Category Archives: renungan

Bercermin pada Ketidak-dewasaan

Bercermin pada Ketidak-dewasaan

[Markaz, 27 Mei 2007; “Ya Rabb, jadikan futurku, bangkitku, tidurku,dan bangunku hikmah”]

Kali ini aku ingin membahas kembali tentang masalah kedewasaan lagi. Bukan ingin protes atau menggerutu tapi mencoba berbagi hikmah tentang apa yang ku renungkan. Ini tentang keajaiban yang kita sebut “masa kecil”, dan tentang anugerah lainnya yaitu “dewasa”. Dua hal yang sering kita benturkan, seakan-akan sifat childish merupakan “musuh” dari kehidupan sebagai individu dewasa.

Semua itu berawal dari kekuatan dahsyat imajinasi

Pernah kebayang gak seandainya teknologi telekomunikasi gak pernah berkembang, mandeg alat komunikasi kita itu-itu aja. Bayangin gak pernah ada teknologi yang kita sebut GSM, CDMA, GPS, PDA, Wi-fi, atau yang lagi rada booming teknologi Handphone 3G. Bayangin juga seandainya tidak ada laptop atau PC di depan meja kerja kita. Bayangin juga seandainya sampe hari ini hanya ada telegram dan surat sebagai alat kita berkomunikasi antar daerah. Tentunya bagi kita yang sudah terlanjur dimanja dengan teknologi seperti sekarang hal itu serasa mustahil, kayak balik ke zaman batu katanya mah….!!

Kemarin saya baru saja menonton film dokumenter di Metro TV yang keren abis!!! Film itu cerita tentang rahasia dibalik kemajuan teknologi telekomunikasi, yang secara khusus menyoroti Perusahaan Samsung. Film ini keren banget karena merangkum semua yang secara teoritik telah disampaikan pak Gde Raka di Maninov, Pak Joko Siswanto di Sistem MSDM, dan Pak Iwan di Psikologi Industri. Dengan kata lain, film ini isinya TI banget, tapi disini saya hanya akan membahas aspek rekayasa dan inovasinya aja.

Berterimakasihlah pada otak-otak kreatif yang membanjiri industri telekomunikasi dengan ide brilian yang tidak habisnya. Tanpa kita sadari dari “kepolosan” imajinasi mereka, kebebasan pikiran mereka dan terutama gejolak kreativitas yang tanpa batas, hal yang dulunya mustahil kini menjadi nyata dan biasa bagi generasi post-modern ini. Itu semua tanpa kita sadari sebenarnya muncul dari pola berpikir kekanak-kanakan mereka, para desainer produk itu. Contoh kecil itu, plus sederet ilmuwan sekelas Newton, Da Vinci, Ibnu Sina bahkan Einstein sekalipun cukup untuk menjadi suatu alasan bahwa imajinasi kekanak-kanakan bukan suatu pantangan untuk menjadi lebih dewasa.

Harmonisasi sisi dewasa dan kanak-kanak kita

Namun kemudian muncul suatu pertanyaan, lalu mengapa ketidakdewasaan menjadi suatu masalah besar bagi sebagian orang. Mengapa kemudian ia seakan menjadi suatu penyakit yang harus dijauhi. Apa dengan meninggalkan sifat kekanak-kanakan kita akan membantu kita untuk semakin berwatak dewasa? Apakah sifat kekanak-kanakan kita adalah aib yang harus dibuang agar kita dapat menjadi manusia seutuhnya. Atau justru orang yang alergi dengan ketidak dewasaan tadi hanyalah orang dungu berpikiran dangkal yang jauh dari kemauan berkembang.

Sekali lagi menghindar dari menggerutu, kemudian saya pikir justru malah ada hikmahnya Allah memnyisakan sifat ketidak dewasaan dalam pikiran dewasa kita. Justru sifat ketidak dewasaan kita adalah alat kita untuk bercermin menjadi lebih dewasa. Kadang kekakuan pikiran dewasa kita membuat pikiran kita menjadi terlalu rumit dan njelimet dalam melihat masalah. Masalah sekitar kehidupan kita yang ribet itu mungkin saja justru menemukan solusinya dalam imajinasi childish kita yang sederhana, polos dan naif. Terbukti dari studi kasus teknologi HP Samsung diatas.

Tentunya pendapat saya ini bukan suatu keberpihakan terhadap sifat kekanak-kanakan. Justru baik sisi kanak-kanak kita maupun sisi dewasa kita harus berjalan harmonis agar hidup kita menakjubkan. Keduanya sebaiknya kita lihat sebagai dua sisi mata uang yang saling menguatkan satu sama lain. Karena sisi kekanak-kanakan yang terlalu dominan pun membuat kita rapuh terhadap hantaman masalah hidup. Kita akan dengan mudah terombang-ambing dalam imajinasi kita, sehingga saat berbenturan dengan realita yang kontras kita mudah menyerah, stress, depresi.

Karena itulah aku berpikir untuk membahas sisi sebaliknya tentang ketidak dewasaan. Sisi gelap dari perilaku kekanak-kanakan yang dapat mengacaukan kehidupan kita, yaitu sikap reaktif. Suatu kelebihan dari pikiran dewasa kita adalah sistematis, runut dan teratur yang menghasilkan sikap proaktif. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya berlawanan menurut saya, justru dapat berjalan sinergis dan konstruktif.

Gejolak reaktifitas dalam diri kita dapat kita manfaatkan untuk mensimulasikan perilaku kekanak-kanakan kita tanpa menunjukkannya didunia nyata. Hal tersebut mendorong kita untuk sigap berpikir, namun cermat bertindak. Dari simulasi tersebut kita dapat memunculkan pertanyaan bagi diri kita, “jika saya bereaksi begini, bagaimana feedbacknya?”.

Mungkin kesalahan yang saya alami dapat menjadi contoh, yaitu bagaimana saya kurang dapat mengontrol sikap reaktif dalam menghadapi suatu masalah. Hal ini diperparah juga dengan sifat yang agak emosional dalam menyikapi masalah tersebut. Sikap saya tersebut tak jarang berakhir konyol dan memposisikan saya dalam akhir yang memalukan. Kemudian saya sadari bahwa hal tersebut tak perlu terjadi seandainya saja saya tidak menunjukkan sikap reaktif tersebut. Dengan mengeluarkan reaktivitas saya tadi dalam imajinasi saya, maka saya dapat memprediksikan apa dampak negatifnya tanpa harus mengalaminya langsung. Dengan begitu saya dapat lebih berhati-hati dalam bersikap dan dapat merespon dengan tepat atau dengan cara lebih baik (ahsan).

Itulah mengapa saya coba menggunakan kata bercermin dalam judul tulisan ini. Bercermin dapat kita tafsirkan sebagai usaha untuk melihat sisi-sisi diri kita yang kadang luput dari pandangan kita. Begitu pula dengan proses berpikir, khususnya problem solving. Kadang ada parameter/variabel dari masalah yang kita hadapi yang tidak terlihat oleh kakunya sisi kedewasaan kita. Hal tersebut mungkin saja dapat terdeteksi oleh imajinasi kanak-kanak kita.

Kita tidak perlu sampai berperilaku kekanak-kanakan untuk dapat menggunakan “cermin” tersebut. Cukup mensimulasikannya dalam pikiran kita, yang merupakan potensi utama kita sebagai manusia. Kita dapat memulainya dengan mempertanyakan “jika aku seorang bocah 5 atau 10 tahun, bagaimana aku melihat masalah ini?”. Atau misalnya dengan membiarkan imajinasi kita “bebas berkeliaran” sejenak, keluar dari kungkungan otak dewasa kita yang aus dan kolot. Atau apapun caranya agar kita dapat melihat sisi berbeda dari masalah tersebut yang tidak kita lihat sebelumnya.

Jangan Pernah Berhenti Bermimpi

Sebagai penutup, sebagai sebuah renungan saya ingin mengajak kita berpikir sejenak tentang betapa masa kecil merupakan sebuah anugerah yang tidak pantas kita lupakan. Mungkin pernah kita lihat film anak yang menggambarkan peri yang muncul saat masa kecil namun kemudian menghilang seiring usia yang beranjak dewasa. Begitu pula dengan imajinasi-imajinasi kita, yang bisa dikatakan hampir pasti berisi tentang keadaan dunia yang lebih baik. Jika itu kita miliki saat kecil, maka kita patut bersyukur, karena banyak anak-anak diluar sana tidak seberuntung kita, yang terhimpit trauma perang, bencana atau kemiskinan sehingga tidak lagi memiliki kesempatan punya mimpi.

Berbicara sedikit tentang “dunia yang hilang” saat kita beranjak dewasa. Tanpa kita sadari kedewasaan kadang membuat kita mengorbankan imajinasi kita waktu kecil. Hasilnya potensi besar yang dapat membuat kita merubah dunia jadi lebih baik tiba-tiba saja hilang. Berganti hal-hal rutin, teratur, terstruktur yang membuat kita berpikir linier tentang berbagai hal. Entah ada artinya bagi anda atau tidak, bagi saya berhenti punya mimpi gak berbeda dengan berhenti menjalani hidup. Karena tidak ada lagi sebuah “big deal” yang kita kejar saat itu. Kita berubah tak lebih sebagai mayat hidup yang terkungkung dalam sihir rutinitas keseharian kita.

Setelah kita miliki mimpi itu, selanjutnya adalah bagaimana menggunakan pikiran dan segala effort kita untuk mencapai mimpi itu, tentunya dengan tanpa meninggalkan prinsip hidup yang kita yakini. Karena hanya bermimpi sama saja dengan koma, tidak bergerak, terbuai biusan imajinasi kita sendiri. Mimpi harusnya membantu kita menjadi lebih teguh menghadapi realita hidup. Berani bangkit saat kita diuji dengan keterpurukan dan kegagalan. Semoga kita senantiasa dapat mengambil hikmah dari hidup yang kita jalani ini agar selalu menjadi hamba dan jundi-Nya yang lebih baik.

Alhamdulillah masih diuji dengan sakit

Beberapa hari kemarin ujian Allah datang berupa rasa sakit. Jumat dini hari abis begadang (tidur jam 2) nyelesein proposal SYEC, subuhnya bangun dengan kondisi badan terasa remuk dipersendian, pergelangan tangan mati rasa plus demam dan sesak nafas. Ba’da subuh akhirnya tidur lagi, dengan harapan bada pulih setelah istirahat agak lama ternyata tetap gak berkurang. Jam 9 pagi akhirnya kupaksakan bangun, langsung mandi. Alhamdulillah, jitu juga rumusnya, sakit kepalanya berkurang walau masih demam. Langsung kebayang presentasi jam 1 yang slidenya pun blum di buat.

Pas mau berangkat hendra minta diantar berobat ke klinik ganesha. Ternyata gejalanya sama aja, cuman lebih parah. Akhirnya “orang sakit nganter orang sakit”, yang setelah didiagnosa dikhawatirkan DB. Kita langsung disuruh tes darah ke boromeus. Alhamdulillah hasilnya negatif. Tapi justru karena mondar-mandir terus demamku makin parah.

Aku dan hendra mutusin pulang kerumah dan jumatan di Daruddakwah. Setelah itu…… aku tepar sampe ahad siang. Yang paling berat adalah saat jumat sore, karena anak serumah gak ada yang percaya aku sakit, paling mereka cuman nanya “lagi sakit mas?” dengan nada datar. Padahal kesiksanya setengah mati. Gaktau lah….. seluruh badan jadi kaku, sakit kepala sampe dunia kayaknya muter. Saat itu rasanya apa-apa serba salah, mau tidur kepala tambah sakit waktu bangun, mau bangun tapi kepala berputar-putar. Aku sempat halusinasi segala, jam dinding itu mundur waktunya, terus maju lagi…. parah lah….

Baru maghrib yudhis tau kalo aku sakit. Badanku mulai meriang gak jelas, aku gak makan seharian, sama sekali gak kepikiran. Waktu yudhis membelikan bubur pun aku Cuma makan 3-5 sendok minum obat, lalu tidur.

Dari sakit itu, ada tamparan sedikit dari Allah mungkin, entah untuk kesalahan aku yang mana, saking banyaknya. Pas sakit, yang kebayang bukan lagi ayat-ayat terakhir alfajr, tetapi justru ayat yang kurang lebih artinya “…seandainya aku kembali ke masa hidupku…”. Aku sempet ngebayangin kematian saat itu…

ide vs penyelesaian

Banyak ide, bingung penyelesaian = ngambang

Sesuai judul, itulah yang terjadi beberapa hari ini. Gak nulis, apa karena keabisan ide? Ide? Wuih, jangan ditanya….. ide mah banyak, justru saking banyaknya bingung menuangkannya. Dari awal bulan kemarin kejadiannya emang seperti itu. Kalo liat jumlah tulisan yang diposting, jumlahnya paling separuh dari jumlah tulisan yang dibuat. Sisanya? Blum selese juga sampe sekarang.

Apa sih masalahnya? Kayaknya masalah gaya nulis sama jam terbang sih inti utamanya. Ya… gitu deh, jam terbang jelas gak seberapa. Lha wong nulis aja angin-anginan. Kalo gaya nulis, semakin banyak kita nulis ternyata kita akan semakin kenal karakter ato watak menulis kita.

Kalo saya… dari ‘peneropongan’ yang dilakukan sampe saat ini, saya ternyata lebih nyaman bikin tulisan yang beralur, lebih ke narasi. Ini mengindikasikan bahwa saya tipe orang yang doyan cerita. Harus diakui, udah bawaan sanguinis melankolis kayanya.

Kalo bikin tulisan yang rada pilosopis (karena lieur… bukan filosofis) ato rada berat temanya, seringnya tulisan itu saya tinggal sebelum selesai. Kalo disini yang keluar sisi plegmatisnya, males ketemu ide tulisan yang ribeut ditengah jalan. Males, suka tiba-tiba bingung sendiri karena alur pikiran saya rada abstrak. Tau-tau udah tersesat entah kemana, trus gak tau harus traceback kemana.

Kalo ngliat fenomena kaya gitu jadi mikir. Kayak seakan-akan otak saya ada di ujung lidah. Banyak ide tapi sulit mengungkapkannya. Si otak selalu lari lebih cepet dari lidah sampe-sampe si lidah ketinggalan dibelakang. Ada yang baca gak ya? Kasi respon dunks…..!!

True Colors

Di sebuah channel TV lokal Bandung tadi sore gw nonton rekaman live accoustic performance dari Phil Collins (mmm… entah sih, ato genesis ya…?). Pas kebetulan baru banget nyalain TV, dan lagu yang dibawain judulnya True Colors. Sedikit penggalan lagunya “show me your true colors, thats why I love U….. bla bla bla”, yang walo gak ngerti-ngerti amat kayaknya sih kurang lebih temanya adalah tentang bagaimana keberagaman menjadi sesuatu yang harus kita syukuri dan apresiasi. Langsung aja inget sama isu pluralisme yang sering di gembar-gemborin sama anak liberal.

Bicara soal keberagaman, berbagai sudut pandang dan latar belakang telah mengakui bahwa keberagaman yang kita temukan dalam hidup ini merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dan potensi yang maha dahsyat. Anugerah tak ternilai karena tanpa adanya keberagaman, kita sebagai manusia dengan berbagai kekurangannya tidak dapat saling melengkapi. Potensi maha dasyat karena keberagaman memungkinkan kita untuk menciptakan kombinasi dan probabilitas yang tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan, menyebabkan hidup kita misterius dan penuh kejutan.

Bayangkan jika kita diciptakan dengan pola pikiran yang sama, latar belakang sama, watak yang sama…. betapa membosankan dunia. Tidak akan ada perdebatan dan diskusi yang seru, rapat yang dinamis, bahkan tidak ada sebutan baik-buruk, cantik-tampan-jelek, pintar-bodoh-lemot karena semuanya sama. Bayangkan jika ada suatu problem yang harus dipecahkan, semua berpikir ke arah yang sama. Bagaimana jika itu jalan buntu? Bisa-bisa jawaban ato solusi dari masalah itu gak akan pernah ditemukan.

Dalam ilmu biologi, diversitas menyebabkan kita survive dan dapat beregenerasi hingga hari ini. Kromosom kita yang jumlahnya dari dulu segitu-gitu aja (46 biji) menyimpan entah berapa banyak kombinasi yang unik yang membuat manusia tidak ada yang identik dengan manusia yang lain. Setiap orang menjadi memiliki berbagai temperamen, imunitas yang beragam terhadap berbagai macam penyakit, berbagai ukuran tubuh yang begitu unik. Bayangkan jika tinggi setiap orang sama! Betapa tidak serunya permainan basket.

Dalam ilmu manajemen terutama jika berkaitan dengan manajemen SDM, keragaman manusia menjadi suatu keuntungan sekaligus kesulitan tersendiri. Terdapat berbagai tipe pekerja dengan keterampilan dan keahlian yang khas sehingga dapat mengisi suatu posisi yang memiliki kriteria spesifik. Negatifnya kualitas pekerja beragam, karakter psikologisnya unik sehingga treatmen bagi tiap pekerja beragam dan tidak mudah di generalisir. Tapi dalam teori yang sangat fundamental dalam ilmu manajemen yaitu teori Taylor, pada dasarnya keragaman karakteristik orang adalah potensi yang memungkinkan terjadinya suatu pembagian kerja yang optimal karena setiap orang dapat diposisikan sesuai spesifikasi dan kekhasannya masing-masing. Hal ini secara filosofis merupakan hakikat dari Teamwork yaitu kesatuan kerja yang setiap elemen didalamnya dapat saling melengkapi sehingga tercipta suatu capaian kinerja optimal.

Hukum dan aturan kemudian menjadi suatu faktor penting agar suatu keragaman dapat kita optimalkan sebagai kekuatan bagi suatu komunitas. Hukum dan aturan menjadi suatu bentuk transaksi yang menjamin bahwa kelebihan yang dimiliki seseorang pada suatu aspek tidak berdampak merugikan bagi orang yang kurang dalam aspek yang sama, yang kuat tidak menindas yang lemah.

Sebenernya pengen dilanjutin ke masalah pluralisme vs pluralitas dan fitrah hakiki manusia serta mengapa logika pluralisme itu gak logis tapi gak jadi dimasukin, ntar ajah….

Yu dadah babay…… wassalamualaikum

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Mencoba untuk tidak pernah berhenti menulis

Bulan kemarin adalah bulan dimana aku paling rajin posting. Setelah sekian lama berhenti posting, ada berbagai hal yang mendorong ku untuk mulai kembali menulis. Seperti aku bilang beberapa saat lalu, kadang ide begitu mudah datang. Kadang seperti banjir yang melanda jakarta, deras walau tidak diundang. Tapi ada saatnya aku sulit sekali menyelesaikan satu tema secara utuh. Sepertinya untuk diriku sendiri hal ini harus ku analisis, di-troubleshooting, karena kupikir aku harus sedikit demi sedikit belajar untuk konstan menulis apapun kendala yang akan aku hadapi.

Aku coba berkaca pada blog seorang teman. Dibandingkan dengan dirinya jelas aku tidak ada apa-apanya. Aku coba berhitung frekuensi tulisannya dan kudapati rata-rata 3 koma sekian posting per bulan. Bukan angka yang besar, tapi patut digarisbawahi KONSTAN. Aku coba membayangkan tentang bagaimana seorang jurnalis profesional menulis. Mereka pasti dituntut untuk dapat menulis bagaimanapun kondisinya. Apakah sedang moody atau rileks, tuntutan profesi akan mendorong mereka untuk dapat mewartakan kebenaran plus melibatkan emosional serta keberpihakan mereka pada kebenaran itu agar orang bisa merasakannya dan pesan yang diharapkan bisa tersampaikan.

Bayangkan bagaimana jika suatu saat ia mogok menulis, menurunkan artikel. Padahal ada suatu isu yang masyarakat secepatnya harus tahu, kasus korupsi misalnya. Jika berita itu tidak segera sampai ke publik momennya akan hilang. Reaksi masyarakat tidak cukup massif untuk membuat si penjahatnya plus aparat mendapatkan tekanan. Kalau ternyata si wartawan berada dalam posisi kunci, dimana ia memiliki data paling lengkap dibandingkan wartawan lainnya, bisa-bisa sang koruptor sudah keburu berkelit dan kasus pun tenggelam tanpa penyelesaian.

That just an example…. Tapi sebagai refleksi, sepertinya aku harus berusaha untuk tidak berhenti menulis. Kadang tulisan dapat menjadi tempat diri kita bercermin saat kita tidak bisa bercermin pada diri kita sendiri. Karena ada hal yang bisa jadi kita sembunyikan dari diri kita sendiri. Sesuatu yang kita menolak untuk menerimanya. Saat kita menulis, secara tidak sadar kita bisa jadi menemukan kebenaran yang kita ingkari tersebut dan mengakui sejujurnya kebenaran itu walau pahit. Mmm, berat sih… berat untuk diakui.

Mengenai mengapa menulis di blog, sebenarnya jika diliat dari fenomena sosial sendiri, blog merupakan trend/kultur yang berkembang sebagai suatu pengaruh dari kebebasan mengungkapkan pendapat yang tidak terbendung didunia maya. Tidak ada yang dapat membatasi arus informasi sehingga kemudian dibutuhkan suatu wadah/sarana dimana semua orang bisa menuliskan opininya terhadap berbagai fenomena dalam persepsi mereka secara bebas. Blog menjadi wahana bagi seseorang untuk mewartakan apapun semau mereka kepada siapapun (jika ada yang membacanya) di internet. Blog bagaikan sebuah koran pribadi yang isinya dapat di atur sesuka authornya, yang bisa memasukkan apapun mulai dari surat cinta, sumpah-serapah, perenungan, curhat sampai sampah-sampah yang tidak perlu punya arti sekalipun.

Aku pribadi menjadikan blog sebagai wahana pencurahan daya kreativitas dan tempat berekspresi. Aku nyaris tak peduli ada atau tidak yang membaca blog ku ini, yang penting apa yang keluar dari imajinasi ku, dari otak ku, dari hati ku terdokumentasikan, tidak hilang terbawa angin. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sejujurnya walau tidak berharap banyak akan dibaca orang, aku masih tetap berharap bahwa tulisan yang ku buat selalu punya arti, bukan setumpuk sampah yang memenuhi server belaka. Maka dari itu aku tetap berharap, kalo toh dibaca orang maka ada inspirasi yang dapat diambil, ada hikmah yang bisa dipetik, seminimal-minimalnya orang enjoy dan have some fun saat membaca tulisan-tulisan ku.

Aku tidak seratus persen masa bodo jika tidak ada yang membaca tulisanku. Bagaimanapun blog ini adalah wujud kesepian yang aku ungkapkan. Sejujur-jujurnya aku menyisakan harapan bahwa blog ini di baca oleh seseorang, yeah… that person. Jika tidak ada yang membaca blog ini sekalipun, aku masih berharap dia membacanya. Hmmm, siapa ya…. Let’s put this thing always be a secret.

Series of Fortunate Event

22 April 2007, dini hari

Series of Fortunate Event

Believe or not….. beberapa puluh menit yang lalu saya sempat ketiduran dan bermimpi ngetik kurang lebih seperti apa yang saya lakukan sekarang. Like a De Ja Vu.

Kembali suatu episode kehidupan ku lalui, hanya fragmen kecil…. namun mungkin suatu fragmen yang “tidak biasa-biasa saja…..”. Catatan hari ini semoga merupakan serangkaian kunci dari pintu-pintu hikmah yang tersembunyi dibalik sepi senyapnya hari…. Suatu hari yang mungkin suatu saat akan terlupakan oleh orang. But at least,there is something too special to forgotten. Jadi, sedikit menunda tidur demi terdokumentasinya momen-momen yang baru saja kami lewati ini….

Hari ini akhirnya jalan-jalan kabinet terlaksana juga. Setelah berbagai lika-liku perubahan rencana…. dari awalnya ke jogja hingga akhirnya “banting stir” ke jakarta, akhirnya rombongan ini berangkat dan tiba dengan selamat. Saya ingat, walaupun sebagai panitia yang jarang ikut pembahasan (seingat saya rapat-rapat kami berjalan secara tidak efektif) sempat terbersit suatu pesimisme tentang keberjalanan acara. Terdapat ketidak puasan dikalangan rekan-rekan yang sebenarnya masih ingin ke jogja. Saat rencana berubah, tujuan utama acara pun ikut “turun harga”, kita gak terlalu berharap banyak selain adanya momen keakraban antar mantan kabinet ini. Jelas sangat berubah, awalnya kami menset acara ini sebagai suatu media transfer generasi kabinet, tetapi dengan banyaknya yang memutuskan untuk tidak lagi di kabinet, maka “studi banding” tak lagi cukup feasible. Sekarang tujuan lebih ke penguatan keterikatan antar bagian dari ex-kabinet ini.

Pagi hari pun datang, keberangkatan kami telat 1,5 jam, dengan plan benar-benar dalam kondisi yang tidak jelas. Tiba-tiba saja UI dan beberapa tokoh membatalkan….. untung saja, kepanitiaan ini diisi oleh orang-orang hebat seperti Nono, Beni dan Ninda (Great Thanks to Them). Dibantu Jalu yang sedang di Jakarta dan jaringan Dwi ke tokoh-tokoh, dalam beberapa menit plan dapat ditentukan. Setelah UNJ (satu-satunya tempat yang telah fix sejak awal) yang menjadi persinggahan pertama kami, maka rumah pak Adi Sasono menjadi sasaran kami selanjutnya. Nampak sangat kurang menjanjikan dengan hanya adanya dua tempat tadi, waktu lebih banyak habis dijalan, dan tujuan refresing serasa terkesampingkan.

Jelas-jelas acara jadi gak jelas saat tiba di UNJ, selain karena arah diskusi yang gak jelas karena tidak lagi bertujuan untuk pembekalan regenerasi. Juga karena saat itu tenyata BEM UNJ yang baru sebulan menjabat sedang berpencar dengan agenda masing-masing. Maka, yang tersisa hanyalah sekjen dan beberapa staff. Ada “suplemen tambahan”, suhu di Rawamangun yang terkenal panas (kata kamil), membuat tak satupun dari kami tahan. Agenda diskusi berjalan sebentar, kemudian kami lebih senang foto-foto sambil berusaha melupakan rasa penat dan gerah yang luar biasa.

My UnAdulty again….??

Bener kata teori, bahwa merubah karakter adalah suatu proses yang sulit. Bukan pekerjaan satu-dua hari atau satu-dua minggu. Memang butuh lebih dari sekedar kemauan kuat untuk melakukannya…

Selama keberjalanan di UNJ terjadi diskusi di panitia yang berujung pada kebimbangan pemilihan tempat. Opsi berkembang menjadi tiga, tetap ke pak Adi Sasono, dengan resiko tidak ada waktu keakraban, ke ancol atau ke taman mini. Hasil voting membawa kami ke Ancol, suatu hal yang membuat aku mempersalahkan Nono. Hal yang agak annoying ku pikir, kami serombongan bisa seenaknya membatalkan janji dengan tokoh seperti pak Adi Sasono. Kemudian muncul protes dari akhwat, yang menuntut tetap adanya jalan-jalan ke tokoh. Aku pun agak sedikit kurang sreg dengan keputusan ini.

Ketidak dewasaan ku muncul di sini. Dengan begitu mudahnya aku mempersalahkan Nono yang memang memegang tanggung jawab tersebut, tanpa mengkonfirmasi alasannya. Padahal, diakhir baru ku sadari bahwa, menentukan akan kemana bis yang kami tumpangi singgah adalah sebuah keputusan BESAR… It’s a BIG deal!! Wajar kalau kemudian dengan berbagai pertimbangan dari sudut pandang panitia (terutama panitia acara) kemudian muncul suatu keputusan…..

Bagaimanapun, ini refleksi untuk diriku sendiri. Irresponsible and blabbermouth that makes things worst. For that, I feel like an old fart-smelled crap…..

Akhirnya dengan lobi “ajaib” Dwi tiba-tiba Pak Iman Taufik bersedia untuk menerima kunjungan dari kami.

23 April 2007

Orang tua saja saya gak punya, apa lagi sepeda……

Saat mendengar namanya, aku awalnya tidak terlalu antusias…. gak kenal!! Tapi kemudian Dwi cerita, beliau adalah aggota MWA, enterpreneur. I’m still unappreciate it verywell. I predict, he is an Dosen-like guy with nothing special. Like Emil Salim, H.S. Dillon or the others I met before.

Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami sampai ke daerah Ciputat. Dugaanku makin kuat, rumahnya mungkin ada di gang kecil yang terselip didaerah yang terkenal macet, Ciputat. Kami sampai di Rempoa, jalanan mulai sempit disini. Pak supir mulai menggerutu, ia khawatir kami masuk ke tempat yang salah plus tidak bisa berputar karena besarnya bus yang membawa kami ini. Aku coba meyakinkan si bapak (hehe…. biasanya tugas guide itu dipegang kamil, tapi karena Kamil pamit pulang dan kebetulan Ciputat adalah “daerah kekuasaan”ku maka aku yang dijadikan referensi) bahwa kami ada dijalan yang benar. Setelah masuk beberapa lama, kami memutuskan bertanya.

Pertama, kami bertanya ke bengkel. Jawabnya, “oh nanti masuk gang ke kiri dik….”. Wah, memang benar dugaan ku, “ia pasti orang yang cukup sederhana” pikirku. Kesempatan kedua, kami bertanya pada satpam sebuah perumahan elit. Si satpam menjawab, “Lurus aja dek, ntar ada gang kekiri.”, pak supir yang mulai jengkel menyuruhku bertanya kembali utnuk memastikan, “pak, Bus bisa masuk?”. Dengan mantap pak satpam menjawab, “Oh, bisa banget mas. Pak Iman punya bus kok….”. Aku kaget karena dua hal, pertama ia dikenal orang sekitar, kedua dia punya bus, “juragan pool bus kah?” pikirku. Akhirnya setelah dimaki-maki orang plus gerutuan supir bus kami akhirnya kami masuk ke gang yang pas-pasan itu.

Kami mencari rumah No. 155, yang ternyata tidak terlalu jauh. Jika diperhatikan sepintas biasa saja, tetapi halamannya emang luas. Eh…. apaan tuh yang menyembul disela-sela halamannya? Sebuah bus, warna merah menyala, beberapa mobil, dan…… 1, 2, 3, 4….. ya empat lantai rumahnya. Bus kami pun kemudian di parkir di halaman rumahnya.

Nothing more amazing than the fact that all the things he reach is starts from a poorest life in his youth. Pak Iman Taufik memulai kuliahnya dengan kenyataan bahwa Ia seorang yatim-piatu. Ia dapat lulus dari MS ITB setelah melewati masa kuliah dengan kerja serabutan plus tetap nongkrong di DEMA. Montir, preman bayaran (satpam ilegal) dan berbagai macam pekerjaan pernah ia lewati. Satu kalimat yang sangat menyentuh adalah saat beliau mengatakan “Orangtua saja saya gak punya, apalagi sepeda…..” saat menggambarkan bagaimana kehidupannya dikampus.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai disitu. Satu prinsip yang bisa diambil dari beliau adalah tidak cepat puas. Ya…. nasibnya mungkin tidak akan seperti saat ini jika saja, di beberapa tahun awal pasca kelulusannya ia tidak meninggalkan pekerjaannya di singapura yang nilai gajinya sudah sekitar Rp 100 juta sebulan. Sekali lagi ia memulai semuanya dari NOL, dan dari sanalah Tripatra dan satu perusahaan lainnya berkembang hingga sebesar sekarang. Terlepas dari kemungkinan adanya distorsi antara realita dan tuturan beliau, saya tetap salut dengan apa yang beliau tuturkan.

Sebagai anggota MWA

Beliau sebagai anggota MWA, saat ini tugas besarnya adalah perapihan ITB. Karena tingkat “korupsi” di Kampus kita katanya cukup besar. Korupsi waktu kuliah, “korupsi” jabatan dengan adanya dosen yang makan-gaji-buta, Korupsi nama (proyekan yang dilakukan dosen ITB dengan menggunakan fasilitas ITB tetapi tidak ada imbal-balik profit ke ITB), dan mungkin saja korupsi dalam artian sebenarnya pun terjadi di ITB.

Butuh dukungan dari berbagai pihak agar gerakan perapihan ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Mahasiswa dengan satu perwakilan dapat turut andil didalamnya. Selain itu sebagai pihak yang dapat dikatakan independen dari segi kepentingan finansial ITB, mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai corruption watch.

Ending…..

Aku tadinya berencana pulang ke rumah dan balik ke bandung besok bersama kamil, karena sudah sampai ke daerah Ciputat. Tetapi akhirnya aku memutuskan pulang ke bandung bersama rombongan karena rasanya tanggung hanya beberapa jam di rumah.

Malam itu sebenarnya ada alokasi dana di panitia untuk makan malam, tetapi ternyata pak Iman menjamu kami. Lucunya dengan stok lauk pauk yang berlebihan untuk 50 orang peserta, beliau mengatakan “salah baca SMS” dan mengatakan hanya mempersiapkan makanan untuk 20 orang. Wow, gak kebayang kalo porsi 50 orang benar-benar beliau siapkan.

Akhirnya di saat akan pulang saya coba iseng bertanya ke beberapa peserta, sebandingkah acara seharian ini dengan 25 ribu yang mereka bayar, dan jawabannya adalah sangat berlebih serta tidak sebanding. Mereka puas dengan perjalanan hari ini. Thanks to Nono, Beni, dan Ninda.

Kumpulan Confessiography

Sebuah tekad! atau nekat?

Perkenalkan, namaku Ardian Perdana Putra, seseorang yang biasa-biasa saja.

Aku gak pernah tahu kapan aku mulai sadar kalo aku hidup, yang pasti sekarang jelas akan berbeda ceritanya jika aku gak sadar tentang mengapa aku masih hidup.

Aku lahir bertahun-tahun yang lalu, 28 agustus 1983 di daerah Kampung Melayu, Jakarta timur. Saat itu orang tuaku masih numpang di rumah nenek, tetapi tak lama kemudian kami pindah ke kontrakan di daerah mampang, karena kantor ibuku, BATAN ada di daerah mampang prapatan.

Entah apakah ini pertama kalinya aku coba untuk menuliskan diary/kisah hidup. Tetapi seingat ku sejak SD sebenarnya keinginan itu pernah ada, tapi tidak pernah terlaksana. Memang keinginan itu tak kunjung terlaksana terpengaruh oleh karakter ku yang gampang bosan dan senang mencoba, jadi saat keinginan itu ada, kadang hanya terlaksana beberapa kali, lalu lupa. Bisa jadi keinginan itu juga belum aku pahami tujuannya sehingga tidak ada dorongan cukup kuat untuk membuatnya berlangsung lama. Cuma mungkin sekarang berbeda, karena aku punya harapan dan hasrat lain dari tulisan ini.

Aku memang belum pernah menuliskan “diary” secara harfiah. Kenyataannya ada sedikit jiwa ekspresif didiriku yang membuat aku punya dorongan kuat untuk menuangkan imajinasi, atau lintasan pikiran yang ada dikepalaku secara tiba-tiba. Jadi secara nonformal aku menuangkan “diary”ku dalam berbagai bentuk. Kadang coretan-coretan abstrak tertuang begitu saja tanpa bisa dipahami orang lain. Saat MTs dan SMU aku suka menggambar maka aku tuangkan dalam gambar, aku juga kadang menuangkannya dalam bentuk puisi.

Tetapi kadang aku juga tidak dapat menuangkannya kebentuk apapun. Biasanya itu terjadi jika aku sudah memendam dan mengolah imajinasi tersebut hingga begitu rumit diotakku. Mereka jadi sulit keluar dan hanya muncul potongan-potongannya saja. Makanya pemikiran ku kadang sulit diterima orang karena aku punya dunia sendiri dalam kepalaku.



5Apr07

Seberapa besarkah arti sebuah nama?

Hemmmmm…… lagi pengen kenalan. Sejak pertama ngisi blog kayaknya aku blom pernah bener-bener memperkenalkan diri. Ya…. Mungkin saatnya. Perkenalkan namaku Ardian Perdana Putra. Namaku ini ada ceritanya loh…. Aku lahir bulan agustus 1983 dalam kondisi prematur 8 bulan…..[“Another grey day-Maaya Sakamoto” ON]. Jadi seandainya normal, aku bakal lebih muda ya….. namanya bukan ardian dong, eh… jangan-jangan gw bakal dinamain Septian…. Ato sepdian (halah ngaco…. Becanda]. Nama depan ku ini yg unik….. AR adalah nama bokap (Aris), DI dari nama ibu (walopun ga pas-pas bgt siy, Dyah, kalo ini beneran kayaknya nama gw harusnya ditulis ARDYAN), AN itu singkatan dari Anak. Ya…. Tapi kata ibuku ini sih versi yang gak jelas kevalidannya. Yang pasti kita sama-sama tahu lah ya…. Maksud dari PERDANA PUTRA…. Paling duluan nongol.

Ngomong-ngomong aku gak punya nama keluarga lho….. aku sempet bingung waktu kecil. Apa lagi pas belajar bahasa inggris. Bingung, soalnya klo orang sono kan klo nama belakang itu biasanya nama keluarga. Ya gitu lah…..

Klo bicara soal nama kayanya bagus juga bicara soal panggilan dari SD ampe Kuliah… soalnya hampir pasti selalu ganti, dan herannya gak nyambung sama nama asli.

Panggilan di SD itu sebenernya standar…. ARDI aja, cuma terus nambah…. Gw pernah dipanggil “profesor” sama anak-anak, soalnya cita-cita gw dulu astronot dan Ilmuwan. Ya… SD gak banyak kesan…. Maklum pedalaman….(pedalaman depok), masa-masa gw gak jadi jagoan…. Jadi bulan-bulanan temen yang superior. Tapi mereka gak berkutik pas lulus dunks….. dengan NEM lumayan tinggi gw masuk SMP favorit waktu itu, temen2 gue harus nyari sekolah swasta. Beruntung juga, soalnya gak pernah nyangka bgt. Gimana nggak lha wong pas kelas tiga aja gw nyaris gak naik kelas.

Pas SMP, walo pun Cuma sebentar (1 tahun) tapi kenangannya lumayan, terutama cinta monyetnya. Di kelas gw, 1.2 gw dipanggil Mpe… karena sipit…. Lengkapnya Mpe Tong Seng. Gw ngamuk sebenernya, tapi apa daya, tetep aja anak2 manggil gw kayak gitu. Temen-temen gw udah mulai kenal cimeng, BK ato minimal rokok. Gw? Gak usah diceritain lah… Tiba-tiba masa2 yang sebentar itu putus…. Gw masuk pesantren.

Dipesantren gw dapet panggilan baru lagi, PePe. Tahun pertama, gw masuk kamar 12 (dganti nama jadi Hudzaifah Ibnu Yaman @ asrama Khandaq). Kamar Hudzaifah dikenal sebagai kamar “Kandang Macan”. Gak ada senior yang cukup sabar untuk ngurus kamar itu. Satu per satu berguguran digantikan pengurus baru. Bahkan Kak Addin angkatan pertama MA(Gw angkatan III MTs) yang paling disegani sekalipun akhirnya gak dikamar itu lagi. Kamar itu kacrut bukan maen lah….. hari-hari pertama aja gw langsung ngajak ribut salah satu preman kamar itu. Kris… dia akhirnya gak lama di pesantren, keluar barengan sama sodaranya Mustofa abis kena kasus kemasukan jin yang bikin heboh satu ma’had.

Cerita kebandelan gw cuma beberapa orang yang tahu. Jadi ustad-ustad dipondok masih nganggep gw santri yg biasa-biasa aja. Paling yg tau sisi gelap gw Cuma Ust. Alm. Dadang Sa’dan. Gw kadang suka kabur dari pondok bukan pas waktunya izin. Aturan di pondok, boleh izin Cuma 2 minggu sekali di hari jumat(hari libur resminya pesantren). Shift izinnya ikhwan sama akhwat beda jum’at. Tapi tetep aja, gw denger sekarang santri lebih bandel. Dengan adanya HP, santri Ikhwan dan akhwat ada yg bisa janjian untuk ketemu dikota, pacaran. Kalo zaman gw itu mah hal langka, apalagi sampe pacaran, santri paling bandel aja ga bisa. Biasanya gw ke kota kuningan jalan-jalan, belanja, nonton dll.

Panggilan Pepe bertahan sampai tahun terakhir…. Masa-masa penuh suka-duka, masa paling soleh sekaligus paling brandalan….. Gw Bertahan di 5 besar mulai kelas 2 sampai 4(1-3 SMP normal, tahun pertama tahap I’dad). Semua karena gw deket dan sobatan banget sama Hidayat, Yayat, Zulfahmi dll yang pinter dan soleh. Gw banyak ngikutin cara belajar mereka (terutama pas ujian) dan karena daya inget gw yg lumayan kenceng, dalam semalam belajar, materi secaturwulan gw bisa kuasain diluar kepala. Akhirnya pas ujian gw bisa sedikiiiiit di bawah level mereka. Kebetulan gak susah2 amat, rata-rata materi hafalan dalam bahasa arab. Ditunjang dengan pengetahuan umum gw yang lebih lumayan membuat nilai gw kedongkrak. Jadi klo terima raport (ada 2 macem raport, Ma’had dan MTs/Depag) gw kalah di raport ma’had, tapi unggul di raport Depag.

Hingga akhir masa-masa pesantren gw lumayan naik pesat, dan akhirnya lulus dengan NEM terbaik ke-3 di Pesantren. Aku yang emang sejak kelas 3 udah gak tahan dengan aturan yang ketat di pondok dan memang ingin melanjutkan ke sekolah umum untuk mengejar PTN. Setelah diskusi yang berbelit-belit akhirnya aku direstui (terutama Ibuku, Ayah dari awal gak setuju aku masuk pesantren) dan boleh pindah dengan “beberapa syarat”.

Kemudian masuklah aku ke SMUN I Serpong (Setelah sempat tes di Insan Cendikia, lulus sih 20 besar, sayangnya biayanya membuat ku mengurungkan diri). Tahun awal diwarnai jet-lag…. dari pesantren yang homogen ke SMU yang plural dan Heterogen. Tapi mata ku ternyata cukup pintar beradaptasi, dan kembali cinta monyet mengisi hari-hari SMU. Cuma gw mah keitung cupu bgt lah. Gw cuma bisa jadi secret admirer. Udah, mentok!! Lebih dari itu cuma sekali gw nyatain “hal berbau monyet” itu, pas gw mau hijrah ke bandung sebelum naik kereta (gariiiiing……).

Yang gak gw sangka-sangka, tahun pertama begitu gemilang buat gw. Gw gak pernah seumur-umur mimpi jadi ranking I, dan ternyata kejadian dong…. Hattrick!! Tiga kali berturut-turut di kelas I. Padahal cawu 3 gw kecelakaan, beberapa hari menjelang ujian Cawu gw cedera dari basket, ujung-ujungnya tangan kanan gw patah dan gw harus ujian dengan tangan kiri….. yah…. Harus diakui, rada-rada sedikit ketolong nilai “kasih sayang”. Tapi eit… jangan salah nilai gw kedongkrak gak dateng dengan sendirinya ya…. Ulangan harian gw lumayan, yang bikin nilai gw ketolong.

Balik lagi kesoal panggilan…. Gara-gara indrie, temen duduk sebarisan pas kelas I, gw sempet nyaris dipanggil Firaun…. Gara-garanya dia ngliat gambar patung firaun di buku sejarah, dan katanya sih, mirip gw… Ting..tong… tau-tau dia teriak keliling kelas… dan efeknya sampe beberapa minggu gw tetep dipanggil Firaun. Tapi kemudian gw bilang keanak-anak, Firaun kurang keren…. gw tawarin “Pharaoh” sebagai penggantinya, untungnya anak-anak mau aja…. Akhirnya mulailah 3 tahun gw di SMU dengan panggilan baru…

Herannya ternyata terjadi juga distorsi, naik kelas berarti ganti temen. Panggilan itu (Pharaoh) pun akhirnya berevolusi…(ciee….. Huekkk…). Panggilan itu ditulis dengan bermacam madzhab…. Kadang-kadang Farao, parau, Varau dll. Ujung-ujungnya gw resmiin panggilan itu jadi tinggal 3huruf: RAO!! Klo tandatangan unofficial A-nya gw balik. Sampe sekarang, panggilan RAO masih tetep dipake di APRES. Anak-anak apres gak pada tahu nama gw Ardian, mreka taunya RAO.

Cerita Tentang Vie

Tiba-tiba saja teringat tentang beberapa tahun yang lalu. Saat aku baru saja kuliah ke Bandung. Cerita yang untukku sangat konyol walaupun bisa jadi biasa saja buat kalian. Cerita peninggalan jaman SMU ini, entah mengapa tiba-tiba muncul kembali. Ceritanya dimulai sekitar 6,5 tahun yang lalu. Juli 2000, masa-masa pertamaku melihat dunia luar setelah selama 4 tahun belajar di pesantren.

Pure Jail, begitulah angkatan atas menyebut pesantren kami. Di pesantren, hubungan antar lawan jenis nyaris tidak ada. Kelas kami dipisah, sehingga tidak terjadi kontak sama sekali antara santri putra dan putri. Segala aturan yang diberlakukan pun dibuat untuk memastikan hal itu terjadi, walaupun sebenarnya ada juga yang bandel dan melanggar.Tapi resikonya adalah siap-siap untuk dibotak atau dikeluarkan. Fenomena ”cinta monyet” santri menjadi warna tersendiri yang menjadi bumbu dari kehidupan dibalik pagar pesantren.

Empat tahun dipesantren membentukku menjadi figur yang dingin kepada lawan jenis. Saat memutuskan pindah sekolah selepas MTs agak terjadi ”jet lag”, aku kikuk menghadapi teman wanita di sekolah baruku. Islam memang mengatur masalah hubungan lawan jenis dan batas-batasnya, dan aku menjadikan sikap ku itu sebagai prinsip yang harus ku pegang. Hal ini kusadari sebagai sesuatu yang pantas ku syukuri, karena hingga kini aku rasa aku pantas berbangga dengan rekor ”tidak pernah pacaran” yang tetap ku jaga.

Namun begitu, pengaruh lingkungan ternyata begitu kuat untuk mengikis sedikit demi sedikit prinsip hasil gemblengan bertahun-tahun di pesantren. Aku mulai bersikap ”adaptif dan reseptif” terhadap nilai-nilai dan kultur anak-anak sepantaran ku (walaupun sebenarnya aku lebih tua dua angkatan seharusnya). Aku mulai belajar gitar, dengan gitar butut peninggalan Alm. Om ku. Budaya pop sedikit banyak mempengaruhi, walaupun aku cenderung selektif juga. Bagai manapun aku masih punya pertahanan diri untuk tidak meniru semuanya.

Hari pertama sekolah, seperti tradisi yang biasa ada, MOS berjalan dengan sangat garing. Aku tidak terkesan sedikitpun dengan acara ini, karena aku terbiasa kabur dan sembunyi jika ada acara baris-berbaris semacam ini saat di pesantren. Tetapi tetap saja ada yang masih dapat kunikmati, jadi tidak sepenuhnya MOS menjadi mimpi buruk. Teteh pendamping kelasku -sebut saja Rani-, kelas 2, berjilbab, anak Paskibra, begitu ceria dan gak bisa diam (saat aku menulis kisah ini, aku baru sadar kalau dia mirip seorang seniorku di Kampus yang begitu ”bercahaya”). Selain itu, ada seorang siswi baru dibarisan yang menarik perhatian ku. Vie, sebut saja begitu. Roknya pendek, diatas lutut membuat seragamnya lebih mencolok dibanding siswi lain. Ia seorang muslim namun sekolah di SMP katolik, membuatnya memiliki kultur yang sedikit asing buatku dibandingkan teman yang lain.

Alkisah, selesailah hari-hari nan aneh itu dan sekolah pun dimulai. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang. Aku memilih duduk didepan, barisan kedua dari meja guru dengan teman sebangkuku Tora, seorang batak muslim yang orang tuanya adalah mualaf. Di belakang meja ku ada Indrie dan Yuli, dua cewek ini ramenya minta ampun. Kami berempat tanpa sadar menjadi tim yang klop. Berbagai tugas kelompok sekolah kami kerjakan dengan formasi tim yang hampir selalu sama. Akhirnya kami menjadi seperti sebuah geng yang hampir setiap waktu bercanda. Diluar itu semua, aku menjadi ”secret admirer” dari Vie, yang duduk di baris ke 4 dekat jendela.

Entah mana yang lebih berpengaruh, kedekatan ku dengan geng ku atau karena keinginan ku untuk terlihat menonjol dihadapan Vie membuat ku bergitu menikmati belajar, walau untuk ukuran anak-anak dikelas aku termasuk salahsatu yang paling santai. Namun, toh tanpa usaha dan target yang muluk-muluk, ternyata aku rangking pertama di Cawu 1 itu. Hal ini untukku dan orang tuaku adalah hal yang mengagetkan. Jika masuk 5 besar aku masih tidak terlalu kaget, karena hal itu sudah tradisi saat di pesantren. Tapi untuk jadi juara kelas, aku bahkan tidak berani bermimpi.

Ada satu kegemaran baru ku saat SMU, menggambar, terutama komik. Saat kelas tiga MTs sebenarnya hoby ini mulai ada. Awalnya aku suka menggambar Conan, tetapi lama-lama aku memiliki style ngomik sendiri. Saat kelas satu ini aku mulai sedikit banyak meng-improve skill komikku. Aku pun mulai membuat komik-komik pendek, dan entah mengapa aku memasukkan tokoh Vie didalam komikku. Aku memberinya nama ”Tiara” disana, namun karena iseng saja maka komik itu hanya jadi dua scene. Selebihnya aku kesulitan untuk membuat cerita dan cenderung tidak fokus sehingga ada beberapa kerangka cerita yang muncul dibenakku, tetapi tidak satupun kulanjutkan jadi cerita yang utuh. Sampai sekarang, pengembangan cerita tetap menjadi kelemahanku. Aku malah lebih suka menguatkan teknik dengan gambaran-gambaran spontan yang memenuhi buku catatan ku disekolah.

Ada lagi hobby lain yang berkembang, berpuisi. Entah kesambet setan apa, aku jadi suka corat-coret puisi di buku catatan. Hingga kini beberapa diantaranya masih rapi tersimpan dikamar kost ku. Yah, bukan puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail, hanya coretan kata seorang siswa kampungan yang tenggelam dalam kegundahan cinta monyet. Kadang aku menuangkan fenomena-fenomena yang kulihat di sekitarku dalam rangkaian kata yang implisit. Puisi tentang ”dia” pun tak luput ku buat, bahkan aku pernah tuangkan dalam lagu dengan judul namanya.

Hasratku untuk eksist dikelas, semakin meninggi. Aku tidak puas hanya sekedar jadi ranking satu saja. Dari sanalah aku mengenal basket. Awalnya hanya karena basket masuk dalam mata pelajaran olah raga saja. Namun aku – yang awalnya mendribble pun gak bisa – tiba-tiba saja jadi begitu cinta dengan basket dengan support yang kudapatkan dari rekan-rekanku.

Rekan-rekanku yang cowok rata-rata senang olah raga apapun. Sedangkan aku, sejak dulu aku lemah dengan olah raga. Walaupun di pesantren lari pagi adalah ”menu rutin” dua kali dalam sepekan, aku lebih sering kabur atau kadang memotong jalan, karena bagiku jarak yang kami tempuh sangat jauh dan aku selalu tertinggal. Saat aku mulai mengenal basket di SMU ini aku sebenarnya sangat malu, karena aku tahu kalau rata-rata anak SMU saat itu pasti bisa basket. Namun aku bersyukur bahwa teman sekelasku tidak merendahkanku, bahkan bereka begitu besar memberikan semangat dan dukungan. Aku banyak belajar teknik-teknik basket dari interaksiku dengan anak kelasku ini. Saat itu aku jadi begitu mencintai basket, begitu haus akan semangat untuk bisa dan mahir dalam olahraga ini.

Ternyata aku tidak ditempatkan dikelas yang salah. Karena ternyata kelasku menjadi kelas yang paling maniak basket. Diawali dengan sebuah inisiatif dari beberapa rekan ku (ada Leo, James, Fajar, Ferry, Liga dll), kami melakukan latihan mandiri di lapangan ITI atau Puspiptek sehabis jam olahraga. Berawal dari sana, entah dimulai dari siapa intensitas permainan basket kami tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Dengan adanya rekan yang rutin membawa bola, kami jadi begitu betah di sekolah. Tiba-tiba saja menjadi sebuah trend, bahwa lapangan basket sekolah yang biasanya sepi kecuali saat jam Olah raga, tiba-tiba saja selalu ramai dengan basket. Hal yang perlu di garis bawahi adalah, kelas kamilah pelopornya.

Tiba-tiba saja kultur kami anak kelas satu berubah, tiada hari tanpa basket. Tidak peduli pagi sebelum kami masuk kelas (kelas 1 masuk siang) atau tengah hari bolong sebelum masuk, saat istirahat, saat jam pulang bahkan saat ada jam kosong di kelas, kami manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan BASKET. Secara spontan anak-anak kelas lain ikut turun dan bergabung, sampai-sampai para guru kesulitan untuk melarangan spontanitas anak-anak untuk tidak turun ke lapangan. Kenangan kelas satu ini begitu indah, sayang akhirnya menjadi mimpi yang sedikit buruk buat ku.

Hari itu adalah hari terakhir pertemuan olahraga sebelum ujian caturwulan 3. Seminggu lagi ujian akan dimulai. Seperti biasa setelah sesi wajib pengambilan nilai, waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bermain dilapangan. Awalnya hanya adu three point aja, tapi kemudian kami memutuskan main setengah lapangan. Awalnya aku agak enggan untuk bergabung, tapi kemudian aku ikut. Setelah sekian lama main, saat aku coba memblok sebuah tembakan, Ferry menabrakku gak sengaja. Keseimbangan ku hilang dan jatuh berguling beberapa kali. Aku, yang mengira itu hanya jatuh biasa saja coba untuk bangkit, tetapi saat kuangkat tangan kananku….. tangan ku menggantung tidak bergerak. Aku tiba-tiba saja seperti melihat sekelilingku dalam mimpi, kesadaranku hampir hilang, tapi aku segera tersadar…. tangan ku patah…..

Beberapa rekan segera menolong, tangan kananku segera ditopangkan ditangan kiriku. Saat itu tidak terlalu terasa sakit, walaupun sedikit ngilu. Apa yang kurasakan lebih karena trauma pada kejadian yang sama sekali tidak ku duga. Sekilas aku melihat Vie memandang ketakutan dan menutup mata saat ferry membawaku ke guru Olahraga yang sedang bicara pada siswi kelasku.

Aku segera dibawa ke ke klinik Puspitek untuk mendapatkan penanganan P3K. Wali kelasku segera menjemput orangtuaku kerumah. Segalanya jadi serba panik. Indrie, Tora, dan Yuli menyusulku ke klinik. Setelah orangtua ku datang, aku dibawa ke RS Fatmawati.

Aku agak merasa bersalah kepada orangtuaku walaupun ini adalah suatu kecelakaan, karena mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengobatan ku ini.Untunglah kami sedikit terbantu dengan adanya askes, karena ibuku pegawai negeri. Ada dua opsi yang ditawarkan dokter saat itu, menggunakan gips dengan resiko tulang tersambung tidak lurus seperti semula serta recovery yang cukup lama (3-7 bulan) atau operasi pasang pen (aku sampai sekarang gak tau gimana nyebutnya), yang mahal tetapi hasilnya lebih terjamin serta recovery yang cepat. Akhirnya aku dan orangtua ku memilih operasi, karena kami tak ingin aku cuti sekolah, dan aku pun tidak mau berlama-lama jauh dari Vie.

Aku cukup betah dirumah sakit, tetapi aku juga harus sadar jika semakin lama aku dirumah sakit maka semakin besar biaya yang ditanggung oleh orang tuaku. Akhirnya, setelah aku dioperasi, tiga hari kemudian aku langsung pulang. Dua hari istirahat dirumah, setelah itu aku ke sekolah, karena harus mengejar ujian yang sudah 3 hari berjalan. Tetapi sebenarnya aku tidak ada persiapan samasekali.

Ujian terlihat begitu berat untukku, apalagi tangan kananku belum bisa digerakkan sehingga satu-satunya opsi adalah aku ujian dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali belum pernah belajar nulis kidal. Terbayang olehku nilai yang akan keluar akan seperti apa anjloknya. Ujian bagiku sudah seperti hanya formalitas saja, sekedar menggugurkan kewajiban sebagai siswa.

Tetapi kekhawatiranku tidak terbukti, ternyata guru-guru seperti kasihan dan memberiku nilai yang cukup baik. Akhirnya aku masih menjadi juara kelas, walaupun sedikit kurang puas karena nilaiku bukan murni hasil kemampuanku.

Aku kembali bertemu indrie dan kawan ku dikelas, hal ini membangkitkan semangatku lagi. Dari rekan-rekanku aku dengar bahwa setelah aku kecelakaan, basket dilarang disekolah ku, terutama saat jam sekolah. Hal yang sama sekali tidak kami harapkan. Saat itu salah satu yang harapkan adalah segera sembuh dan kembali ke lapangan. AKU KANGEN SAMA BASKET….

Juli 2001…. Gak kerasa sudah satu tahun aku di sekolah ini. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa dulu, aku hampir saja masuk sebuah sekolah asrama lagi. Insan cendikia, satu-satunya saingan SMU ku di kecamatan. Mereka telah terkenal, melanglang buana diberbagai kompetisi nasional. Sebuah sekolah favorit yang didirikan oleh Habibie.

Dulu, sekolah ini memberikan beasiswa bagi seluruh siswanya, setelah Habibie turun dari pemerintahan beasiswa itu ditarik oleh pemerintah. Aku adalah angkatan yang kena getahnya. Beasiswa hanya diberikan pada 10 orang terbaik saat seleksi, dan aku tidak termasuk didalamnya.

Akhirnya harapan ku untuk masuk sekolah unggulan pupus, karena biaya masuk saat itu 7,5 juta. Angka yang gak kebayang buat keluarga kami yang setiap lebaran harus berpikir dua kali untuk mudik ke Semarang. Tetapi sebenarnya keputusan untuk tidak masuk ke sekolah itu lebih merupakan keputusan yang diserahkan orangtuaku padaku. Aku memilih untuk tidak masuk kesana, karena bagiku kulturnya terlihat asing dan terlalu mewah untukku.

Karena itulah aku memutuskan masuk ke SMU tetangga ini. Satu harapan yang aku pernah tetapkan, aku memang tidak masuk sekolah favorit, tapi aku akan jadi orang yang memfavoritkan sekolah ini. Sesuatu yang awalnya hanya mimpi belaka, tiba-tiba saja menjadi kenyataan!

Kelas satu adalah salah satu masa paling bahagia di SMU. Saat aku masuk kelas dua, formasi kelas berubah total. Hanya ada 2-3 orang yang berasal dari kelasku dulu plus beberapa yang kukenal di kelas lain. Sisanya, benar-benar teman baru untukku. Situasi kelas terasa sekali berpengaruh pada semangat belajarku. Aku pisah kelas dengan Vie.

Aku duduk dengan David seorang protestan yang taat. Cita-citanya adalah menjadi pendeta. Kami duduk dekat jendela yang menghadap ke depan kelas. Kami duduk bergantian di bangku pojok bergiliran setiap minggunya. Hehe, sebenarnya ini sudah menjadi strategiku untuk tetap bisa melihat Vie yang letak kelasnya menyiku dengan kelasku.

Saat itu aku rasakan semangat belajarku makin menurun, ditambah lagi beberapa juara kelas ada di kelasku. Aku semakin larut dalam hoby menggambarku. Belajar gitar dan membuat lagu juga menyita fokus belajarku. Akhirnya efeknya pada cawu 1 aku anjlok menjadi ranking 5. Aku sedikit shock juga, karena sudah mulai terbiasa masuk ”satu besar”.

Di akhir cawu satu ini ada seleksi olimpiade sains. Karena nilai ku yang ”cukup” anjlok aku sebenarnya nyaris tidak diperhitungkan. Tapi aku mengajukan diri karena untungnya syaratnya minimal masuk 5 besar. Alhamdulillah, nyaris saja…..

Saat para jawara mengejar pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, aku lebih memilih ikut seleksi di biologi. Padahal aku sebenarnya tidak terlalu cinta dengan pelajaran ini. Yang aku senangi dari biologi hanya karena ada aspek sejarah dan banyaknya nama latin (sesuatu yang kadang membuat orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

Ternyata hal ini jadi berkah tersendiri untuk ku. Karena ternyata aku nyaris tanpa lawan dalam seleksi ini, dan otomatis aku melenggang bebas menjadi wakil sekolah. One step ahead coy…..!!!

Keuntungan yang ku peroleh pada tahun itu adalah SMU ku mendapat jatah undangan seleksi olimpiade dua kali. Satu ikut seleksi wilayah Jabotabek di SMU 70, dan satu lagi seleksi Kabupaten di SMU Insan cendekia. Banyak kekacrutan yang kualami di seleksi ini.

Saat di Jabotabek, kami nyaris tidak ada target, karena tingkat persaingannya sudah langsung selevel propinsi. Aku sih menikmati jalan-jalannya saja, maklum orang udik. Lagipula aku terhitung cuma ”anak bawang” karena tumpuan terbesarnya saat itu adalah kelas 3. Akhirnya memang kami pulang tanpa hasil sama sekali, selain sekotak KFC dan name tag (kalo udah gini, yang ada adalah food oriented).

Persiapan untuk seleksi kabupaten pun benar-benar ala kadarnya saja. Bahkan aku tiba ditempat seleksi telat agak lama. Untungnya dari soal bahan latihan yang kuperoleh ternyata sebagiannya keluar lagi, bahkan sama persis(ini bukti kekacrutan sistem dan kualitas pendidikan kita). Alhasil aku melenggang lolos ke tingkat propinsi bersama dua orang anak Insan cendikia dan 2 anak dari kecamatan lainnya.

Seleksi dilakukan di SMU I Tangerang, sebuah sekolah yang letaknya terpencil, walaupun katanya masuk kodya tangerang. Ada kenangan buruk yang kuperoleh di seleksi propinsi ini. Aku datang ke ruang seleksi (sekali lagi) dalam keadaan terlambat, tetapi tidak terlalu masalah karena sekalilagi, soal yang digunakan dalam seleksi ini ternyata diambil dari Soal olimpiade internasional tahun sebelumnya, dan aku sudah menggunakan soal ini saat latihan soal di sekolah. Alhasil, setelah dua sesi test, aku keluar dan bersiap untuk pulang.

Aku sempat berkenalan dengan anak-anak IC, salah satunya adalah anak guru pembimbing olimpiade ku, Bu Wida. Yang lain ada Ferta, cewek berjilbab yang gak bisa diam dan cukup rame. Ibu guru pendamping dari insan cendikia mengajakku untuk pulang bareng mobil mereka. Tapi tawaran itu kutolak karena guruku pasti sedang menunggu diluar. Dan mereka akhirnya pulang lebih dulu.

Kekacrutan terjadi disini, guruku dan mobil pinjamannya tidak nampak sedikitpun. Setelah celingak-celinguk lama pun tetap tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja aku panik dalam hati(ada ya, panik dalam hati?). Apa jangan-jangan aku ditinggal pulang? Atau jangan-jangan guru IC mengajakku pulang karena dititipi oleh guruku? Tempat yang asing membuatku serba salah, malu bertanya dan sesat dijalan (naon deui siah…. kayak pepatah aja).

Tapi aku coba berpikir sedikit rasional. Hampir tak mungkin guruku meninggalkan ku begitu saja. Masak ”duta Sekolah” dibiarkan nangkring seperti anak hilang gini? Dengan segala keberanian yang tersisa aku beranikan bertanya pada seorang guru disana. Awalnya beliau tidak tahu, tetapi kemudian salah satu rekan gurunya mengatakan, guruku dan supir mobil itu sedang ke bengkel karena mobil kami tiba-tiba saja rusak. Akhirnya dengan sangat tidak nyaman aku mennunggu selama beberapa jam. Setelah sekian lama menunggu guruku datang juga. Aku yang jengkel hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tidak makan siang hari itu….!! aku pulang kerumah masih dalam keadaan dongkol.

Hasil seleksi propinsi kali ini tak sabar kutunggu. Beberapa hari kutanyakan kepada guruku. Tetapi setelah lebih dari sebulan tak kunjung juga ada beritanya.Akhirnya hasil seleksi yang kuharapkan itu kulupakan begitu saja. Aku kembali ”sibuk” dengan komik dan gitar butut ku lagi.

Tak terasa hampir setahun aku di kelas dua. Ujian pamungkas tahun ini telah didepan mata. Hasil ujianku akhir tahun ini tidak terlalu memuaskan. Aku masih saja berada di peringkat 5 besar. Olimpiade tidak pernah terlintas lagi dipikiranku, seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi di kehidupanku. Yah… ternyata petualanganku di Olimpiade sains mungkin memang harus berakhir di propinsi.

Aku tetaplah aku yang dikenal biasa-biasa saja, masih seorang ardian yang sering lupa mengerjakan PR, nyontek tugas sekolah, sering keluyuran setelah pulang sekolah, rajin membaca komik, yah… itulah aku. Tapi ada satu prinsip yang selalu aku pegang, bahwa walaupun aku seperti itu buatku HARAM untuk mencontek saat ujian. Kenapa? Karena bagiku PR, tugas, latihan soal hanyalah sebuah sarana latihan dan menyerap wawasan. Ujian yang sebenarnya bagiku adalah saat Ulangan harian dan Ulangan Umum. Lagipula hal ini didukung sifat ku yang agak sedikit sulit percaya orang. Jadi, dari pengalaman nyontek yang pernah kulakukan, saat aku lihat jawaban orang lain aku lebih sering tidak percaya akan jawaban orang tersebut, dan yakin jawaban ku pasti lebih baik. So, percuma saja kan nyontek?

Akhirnya, masa kelas dua berakhir begitu saja. Tetapi, sepertinya sayang jika aku gak cerita tentang sisi selain akademik ku. Sebenarnya aku pernah punya keinginan untuk aktif di OSIS, tapi sepertinya sulit untuk bergabung, karena aku tidak tahu kemana harus memulainya. Tapi secara gak sengaja ternyata aku terperosok ke organisasi yang lain, yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Agak aneh juga ya, kok aku bisa masuk koperasi siswa SMU. Berawal disuatu jam pelajaran saat kelas satu, saat itu sedikit boring. Tiba-tiba saja ada beberapa siswa senior yang meminta izin masuk, untuk roadshow. Dan akhirnya mereka mempresentasikan tentang koperasi siswa. Dipresentasi mereka disebutkan bahwa ekskul ini adalah wahana belajar masalah pembukuan, akuntansi, dan ekonomi. ”Mmm… not bad, sepertinya bisa dicoba.” begitu pikir ku. Saat ditawarkan untuk mengisi form bagi yang ingin mendaftar, aku mengajukan diri.

Aku sempat pernah menyesal suatu ketika, yaitu waktu OSPEK/pelantikan ekskul ini. Pusing juga, memang tradisi dan kultur SMU yang masih kekanak-kanakan membuat prosesi perpeloncoan seakan wajib ada setiap tahun. Tapi, ada baiknya juga, karena ternyata memang ada suatu pengikatan komitmen yang terbangun. Tapi aku tidak suka diintimidasi!! Di pesantren aku termasuk tipe pemberontak…. tidak ada istilah takluk dengan peraturan…. dan sekarang ada yang sok superior dari ku…. rasanya sangat tidak enak sekali. Untungnya hal itu hanya terjadi sekali saja.

Setelah dilantik, kami mulai berkenalan dengan koperasi siswa yang sebenarnya. Kopsis kami ternyata pernah menjadi kopsis prototipe bagi daerah tangerang, dan merupakan koperasi siswa terbaik didaerah ini. Tapi ”baik” yang dimaksud ternyata tidak seperti yang ku kira. Ternyata koperasi ini disebut koperasi siswa karena dikelola oleh siswa. Tetapi secara permodalan, ini sebenarnya murni dari dan untuk guru. Satu-satunya yang bisa jadi nilai lebih adalah kita bisa belajar disini…. belajar jadi penjaga koperasi… cape deh.

Dengan berjalannya waktu, pengurus yang melantikku akhirnya harus memasuki masa kelas tiga yang sibuk persiapan UAN/UAS. Maka tibalah saat kami kelas dua didorong untuk maju mengambilalih kepengurusan. Di suatu siang diadakan musyawarah anggota untuk suksesi, yang “dipaksa” maju saat itu ada 3 orang, yaitu aku, Agus ”tenjo” dan cewe(hadoooh….gw lupa namanya).

Dari prosesi yang garing itu, akhirnya terpilihlah si cewek sebagai ketua, sedangkan untuk wakil ketua aku lah yang terpilih. Task pertama kami adalah, melakukan OSPEK bagi para anggota baru (sejarah kembali berulang…..). Tapi ada satu hal yang tidak ingin aku lakukan, yaitu bersikap seperti seniorku dulu. Aku ingin menjadi senior yang baik dan bisa berbagi sesuatu pada rekan-rekan seaktivitasku itu.

Singkat cerita, datanglah hari yang ditentukan. Kami akan melakukan proses pelantikan komplek Puspiptek. Disana terjadi beberapa insiden, salah satunya adalah saat ada peserta yang roknya sobek di bagian paha (kebayang gak paniknya anak cewek kalo kondisinya seperti itu?).

———————————————————————————————

Bandung

Gak pernah sedikit pun terbayang bahwa aku akan kuliah dibandung. Saat awal masuk SMU sebenarnya justru aku ingin masuk UI jurusan fisika. Ya… terpengaruh kedua orangtuaku yang juga berasal dari fisika UI, bahkan mereka dipertemukan hingga menjadi keluarga berawal dari kampus Salemba.

Aku mungkin masuk dalam tipe pemikiran ekstrim kiri, atau orang yang mudah terhanyut dalam romantisme nostalgia masa lalu. Hal ini membuat aku cenderung mudah memngingat hal berbau sejarah. Dalam kehidupan pribadiku pengaruhnya terasa seperti dorongan untuk bisa mengulang masa lalu yang berkesan. Ingin mengulang kejayaan sejarah yang telah lewat.

Begitu juga dengan bagaimana aku bisa tiba disini, dibandung, di ITB. Pertengahan akhir 2002, berbagai bentuk ketidak sengajaan menghantarkan aku ke Olimpiade Sains Nasional di Jogja. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku, apalagi bermimpi bisa membawa sekolahku ketingkat Nasional seperti ini. Bukan hanya sebagai wakil sekolah, aku adalah wakil Propinsi Banten….. Mimpi apa aku saat itu….

Singkat cerita, tahap nasional mengantarkan aku masuk peringkat 30 besar dan masuk pembinaan khusus untuk Timnas IBO2003. Tapi dasar gak punya mental juara… kemenangan itu membuatku lupa daratan. Aku tidak kemudian menjadi sombong didepan temanku disekolah, tetapi menjadi over pede dan terlalu santai mempersiapkan training di Bandung itu. Bukannya bersiap memperdalam materi, aku lebih sibuk mengurus hal lain seperti akan bawa barang apa saja aku ke bandung. Tetapi, kalo boleh sedikit membela diri, dengan kondisi yang ada disekolahku, hal itu adalah yang paling maksimal yang bisa ku berikan buat sekolah.

Bandung, November 2002. Sebuah surat tiba ke sekolah, aku berangkat kebandung untuk pelatihan. Hotel “Sanira” di W.R. Supratman adalah tujuan pertamaku.Sebuah hotel kelas melati, cukup kecil dan telihat sepi pada hari-hari kerja. Hotel ini menjadi base camp tim IBO, karena P3G yang biasanya dipakai telah ada yang menggunakan. Hotel ini, dan juga rekan-rekan di 30-besar meninggalkan kenangan manis, konyol, suka duka yang terkumpul jadi satu.

Aku ingat, sebuah “Cinlok” yang tiba-tiba saja ada. Seperti bisa dibayangkan, untuk tipe “manusia pembelajar” seperti anak IBO, penampilan dan tampang sebenarnya gak ada yang “cling” sekali. Semua biasa saja, tapi herannya aku tertarik dengan seorang siswi asal Bali. Sebut saja “M”, ini adalah tahun keduanya di pelatihan nasional. Bahkan tahun lalu ia masuk tahap 12 besar selama 2 bulan. Tapi aku tidak pernah mengatakan apapun soal itu. Seperti biasa aku simpan begitu saja.

Hari-hari pertama di pelatihan tidak terlalu berkesan. Masih dapat dikatakan ada nuansa “jaim” diantara anak-anak. Tetapi perlahan tapi pasti ke-jaim-an itu hilang, dan berganti berbagai kenangan konyol yang begitu membekas hingga berbulan-bulan kemudian.

Ada Wiarta (sekarang TI ITB’03), “pak lurah”-nya pelatihan. Orangnya cukup santai, logat kental khas bali menjadi ciri yang mudah dikenali. Sifat kepemimpinan dan ke-kakak-annya memang cukup menonjol.

Ada Mulyono, peserta termuda (baru kelas dua) yang cerdas tetapi juga lucu dengan logat khasnya yang “medok” serta tingkah laku “Cunihin”(ganjen)nya. Ia dengan tanpa berdosa menyatakan “cintanya” pada “M”, dan menjadi bahan tertawaan anak-anak selama pelatihan. Juga insiden kamar….(berapa ya lupa, kalo gak salah 112).

Pada suatu pagi Mul sedang belajar di beranda lantai dua, tiba-tiba saja dari arah belakang muncul sesosok wanita berselimut datang dan tanpa basa-basi menarik buku Campbell (“kitab suci” peserta IBO indonesia). Secara spontan Mul berteriak, mengundang siswa lain datang. Mul berhasir mempertahankan bukunya, si wanita masuk kekamarnya. Tetapi malang, selimutnya melorot sebelum berhasil masuk, ternyata ia telanjang. Mul menangis terisak isak karena ketakutan. Aku yang menjadi saksi mata ikut “diinterogasi” anak-anak yang tidak tahu persis kejadiannya. Yah, apa yang sebenarnya terjadi mudah ditebak, hotel melati macam itu memang sering digunakan oleh orang-orang mesum. Tetapi gak sedikitpun disangka-sangka ada kejadian seperti ini.

Kembali ke mengapa aku kuliah dibandung, kenangan-kenangan macam itu terakumulasi. Hasilnya adalah pada hari-hari akhir pelatihan, dengan harap-harap cemas yang dag-dig-dug aku mulai merasa tidak ingin kehilangan masa-masa seperti ini. Aku jadi terdorong untuk dapat masuk ke tahap selanjutnya. Tetapi itu tidak mudah, nyatanya kesadaranku ada disaat yang salah. Telah cukup terlambat untuk mengejar keseriusan rekan yang lain.

Puncaknya adalah saat hari terakhir pengumuman 20-besar pelatihan. Aku tidak ada didalamnya. Sebenarnya aku sudah coba bersiap untuk menerima hasil apapun. Tetapi, tidak bisa dipungkiri aku shock dengan hasil ini. Dalam perjalanan pulang kembali ke jakarta ada penyesalan yang begitu besar yang kurasakan. Tidak ada hal lain yang terpikirkan dalam benakku selain bagaimana menebus kesalahanku. Bahkan sempat muncul pikiran untuk mengajukan diri turun kelas agar dapat ikut seleksi kembali.

Penyesalanku itu berlanjut selama berbulan-bulan berikutnya. Hobby menggambar yang biasanya secara spontan ku lakukan, total aku tinggalkan. Aku menyalahkan hobby ku tersebut.

Aku memutuskan untuk melakukan kontak dengan “Pak ADP” kepala pelatihan yang juga dosen ITB. Aku jadi begitu akrab dengan buku Campbell, dan begitu menikmati mempelajarinya. Hal tersebut justru belum kurasakan saat pelatihan. Aku mulai melakukan test online di website campbell dan mengirimkan Hasilnya ke pak ADP. Berbagai cara aku lakukan, didorong depresi yang aku rasakan. Baru pertengahan april aku menyerah, dan fokus ke hal lain.

Aku ikut UM-UGM, mengambil fakultas Biologi tetapi sebenarnya tidak terlalu berminat. Aku beruntung tidak lolos di UM-UGM. Hasil psikotest menunjukkan kecenderungan ke arsitektur dan biologi. Nyatanya aku memutuskan mencoret arsitektur dari cita-citaku. Dan memilih fokus ke satu bidang, biologi.

Tekadku menjadi semakin bulat untuk menekuni bidang biologi. Targetku adalah jurusan biologi terbaik di Indonesia, yang ada di ITB. Dari hasil Try-Out SPMB hasilnya memuaskan. Terlihat dari beberapa kali try out hasilnya cenderung meningkat. Walaupun aku tidak ikut program bimbel kecuali program dari sekolah yang “murah meriah” , tetapi aku tetap cukup yakin dengan pilihan itu.

———————————————————————————————

9 Apr 2007

One Step Closer to be A Batik Designer

Sebagai orang dengan karakter rada sanguin, secara naluriah kadang gw terjebak dalam kondisi mencari-cari eksistensi, pengakuan, pengen dilihat dan diapresiasi orang, walo pun disisi lain sisi plegmatis gw memposisikan gw dalam kondisi, selalu ingin kabur ketika bertemu masalah yang rumit. Cukup menarik buat gw, disatu saat gw bisa jadi orang yang gak tau malu,nyablak, pokoknya eksis lah…., tapi saat ketemu suatu kondisi yang dari awal gw pesimis bisa melaluinya gw bisa jadi introvert banget…. Kemudian jadi suatu hal yang menjengkelkan bagi temen-temen gw kalo hal kaya tadi udah muncul.

Secara jujur terus terang, gw emang harus mengakui, disaat umur gw hampir ¼ abad (tahun ini 25 jek…, waktu yang tepat untuk menikah hehehe) gw menemukan diri gw sebagai orang yang bermental balita. Gak dewasa adalah kata yang cukup tepat. Sampe-sampe klo ada obrolan ato ceramah yang nyebut soal ketidak dewasaan ini, gw selalu ngerasa yang mereka omongin gak lain adalah gw…. Nyepet gw… gw nyadar hal tersebut adalah penyakit yang harus gw obati segera. Karena gak mungkin gw bisa ngerubah hal yang lebih besar, organisasi ato komunitas, klo gw gak bisa ngatasi penyakit dalam diri gw ini. Lagi pula sekarang udah masuk masa-masa kritis. Masa-masa dimana gw seharusnya udah matang, siap dikirim ke rumah calon mertua. Tapi….. gw harus mikir juga, ada gitu akhwat yang mau sama orang bermental childish kaya gw? Jangan-jangan nggak…. Bisa keancem “bidadari ku datang dari selembar kertas” gak bakal terwujud…..

Yang diatas just intermezzo aja, gak perlu didiskusikan panjang lebar…. (lho gw yg banyak omong ya…). Nyambung ke masalah personality lagi (oiya, jam 9 ntar gw kuliah psikologi industri nih… satu-satunya non TI adalah gw…), gw kemarin seneng banget, sepertinya gw gak separah yg gw kira. Ternyata gw bisa sedikit agak kongkrit juga. Desain batik gw ternyata cukup disukai sama sebuah studio (lebih tepatnya kakaknya temen sih…) dan dia tertarik untuk mengupgrade gw dan make desain gw untuk produksi di pabrik tekstil. Sebuah apresiasi yang jarang gw dapat, apalagi jika mengingat gw baru mula belajar bikin batik baru sekitar 2-3 minggu.

Gw sebenarnya sering stress, so depress, karena ngerasa jadi orang yang useless, bikin orang kecewa, gak bisa diandalkan… sampe mungkin pada tahap paranoid, klo gw nerima suatu amanah, jangan-jangan gw cuma bakal bikin kacau. Karena gw pikir udah banyak orang yang gw kecewakan. Gw jadi trauma megang ketua kepanitiaan. Tapi dengan prospek yg baru gw dapet ini, gw jadi mulai hopefull lagi…. Ternyata gw ada gunanya juga (hehe…).

Mengenai belajar batik, bwt gw suatu proses yang berkesan tapi campur aduk, antara bingung, ingin tahu, fun tapi kadang menjengkelkan. Gw pengen banget nyeritain prosesnya. Awalnya gw ditawarin Teh Widi untuk bikin desain batik. Gw cukup antusias tapi gak serius-serius amat, karena awalnya gw pikir asal bisa bikin motif berulang hal tersebut gampanglah…. Mulailah gw cari-cari info, tutorial photoshop di internet, terutama teknik bikin cetakan offset, dan bermain dengan pattern. Gw juga mulai nyari contoh-contoh desain batik di internet. Tapi ternyata jalannya gak semudah gw kira, sulit banget nyari contoh motif batik diinternet, dan beberapa hari pertama gw ngedesain, gw cuma mengandalkan naluri gw aja.

Akhirnya setelah suatu proses yang rada membingungkan motif pertama pun jadi, Sebuah motif bunga-kupu-kupu hasil ngolah gambar dari internet yang awalnya sederhana pisan. Tapi setelah gw pikir lagi, yg gw buat ternyata bukan batik. Cuma sebuah motif yang memang bisa di aplikasikan ke tekstil tapi gak ada nuansa batiknya.

Eksperimen gw selanjutnya gw coba beralih ke Coreldraw. Proses selanjutnya (awalnya) cukup menyenangkan, karena walopun I have no idea if it was batik or not, ngolah bidang-bidang sederhana (kotak, segitiga, lingkaran, bintang) menjadi rangkaian bentuk yg rumit begitu menantang. It was so fun, playing with shape in corel draw, gw cuma perlu ngandelin naluri teknis gw, selanjutnya masalah akurasi dan presisi serahkan ke Corel. Untuk pertama kalinya gw merasakan permainan angka dan ukuran yang menyenangkan dengan Corel. Semua berjalan begitu indah sampai pada suatu titik, gw mulai khawatir karena gw bener-bener merasa harus mencari tahu motif batik seharusnya seperti apa.

Gw juga rada stress juga saat utak-atik bentuk yang gw lalukan di corel akhirnya mentok juga. Gw udah bikin banyak bentuk, tapi gak ada yg cukup match untuk jadi kesatuan motif, apa lagi untuk bisa disebut batik. Ternyata kebingungan gw gak berjalan lama karena tiba-tiba ada lampu menyala di samping kepala gw (hehe komik banget ya….) pas gw solat jumat. Klo sholat jumat itu, ibaratnya motif batik ngumpul semua di masjid… banyak bapak-bapak yang pake batik buat jumatan. Apalagi di BATAN ato Salman. Wuih…. Mau batik tipe seragam sekolah sampe batik yang “kinclong” pisan mah ada lah…. Akhirnya dari situ lah inspirasi untuk bikin motif selanjutnya datang lagi.

———————————————————————————————

10 April 2007

Bercermin pada “ketidak dewasaan”

Beberapa hari ini gw jadi rada sensi mendengar kata “ketidak-dewasaan”. Klo nginget-nginget 1-2 minggu yang lalu gw pernah curhat sama seseorang, gw emang ngakuin kadang-kadang gw emang sering menyikapi masalah yang gw hadapi secara “tidak dewasa”. Makanya, saat gw denger istilah itu lagi intens disebut-sebut di forum, ato juga didepan gw, gw jadi ngerasa klo orang yang pengen disepet kayanya gw.

Gw jadi bertanya-tanya, harus begini kah treatmen yang diberikan untuk mengobati ketidak-dewasaan gw? Ato ini cuma prasangka gw aja? Ato sebenarnya “ketidak dewasaan” adalah suatu penyakit yang sudah mewabah sehingga gw sebenernya hanya bagian kecil dari orang-orang yang mengalami “ketidak dewasaan akut”? Gw sih rada bingung aja, soalnya hal-hal yang terjadi beberapa hari ini dengan curhatan gw tadi serasa janggal untuk disebut “coincidence”/ketidak sengajaan, klo gw mendengarnya berkali-kali didepan telinga gw.

Bahkan ada seorang angkatan 2005 dengan entengnya bicara didepan gw, “Kang, kapan sih dewasanya?”. What the Hell with that talk? Apa maksudnya omongan itu? Apa iya, [mode paranoid “ON”] ketidak dewasaan gw adalah sudah menjadi rahasia umum, yang beredar dari mulut kemulut? Sehingga gak ada orang seisi dunia yang gak tau klo gw emang rada childish dalam menyikapi masalah hidup gw? Apa jangan-jangan gw merupakan objek studi kasus yang dilakukan di lingkar-lingkar halaqah, sampe-sampe 2005 aja bisa seenaknya ngejudge gw?

Gw pengen ngaku, BIAR SEMUA ORANG TAU!! Gw emang rada kurang dewasa dalam menyikapi permasalahan rumit yg gw hadapi!! Tapi satu hal, yang kalian juga mesti tahu, GW JUGA PENGEN BERUBAH!! GW JG PENGEN BISA LEBIH DEWASA DALAM MENYIKAPI PERMASALAHAN YG GW HADAPI!! Hanya “the question is How To…?”. Karena selama ini yg mereka bilangin cuma MASALAH gw, gak pernah SOLUSI masalah gw ini?

Gw juga pingin bisa kongkrit! Gw pingin bisa jadi orang yang dapat diandalkan dalam team! Gw pingin, klo ada yang salah/harus dibenahi di komunitas gw maka gw jadi orang yang pertama melakukan perbaikan….!! But the question Is : “How to….?”. karena gak ada yang bilang ke gw, apa obat dari kelakuan gw ini? Bukankah dengan mereka terus menerus membicarakan masalah gw (ato gw sebagai masalah) dan berhenti sampai disitu tanpa kemudian ngasih solusi, mereka cuma menambah jumlah orang yang gak dewasa dikampus ini? Padahal katanya, selalu bicara masalah tanpa solusi adalah ciri ketidak dewasaan kita.

Gw pikir ini curhatan yg rada childish dari gw. Tapi seperti gw bilang diatas, GW PENGEN BERUBAH, TAPI GAK TAU CARANYA!! Makanya, gw keluarin tulisan ini di blog gw biar gw bisa dapet input, masukan yg semoga membawa pada kebaikan? Gw percaya apa yang gw lakukan ini sebagai usaha untuk menjadi lebih berintegritas. Mengatakan HITAM adalah HITAM, PUTIH adalah PUTIH. Berani mengaku salah, untuk menuju suatu perbaikan!!

==Ardian Perdana Putra==

Sebuah Tekad!! Atau nekat??

hmm….. jadi inget….. pada jaman dahulu bgt, aq…

hmm….. jadi inget….. pada jaman dahulu bgt, aq pernah nulis tentang membaca….. membaca alam…. membaca fenomena…. membaca realita…… sesuatu yang lebih esensial dari membaca dengan arti harfiah.

tanpa aku sadari, di setiap detik yang di lalui, disetiap langkah yang mengayun, disetiap detak jantung yang berdegup terdapat hikmah yang jika saja kita jeli, maka akan menjadi suatu wasilah untuk menjalani hidup ini secara lebih baik. bukankah hikmah adalah suatu harta terpendam bagi seorang muslim? yang jika ia temukan di dalam perjalanan hidupnya maka dia lah yang paling berhak mendapatkannya….. begitulah mutiara hadis menjelaskan.

coba untuk meninggalkan dialektika teori, sekarang gimana dengan apa yg aku lihat hari ini…. kemarin…. beberapa saat yang lalu? nampaknya melakukannya secara praktek gak semudah kalimat tadi. gimana ya….. gimana ya…..

dari blog-blog yang aku baca, apa ya yang bisa aku ambil?

Bismillahirrahmanirrahim….. Hmmmm…. Mulai nulis l…

Bismillahirrahmanirrahim…..

Hmmmm…. Mulai nulis lagi neh…. Setelah sekian lama.

Beberapa hari ini lagi sering baca blog orang. Blog dibuat emang untuk “curhat berjamaah” kan? Kalo nggak ngapain juga di posting ke internet….. ya kan…..?

Mmmm…. Ngomong-ngomong soal ngebaca tulisan orang di blog, lagi agak sedikit sensi kli ya…. Jadi pas baca kaya ada perasaan jlab…. Jleb…. Kesepet gitu deh…. Bukan karena kegeeran si penulisnya nulis ttg gw…. Tapi karena isi tulisannya bikin gw mikir sih…. Kadang klo gw mratiin karakter orang, gw jadi suka ngebanding-bandingin si orang itu ama diri gw…. Gw kadang memposisikan diri gw dalam keadaan si orang itu…

Tp mungkin aga beda dengan beberapa waktu lalu, gw lagi susah untuk menangis. Gak tau nih, rada mengkhawatirkan jg…. Sebenarnya gw risau jg, takut hati gua udah gak lembut lagi….(cieee….). Soalnya satu hal yang sebenarnya sangat gw syukuri adalah gw dikasih hati yang gampang tersentuh dengan suatu fenomena dari orang yg gw lg perhatiin masalahnya. Gak bilang empati gw bagus ya… soalnya gw kadang juga rada lemot ngeliat kondisi sosial sekitar gw…. Ssst…. jgn bilang-bilang, gw rada introvert jg kadang-kadang.

Oiya, dari tulisan-tulisan di blog yg gw baca itu ada beberapa tulisan yg menarik. Misalnya tentang ada yg deket banget dengan keluarganya, ato tentang temennya yang lagi sakit, ato tentang aktivitasnya…. Hmm…. Kenapa gw ngiri ya? Kenapa gw jadi ngrasa pengen meledak ya….? Kenapa gw jadi rada nyesel ya? Kenapa gw jadi rada stress? Gw pengen bangkit…. Gw pengen enerjik…. Gw pengen punya tujuan hidup yang jelas lagi…. Dan tau harus ngapain…. Sekarang? Gw lagi bingung, mikir-mikir kebelakang….. ngerunut mimpi-mimpi yg pernah gw bangun dan sekarang tiba-tiba gw bingung…. Terlalu banyak mimpi yang pernah ada, dan gw bingung mana yg harus gw tuju…..

Semoga dengan gw menulis sekarang gw bisa rada jelas ngeliat “path” yang harus gw tempuh…. Tapi untuk sekedar ngasi tau, gw gak mau melewati jalan hidup gw selanjutnya secara biasa-biasa aja…. Bukan dengan jalan yang biasa ditempuh orang kebanyakan…. Gw harus jadi SEJARAH…. Makanya itu gw bingung…. Mau kemana.

Karena apalah artinya jika kta gak pernah memberi arti bagi orang-orang yg pernah kita kenal…. Bahkan Naruto pun, yang dalam ceritanya dogol… rada bloon, ceroboh…. Bisa menjadi orang yang berarti…. jauuuuuuuuh sangat sangat berarti bagi sekitarnya.

Detak-detak…

Detak-detak

Detak-detak…, saat kubuka mata mencoba tuk bernafas

melihat sebuah awal

Detak-detak…, singkapkan sebuah takdir meraba truk bepijak

membangun langkah panjang

Detak-detak…, saat waktu mulai belajar ungkapkan jati diri

Membangun masa depan

Detak-detak…, kusadari mulai beranjak tinggalkan masa usang

bersiap tuk melangkaa……ah

Bridge:

Namun saat kulewati mimpi…. Terhempasku kehilangan arah

Dan coba aku pahami…. Lintasan takdir yang harus kulalui

Reff:

Terdiam ku sejenak

tak dapat menatap utuh cerminan diriku

Terjerat mimpi kosong

sesaat menghilang tinggalkan pahit ku

Detak-detak…, saat galau kian melanda sisakan awan tebal

Mengharap tak tersingkap

Detak-detak…, bila mata mulai mengalir terpendam sesal diri

Merasa tanpa arti

Detak-detak…, terasa kian terlambat gundah tuk bergegas

Memaaf atas dosa

Detak-detak…, dan tiba sebuah harapan akankah ia sirna

Tertelan mimpi lagi

(back to bridge, reff)2X

Oo oo.. oo.. o.. o… (back to Reff.)

Detak-detak…, tiba diujung hari berharap masih ada

Sisakan sedikit harap

Detak-detak…, nafas mulai merenggang memaksa tuk berhenti

Tinggalkan sesal diri

Tentang seorang kawan: Sebuah renungan tentang ketergantungan dan masa sulit