Category Archives: Uncategorized

Solusi Ahmadiyah: 7 agama di KTP

Solusi Ahmadiyah: 7 agama di KTP (+ sedikit Referensi)

Sesuai judul, saya pikir solusi yang cukup moderat baik bagi umat islam maupun kaum ahmadiyah adalah dengan campur tangan penuh pemerintah dalam bentuk pengesahan ahmadiyah sebagai agama baru yang secara total terpisah dari islam. Selain itu revisi aturan seputar pembuatan KTP juga perlu dilakukan. Yaitu dengan menambahkan satu opsi baru dalam pilihan agama yang di cantumkan di KTP sebagai agama yang diakui pemerintah. Hal ini seharusnya cukup dapat menjadi jawaban yang bisa diterima mayoritas pihak, mengingat sebenarnya jika kita lihat kebelakang yang menjadi inti konflik Muslim vs Penganut Ahmadiyah adalah masih ngototnya para penganut ahmadiyah tersebut untuk tetap dianggap sebagai bagian dari umat islam.

Sedikit merunut ke belakang, beberapa inti ajaran yang kontras berbeda adalah pengakuan adanya nabi setelah Muhammad SAW (sebenarnya ahmadiyah sendiri tidak semuanya seperti itu, merekapun terpecah menjadi dua aliran; Yang mengakui MGA sebagai nabi a.k.a Ahmadiyah Qadiyani dan yang mengakui MGA hanya sebatas wali a.k.a Ahmadiyah Lahore). Walaupun tidak semua kalangan ahmadiyah mengakui MGA sebagai nabi, namun salah satu kepercayaan fundamental umat islam yang ‘diserang’ adalah seputar apa yang saya sebut Ke-Mahdi-an, dialektika seputar imam akhir zaman, yang secara kepercayaan sebenarnya termasuk hal mutasyabihat dan diperdebatkan penafsirannya. Wajar jika kemudian kemudian serta-merta pemikiran ini melukai perasaan umat islam mayoritas, ketika kemudian diungkapkan bersama dengan pengakuan diri mereka sebagai seorang muslim. Satu hal lagi yang harus digarisbawahi, Ahmadiyah Qadiyani adalah mayoritas di intern ahmadiyah sendiri yang berarti masalah kenabian MGA adalah sebuah kepercayaan yang umum dianut oleh pengikutnya.

Jika kemudian segelintir pendapat menyatakan bahwa cara yang harus ditempuh menghadapi ‘aliran yang dianggap menyimpang’ (mengutip komentar di “Ahmadiyah Sesat atau Terlihat sesat ?” http://independen69.wordpress.com) adalah dialog, maka sesungguhnya dialog tersebut sudah sejak lama dilakukan. Saya sendiri pernah tinggal bertetangga dengan penganut Ahmadiyah di daerah Kuningan. Saya tinggal dan mesantren di Ponpes Husnul Khotimah (desa Manis kidul) dan mereka bermukim di desa tetangga (manis lor). Dialog dengan kalangan ahmadiyah pernah terjadi sekali (sebatas pengetahuan saya) saat saya menjadi santri disana. Saat ini bukan lagi dialog yang dapat menjadi pemecahan dari konflik horizontal yang terjadi di masyarakat, kini saatnya pemerintah turun tangan sebagai penjaga kebebasan beragama dinegeri ini. Dan yang utama diperlukan oleh umat islam sekarang adalah rasa nyaman dan aman dari ancaman kepercayaan ~maaf~ ‘menyimpang’ yang bisa kapan saja merampas keimanan keluarga dan kerabat dekat mereka. Seperti juga ahmadiyah yang membutuhkan rasa aman untuk menjalankan kepercayaannya.

Sedikit sebagai referensi dialektika seputar kepercayaan ahmadiyah mungkin saya coba kutip beberapa tulisan dari thread komentar mas Daeng Limpo, untuk selengkapnya bisa dilihat di blog beliau. Dari thread ini jelas bahwa mereka (Ahmadiyah Qadiyani) jelas2 mengakui adanya Nabi setelah nabi Muhammad, apapun argumen mereka seputar pemaknaan ‘Khatamun Nabiyyin” (yang ultimately gharib/asing dikalangan mayoritas ulama muslim). Berikut kutipannya:

  1. Angga Berkata
    7 Januari, 2008 pada 2:37 pm Assalamualaikum wr.wb
    Islam itu damai yang tidak pernah mengajarkan kekerasan, jadi kenapa mesti ada kekerasan terhadap Ahmadiyah yang juga adalah Islam. Perlu saya jelasakan sedikit di sini Ahmadiyah adalah islam jadi tidak benar kalo ada yang menyebutkan kalo ahmadiyah bukan islam karena nabi besar jemaat ahmadiyah adalah Nabi Muhamad saw. dan kitab suci jemaat ahmadiyah adalah Alquran. Ada pun Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah nabi yang meneruskan ajaran Nabi Besar Muhamad saw. Apabila rekan-rekan ingin mencari informasi tentang jemaat ahmadiyah ( Qadiani ) kunjungi situs resmi Jemaat ahmadiyah baik yang di indonesia ( http://www.ahmadiyya.or.id ) atau yang international ( http://www.alislam.org ).

  2. daeng limpo Berkata
    7 Januari, 2008 pada 2:52 pm @Angga
    Bukannya didalam website disebutkan oleh Mirza Ghulam bahwa dia bukan nabi ?, lagi pula Nabi dan Rasul terakhir bagi umat Islam adalah Nabi Muhammad ?, lalu kok ada nabi muncul dari Pakistan?

  3. Angga Berkata
    9 Januari, 2008 pada 8:45 am Terima kasih tanggapannya, sedikit sy jelaskan mungkin anda melihat tentang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad nya itu dari situs ahmadiyah Lahore ( ahmadiyah.org ) bukan dari situs ahmadiyah Qadiani ( http://www.ahmadiyya.or.id atau http://www.alislam.org ) kalo sebelumnya belum pernah dengar dengan kata ini ( Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadiani ) saya jelaskan, pada awalnya Ahmadiyah itu cuma satu tapi karena ada ambisi jadi pemimpin dari Muhamad Ali ( pemimpin Ahmadiyah Lahore ) dan tidak terpilh ahirnya mereka pergi ke Lahore berserta para pengikutnya dengan membawa aset-aset jemaat ahmadiyah, dan mereka pun ketika itu menyatakan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi hanya sebagai Mujadid ( Pembaharu ) dan sampai sekarang golongan mereka tidak berkembang yang dikenal dengan nama Ahmadiyah Lahore.
    Dikalangan umum islam menyatakan bahwa setelah nabi Muhamad saw tidak ada lagi nabi, tapi kami ( Ahmadiyah Qadiani ) menyakini setelah nabi Muhammad saw ada lagi nabi tapi bukan nabi yang membawa syariat melainkan nabi Ummati atau nabi pengikut nabi Muhammad saw karena beliau ( Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as ) ini menyampaikan ajaran-ajaran nabi Muhmmad saw dengan berpedoman kepada Alquran Karim dan hadits-hadits nabi muhammad saw. jadi tidak benar kalo ada yang menyebutkan kalo syahadat, kitab suci maupun nabi kami berbeda karena sesungguhnya baik shahadat, kitab suci maupun nabi besar kami adalah syahadat nabi Muhammad saw, kita suci Alquran dan nabi besarnya pun adalah Nabi Besar Muhammad saw.
    Adapun keterangan ” Khataman Nabiyyin “, kata Khatam tidak bisa selamanya di artikan ” terakhir atau penutup ” karena beberapa kali yang mulia Nabi Muhammad saw menggandengkan kata khatam ini dengan dengan kata jamak dan selalu artinya itu ” yang mulia ” atau ” yang paling apdol ” dan kami mengartikan sesuai pemahaman itu jadi kalo kata khatam di gandengkan dengan kata jamak dalam hal ini kata ” Nabiyyin ” itu jamak yang artinya nabi-nabi atau para nabi maka kata kata khatam di sini artinya ” yang paling mulia “, Rasulullah saw pernah bersabda kepada Aayida Ali : ” Hai Ali engkau ini adalah Khatamul Aulia ” nah kalo di artikan khatam di sini penutup atau terakhir maka tidak akan ada wali-wali setelah Syayidina Ali buktinya ada masih ada wali-wali seperti wali songo.
  4. daeng limpo Berkata
    9 Januari, 2008 pada 10:13 am @angga
    wah ini saya lebih nggak tahu lagi kalau ahmadiyah sudah pecah perahu juga ?. bagaimana mungkin seorang Mirza Ghulam Ahmad bisa mengaku jadi Nabi, sedangkan para Walisongo saja tidak besar kepala seperti demikian ?
    Mungkin dari kawan yang lain ada yang mau menanggapi pernyataan saudara Angga disini ?
  5. daeng limpo Berkata
    11 Januari, 2008 pada 3:50 pm @angga
    Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah

    Ahmadiyah adalah suatu aliran yang meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, mereka meyakini Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka. Selain itu mereka mempunyai kitab suci yang dikenal dengan nama Tadzkirah sebagaimana umat Islam mempunyai Al-Qur`an. Semoga artikel ini dapat sebagai peringatan akan bahaya aliran sesat ini. Artikel ini dikutip dari Buletin LPPI.
    1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir murtad

    2.Ahmadiyah-Qadiyani memang mempunyai Nabi dan Rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India

    3.Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah

    4.Kitab suci”Tadzkirah” tersebut adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an, dan kitab suci Ahmadiyah tersebut ada di kantor LPPI

    5.Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadiyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qadiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadiyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah haji ke Makkah

    6.Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yang wajib dipercayai hanya 25 orang, dalam ajaran Ahmadiyah Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai harus 26 orang, dan Nabi dan Rasul yang ke-26 tersebut adalah “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

    7.Dalam ajaran Islam, kitab samawi yang dipercayai ada 4 buah yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qadiyan bahwa kitab suci yang wajib dipercayai harus 5 buah dan kitab suci yang ke-5 adalah kitab suci “Tadzkirah” yang diturunkan kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

    8.Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S. Dan tahun Ahmadiyah saat ini adalah tahun 1373 H.S (1994 M atau 1414 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad

    9.Berdasarkan firman “tuhan” yang diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621)

    Berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab suci Ahmadiyah di atas BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM

    10.Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke-4 yang bermarkas di Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmafiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve pada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir dan wanita Ahmadiyah haram kawin dengan laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran

    11.Berdasarkan “ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad

    11.1. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab suci’Tadzkirah” ini dekat dengan Qadiyan-India. Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (“kitab suci” Tadzkirah hal.637)
    11.2. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: ”Katakanlah-wahai Mirza Ghulam Ahmad-jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”
    (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
    11.3.Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah
    Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (kitab suci “Tadzkirah” hal. 634)
    11.4. Firman “tuhan” dalam kitab suci “Tadzkirah”:
    Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad-sesungguhnya aku ini manusia biasa seperi kamu, hanya diberi wahyu kepadaku”.(“kitab suci Tadzkirah hal. 633)
    11.5. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu – wahai Mirza Ghulam Ahmad – kebaikan yang banyak” (“kitab suci” Tadzkirah hal.652)
    11.6. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – imam bagi seluruh manusia” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
    11.7. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” “Tadzkirah”:
    Artinya: “Oh, pemimpin sempurna, engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)
    11.8. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadr” (kitab suci Tadzkirah hal. 519)
    11.9. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (“kitab suci” Tadzkirah hal.620)

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an yang dibajaknya. Ayat-ayat “kitab suci” Ahmadiyah Tadzkirah yang dikutip di atas, adalah penodaan dan bajakan-bajakan dari kitab suci Umat Islam Al-Qur’an.
    Dan Mirza Ghulam Ahmad mengaku pada umatnya -orang Ahmadiyah-bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu yang dia terima dari “tuhannya” di I N D I A.

    12. PENODAAN AGAMA DAN HUKUMNYA

    12.1 Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
    Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.

    12.2 Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.:
    2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.

    13.1. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.

    13.2. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.

    13.3. Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.

    13.4. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.

    13.5. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

    14. K E S I M P U L A N

    a.Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau jemaat didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan – I N D I A (sekarang Pakistan) tahun 1889, yang karena perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran, yaitu Anjuman Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadiyan) dan Anjuman Ishaat Islam Lahore (Ahmadiyah Lahore).Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengikuti ajaran serta paham yang bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad.

    b.Jemaat Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dengan menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qadiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qadiyan, dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.

    c.Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu, dan dengan wahyu itu dia diangkat sebagai nabi, rasul, al-Masih Mau`ud dan Imam Mahdi. Ajaran dan faham yang dikembangkan oleh pengikut Jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menjadi keyakinan umat Islam umumnya, antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.(BALITBANG DEPAG RI, Jakarta, 1995 hal. 19, 20,21)

    P E N U T U P

    Sebagai penutup brosur ini, kami kutip sebuah ayat Al-Qur`an yang mengancam orang yang mengaku menerima wahyu serta menulis kitab dengan tangannya sendiri, kemudian dikatakannya dari Allah swt dengan dusta yang amat keji seperti yang dilakukan oleh nabi Mirza di atas.
    Allah swt berfirman:
    Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79)

    Cat: Apabila PB Ahmadiyah berkeberatan dengan isi brosur ini, alangkah baiknya diselesaikan melalui debat terbuka yang disaksikan oleh umat.

    Sumber: Buletin LPPI. Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

    [Kontributor : Muslim, 02 Juni 2002 ]

  6. Angga ( Orang Ahmadiyah ) Berkata
    11 Januari, 2008 pada 4:37 pm

    anda ambil artikel itu dari bulettin LPPI kan sendangkan anda sendiri tau kalo LPPI itu bukan Ahmadiyah, dengan begitu anda salah mengambil keterangan tentang Ahmadiyah tapi bukan dari Ahmadiyah, saya tekankan di sini semuat tuduhan itu tidak benar. kalo anda pengen lebih tau tentang ahmadiyah Qadiani coba sekali-kali mampir ke situs resmi Jemaat Ahamdiyah ( http://www.ahmadiyya.or.id ) atau yang international ( http://www.alislam.org )
    Ahmadiyah adalah Islam dan bukan agama baru,
    Rasulullah saw bersabda :
    ” Barang siapa shalat seperti kami, dan menghadapkan wajah ke kiblat kami dan makan makanan yang kami sembelih, maka itu adalah seorang muslim ” ( HR Bukhari )
    Rasulullah saw bersabda :
    ” Barang siapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir atau musuh Allah padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakannya ( menuduh ) itu.” ( HR Bukhari )

  7. Angga ( Orang Ahmadiyah ) Berkata
    11 Januari, 2008 pada 5:41 pm Kalo mereka ( LPPI ) sudah melakukan pengkajian tetapi knapa kajian mereka justru jadi menyimpang dari yang sebenarnya, saya ambil salah satu contoh dari kutipan komentar di atas ” Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah ” nah saya sebagai orang ahmadiyah menolak itu karena kitab suci Ahmadiyah adalah Alquran.
    ” Dalam agama tidak ada paksaan ” saya di sini mengungkapan apa yang saya tau bukan bearti memaksa kepada pembaca semua untuk meyakini apa yang saya yakini, saya cuma menyampaikan kalo ahmadiya itu tidak seperti apa yang mereka tuduhkan, dan itu sama saja dengan menfitnah dan rekan2 semua juga tau kalo fitnah itu lebih kejam dari pada membunuh, sampai sekarang saya tidak habis pikir mengapa mereka sampai bisa mengatakan tentang ahmadiyah yang tidak benar, mengapa mereka tidak menanyakannya langsung kepada Ahmadiyah yang emang nyata2 meraka mempercayai serta menyakininya.
    kalo emang gak menyakini ato mempercayai ya udah tapi gak mesti menyampaikan tuduhan2 yang tidak benar, kami suka kalo di ajak dialog, karena dengan itu kita bisa saling menyampaikan pendapat ato argument kita.
  8. Angga ( Orang Ahmadiyah ) Berkata
    11 Januari, 2008 pada 5:52 pm Saya rasa untuk penjelasan atas keberatan yang sering diajukan kepada Jemaat Ahmadiyah semuanya sudah terdapat dalam situs Ahmadiyah http://www.alislam.org atau http://www.ahmadiyya.or.id
  9. pratiwi Berkata
    11 Januari, 2008 pada 6:03 pm Ahmadiyah itu islam. Sesungguhnya yang bisa mengatakan orang itu sesat atau tidaknya hanya Allah yang ber hak. Semua ajaran yang ada di Ahmadiyah semua mengikuti sunah Rosul yakni Nabi Besar Muhammad S.A.W.
  10. daeng limpo Berkata
    12 Januari, 2008 pada 4:53 am @orang Ahmadiyah
    semakin anda merasa diri anda benar, maka semakin besar penantangan terhadap anda, karena apa yang anda bawa menyinggung sebagian besar kaum muslimin di seluruh dunia.
    Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.
    Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.
    Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.
    Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.
    Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.
  11. Angga ( Orang Ahmadiyah ) Berkata
    12 Januari, 2008 pada 5:39 am @daeng impo
    Beliau ( Hz Mirza Ghulam Ahmad a.s ) adalah nabi dan rasul pengikut syari’at nabi Muhammad saw, Beliau adalah Imam Mahid dan Al Masih yang di janjikan
  12. Macho Berkata
    25 Januari, 2008 pada 1:24 pm hehe… ini yang di tentang sama ane (umat muslim non ahmadiyah)

    Quotes from angga
    “Beliau ( Hz Mirza Ghulam Ahmad a.s ) adalah nabi dan rasul pengikut syari’at nabi Muhammad saw, Beliau adalah Imam Mahid dan Al Masih yang di janjikan”

    Belajar lagi mas angga…
    udah akhir jaman belom nih sekarang ? *
    udah perang terbuka belom sama orang kafir ? *

    * = prasyarat sebelum lahirnya Iman Mahdi yg merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis Syaidina Ali bin Abi-Thalib.

    Iman Mahdi nggak ngaku2x tapi ada karena keadaan kacau di akhir jaman.
    Kalau cuman ngaku2x semua orang juga bisa…. (itu termasuk saya)

    Nabi setelah nabi… mau berapa orang lagi… klo misalanya ada nabi lagi dari anaknya Mirza Ghulam Ahmad (nggak pakai a.s) gimana dong? nggak masuk logika ah.

    Saya mohon ampun kepadaMu ya Allah (Istigfar) …..

Tambahan sedikit, di situs yang disebut-sebut dalam thread komentar diatas (http://www.ahmadiyya.or.id/) ada banyak artikel yang mendadak nggak bisa dibuka, terutama masalah ke’nabi’an MGA, entah kena blok gara-gara UU ITE kah? Ato karena jarang diupdate? Ato jangan-jangan ini strategi umat Ahmadiyah untuk menutupi kepercayaannya selama kasus ini sedang disorot media?

Sulitnya Merubah Mindset…

Dalam suatu taushiyah dipaparkan bahwa kualitas dan kondisi tarbiyah suatu kaum bisa dilihat dari topik obrolannya. Jika isi obrolan itu tidak lepas dari mengingat Allah, Amal dan pembinaan diri, maka kondisi masyarakat atau kaum itu sedang sangat sehat dan mengalami kemajuan. Tetapi jika isi obrolannya tersebut tidak lepas dari Ghibah (gosip), Candaan dan Gurauan, apa lagi mengarah pada seputar kebutuhan ego dan syahwat, maka serendah itulah kualitas dari masyarakat tersebut.

Dan…. Jleb… saya tersinggung dengan kalimat saya sendiri. Tiba-tiba saja saya ngerasa bodoh… ceroboh… dan rendah. Seberapa seringkah saya mengingat kelompok yang saya pegang? Amal yaumiyan saya yang masih segitu-segitu saja? Gimana mandegnya gerbong yang saya tumpangi berjalan?

Kemudian saya teringat dengan seberapa sering saya berdoa meminta kemudahan jodoh? Menghabiskan waktu-waktu saya untuk mendengarkan lagu favorit saya? Memikirkan bisnis saya? Lalu mana waktu untuk aku curhat dan berkonsultasi pribadi denganNYA?

Aku semakin merasa malu dengan diriku sendiri. Kalau saja memukul kepalaku akan meringankan sedikit beban pikiranku, maka akan aku pukul kepala ini sekencang – kencangnya… Bakaaaaaaaa (bodoh, bahasa jepang red.)!!!  Kata seorang rekan aku itu kurang amanah… atau kurang amal (tuh kan, jadi inget dampratan Akhwat 1,5 tahun lalu…)

Fenomena tadi aku rangkum menjadi sebuah kesimpulan… Merubah mindset memang tidak mudah… begitu pintu ta’aruf kubuka kuncinya… begitu saja tema-tema sejenis melayang dipikiran ku. Begitu sulit rasanya menghapus bayangan-bayangan itu kuhapus habis… Dan aku semakin merasa bodoh… ceroboh…

Bodohnya, kebodohan yang paling bodoh adalah hal tadi diperparah dengan mulut bawelku yang nggak bisa tahan untuk nggak cerita ke rekan yang lain… This stupid blabbermouth, makes things worse!!

Akhirnya, sepertinya aku harus merubah doaku…

bukan meminta untuk dilapangkan hati… tetapi untuk dimudahkan menutup mulut kecuali untuk kebutuhan yang seperlunya….

Wallahu A’lam bisshawab

Eighties Memory: Lost in Your Eyes (Debbie Gibson)

LOST IN YOUR EYES (Debbie Gibson)

I get lost, in your eyes
And I feel my spirits rise
And soar like the wind
Is it love that I am in?
I get weak in a glance
Isn’t this what’s called romance?
And that’s what I know
Cause when I’m lost
I can’t let go

(Chorus)
I don’t mind
Not knowing what I’m headed for
You can take me to the skies
It’s like being lost in heaven
When (and) I’m lost in your eyes

I just felt
Don’t know why
Something is there
We can’t deny
Ooh, when I first knew
Was when I first looked at you
And if I
Can’t find my way
If salvation
Seems miles away
Oh, I’ll be found
When I’m lost in your eyes

(Repeat Chorus)

I get weak in a glance
Isn’t this what’s called romance
Oh, I’ll be found
When I am lost In your eyes.

Pertanyaan Bodoh…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Astagfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…

Kesalahan yang kita lakukan terkadang harus kita bayar dengan mahal…

Buat ku, mahal itu bisa senilai dengan harga diri. Ya… gimana rasanya jika kita melakukan suatu kebodohan, didepan orang banyak yang membuat ekspresi stress kita nggak bisa sedikit pun menyembunyikannya?

Hari ini aku melakukan hal itu… dengan mengajukan suatu pertanyaan yang setelah terbengong-bengong beberapa saat ternyata kusadari bukan hal yang pantas ditanyakan pada seorang akhwat. Jderrrrrr…… gila!! Aku bertanya tentang kriteria seorang perempuan dalam memilih pasanganya! Dan gak kebayang seberapa gede rasa malu yang muncul dari efek pertanyaan bodoh itu.

Sepanjang shalat, aku jadi tidak fokus. Saat makan pun setiap beberapa menit aku mengaduh, menggerutu “bodoooooh….” sambil memukul-mukul kepalaku yang mumet. Teman yang waktu itu makan bareng dengan ku pun cuma bisa cengengesan mendengar cerita ku. Aku…. setress… setress… setres….

Menikmati Masa-masa Penyembuhan

Ya… nggak banyak yang mau gw bilangin sekarang. Cuma sekedar pengen bilang kalo gw udah mulai sembuh setelah musibah beberapa waktu lalu. Ya… insyaAllah banyak banget hikmah yang bisa diambil. Seenggak-enggaknya gw jadi selebritis dadakan yang diinget orang gara-gara satu kata “KOLAK”. Konyol dan kurang elegan kedengaranya sih… Tapi mau gimana lagi, emang gw kesiram kolak mendidih sepanci…. Semoga nggak keulang lagi aja…. amien

Gw untuk pertama kalinya dijengukin nyokap ke bandung. Nikmat yang luar biasa mengingat gw belom pernah sekalipun di jenguk ortu dari setelah masuk ITB. Gw gak bisa berharap nyokap bisa lama-lama. Keluarga gw dapet mudik gratis dari BNI, jadi gw jg gak berharap hadiah itu melayang gara-gara harus ngejagain gw di bandung. Akhirnya gw harus ngerelain beberapa hari ngerawat diri sendiri dirumah. I know, it’s for better me… it’s make me more strong isn’t it?

Sekarang gw nekat ke semarang, padahal luka gw belum kering banget. Pertimbangan gw, disemarang yang ngerawat lebih banyak, jadi nggak terlalu ngerepotin. Di jakarta gw dititipin ke nenek di kampung melayu. Rada kasian juga sih… gw bakal ngerepotin banget disana. Dan lebih susah kabur kemana-mana (hehe… peace!!).

Berhubung gw ditawarin job juga dari bandung, so nggak lama lagi gw bakal nekat balik kebandung. Demi sesuap nasi seraup berlian, kerjaan desain gw jabanin. Itung-itung nambah modal usahanya GPH yang absolutely seret pisan…. Kantong super-duper kempes… So, here I come bandung…..

sekian dulu deh…

Still “Ardee’est Thing In My Life”

[JDDSK Bab I] Lika-Liku Tresno

Lika-Liku Tresno

 “No, gue pinjem kopeah dunk… lo ada gak?

Setengah gak percaya Tresno melihatku dengan tampang aneh, kayak keracunan tempe bongkrek..!! “Kesambet malaekat apaan loh…?” ledeknya. “Sialan…!! Gak, hari ini gue mentoring nih….. biar bisa jaim dikit, hehe…!!” jawabku nyengir kuda.

Tresno menoleh, “mentoring apaan lo hari gini…. emang masih jaman mentoring?”. Sekarang malah aku yang heran, “Lho, emang pas lo tingkat tiga gak ada mentoring? Lo udah ngambil kuliah agama blom sih?” tanyaku penasaran.

Ooh…. mentoring AAEI1) ya… gue kira lo kurang kerjaan ikut mentoring lagi sama TPB2)…” jawabnya sok cuek. “Dijurusan gue, agama itu tingkat empat. Sekarang gue masih mau nyantai dulu sama kuliah Sarmud3).” Lanjutnya.

Hmm…. bener juga sih, aku baru inget kalo mata kuliah agama ini sebenarnya kuliah tingkat akhir. Cuma emang mayoritas temenku ngambil ditingkat dua ato tiga, terutama yang IPK-nya bagus. Kalo aku, ya…. karena sampe saat ini kuliahku lancar-lancar aja, aku ngambil kuliah agama semester 6 ini. Kebetulan ada jatah mata kuliah pilihan.

Pletuk…. kutimpuk Tresno dengan kertas. “Jadinya lo ada kopeah gak?” tukasku gak sabar. “Iya, lo cari aja di lemari situ tuh…. deket sama pakean dalem gue….” jawabnya sambil mengutak-atik game yang setahuku sudah dua harian ini dia mainkan hingga nyaris tidak beranjak dari depan komputernya. Aku hanya mengernyitkan dahi, “Ah, yang benar saja… masa kopeah disatuin sama ‘beginian’….!!”.

Hari beranjak semakin sore, pukul 15.55 di jamku yang telat 10 menit. Aku langsung berangkat lagi ke Salman4). Agak telat… paling kelompokku sudah mulai tilawah. Aku pun bergegas masuk masjid, wudhu, shalat ashar, lalu langsung mencari teman-temanku dikoridor utara…

Duh… mana sih anak-anak? Si Abang mentorku pun belum terlihat batang hidung nya. Sekarang jam Salman menunjukkan pukul lima kurang sepuluh, dan tidak satupun teman sekelompok yang datang. Kuperiksa lagi inbox si Otong – Hape butut kesayanganku –, dan….

Aduh….!!” kataku sambil menepuk jidat…

Di HP kulihat pesan terakhir dari Bang Fahri, “Kita mentoring kamis ini ba’da maghrib. Tolong beri tahu yang lain.”. Aku langsung lesu melihat SMS itu. Ini kan hari jumat…

1) AAEI : Asistensi Agama dan Etika Islam, program pendukung mata kuliah agama islam.

2) TPB : Tahap Persiapan Bersama, program kuliah pada tingkat satu dimana beberapa jurusan disatukan dalam kelas-kelas besar. Sering dipelesetkan menjadi ‘Tahap Paling Bahagia’.

3) Sarmud : Sarjana Muda

4) Salman : Nama masjid kampus di ITB Bandung, Jl Ganesha No. 7.

—===|||===—

Malam itu gerimis, sehingga aku menunda makan malam. Males harus berhujan-hujanan kewarung nasi. Paling mentok-mentoknya aku bikin mie dengan pemanas air yang kupunya. Kebetulan aku pun masih mumet, berkutat dengan data praktikum tadi siang, yang besok harus ‘kusulap’ menjadi laporan.

Ceklek….. nguiik…. derit pintu kamarku yang mulai lapuk. Tiba-tiba kepala Tresno nongol, dengan tampang lesu. “Hoi… ar, Lo udah makan belum? Makan nyok….. laper nih… si Ruli juga mau cari makan bareng tuh…

Hohoho… kesempatan yang gak boleh dilewatkan. Segera kujawab “Nitip dong….!!! Plis… cuplis… kue lapisss…., gue lagi ngerjain Laporan nih. Besok jam 9 harus gue kumpulin…”. Gue jujur kok, engh… gak juga sih, sebenarnya lebih karena gue males kehujanan aja makanya tawaran Tresno ini jadi kesempatan emas buat makan tanpa harus berhujan-hujanan. Walau sedikit manyun Tresno akhirnya menerima orderan ku ini. Akupun kembali kusut dengan data-data yang harus kuolah.

Setelah Tresno balik, dia main kekamarku. “Tadi gimana mentoring lo Ar?” tanyanya memecah keheningan plus konsentrasiku….

Gue salah jadwal, harusnya kemarin…

Emang, dapet apa lo di mentoring…? Paling juga sama aja kan materinya sama mentoring TPB?

Ya…. sama gak sama, tetep aja wajib…. Masalahnya gue ketua kelompok jek!!

Alah… gue heran sama orang-orang Salman itu, kenapa sih mereka getol banget sama mentoring. Ujungnya politik lagi… politik lagi…” sahutnya dengan nada sinis.

Agak sedikit gerah, kujawab “heuh, maksud lo…?”.

Jangan belagak gak tahu lah…. Lo tau kan golongan mana yang selalu menang pas pemilihan Ketua BEM? Paling juga mentoring ujung-ujungnya kesitu…

Nada bicaranya yang semakin ketus membuatku berhenti mengetik…. “ Ah… jangan gitu Lo, Jangan asal nuduh…!! Lo ada bukti gak….” jawabku dengan nada tinggi walau kutahan.

Tresno terdiam, sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang lebih santai… “Sorry deh Ar, gue rada emosi. Gue cuma inget masa-masa tingkat dua dulu…” ia terdiam tidak melanjutkan pembicaraannya.

emang ada apa No?” tanyaku ingin tahu…..

Udah ah… gak usah dibahas lagi…” Jawabnya tegas sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.

Setelah malam itu, aku agak enggan membahas hal yang berkaitan dengan mentoring dengan Tresno. Aku gak tahu, apa sebenarnya yang membuat dia begitu sinis berhadapan dengan mentoring… atau lebih tepatnya rekanku, anak-anak aktivis Salman. Yang pasti, ada trauma yang masih membekas dipikirannya, entah apa itu..!!

Hei, si Tresno kau apakan sih….?” pertanyaan Ruli yang tiba-tiba mengagetkan lamunanku. “Kenapa tiba-tiba dia jadi murung begitu ya, kuajak main game pun tak mau dia bah…!!” tambahnya dengan logat tapanulinya yang kental. Aku malas membahasnya, jadi kujawab saja asal…. “Lagi butuh pijeman duit kali Rul… Biasa, akhir bulan!!”.

—===|||===—

Esoknya aku masih kepikiran dengan obrolanku semalam, “Sebenarnya ada masalah apa sih Tresno dengan anak-anak salman?”. Pertanyaan ini membuat aku lebih mumet dibandingkan dengan laporanku yang akhirnya kukumpulkan agak telat. Biarlah…. pikirku, telat mengumpulkan laporan paling diminus oleh asisten, masalah dengan Tresno dapat membuatku kehilangan salah satu teman terbaikku.

Masih teringat satu setengah tahun lalu, secara tiba-tiba aku tidak memiliki tempat tinggal. Permohonanku masuk asrama ditolak, dan akhirnya aku pun menjadi pemukim ilegal di sekre salah satu unit di Salman selama beberapa waktu. Syukurlah tidak lama kemudian Tresno yang sebenarnya baru kukenal di sebuah kepanitiaan membantuku untuk mendapatkan kost.

Eh…”, bahuku ditepuk dari belakang. Lamunanku buyar seketika. Ternyata Arif, senior sefakultasku, teman baik Tresno.

Ngelamun aja nih…! Sampe gak nyapa ada teman lewat.

Eh, iya…! Maaf kang, lagi rada konsentrasi…..

Alah, konsentrasi apa ngelamun…? Sampe jaketmu jatuh aja gak kerasa….”, ledeknya sambil menyodorkan jaket ditangannya. Aku memeriksa tasku dan benar… jaket yang sejak tadi kuselempangkan di sela-sela tali tas sejak tadi jatuh beberapa belas meter dari tempatku berdiri. Akupun lalu berterimakasih padanya.

Ah… benar juga…”, tiba-tiba terlintas ide untuk mengorek info dari Arif. Kupikir mungkin ia tahu tentang masa lalu Tresno.

Kang, boleh nanya gak…?”, tanyaku tiba-tiba setelah tahu kami sama-sama akan ke jurusan. “Ya…. kalo bisa saya jawab mah, sok aja atuh…!!(silahkan saja…)”, sepertinya dia berpikir aku akan bertanya soal laporan.

Akang kenal Tresno sejak TPB kan?

Mmm… ya! Memang kenapa?

Sebenarnya… ada masalah apa sih dengan Tresno? Sepertinya dia…. agak sinis dengan mentoring… dan teman-teman yang aktif di Salman.”, aku coba sedikit berhati-hati memulai pembicaraan ini. Arif menarik nafas panjang sambil mengangguk pelan, ia terdiam selama beberapa waktu lalu akhirnya menghentikan langkahnya. Ia mengajak ku duduk di bangku yang kebetulan ada di dekat tempat kami berdiri.

Tresno dulu pernah aktif di Salman, saa…ngat aktif. Dulu kami pernah satu mentoring, tapi kemudian saat masuk tingkat dua kami pisah kelompok.”, tuturnya sebelum terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan…

Tresno adalah sosok aktivis yang begitu bersemangat, sehingga cukup banyak senior yang respek padanya. Mereka tak segan mempercayakan amanah padanya. Sayang, ternyata ada yang luput menjadi pemantauan rekan-rekannya. Diluar organisasi dan aktivitas dakwah, pelan tapi pasti prestasi akademiknya merosot. Awalnya ia cukup sabar dan tidak terlalu bermasalah dengan hal itu. Bahkan saat teman-temannya sedang ‘drop’ semangatnya, dialah yang menaikkan moral mereka.

Tapi ternyata ada satu kejadian yang benar-benar mengecewakan dia. Disuatu kepanitiaan dia ditunjuk menjadi Mas’ul. Tetapi kemudian karena banyaknya rekan yang merangkap amanah akhirnya beberapa divisi terabaikan… dan saat itu sebagian dari panitia sedang terfokus mensupport salah satu Rekan yang mencalonkan diri sebagai Ketua BEM. Akhirnya kepanitiaan itu berjalan dengan kodisi memprihatinkan. Dana sangat minim menyebabkan panitia terjebak hutang. Saat itulah Tresno merasa ditinggal sendirian oleh ‘saudara-saudara’nya.

Kami menyadari bahwa apa yang terjadi pada Tresno adalah kesalahan fatal…!! Ia.. kemudian berhenti halaqah….”, tiba-tiba Arif menghentikan bicaranya, matanya agak berkaca-kaca. Setelah menarik nafas panjang ia melanjutkan… “Hingga sekarang, beberapa rekan terutama yang pernah sehalaqah sedang berusaha untuk menarik dia untuk ngaji kembali… tapi tampaknya sulit, trauma itu masih sulit ia lupakan. Ia pun cenderung menghindar dari kami.”.

Ternyata begitu ruwet masalah yang menyebabkan Tresno seperti sekarang. Aku jadi teringat dengan materi yang kudapatkan disalahsatu pertemuan mentoring ku… Jalan dakwah memang terjal dan mendaki, tapi itu semua dapat dilewati dengan ukhuwah dan kesolidan dalam berjamaah. Jika landasan ukhuwah dan jamaah tadi goyah… maka lemahlah kekuatan dakwah. (Halah… ngomong apa sih aku, tumben jadi ustadz gini!!)

Akupun jadi sadar, ternyata apa yang dijalani mentorku dan teman-teman aktivis yang lain tidak seindah yang ku pikirkan. Beliau dengan segala cara mengusahakan agar kami bisa ikut dalam mentoring. Itu semua tanpa pamrih apapun selain harapan bahwa kami dapat bergabung dalam barisan yang sama dan menjadi muslim yang istiqamah. Sejenak aku bersyukur memiliki rekan dan mentor yang bersemangat dan saling support.

Dan percakapan tadi membuatku sedikit lega…. mungkin aku belum dapat memberikan solusi untuk masalah Tresno, tapi setidaknya lebh jelas apa yang bisa aku bantu. Aku harus bisa membantu Arif dan yang lain untuk dapat membuat Tresno ikut ngaji kembali.

[JDDSK Bab III] Lho… Kamu?

Lho… kamu?

Ammmpun, jam enam limabelas…! Aku belum shalat subuh.”, teriakku panik. Pagi itu untuk kesekian kalinya aku bangun seperti orang kesetanan. Belum shalat, mandi, sarapan dan… aku kuliah jam tujuh! Sudah tak sempat lagi mandi, sehingga aku putuskan untuk ‘mandi pasfoto’ plus sikat gigi. Sarapan pun tidak ada waktu lagi. Aku bergegas memakai sepatuku.

Ruli yang terbangun karena bunyi ‘gradak-gruduk’ sejak tadi, berdiri menghampiriku. Sambil garuk-garuk dia bertanya, “Mau kemana kau pagi-pagi begini?”.

Ya kuliah lah….” jawabku bingung. “Dosen yang ngajar senin pagi killer banget… gak boleh telat sama sekali!”, lanjutku.

Tresno keluar dari kamarnya dengan mata masih tertutup rapat.

Apa sih pagi-pagi pada ribut…. gak bisa liat orang menikmati akhir pekan apa?

Sorry No, gue ada kul…” aku terhenti sejenak, kayaknya ada yang aneh.

Tadi apa lo bilang…. akhir pekan?

Aku cek tanggal di HP bututku…. Aduh, bener deh… hari minggu! Dari tadi rupanya aku salah ingat… kukira ini hari senin. Tresno dan Ruli hanya tertawa melihat aku yang dongkol. Aku kembali masuk kekamarku, melanjutkan tidur yang tertunda.

Mngh… buku apa nih?” tanyaku dalam hati saat baru saja merebahkan diri. Saat kulihat ternyata buku yang kemarin kubeli dipameran. Aku lalu teringat bahwa semalam aku hampir tidak tidur, berusaha menamatkan buku itu. Ceritanya memang menarik, tapi apa mau dikata…. ternyata mataku tak mau kompromi lagi. Akhirnya aku ‘tewas’ di Bab V. Rencana hibernasiku kubatalkan. Aku langsung asyik mencari-cari halaman terakhir yang kubaca sebelum ketiduran.

Buku ini memang bagus, ceritanya mengalir dan idenya sederhana. Novel ini mengisahkan seorang siswi SMU yang menemukan jatidirinya sebagai seorang muslimah. Setelah proses pencarian panjang, ia kemudian berjilbab. Cerita ini mulai menghangat ketika memasuki masa kuliah ia mencari seorang pendamping hidup. Mulai dari sinilah cerita ini berlika-liku. Aku sendiri masih terjebak di Bab V, pada awal fase ini.

—===|||===—

Sudah kuduga…!”,  ucapku senang saat ternyata cerita berjalan seperti prediksiku. Ternyata Juwita akhirnya memilih yusuf, walaupun secara ekonomi ia jauh dibawah Randi. Ternyata juwita kagum dengan yusuf yang mandiri sehingga rela berjualan buku untuk membiayai kuliah demi meraih cita-citanya sebagai seorang insinyur sipil.

Beberapa belas menit kemudian akhirnya aku bisa bernafas lega. Novel itu dapat juga kutamatkan hari ini. Tapi ternyata rasa penasaranku belum berakhir. Cerita ini keren sekali, penulisnya seperti begitu menyelami cerita. Aku jadi penasaran, seperti apa sosok penulisnya. Sayang, di dalam buku tidak ada nama asli dari penulis. Ku bolak-balik lagi buku itu dan kutemukan biodata dari “Rona Senja”.

“Rona Senja, Lahir di Semarang, 2 Februari 1988. Dari sejak TK hingga SMU dijalaninya di Semarang. Ia saat ini sedang melanjutkan pendidikannya di jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung.

Menulis sudah menjadi hobbynya sejak kecil. Berbagai penghargaan menulis telah ia raih, diantaranya juara pertama Festival Cerpen Pelajar, Majalah KoncoKu tahun 2003. Kini aktif menulis cerpen untuk beberapa majalah Islami.”

Hah… dia anak ITB? Jurusan Teknik Sipil…? Apa aku kenal ya…? Aku semakin penasaran dengan identitas “Rona Senja”.

—===|||===—

Keesokan harinya, hari senin ‘yang sebenarnya’ aku sudah mempersiapkan diri untuk ‘benar-benar’ tidak terlambat. Alhamdulillah… aku ‘lebih tidak terlambat’ dibanding kemarin, jam 6 lewat 5 menit (hehe… tetap saja kesiangan shalat subuh)! Tapi lumayan, aku tidak telat masuk kelas, dan bisa nyaman duduk dibelakang melanjutkan tidurku (lho kok..?). Herannya entah kenapa pagi ini pak Petrus sering sekali bermain-main ke sisi belakang kelas. Aku akhirnya mau-tak-mau harus melek sampai kuliahnya selesai.

Kulihat jadwal hari ini, “9.00 Metodologi Penelitian, lalu…. sudah!”. Kuliahku hanya sampai jam 11. Selain itu ada agenda rapat persiapan panitia Penyambutan Mahasiswa Baru GAMAIS(Keluarga Mahasiswa Islam ITB) ba’da ashar. Aku diamanahi menjadi koordinator pembuatan booklet yang dibagikan saat mahasiswa 2007 datang, rapat kali ini adalah rapat perdana. Memang masalah per-desain-an adalah merupakan hoby dan keahlianku yang cukup menonjol.

Setelah setengah jam dikelas ternyata dosenku tak kunjung datang. Beberapa teman sudah bersiap akan bubar. Saat ketua kelas datang, barulah kami tahu bahwa ada tugas yang diberikan sebagai pengganti kuliah. Setelah mencatat tugas kami langsung membubarkan diri. Aku makan siang, shalat dan ngenet gratisan sampai ashar di Lab Komputer Biologi.

—===|||===—

Selepas shalat ashar di Salman, aku langsung ke Koridor Utara (korut). Area ini bisa dikatakan zona rapatnya aktivis Salman. Hampir semua rapat memilih tempat ini atau Koridor Timur(kortim), hanya saja korut lebih disenangi karena lebih tertutup. Setelah 15 menit menunggu, ternyata belum ada satupun yang datang.

Maaf Akh, ana telat. Masih ada kuliah sampai jam 4.”, Zulkifli datang dengan terburu-buru. Tak lama kemudian rekan-rekannya dari Seni Rupa datang, kuajak mereka ngobrol. Sekarang ada kami berempat, aku dan tiga orang anak SR 2005. Aku miscall Ukhti Rani, menandakan di ikhwan siap memulai rapat.

Beberapa saat kemudian tiga orang akhwat datang (dan tentunya) dengan menunduk. Setelah mereka duduk berjajar menghadap selatan, aku merapikan jajaran ikhwan lalu maju kedepan bersiap memulai rapat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, aku memulai rapat ini. Salam tadi dijawab oleh semuanya, tetapi…..

Lho, kamu…?”, terdengar suara keras itu diantara barisan akhwat. Aku kaget saat kulihat sesosok akhwat yang sepertinya kukenal.

—===|||===—

Kisah Rani…..

Namaku Rani Putri Ayuningtyas, asliii…. 100% Bandung. Sekarang aku kuliah semester 6 di Teknik Lingkungan ITB. Walaupun embel-embelnya teknik, TL ITB cukup beruntung dengan proporsi pria wanita yang cukup berimbang. Aku sudah mentoring sejak SMA dulu, apalagi di Salman ada Kharisma yang memotori perkembangan mentoring dikalangan anak SMU. Sekarang ditahun ketigaku di ITB aku pun sudah mendapat lisensi menjadi mentor bagi mahasiswa TPB.

Kelompokku rame sekali, aku sangat menyayangi mereka. Ada Anindya yang sejak SMA telah aktif di Rohis, anak semarang yang punya bakat menulis cerita. Ada juga Nada, mahasiswi Planologi, asal jakarta, yang walau sangat gaul dan centil, tapi punya keingintahuan yang besar terhadap islam. Irma, mahasiswi sejurusanku ini asli Garut, walaupun pendiam aku cukup mengagumi qiraah Qurannya yang indah. Ada juga Tiara, sejurusan dengan Anindya, punya minat yang sangat besar ke Musik dan pandai memainkan piano. Adapula Fatimah dari Aceh, Dewi, dan Ranti, namun mereka jarang sekali datang.

Saat ini aku diamanahi membantu persiapan acara Penerimaan Mahasiswa Baru. Divisi Booklet adalah bagianku. Tugasnya adalah menyusun buku saku yang berisi informasi lengkap seputar kehidupan mahasiswa sebagai panduan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan barunya. Isi booklet ini sangat beragam, dari lokasi toilet dan mushalla di ITB, lokasi fasilitas layanan mahasiswa, kantin, rute angkot, jajanan murah di Bandung serta info daerah untuk kost, tak ketinggalan bonus beberapa cerpen sebagai pemanisnya.

Berkaitan dengan cerpen itulah, aku mengajak Anin untuk ikut membantuku di tim Booklet ini. Senin, 7 Mei 2007 ini adalah rapat pertama kami. Aku juga mengajak adik mentoringku yang lain, Nada tertarik untuk ikut tapi tidak dapat hadir karena masih kuliah hingga jam 5. Maka setelah ashar, hanya aku dan Anin serta seorang akhwat lagi yang dapat hadir dirapat.

Menunggu kode dari ikhwan, kami ngobrol dulu seputar konsep untuk buku ini. Anin menyanggupi untuk membuat beberapa cerpen, bahkan ia langsung membawa beberapa contohnya untuk kami pilih. Akhirnya setelah menunggu 15 menit, Akh Arie me-misscall kami. Kami segera beranjak ke korut…

Akh Arie segera membuka rapat dengan salam. Setelah menjawab salam aku segera dikejutkan oleh…..

Lho… kamu?” Anin tiba-tiba bersuara. Aku lebih kaget lagi saat akh Arie meresponnya dengan…

Lho, kamu juga ngapain ada di sini?

Aku bergantian menatap mereka berdua, bingung. Anin tiba-tiba tertunduk. Aku segera menengahi…

Ngh.. ini adik mentor ana. Dia pintar membuat cerpen, jadi ana ajak untuk gabung di tim kita.

Akhirnya rapat kembali berlanjut seperti tidak terjadi apa-apa. Anin mencubit pelan sikuku… entah apa maksudnya.

—===|||===—

Kisah Anin…..

Teh Rani mengajakku ikut di tim booklet, sore ini kami rapat. Aku senang sekali karena berarti cerpenku akan dibaca oleh Mahasiswa baru. Aku berharap cerpenku dapat menginspirasi mereka untuk mengenal islam lebih dalam. Teh Rani memberi respon yang baik pada beberapa cerpen yang kubawa sebagai contoh.

Kami akan segera memulai rapat, seorang ikhwan maju kedepan memimpin. Ia memberi salam, tapi…. lho suara itu….!

Lho kamu…?” aku langsung ingat, dia adalah cowok jutek di pameran buku kemari. Aku kaget, ngapain dia disini?

Lho, kamu juga ngapain ada di sini?” jawab si cowok jutek.

Ihhh…. mendengar responnya yang gak simpatik itu aku tambah kesal. Tapi aku segera sadar melihat Teh Rani yang kebingungan, aku juga tersadar… aku kan akhwat… Maluuuu…!

“Ngh.. ini adik mentor ana. Dia pintar membuat cerpen, jadi ana ajak untuk gabung di tim kita.”, ucap Teh Rani memecah kesunyian. Aduh, kenapa memujiku teteh…. Kucubit pelan sikunya.

[JDDSK Bab II] Akhwat di Pameran Buku

Akhwat di Pameran Buku

Kisah Arie….

Selamet…. selamet….!! Ternyata gak cuma aku yang telat mengumpulkan laporan. Akhirnya ada toleransi hingga jam 12, sehingga aku gak jadi diminus. Dengan lega aku bergegas meninggalkan jurusan. Sekarang ada pameran buku di Braga, kebetulan ada beberapa teman yang mengajak kesana. Kebetulan juga sekarang awal bulan, waktunya foya-foya untuk anak kosan kayak aku.

Mmm….. gak terlalu salah ah, toh kan buat beli buku. Bermanfaat kan? (Hehe, sebenarnya hanya ‘pembenaran’ ku saja. Paling ujung-ujungnya malah komik ato novel yang aku incar… mumpung murahhhh…).

Oh… iya, aku belum memperkenalkan diri. Waktu lahir aku diberi nama Arie Eka Perkasa. Keren kan…? Lahir 21 tahun yang lalu di sebuah Kampung…. (Kampung Melayu, Jakarta hehe…). Ibuku asli jawa sedang bapak Lampung, dari kecil tinggal di Jakarta. Kini kuliah dijurusan teknik perparkiran ITB… ngh, becanda ding! Aku jurusan Biologi angkatan 2004. Jurusan yang bikin sirik cowok sekampus.

Iyalah, gimana enggak…? Saat jurusan laen ‘gersang’ dengan populasi Cowok vs Cewek yang jauh dari imbang, cowok biologi merasakan hal yang sebaliknya. Saat diospek dulu, kaum hawa menjadi spesies dilindungi dijurusan-jurusan teknik. Di biologi, justru sebaliknya…. para cowok adalah barang langka disini, sehingga keberadaannya lebih dilindungi. Itulah mengapa kami malah merasa dikelilingi cewek-cewek perkasa disini.

Tapi sebenarnya gak beruntung-beruntung amat jadi cowok Biologi, kalo kami tanding sepak bola kami agak jatuh mental. Bukan karena jumlah cowok yang sedikit, tapi karena cewek-cewek biologi justru sering menyemangati tim lawan terutama anak-anak teknik. Klo udah gini sorakan yang rame justru malah “sipil…. sipil….” atau “mesin…. mesin…..”. Apes… apes…!!

Aku tinggal di Bandung sejak 3 tahun yang lalu. Beruntung aku lolos SPMB dan dapat masuk jurusan yang selama ini aku harapkan… biologi. Sebenarnya menurutku agak aneh mengingat aku sebenarnya tidak terlalu ‘doyan’ pelajaran ini semasa sekolah.Yang aku senangi dari biologi hanya karena ada sisi sejarah yang banyak ceritanya dan banyaknya nama latin (padahal ini membuat orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

—===|||===—

Setelah sekitar sejam berkeliling di area pameran akhirnya aku berhenti disebuah stand buku. Kulihat banyak novel baru di stand ini. Akupun kemudian mulai sibuk sendiri mencari novel yang cukup pantas kubeli. Sepertinya budgetku hanya cukup untuk dua novel melihat harga rata-rata novel disana yang sekitar Rp 20-25 ribu.

Mngh…?! Mataku tertuju pada sebuah novel. Judulnya agak menggelitik dan cukup berani menurutku, “Suami Keren: Most Wanted!!”. Kubaca sekilas abstraksinya tidak ada nama penulis, hanya tertera nama pena “Rona Senja”. Aku jadi penasaran dengan isinya.

Bruggg….!! Terdengar suara benturan keras disebelah ku. Kulihat seorang Akhwat dengan nafas ngos-ngosan berdiri membungkuk di belakangku. Ia baru saja menabrak rak buku yang berdiri dibelakangku. Ketika kulihat, di hanya nyengir sambil meminta maaf. “Hmm… ceroboh sekali akhwat ini!!” kataku dalam hati sambil bergeleng.

Mas, buku itu…. buat saya ya…!!

Aku bengong saat ia menunjuk buku yang ada ditanganku… “Lho, kenapa gak yang dirak aja mbak?” jawabku, “rese’ banget sih ni cewek, emang siapa dia….!!” gerutuku dalam hati.

Ya… mas, I….itu buku terakhir kata mbak penjaga stand.

Emang di stand lain udah gak ada?

Saya udah keliling dari tadi…. udah ludes kejual mas….

Aku jadi penasaran, seberapa ‘sakti’ sih buku ini…. Hasrat gak mau kalah ku tiba-tiba muncul, “gak bisa gitu dong mbak…!! Saya kan lihat duluan….” jawabku agak ketus.

 Aku sebenarnya mendadak gak tega, dia manis….(hehe) dan ngg….. sepertinya pernah kulihat dikampus. Tapi dimana ya…? Ah, tetap saja, aku gak boleh kalah. Secepat kilat (zuingggg…!!!) kubawa buku itu kekasir.

Berapa mbak..?”,

Mas…. plis banget….”, si Akhwat masih mengikutiku dan sepertinya ingin mencegahku walau agak ragu-ragu.

Kukeluarkan uang dan kubayarkan segera. Si akhwat tertunduk lesu, aku jadi tambah gak tega… tapi, masa bodo lah… aku jadi penasaran mengapa Novel ini sampai habis distand tadi.

—===|||===—

Kisah Anin….

Namaku Anindya Pratiwi, mahasiswi S1 jurusan teknik sipil angkatan 2006 di ITB. Aku sebenarnya asli Semarang… hehe… mirip lunpia ato bandeng presto lah…!! Mungkin karena aku anak terakhir dari 3 bersaudara sehingga aku agak sedikit manja dan ambekan. Tapi walau begitu, gini-gini aku berani… buktinya aku memutuskan untuk mengambil kuliah jauh dari kota kelahiranku. Aku juga sudah cukup mandiri. Selain dari beasiswa, beberapa tulisanku juga dimuat di media sehingga aku kerap mendapat honor, walau tak terlalu besar.

Sebenarnya aku rasa aku salah jurusan. Saat SPMB dulu aku ingin masuk Seni Rupa atau Sastra. Sayangnya Mama keberatan dengan pilihanku. Begitu juga Papa, ia ingin aku mengambil jurusan yang sama dengannya… Teknik Sipil. Aku memutuskan ikut apa kata papa, bagaimana pun yang membiayai aku kuliah kan mereka. Akhirnya hasil SPMB pun membawaku ke kota ini…. Bandung, yang kata orang Paris Van Java.

Ternyata setelah ku jalani, aku cukup enjoy dengan jurusan ini. Memang agak seram juga awalnya, mayoritas mahasiswa sipil adalah pria. Perbandingannya jauuuuh… sekitar 5:1. Tapi justru karena itulah kami yang wanita jadi sedikit dilindungi, kalo ada apa-apa teman-temanku langsung pasang pagar betis!! Kayak mau tendangan bebas dipertandingan sepak bola… hihihi..!!

Aku berjilbab sejak SMU. Aku terkesan sekali dengan kakak-kakak mentorku dulu. Mereka rata-rata berjilbab lebar, terlihat sangat anggun dibandingkan dengan senior lain yang roknya sejengkal diatas lutut. Akhirnya kuputuskan memakai jilbab ketika awal kelas dua. Awalnya mama agak sedikit keberatan, takut susah dapet jodoh lah… ntar kutuan lah… dan berbagai alasan. Tetapi setelah ku bujuk… akhirnya mama luluh juga. Bahkan, kemudian mama malah ikutan berjilbab setelah dimasjid sekitar rumah rajin diadakan pengajian.

—===|||===—

Hari ini adalah launching buku pertama ku…. Kebetulan mengambil momen pameran buku di Braga. Akhirnya setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit, naskahku ada juga yang melirik. Mungkin karena beberapa evaluasi yang kulakukan sehingga kini naskah tersebut layak terbit. Buku ini tak lebih merupakan tuangan imajinasiku, harapan yang aku yakin juga dimiliki setiap akhwat.

Selepas dzuhur aku berangkat ke pameran bersama teman sehalaqahku Tiara, Nada dan Irma serta Teh Rani – Mentorku – kebetulan hari ini kami memang mengagendakan jalan-jalan bersama. Aku tidak memberitahu mereka tentang Launching bukuku nanti. Kupikir biar ini menjadi kejutan bagi mereka. Aku tak sabar lagi menunggu Acara Launching nanti.

Nin, kamu kenapa sih…? Perasaan dari tadi teteh liat senyum-senyum sendiri. Nyanyi-nyanyi lagi… kayaknya kamu lagi seneng banget ya hari ini….” teh Rani ternyata sejak tadi memperhatikan aku yang tidak bisa diam.

Nggak kok teh, cuman…. ya, liat aja nanti. Aku ada kejutan lho untuk kalian….” jawabku kepada semua.

Ih… apa sih, kok main rahasia-rahasiaan gitu. Jadi penasaran nih….” , Irma menanggapi. Aku hanya tersenyum.

Bus DAMRI akhirnya sampai di Braga. Kami turun dan mulai merencanakan rute perburuan kami di pameran ini. Aku diam-diam mencari lokasi launching Bukuku. “Ah… di sana rupanya..!!” ungkapku dalam hati. Saat anak-anak sedang sibuk melihat-lihat buku disebuah stand, aku izin meninggalkan mereka sebentar.

Kuhampiri pak Bambang direktur perusahaan penerbitan itu.

Assalamualaikum pak..!!

Oh, waalaikum salam. Kamu sudah datang Nin. Mmm… nanti acaranya mulai jam 14.00, dipersiapkan ya…” sambutnya ramah.

Oiya pak, aku mau lihat contoh bukuku dong…!!”, pintaku. Sampai saat ini aku belum tahu sedikitpun bagaimana wujud naskahku saat menjadi buku. Pak Bambang memanggil seorang karyawannya, aku dimintanya mengikuti karyawan tersebut.

Beberapa kardus besar terlihat sudah kosong. Karyawan pak Bambang bilang, buku itu sudah didistribusikan ke toko-toko buku. Terutama yang hari itu membuka stand disana. Karyawan tadi mencarikan sisa buku yang masih tersedia, namun ternyata stok didalam kardus-kardus tadi sudah habis. Akhirnya kami kembali ke pak Bambang.

Masyaallah…!!”, aku terkejut melihat sebuah poster yang terpampang disudut sebuah stand. Tengkukku seperti tersetrum saat kulihat judul buku yang dipromosikan disana, “Suami Keren: Most Wanted!!”. Judul yang baru kali ini kudengar, “tapi…. kenapa nama penaku ada disana?” batinku panik.

Aku bergegas menemui pak Bambang.

Pak, poster itu….

Gimana bagus kan….”, sahut pak Bambang tersenyum.

Tapi pak, judul naskahku kan….” aku tak melanjutkan perkataan ku. Aku bingung, malu, nggak tau harus bagaimana nanti saat acara launching berjalan. Judul novelku sama sekali tidak kusangka akan berubah seperti itu. Bagaimana jika Tiara, Nada, Irma dan Teh Rani melihat judulnya? Mau ditaruh dimana mukaku ini….

Lho kamu kenapa? Memang kurang bagus….” tegur pak Bambang bingung. Ku ungkapkan kepanikanku pada pak Bambang. Sepertinya ia bisa mengerti, dan meminta maaf karena ceroboh dalam memperhatikan proses penyutingan naskah ku. Dengan segera ia membantu dengan mengusahakan agar Novel yang sudah terlanjur beredar dapat ditarik. Launching novel pun dibatalkan.

Pak Bambang datang kembali kepada ku dengan wajah kecewa. “Nin, novelnya sudah hampir habis terjual di stand-stand. Kayaknya telat untuk menariknya. Maafkan kami ya Nin.”, ungkapnya menyesal. Dengan terpaksa akhirnya kurelakan saja Novel itu beredar dengan Judul yang aku sendiri tidak pernah terpikir untuk menggunakannya.

Aku kembali ketempat teman-temanku berada. Muka mereka sudah terlipat-lipat, cemberut.

Ih, kamu kemana aja sih Nin, lama banget. Kita kan mau ke stand lain…” Tiara manyun.

Iya nih, udah hukum aja yuk… suruh dia traktir buku buat kita.” Nada dengan senyum jahil menambahkan.

Punten atuh ibu-ibu…. bisa tekor dompet abdi kitu mah…” jawabku dengan dialek sunda yang sangat-sangat dipaksakan. “Yuk jalan lagi….”, ajakku. Kami kembali berburu buku ke pelosok pameran.

Sekilas mataku melihat sosok buku seperti yang kulihat diposter. “Ah.. itu dia masih ada yang tersisa” pikir ku. Aku bergegas meraih buku itu. Tapi naasnya……

Brukk….” kakiku tersangkut kabel yang bersliweran diantara rak. Hampir saja aku jatuh dengan sukses, untung aku masih sempat berpegangan pada rak buku. Semua mata melihat padaku. Aku hanya bisa nyengir sambil meminta maaf.

Aku berusaha mengambil novel tadi. Tapi telat, seorang pria telah memegang buku itu. Dengan masih mengatur nafas aku beranikan diri memintanya.

Mas, buku itu…. buat saya ya…!!

 “Lho, kenapa gak yang dirak aja mbak?” jawabnya bengong, tak menyangka ada cewek manis yang meminta buku yang sedang ia pegang.

Ya… mas, I….itu buku terakhir kata mbak penjaga stand.”, kataku.

Emang di stand lain udah gak ada?”, suaranya meninggi.

Saya udah keliling dari tadi…. udah ludes kejual mas….” aku coba untuk melobi cowok ini. Aku masih penasaran dengan proses editing yang dilakukan. Sedrastis apa perubahannya.

 “gak bisa gitu dong mbak…!! Saya kan lihat duluan….” ia tambah merengut.

Lho…lho, kemana dia?” pikirku saat tiba-tiba ia ngeloyor pergi meninggalkanku. Ternyata ia kekasir!

 “Berapa mbak..?” ia berusaha segera membayar buku itu. Aku berusaha mencegahnya….

Mas…. pliiiiis banget….

Terlambat, ia telah membayar buku itu. Lalu segera pergi meninggalkan stand ini. Untuk kedua kalinya aku harus kecewa hari ini, gagal memperoleh buku itu.

Nge-search aja dibayar lho…

Ada-ada aja cara Para biro iklan internet untuk mengiklankan produk dari kliennya. Salah satu cara yang digunakan diantaranya adalah dengan jasa email. Para member yang jadi target iklan mendapat bayaran/komisi dari proses menerima dan membaca email dari si pengiklan tadi. Ini adalah beberapa contohnya. Kalo ada yang mau gabung silakan tinggal klik di link-link berikut:

Oh iya, jangan curang ya. Karena ada sistem referall, jadi ada komisi tambahan bagi yang nyeponsorin anda. Begitu juga saya, dan tentu saja anda jika anda daftar layanan dibawah. Saya yakin anda tidak ingin jika setelah mendaftar ternyata tidak ada merefer anda dengan cara curangkan? Begitu juga saya.
Jadi kliklah Link dibawah apa adanya, biar kita bisa sama2 enak. Selamat mencoba!

Baca email dibayar? Ini linknya…

Emailorama

nickelsbyemail.com

Ngesearch aja dibayar…

Kalo ini, program yang ngebayar kita kalau kita searching diinternet dengan search engine mereka.