul-mukul kepalaku yang mumet. Teman yang waktu itu makan bareng dengan ku pun cuma bisa cengengesan mendengar cerita ku. Aku…. setress… setress… setres….

Kunjungi Stand GPH @Ganesha Entrepreneur Expo 2007


 

Publikasi pdf dapat di download di:

www.cmsku.org/publikasi-GEE07-fix.pdf

Publikasi pdf dapat di download di: www.cmsku.org/publikasi-GEE07-fix.pdf

Menikmati Masa-masa Penyembuhan

Ya… nggak banyak yang mau gw bilangin sekarang. Cuma sekedar pengen bilang kalo gw udah mulai sembuh setelah musibah beberapa waktu lalu. Ya… insyaAllah banyak banget hikmah yang bisa diambil. Seenggak-enggaknya gw jadi selebritis dadakan yang diinget orang gara-gara satu kata “KOLAK”. Konyol dan kurang elegan kedengaranya sih… Tapi mau gimana lagi, emang gw kesiram kolak mendidih sepanci…. Semoga nggak keulang lagi aja…. amien

Gw untuk pertama kalinya dijengukin nyokap ke bandung. Nikmat yang luar biasa mengingat gw belom pernah sekalipun di jenguk ortu dari setelah masuk ITB. Gw gak bisa berharap nyokap bisa lama-lama. Keluarga gw dapet mudik gratis dari BNI, jadi gw jg gak berharap hadiah itu melayang gara-gara harus ngejagain gw di bandung. Akhirnya gw harus ngerelain beberapa hari ngerawat diri sendiri dirumah. I know, it’s for better me… it’s make me more strong isn’t it?

Sekarang gw nekat ke semarang, padahal luka gw belum kering banget. Pertimbangan gw, disemarang yang ngerawat lebih banyak, jadi nggak terlalu ngerepotin. Di jakarta gw dititipin ke nenek di kampung melayu. Rada kasian juga sih… gw bakal ngerepotin banget disana. Dan lebih susah kabur kemana-mana (hehe… peace!!).

Berhubung gw ditawarin job juga dari bandung, so nggak lama lagi gw bakal nekat balik kebandung. Demi sesuap nasi seraup berlian, kerjaan desain gw jabanin. Itung-itung nambah modal usahanya GPH yang absolutely seret pisan…. Kantong super-duper kempes… So, here I come bandung…..

sekian dulu deh…

Still “Ardee’est Thing In My Life”

Ganti Jadwal deh… (terpaksa) Mudik

Bismillah….

Berhubung ibuku dapet mudik gratisan dari BNI dan bakal berangkat 10 Okt besok kesemarang, kayaknya aku gak jadi dibandung sampe malem takbiran. Banyak jadwal terpaksa dirubah. So biar semua enak, jadi gw putusin untuk pulang ke jakarta lebih cepet.

Let see… kalo gw ke semarang H+1 lebaran, dan gw memutuskan untuk pulang langsung ke bandung tanggal 19 Okt. Kira-kira enaknya tanggal berapa gw balik dari bandung biar ekonomis? No meaning sih… karena yang bakal jawab gw gw juga… Garing ya…

Just another Ardian Perdana Putra: Muda, Berkarya, Melayani site