Category Archives: Uncategorized

One Step Closer to be A Batik Designer

8
April 2007

One Step Closer to be A Batik Designer

Sebagai orang dengan karakter
rada sanguin, secara naluriah kadang gw terjebak dalam kondisi mencari-cari
eksistensi, pengakuan, pengen dilihat dan diapresiasi orang, walo pun disisi
lain sisi plegmatis gw memposisikan gw dalam kondisi, selalu ingin kabur ketika
bertemu masalah yang rumit. Cukup menarik buat gw, disatu saat gw bisa jadi
orang yang gak tau malu,nyablak, pokoknya eksis lah…., tapi saat ketemu suatu
kondisi yang dari awal gw pesimis bisa melaluinya gw bisa jadi introvert
banget…. Kemudian jadi suatu hal yang menjengkelkan bagi temen-temen gw kalo
hal kaya tadi udah muncul.

Secara jujur terus terang, gw
emang harus mengakui, disaat umur gw hampir ¼ abad (tahun ini 25 jek…, waktu
yang tepat untuk menikah hehehe) gw menemukan diri gw sebagai orang yang
bermental balita. Gak dewasa adalah kata yang cukup tepat. Sampe-sampe klo ada
obrolan ato ceramah yang nyebut soal ketidak dewasaan ini, gw selalu ngerasa
yang mereka omongin gak lain adalah gw…. Nyepet gw… gw nyadar hal tersebut
adalah penyakit yang harus gw obati segera. Karena gak mungkin gw bisa ngerubah
hal yang lebih besar, organisasi ato komunitas, klo gw gak bisa ngatasi
penyakit dalam diri gw ini. Lagi pula sekarang udah masuk masa-masa kritis.
Masa-masa dimana gw seharusnya udah matang, siap dikirim ke rumah calon mertua.
Tapi….. gw harus mikir juga, ada gitu akhwat yang mau sama orang bermental
childish kaya gw? Jangan-jangan nggak…. Bisa keancem “bidadari ku datang dari
selembar kertas” gak bakal terwujud…..

Yang diatas just intermezzo aja,
gak perlu didiskusikan panjang lebar…. (lho gw yg banyak omong ya…). Nyambung
ke masalah personality lagi (oiya, jam 9 ntar gw kuliah psikologi industri nih…
satu-satunya non TI adalah gw…), gw kemarin seneng banget, sepertinya gw gak
separah yg gw kira. Ternyata gw bisa sedikit agak kongkrit juga. Desain batik
gw ternyata cukup disukai sama sebuah studio (lebih tepatnya kakaknya temen
sih…) dan dia tertarik untuk mengupgrade gw dan make desain gw untuk produksi
di pabrik tekstil. Sebuah apresiasi yang jarang gw dapat, apalagi jika
mengingat gw baru mula belajar bikin batik baru sekitar 2-3 minggu.

Gw sebenarnya sering stress, so
depress, karena ngerasa jadi orang yang useless, bikin orang kecewa, gak bisa
diandalkan… sampe mungkin pada tahap paranoid, klo gw nerima suatu amanah,
jangan-jangan gw cuma bakal bikin kacau. Karena gw pikir udah banyak orang yang
gw kecewakan. Gw jadi trauma megang ketua kepanitiaan. Tapi dengan prospek yg
baru gw dapet ini, gw jadi mulai hopefull lagi…. Ternyata gw ada gunanya juga
(hehe…).

Mengenai belajar batik, bwt gw
suatu proses yang berkesan tapi campur aduk, antara bingung, ingin tahu, fun
tapi kadang menjengkelkan. Gw pengen banget nyeritain prosesnya. Awalnya gw
ditawarin Teh Widi untuk bikin desain batik. Gw cukup antusias tapi gak
serius-serius amat, karena awalnya gw pikir asal bisa bikin motif berulang hal
tersebut gampanglah…. Mulailah gw cari-cari info, tutorial photoshop di
internet, terutama teknik bikin cetakan offset, dan bermain dengan pattern. Gw
juga mulai nyari contoh-contoh desain batik di internet. Tapi ternyata jalannya
gak semudah gw kira, sulit banget nyari contoh motif batik diinternet, dan
beberapa hari pertama gw ngedesain, gw cuma mengandalkan naluri gw aja.

 

Akhirnya setelah suatu proses
yang rada membingungkan motif pertama pun jadi, Sebuah motif bunga-kupu-kupu
hasil ngolah gambar dari internet yang awalnya sederhana pisan. Tapi setelah gw
pikir lagi, yg gw buat ternyata bukan batik. Cuma sebuah motif yang memang bisa
di aplikasikan ke tekstil tapi gak ada nuansa batiknya.

Eksperimen gw selanjutnya gw coba
beralih ke Coreldraw. Proses selanjutnya (awalnya) cukup menyenangkan, karena
walopun I have no idea if it was batik or
not
, ngolah bidang-bidang sederhana (kotak, segitiga, lingkaran, bintang)
menjadi rangkaian bentuk yg rumit begitu menantang. It was so fun, playing with shape in corel draw, gw cuma perlu
ngandelin naluri teknis gw, selanjutnya masalah akurasi dan presisi serahkan ke
Corel. Untuk pertama kalinya gw merasakan permainan angka dan ukuran yang
menyenangkan dengan Corel. Semua berjalan begitu indah sampai pada suatu titik,
gw mulai khawatir karena gw bener-bener merasa harus mencari tahu motif batik
seharusnya seperti apa.

Gw juga rada stress juga saat
utak-atik bentuk yang gw lalukan di corel akhirnya mentok juga. Gw udah bikin
banyak bentuk, tapi gak ada yg cukup match untuk jadi kesatuan motif, apa lagi
untuk bisa disebut batik. Ternyata kebingungan gw gak berjalan lama karena
tiba-tiba ada lampu menyala di samping kepala gw (hehe komik banget ya….) pas
gw solat jumat. Klo sholat jumat itu, ibaratnya motif batik ngumpul semua di
masjid… banyak bapak-bapak yang pake batik buat jumatan. Apalagi di BATAN ato
Salman. Wuih…. Mau batik tipe seragam sekolah sampe batik yang “kinclong” pisan
mah ada lah…. Akhirnya dari situ lah inspirasi untuk bikin motif selanjutnya
datang lagi.

 

Cerita Tentang Vie(part 1)

Cerita
Tentang Vie

 

Tiba-tiba saja teringat tentang beberapa tahun yang lalu.
Saat aku baru saja kuliah ke Bandung. Cerita yang untukku sangat konyol
walaupun bisa jadi biasa saja buat kalian. Cerita peninggalan jaman SMU ini,
entah mengapa tiba-tiba muncul kembali. Ceritanya dimulai sekitar 6,5 tahun
yang lalu. Juli 2000, masa-masa pertamaku melihat dunia luar setelah selama 4
tahun belajar di pesantren.

Pure Jail, begitulah angkatan atas menyebut pesantren
kami. Di pesantren, hubungan antar lawan jenis nyaris tidak ada. Kelas kami
dipisah, sehingga tidak terjadi kontak sama sekali antara santri putra dan
putri. Segala aturan yang diberlakukan pun dibuat untuk memastikan hal itu
terjadi, walaupun sebenarnya ada juga yang bandel dan melanggar.Tapi resikonya
adalah siap-siap untuk dibotak atau dikeluarkan. Fenomena ”cinta monyet” santri
menjadi warna tersendiri yang menjadi bumbu dari kehidupan dibalik pagar
pesantren.

Empat tahun dipesantren membentukku menjadi figur yang
dingin kepada lawan jenis. Saat memutuskan pindah sekolah selepas MTs agak
terjadi ”jet lag”, aku kikuk menghadapi teman wanita di sekolah baruku. Islam
memang mengatur masalah hubungan lawan jenis dan batas-batasnya, dan aku
menjadikan sikap ku itu sebagai prinsip yang harus ku pegang. Hal ini kusadari
sebagai sesuatu yang pantas ku syukuri, karena hingga kini aku rasa aku pantas
berbangga dengan rekor ”tidak pernah pacaran” yang tetap ku jaga.

Namun begitu, pengaruh lingkungan ternyata begitu kuat
untuk mengikis sedikit demi sedikit prinsip hasil gemblengan bertahun-tahun di
pesantren. Aku mulai bersikap ”adaptif dan reseptif” terhadap nilai-nilai dan
kultur anak-anak sepantaran ku (walaupun sebenarnya aku lebih tua dua angkatan
seharusnya). Aku mulai belajar gitar, dengan gitar butut peninggalan Alm. Om
ku. Budaya pop sedikit banyak mempengaruhi, walaupun aku cenderung selektif
juga. Bagai manapun aku masih punya pertahanan diri untuk tidak meniru
semuanya.

Hari pertama sekolah, seperti tradisi yang biasa ada, MOS
berjalan dengan sangat garing. Aku tidak terkesan sedikitpun dengan acara ini,
karena aku terbiasa kabur dan sembunyi jika ada acara baris-berbaris semacam
ini saat di pesantren. Tetapi tetap saja ada yang masih dapat kunikmati, jadi
tidak sepenuhnya MOS menjadi mimpi buruk. Teteh pendamping kelasku -sebut saja
Rani-, kelas 2, berjilbab, anak Paskibra, begitu ceria dan gak bisa diam (saat aku
menulis kisah ini, aku baru sadar kalau dia mirip seorang seniorku di Kampus
yang begitu ”bercahaya”). Selain itu, ada seorang siswi baru dibarisan yang
menarik perhatian ku. Vie, sebut saja begitu. Roknya pendek, diatas lutut
membuat seragamnya lebih mencolok dibanding siswi lain. Ia seorang muslim namun
sekolah di SMP katolik, membuatnya memiliki kultur yang sedikit asing buatku
dibandingkan teman yang lain.

Alkisah, selesailah hari-hari nan aneh itu dan sekolah pun
dimulai. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang. Aku memilih duduk didepan,
barisan kedua dari meja guru dengan teman sebangkuku Tora, seorang batak muslim
yang orang tuanya adalah mualaf. Di belakang meja ku ada Indrie dan Yuli, dua
cewek ini ramenya minta ampun. Kami berempat tanpa sadar menjadi tim yang klop.
Berbagai tugas kelompok sekolah kami kerjakan dengan formasi tim yang hampir
selalu sama. Akhirnya kami menjadi seperti sebuah geng yang hampir setiap waktu
bercanda. Diluar itu semua, aku menjadi ”secret admirer” dari Vie, yang duduk
di baris ke 4 dekat jendela.

Entah mana yang lebih berpengaruh, kedekatan ku dengan
geng ku atau karena keinginan ku untuk terlihat menonjol dihadapan Vie membuat
ku bergitu menikmati belajar, walau untuk ukuran anak-anak dikelas aku termasuk
salahsatu yang paling santai. Namun, toh tanpa usaha dan target yang
muluk-muluk, ternyata aku rangking pertama di Cawu 1 itu. Hal ini untukku dan
orang tuaku adalah hal yang mengagetkan. Jika masuk 5 besar aku masih tidak
terlalu kaget, karena hal itu sudah tradisi saat di pesantren. Tapi untuk jadi
juara kelas, aku bahkan tidak berani bermimpi.

Ada satu kegemaran baru ku saat SMU, menggambar, terutama
komik. Saat kelas tiga MTs sebenarnya hoby ini mulai ada. Awalnya aku suka
menggambar Conan, tetapi lama-lama aku memiliki style ngomik sendiri. Saat
kelas satu ini aku mulai sedikit banyak meng-improve skill komikku. Aku pun
mulai membuat komik-komik pendek, dan entah mengapa aku memasukkan tokoh Vie
didalam komikku. Aku memberinya nama ”Tiara” disana, namun karena iseng saja
maka komik itu hanya jadi dua scene. Selebihnya aku kesulitan untuk membuat
cerita dan cenderung tidak fokus sehingga ada beberapa kerangka cerita yang
muncul dibenakku, tetapi tidak satupun kulanjutkan jadi cerita yang utuh.
Sampai sekarang, pengembangan cerita tetap menjadi kelemahanku. Aku malah lebih
suka menguatkan teknik dengan gambaran-gambaran spontan yang memenuhi buku
catatan ku disekolah.

Ada lagi hobby lain yang berkembang, berpuisi. Entah
kesambet setan apa, aku jadi suka corat-coret puisi di buku catatan. Hingga
kini beberapa diantaranya masih rapi tersimpan dikamar kost ku. Yah, bukan
puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail, hanya coretan kata seorang siswa
kampungan yang tenggelam dalam kegundahan cinta monyet. Kadang aku menuangkan
fenomena-fenomena yang kulihat di sekitarku dalam rangkaian kata yang implisit.
Puisi tentang ”dia” pun tak luput ku buat, bahkan aku pernah tuangkan dalam
lagu dengan judul namanya.

Hasratku untuk eksist dikelas, semakin meninggi. Aku tidak
puas hanya sekedar jadi ranking satu saja. Dari sanalah aku mengenal basket.
Awalnya hanya karena basket masuk dalam mata pelajaran olah raga saja. Namun
aku – yang awalnya mendribble pun gak bisa – tiba-tiba saja jadi begitu cinta
dengan basket dengan support yang kudapatkan dari rekan-rekanku.

Rekan-rekanku yang cowok rata-rata senang olah raga
apapun. Sedangkan aku, sejak dulu aku lemah dengan olah raga. Walaupun di
pesantren lari pagi adalah ”menu rutin” dua kali dalam sepekan, aku lebih
sering kabur atau kadang memotong jalan, karena bagiku jarak yang kami tempuh
sangat jauh dan aku selalu tertinggal. Saat aku mulai mengenal basket di SMU
ini aku sebenarnya sangat malu, karena aku tahu kalau rata-rata anak SMU saat
itu pasti bisa basket. Namun aku bersyukur bahwa teman sekelasku tidak
merendahkanku, bahkan bereka begitu besar memberikan semangat dan dukungan. Aku
banyak belajar teknik-teknik basket dari interaksiku dengan anak kelasku ini.
Saat itu aku jadi begitu mencintai basket, begitu haus akan semangat untuk bisa
dan mahir dalam olahraga ini.

Ternyata aku tidak ditempatkan dikelas yang salah. Karena
ternyata kelasku menjadi kelas yang paling maniak basket. Diawali dengan sebuah
inisiatif dari beberapa rekan ku (ada Leo, James, Fajar, Ferry, Liga dll), kami
melakukan latihan mandiri di lapangan ITI atau Puspiptek sehabis jam olahraga.
Berawal dari sana, entah dimulai dari siapa intensitas permainan basket kami
tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Dengan adanya rekan yang rutin membawa bola,
kami jadi begitu betah di sekolah. Tiba-tiba saja menjadi sebuah trend, bahwa
lapangan basket sekolah yang biasanya sepi kecuali saat jam Olah raga,
tiba-tiba saja selalu ramai dengan basket. Hal yang perlu di garis bawahi
adalah, kelas kamilah pelopornya.

Tiba-tiba saja kultur kami anak kelas satu berubah, tiada
hari tanpa basket. Tidak peduli pagi sebelum kami masuk kelas (kelas 1 masuk
siang) atau tengah hari bolong sebelum masuk, saat istirahat, saat jam pulang
bahkan saat ada jam kosong di kelas, kami manfaatkan sebesar-besarnya untuk
kepentingan BASKET. Secara spontan anak-anak kelas lain ikut turun dan
bergabung, sampai-sampai para guru kesulitan untuk melarangan spontanitas
anak-anak untuk tidak turun ke lapangan. Kenangan kelas satu ini begitu indah,
sayang akhirnya menjadi mimpi yang sedikit buruk buat ku.

 

Hari itu adalah hari terakhir pertemuan olahraga sebelum
ujian caturwulan 3. Seminggu lagi ujian akan dimulai. Seperti biasa setelah
sesi wajib pengambilan nilai, waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bermain
dilapangan. Awalnya hanya adu three point aja, tapi kemudian kami memutuskan
main setengah lapangan. Awalnya aku agak enggan untuk bergabung, tapi kemudian
aku ikut. Setelah sekian lama main, saat aku coba memblok sebuah tembakan,
Ferry menabrakku gak sengaja. Keseimbangan ku hilang dan jatuh berguling
beberapa kali. Aku, yang mengira itu hanya jatuh biasa saja coba untuk bangkit,
tetapi saat kuangkat tangan kananku….. tangan ku menggantung tidak bergerak.
Aku tiba-tiba saja seperti melihat sekelilingku dalam mimpi, kesadaranku hampir
hilang, tapi aku segera tersadar…. tangan ku patah…..

Beberapa rekan segera menolong, tangan kananku segera
ditopangkan ditangan kiriku. Saat itu tidak terlalu terasa sakit, walaupun
sedikit ngilu. Apa yang kurasakan lebih karena trauma pada kejadian yang sama
sekali tidak ku duga. Sekilas aku melihat Vie memandang ketakutan dan menutup
mata saat ferry membawaku ke guru Olahraga yang sedang bicara pada siswi
kelasku.

Aku segera dibawa ke ke klinik Puspitek untuk mendapatkan
penanganan P3K. Wali kelasku segera menjemput orangtuaku kerumah. Segalanya
jadi serba panik. Indrie, Tora, dan Yuli menyusulku ke klinik. Setelah orangtua
ku datang, aku dibawa ke RS Fatmawati.

Aku agak merasa bersalah kepada orangtuaku walaupun ini
adalah suatu kecelakaan, karena mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup
besar untuk pengobatan ku ini.Untunglah kami sedikit terbantu dengan adanya
askes, karena ibuku pegawai negeri. Ada dua opsi yang ditawarkan dokter saat
itu, menggunakan gips dengan resiko tulang tersambung tidak lurus seperti
semula serta recovery yang cukup lama (3-7 bulan) atau operasi pasang pen (aku
sampai sekarang gak tau gimana nyebutnya), yang mahal tetapi hasilnya lebih
terjamin serta recovery yang cepat. Akhirnya aku dan orangtua ku memilih
operasi, karena kami tak ingin aku cuti sekolah, dan aku pun tidak mau
berlama-lama jauh dari Vie.

Aku cukup betah dirumah sakit, tetapi aku juga harus sadar
jika semakin lama aku dirumah sakit maka semakin besar biaya yang ditanggung
oleh orang tuaku. Akhirnya, setelah aku dioperasi, tiga hari kemudian aku
langsung pulang. Dua hari istirahat dirumah, setelah itu aku ke sekolah, karena
harus mengejar ujian yang sudah 3 hari berjalan. Tetapi sebenarnya aku tidak
ada persiapan samasekali.

Ujian terlihat begitu berat untukku, apalagi tangan
kananku belum bisa digerakkan sehingga satu-satunya opsi adalah aku ujian
dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali belum pernah belajar nulis kidal.
Terbayang olehku nilai yang akan keluar akan seperti apa anjloknya. Ujian
bagiku sudah seperti hanya formalitas saja, sekedar menggugurkan kewajiban
sebagai siswa.

Tetapi kekhawatiranku tidak terbukti, ternyata guru-guru
seperti kasihan dan memberiku nilai yang cukup baik. Akhirnya aku masih menjadi
juara kelas, walaupun sedikit kurang puas karena nilaiku bukan murni hasil
kemampuanku.

Aku kembali bertemu indrie dan kawan ku dikelas, hal ini
membangkitkan semangatku lagi. Dari rekan-rekanku aku dengar bahwa setelah aku
kecelakaan, basket dilarang disekolah ku, terutama saat jam sekolah. Hal yang
sama sekali tidak kami harapkan. Saat itu salah satu yang harapkan adalah
segera sembuh dan kembali ke lapangan. AKU KANGEN SAMA BASKET….

 

Juli 2001…. Gak kerasa sudah satu tahun aku di sekolah
ini. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa dulu, aku hampir saja masuk sebuah sekolah
asrama lagi. Insan cendikia, satu-satunya saingan SMU ku di kecamatan. Mereka
telah terkenal, melanglang buana diberbagai kompetisi nasional. Sebuah sekolah
favorit yang didirikan oleh Habibie.

Dulu, sekolah ini memberikan beasiswa bagi seluruh
siswanya, setelah Habibie turun dari pemerintahan beasiswa itu ditarik oleh
pemerintah. Aku adalah angkatan yang kena getahnya. Beasiswa hanya diberikan
pada 10 orang terbaik saat seleksi, dan aku tidak termasuk didalamnya.

Akhirnya harapan ku untuk masuk sekolah unggulan pupus,
karena biaya masuk saat itu 7,5 juta. Angka yang gak kebayang buat keluarga
kami yang setiap lebaran harus berpikir dua kali untuk mudik ke Semarang.
Tetapi sebenarnya keputusan untuk tidak masuk ke sekolah itu lebih merupakan
keputusan yang diserahkan orangtuaku padaku. Aku memilih untuk tidak masuk
kesana, karena bagiku kulturnya terlihat asing dan terlalu mewah untukku.

Karena itulah aku memutuskan masuk ke SMU tetangga ini.
Satu harapan yang aku pernah tetapkan, aku memang tidak masuk sekolah favorit,
tapi aku akan jadi orang yang memfavoritkan sekolah ini. Sesuatu yang awalnya
hanya mimpi belaka, tiba-tiba saja menjadi kenyataan!

Kelas satu adalah salah satu masa paling bahagia di SMU.
Saat aku masuk kelas dua, formasi kelas berubah total. Hanya ada 2-3 orang yang
berasal dari kelasku dulu plus beberapa yang kukenal di kelas lain. Sisanya,
benar-benar teman baru untukku. Situasi kelas terasa sekali berpengaruh pada
semangat belajarku. Aku pisah kelas dengan Vie.

Aku duduk dengan David seorang protestan yang taat.
Cita-citanya adalah menjadi pendeta. Kami duduk dekat jendela yang menghadap ke
depan kelas. Kami duduk bergantian di bangku pojok bergiliran setiap minggunya.
Hehe, sebenarnya ini sudah menjadi strategiku untuk tetap bisa melihat Vie yang
letak kelasnya menyiku dengan kelasku.

Saat itu aku rasakan semangat belajarku makin menurun,
ditambah lagi beberapa juara kelas ada di kelasku. Aku semakin larut dalam hoby
menggambarku. Belajar gitar dan membuat lagu juga menyita fokus belajarku.
Akhirnya efeknya pada cawu 1 aku anjlok menjadi ranking 5. Aku sedikit shock
juga, karena sudah mulai terbiasa masuk ”satu besar”.

Di akhir cawu satu ini ada seleksi olimpiade sains. Karena
nilai ku yang ”cukup” anjlok aku sebenarnya nyaris tidak diperhitungkan. Tapi
aku mengajukan diri karena untungnya syaratnya minimal masuk 5 besar.
Alhamdulillah, nyaris saja…..

Saat para jawara mengejar pelajaran Fisika, Kimia dan
Matematika, aku lebih memilih ikut seleksi di biologi. Padahal aku sebenarnya
tidak terlalu cinta dengan pelajaran ini. Yang aku senangi dari biologi hanya
karena ada aspek sejarah dan banyaknya nama latin (sesuatu yang kadang membuat
orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

Ternyata hal ini jadi berkah tersendiri untuk ku. Karena
ternyata aku nyaris tanpa lawan dalam seleksi ini, dan otomatis aku melenggang
bebas menjadi wakil sekolah. One step ahead coy…..!!!

Keuntungan yang ku peroleh pada tahun itu adalah SMU ku
mendapat jatah undangan seleksi olimpiade dua kali. Satu ikut seleksi wilayah
Jabotabek di SMU 70, dan satu lagi seleksi Kabupaten di SMU Insan cendekia.
Banyak kekacrutan yang kualami di seleksi ini.

Saat di Jabotabek, kami nyaris tidak ada target, karena
tingkat persaingannya sudah langsung selevel propinsi. Aku sih menikmati
jalan-jalannya saja, maklum orang udik. Lagipula aku terhitung cuma ”anak
bawang” karena tumpuan terbesarnya saat itu adalah kelas 3. Akhirnya memang
kami pulang tanpa hasil sama sekali, selain sekotak KFC dan name tag (kalo udah
gini, yang ada adalah food oriented).

Persiapan untuk seleksi kabupaten pun benar-benar ala
kadarnya saja. Bahkan aku tiba ditempat seleksi telat agak lama. Untungnya dari
soal bahan latihan yang kuperoleh ternyata sebagiannya keluar lagi, bahkan sama
persis(ini bukti kekacrutan sistem dan kualitas pendidikan kita). Alhasil aku
melenggang lolos ke tingkat propinsi bersama dua orang anak Insan cendikia dan
2 anak dari kecamatan lainnya.

Seleksi dilakukan di SMU I Tangerang, sebuah sekolah yang letaknya
terpencil, walaupun katanya masuk kodya tangerang. Ada kenangan buruk yang
kuperoleh di seleksi propinsi ini. Aku datang ke ruang seleksi (sekali lagi)
dalam keadaan terlambat, tetapi tidak terlalu masalah karena sekalilagi, soal
yang digunakan dalam seleksi ini ternyata diambil dari Soal olimpiade
internasional tahun sebelumnya, dan aku sudah menggunakan soal ini saat latihan
soal di sekolah. Alhasil, setelah dua sesi test, aku keluar dan bersiap untuk
pulang.

Aku sempat berkenalan dengan anak-anak IC, salah satunya
adalah anak guru pembimbing olimpiade ku, Bu Wida. Yang lain ada Ferta, cewek
berjilbab yang gak bisa diam dan cukup rame. Ibu guru pendamping dari insan
cendikia mengajakku untuk pulang bareng mobil mereka. Tapi tawaran itu kutolak
karena guruku pasti sedang menunggu diluar. Dan mereka akhirnya pulang lebih
dulu.

Kekacrutan terjadi disini, guruku dan mobil pinjamannya
tidak nampak sedikitpun. Setelah celingak-celinguk lama pun tetap tidak ada
tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja aku panik dalam hati(ada ya, panik
dalam hati?). Apa jangan-jangan aku ditinggal pulang? Atau jangan-jangan guru
IC mengajakku pulang karena dititipi oleh guruku? Tempat yang asing membuatku
serba salah, malu bertanya dan sesat dijalan (naon deui siah…. kayak pepatah
aja).

Tapi aku coba berpikir sedikit rasional. Hampir tak mungkin
guruku meninggalkan ku begitu saja. Masak ”duta Sekolah” dibiarkan nangkring
seperti anak hilang gini? Dengan segala keberanian yang tersisa aku beranikan
bertanya pada seorang guru disana. Awalnya beliau tidak tahu, tetapi kemudian
salah satu rekan gurunya mengatakan, guruku dan supir mobil itu sedang ke
bengkel karena mobil kami tiba-tiba saja rusak. Akhirnya dengan sangat tidak
nyaman aku mennunggu selama beberapa jam. Setelah sekian lama menunggu guruku
datang juga. Aku yang jengkel hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tidak makan
siang hari itu….!! aku pulang kerumah masih dalam keadaan dongkol.

Hasil seleksi propinsi kali ini tak sabar kutunggu. Beberapa
hari kutanyakan kepada guruku. Tetapi setelah lebih dari sebulan tak kunjung
juga ada beritanya.Akhirnya hasil seleksi yang kuharapkan itu kulupakan begitu
saja. Aku kembali ”sibuk” dengan komik dan gitar butut ku lagi.

Tak terasa hampir setahun aku di kelas dua. Ujian
pamungkas tahun ini telah didepan mata. Hasil
ujianku akhir tahun ini tidak terlalu memuaskan. Aku masih saja berada di
peringkat 5 besar. Olimpiade tidak pernah terlintas lagi dipikiranku,
seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi di kehidupanku. Yah… ternyata
petualanganku di Olimpiade sains mungkin memang harus berakhir di propinsi.

Aku tetaplah aku yang dikenal biasa-biasa saja, masih
seorang ardian yang sering lupa mengerjakan PR, nyontek tugas sekolah, sering
keluyuran setelah pulang sekolah, rajin membaca komik, yah… itulah aku. Tapi
ada satu prinsip yang selalu aku pegang, bahwa walaupun aku seperti itu buatku
HARAM untuk mencontek saat ujian. Kenapa? Karena bagiku PR, tugas, latihan soal
hanyalah sebuah sarana latihan dan menyerap wawasan. Ujian yang sebenarnya
bagiku adalah saat Ulangan harian dan Ulangan Umum. Lagipula hal ini didukung
sifat ku yang agak sedikit sulit percaya orang. Jadi, dari pengalaman nyontek
yang pernah kulakukan, saat aku lihat jawaban orang lain aku lebih sering tidak
percaya akan jawaban orang tersebut, dan yakin jawaban ku pasti lebih baik. So,
percuma saja kan nyontek?

 

Akhirnya, masa kelas dua berakhir begitu saja. Tetapi,
sepertinya sayang jika aku gak cerita tentang sisi selain akademik ku. Sebenarnya
aku pernah punya keinginan untuk aktif di OSIS, tapi sepertinya sulit untuk bergabung, karena aku tidak tahu
kemana harus memulainya. Tapi secara gak sengaja ternyata aku terperosok ke
organisasi yang lain, yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Agak aneh
juga ya, kok aku bisa masuk koperasi siswa SMU. Berawal disuatu jam pelajaran
saat kelas satu, saat itu sedikit boring. Tiba-tiba saja ada beberapa siswa
senior yang meminta izin masuk, untuk roadshow. Dan akhirnya mereka
mempresentasikan tentang koperasi siswa. Dipresentasi mereka disebutkan bahwa
ekskul ini adalah wahana belajar masalah pembukuan, akuntansi, dan ekonomi.
”Mmm… not bad, sepertinya bisa dicoba.” begitu pikir ku. Saat ditawarkan untuk
mengisi form bagi yang ingin mendaftar, aku mengajukan diri.

Aku sempat pernah menyesal suatu ketika, yaitu waktu
OSPEK/pelantikan ekskul ini. Pusing juga, memang tradisi dan kultur SMU yang
masih kekanak-kanakan membuat prosesi perpeloncoan seakan wajib ada setiap
tahun. Tapi, ada baiknya juga, karena ternyata memang ada suatu pengikatan
komitmen yang terbangun. Tapi aku tidak suka diintimidasi!! Di pesantren aku
termasuk tipe pemberontak…. tidak ada istilah takluk dengan peraturan…. dan
sekarang ada yang sok superior dari ku…. rasanya sangat tidak enak sekali.
Untungnya hal itu hanya terjadi sekali saja.

Setelah dilantik, kami mulai berkenalan dengan koperasi
siswa yang sebenarnya. Kopsis kami ternyata pernah menjadi kopsis prototipe
bagi daerah tangerang, dan merupakan koperasi siswa terbaik didaerah ini. Tapi
”baik” yang dimaksud ternyata tidak seperti yang ku kira. Ternyata koperasi ini
disebut koperasi siswa karena dikelola oleh siswa. Tetapi secara permodalan,
ini sebenarnya murni dari dan untuk guru. Satu-satunya yang bisa jadi nilai
lebih adalah kita bisa belajar disini…. belajar jadi penjaga koperasi… cape
deh.

Dengan berjalannya waktu, pengurus yang melantikku
akhirnya harus memasuki masa kelas tiga yang sibuk persiapan UAN/UAS. Maka
tibalah saat kami kelas dua didorong untuk maju mengambilalih kepengurusan. Di
suatu siang diadakan musyawarah anggota untuk suksesi, yang “dipaksa” maju saat
itu ada 3 orang, yaitu aku, Agus ”tenjo” dan cewe(hadoooh….gw lupa namanya).

Dari prosesi yang garing itu, akhirnya terpilihlah si
cewek sebagai ketua, sedangkan untuk wakil ketua aku lah yang terpilih. Task
pertama kami adalah, melakukan OSPEK bagi para anggota baru (sejarah kembali
berulang…..). Tapi ada satu hal yang tidak ingin aku lakukan, yaitu bersikap
seperti seniorku dulu. Aku ingin menjadi senior yang baik dan bisa berbagi
sesuatu pada rekan-rekan seaktivitasku itu.

Singkat cerita, datanglah hari yang ditentukan. Kami akan
melakukan proses pelantikan komplek Puspiptek. Disana terjadi beberapa insiden,
salah satunya adalah saat ada peserta yang roknya sobek di bagian paha
(kebayang gak paniknya anak cewek kalo kondisinya seperti itu?).

penyakit…. waduh, gw kena dungks!!

………… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ………

Rabu , 20/12/2006 09:40 WIB
Apakah Anda Mengidap Penyakit Online?
Wicaksono Hidayat – detikInet

Jakarta, Paling tidak ada delapan penyakit yang bisa langsung dikaitkan dengan kebiasaan seseorang di internet. Seperti apa gejala-gejalanya?

Menurut mingguan New Scientist, terdapat paling tidak delapan jenis penyakit psikologis yang bisa menghinggapi pengguna internet saat ini. Seperti dikutip detikINET dari AFP, Rabu (20/12/2006) , penyakit-penyakit tersebut adalah:

Egosurfing: Terobsesi dengan reputasi diri di internet, sedemikian hingga kebanyakan waktu online penderita dihabiskan untuk melakukan pencarian namanya sendiri di situs seperti Google atau Yahoo. Penderita juga kerap mencek ranking di Technorati.

Blogsibisionis: Penderita terlalu gemar menampilkan informasi pribadinya via blog atau situs pertemanan. Bahkan informasi-informasi yang akan lebih baik jika tidak diketahui oleh orang lain.

Gilaberry: Biasanya menimpa level pimpinan di sebuah perusahaan. Gejalanya adalah tidak bisa melewati satu detik pun tanpa mencek e-mail di perangkat genggam Blackberry-nya. Jika sudah parah, penderita akan mencek e-mail bahkan di saat-saat genting, misalnya ketika gempa.

Detektif Google: Melakukan pencarian pada Google untuk menyelidiki teman lama, cinta pertama, mantan pacar, atau sekadar gebetan.

Cyberkondria: Setelah melakukan riset di internet
mengenai gejala-gejala penyakit tertentu, atau menerima e-mail mengenai penyakit tertentu, penderita akan merasa dirinya menderita sakit tersebut.

Photolurking: Gemar melihat-lihat foto dari album online milik seseorang yang tidak dikenalnya.

Wikipediholik: Sangat berdedikasi untuk mengisi dan menyunting situs ensiklopedia kolaboratif Wikipedia. Anda takut terkena penyakit ini? Coba cek di http://en.wikipedia .org/wiki/ Wikipedia: Are-You-a- Wikipediholic- Test.

Cheesepodding: Gemar mengunduh lagu yang cheesy (‘norak’, basi atau ketinggalan jaman). Misalnya, lagu-lagu dari era 70-an. (wsh/wsh) ____________ _________ _________

PLAY! CommunicationBandung

Brand&Logo Design, Graphic&multimedia Design, Creative Advertising, Comic-studio
Markaz Plesiran Building, 2nd Floor, North-east Room

Phone: 022-2516823, 085624878208 mail: delcardino@…

—–=====Sebuah Tekad!! Atau Nekat??=====—–

*****jodohkudatanglewatselembarkertas*****

penyakit…. waduh, gw kena dungks!!

………… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ……… ………

Rabu , 20/12/2006 09:40 WIB
Apakah Anda Mengidap Penyakit Online?
Wicaksono Hidayat – detikInet

Jakarta, Paling tidak ada delapan penyakit yang bisa langsung dikaitkan dengan kebiasaan seseorang di internet. Seperti apa gejala-gejalanya?

Menurut mingguan New Scientist, terdapat paling tidak delapan jenis penyakit psikologis yang bisa menghinggapi pengguna internet saat ini. Seperti dikutip detikINET dari AFP, Rabu (20/12/2006) , penyakit-penyakit tersebut adalah:

Egosurfing: Terobsesi dengan reputasi diri di internet, sedemikian hingga kebanyakan waktu online penderita dihabiskan untuk melakukan pencarian namanya sendiri di situs seperti Google atau Yahoo. Penderita juga kerap mencek ranking di Technorati.

Blogsibisionis: Penderita terlalu gemar menampilkan informasi pribadinya via blog atau situs pertemanan. Bahkan informasi-informasi yang akan lebih baik jika tidak diketahui oleh orang lain.

Gilaberry: Biasanya menimpa level pimpinan di sebuah perusahaan. Gejalanya adalah tidak bisa melewati satu detik pun tanpa mencek e-mail di perangkat genggam Blackberry-nya. Jika sudah parah, penderita akan mencek e-mail bahkan di saat-saat genting, misalnya ketika gempa.

Detektif Google: Melakukan pencarian pada Google untuk menyelidiki teman lama, cinta pertama, mantan pacar, atau sekadar gebetan.

Cyberkondria: Setelah melakukan riset di internet
mengenai gejala-gejala penyakit tertentu, atau menerima e-mail mengenai penyakit tertentu, penderita akan merasa dirinya menderita sakit tersebut.

Photolurking: Gemar melihat-lihat foto dari album online milik seseorang yang tidak dikenalnya.

Wikipediholik: Sangat berdedikasi untuk mengisi dan menyunting situs ensiklopedia kolaboratif Wikipedia. Anda takut terkena penyakit ini? Coba cek di http://en.wikipedia .org/wiki/ Wikipedia: Are-You-a- Wikipediholic- Test.

Cheesepodding: Gemar mengunduh lagu yang cheesy (‘norak’, basi atau ketinggalan jaman). Misalnya, lagu-lagu dari era 70-an. (wsh/wsh) ____________ _________ _________

PLAY! CommunicationBandung

Brand&Logo Design, Graphic&multimedia Design, Creative Advertising, Comic-studio
Markaz Plesiran Building, 2nd Floor, North-east Room

Phone: 022-2516823, 085624878208 mail: delcardino@…

—–=====Sebuah Tekad!! Atau Nekat??=====—–

*****jodohkudatanglewatselembarkertas*****

berperang melawan”Malinq gak Essential”…..

Pledoi bwt Bapak maling…..
 
pagi ini rada dapet pengalaman rada
unik, semalem nginep disekre
kabinet KM ITB, ktiduran karena cape.
pagi pagi abis subuh niatnya mau ngerjain laporan tapi komputer sekre lemot, jadi
gak banyak yg bisa dilakukan. yah, akhirnya nyetel "jadikan aku yang kedua"(mars
poligami kalo kata anak-anak, tapi kata
gw mah lagu tentang "itsar dan salamatushhadr") dulu.
lagi asyik beberapa saat ngutakngatik
pembahasan, sekelebat ngliat ada yang
lewat dari pintu yang kebuka sedikit.
langsung aja, naluri "ngejar
maling" aku  bangkit,
keyboard aku  lempar langsung aku  labrak aja tuh
orang. dia yg blom pake sepatu
kaget…

"kmu siapa?"
"ah
gak mas, cuma numpang tidur, kecapean…."
"kok tau-tau ada di dalem?"
"ya, saya
numpang tidur Aa.. kecapean…."
"emang bapak dari mana?"
"dari ciumbuleuit…"
"lho kok dari ciumbuleuit, bisa kecapean terus ketiduran? emang aslinya mana?
saya dari
panti asuhan *******"
"Saya periksa tasnya ya pak….?"
"oh iya…."
aku  cuma nemuin ada celana jins belel, sabun cair ukuran raksasa, handuk… tp aku  curiga juga, karena alesan yang rada gak rasional diatas.
setelah aku  interogasi, aku  dapet info, namanya ngakunya "tomi
Hidayat", yatim piatu, lahir 82, keluar
dari panti asuhan tahun 2001, trus
selama ini nggelandang, gak punya kartu identitas, gak punya tempat tinggal yang jelas,  kerja
serabutan(tukang bangunan>masak gampang banget orang percaya gitu aja nyomot orang jadi kuli bangunan, kadang dirumah makan….), ngakunya ke ITB
jarang, seringnya nginep dimushala.
dari berbagai pertanyaan
yang aku  ajuin(selama dijalan ke pos satpam) gak ada
yang bisa jadi bukti, kalo dia
maling… (ato aku aja yang lagi rada apes sampe gak ada
barang bukti). tapi di kantong celanannya ada pin KM ITB(kotak acrilic) dan pin bendera palestina. gak
jelas bgt sih…. gingung. pas aku  nulis ini aku  baru nyadar, ada petunjuk baru…. pin km itbnya masih bagus bgt, padahal dia bilang dia simpen setahun…

di kantong dompetnya banyak gambar "kebon binatang" gak tau dapet
dari mana….
duh, bingung…. jadi ketunda ngerjain
laporan kp gara-gara nglaporin dia ke pos satpam.
terus terang sedikit ada rasa gak tega…. gimana kalo dia beneran
gelandangan… gimana kalo sebenarnya dia memang bener-bener polos… buka
dipolos-polosin….. pusing….

rasanya pengen ngehajar…. kalo ketemu maling gitar ku, sepatu
Upi, rice cooker ibuku, sendal army, baju OSKM 06, dan simpenan "sembako
nginep"….

ardian perdana putra

PRESPRO Design Co.Bandung

Company Profile, Brand&Logo Design, Graphic&multimedia Design, Creative Advertising, Comic-studio
Markaz Plesiran
Building, 2nd Floor, Northeast Room

Phone: 022-2516823, 085624878208 mail: delcardino@yahoo.com

 

 

—–=====Sebuah Tekad!! Atau Nekat??=====—–

*****jodohkudatanglewatselembarkertas*****

orang Jokaw alias jawa

Dibalik Nama-nama JawaMemilih nama untuk seorang anak bukanpersoalan sederhana.Di balik nama-nama, selalu terkandungdoa dan harapan dari orang tua untuk masadepan si anak.Nah, nama pada pria Jawa sesungguhnyamemiliki “tujuan” yang palingjelas untuk dipahami, harapanorangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuaiyang diharapkan.
Contohnya :
Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Pandai membaiki mobil, diberi nama Karman.
Pandai main golf, Parman.
Pandai dalam korespondensi, Suratman.
Gagah perkasa, Suparman.
Kuat dalam berjalan, Wakiman.
Berani bertanya, Asman.
Ahli membuat kue, Paiman.
Pandai berdagang, Saliman.
Pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman.
Agar besar nanti pandai cari muka, Yasman
Suka makan toge goreng, Togiman
Selalu ketagihan, Tuman
Selalu sibuk terus, Bisiman
Biar pinter main game …. Giman
Biar bisa sering cuti …. Sutiman
Biar jadi juragan sate …. Satiman
Biar jadi juragan trasi …. Tarsiman
Biar pinter memecahkan problem …. Sukarman
Biar kalau ujian ndak usah mengulang…. Herman
Biar pinter bikin jus …. Yusman
Biar jadi orang yang berwibawa …. Jaiman
Biar jadi pemain musik …. Basman
Biar awet muda …. Boiman
Biar pinter berperang …. Warman
Biar jadi orang Bali …. Nyoman
Biar jadi orang Sunda …. Maman
Biar lincah seperti monyet …. Hanoman
Biar jadi orang Belanda …. Kuman
Biar tetep tinggal di Jogja …. Sleman
Biar jadi tukang sepatu handal …. Soleman
Biar tetep bisa jalan walau ndak pakemesin …. DelmanHehehe..

suzuki shimao again….. yeah.

What is the Secret to Suzuki Shimao’s Success?

Kusanagi Tsuyoshi plays Suzuki Shimao – a simple man who runs a small screw factory handed down from his father. He doesn’t have much money, but he has a strong sense of justice and a belief in looking out for other people. In the beginning of this drama, he is saving so that he can go on a trip with his mother, but he ends up having to lend the money to one of his workers who is in trouble with a loan shark. Luckily, he happens to win a trip for two to Hawaii shortly after and goes with his mother.

In Hawaii, he meets a rich Japanese woman named Kaori who he accidentally pushes into a swimming pool. In apology, he invites her to have dinner with him and his mother that night. Shimao and his mother don’t expect a rich girl like Kaori to actually accept an invitation from the likes of them, but Kaori actually comes and has a good time with them. (Shimao has fallen in love with Kaori of course.) Kaori forgets her wallet that night, and Shimao goes to her hotel to return it to her.

At the hotel, Shimao meets Kaori’s boyfriend (…?) Takayanagi Tooru, who is a famous Japanese millionaire. He has breakfast with them in Takayanagi’s private suite and Shimao feels the huge economic gap between himself and Takayanagi. It is as if they live in a ‘different world’. He is especially jealous that Takayanagi has a girl like Kaori. He is offered a large reward for returning the wallet, which he refuses because he has decided that he doesn’t need money to be happy. He leaves, accepting only Takayanagi’s business card.

Back in Japan, Shimao returns to his screw factory to find all his equipment being taken away to be sold. Apparently the factory has gone bankrupt because the man he left in charge of the factory’s finances betrayed him. When Shimao’s mother sees that the factory is closing, she goes into shock and they take her to the hospital.

His mother’s condition turns out to be critical, and she needs to have a 10 million yen surgery in order to survive. Of course, Shimao doesn’t have this money, so he goes to every bank in town and tries to borrow 10 million yen. He doesn’t have any luck, and his mother passes away before anything can be done. Shimao is convinced that if he were a rich man, his mother would still be alive. He changes his mind about not needing money to be happy, and is suddenly desperate to become rich. So, he goes to see Takayanagi, whose business card he still has with him.

He goes to Takayanagi’s e-business company, “Frontier” but isn’t allowed to see Takayanagi without an appointment as he is just too important. Shimao gets a job as a security guard in the building in hopes of getting closer to Takayanagi. (And besides, he needs a job anyway.) He is well-liked by his supervisor who drinks together with him at night. Always drinking in a separate corner of the same bar are the top employees who work close by with Takayanagi. Among their numbers is also Kaori, who Shimao is still in love with. The high-priced wine and food that the high employees drink is in sharp contrast to the cheap stuff the security guards have, and Shimao once again feels that they live in a ‘different world’. He wonders if he will ever get to meet Takayanagi, and learn the secret to becoming wealthy.

The deciding event comes when the Frontier company is doing a live webcast of an important soccer game. Just before the webcast, their server suddenly falls victim to a nasty virus and goes down. None of the programmers there can seem to fix it and the game is about to begin. At the same time, Shimao happens to be making his rounds as security guard and notices the computer trouble that the high executives are having. He quickly sits down at a computer, opens a command prompt window, and begins typing commands up a storm. It turns out that Shimao used to be a computer programming genius when he was young, but his business partner betrayed him and he ended up carrying on the family screw business instead. Shimao fixes the company’s server just before the game begins and everyone in the office is overjoyed.

Takayanagi takes notice of this, and Shimao is instantly promoted from security guard to one of the top-level executives who works close with Takayanagi. He finally gets to meet Takayanagi again, who teaches him the secret to his success – which is being an uncaring @$$hole who doesn’t look out for anyone other than himself. In order to test Shimao, Takayanagi gives him difficult jobs such as cutting off relations with smaller businesses which aren’t helping to benefit Frontier. At first, Shimao tries to be uncaring, but he can’t do it and instead tries to succeed by helping the little people to be more successful. This always gets him in a lot of trouble, but turns out well in the end.

So, it is a constant struggle between Takayanagi’s uncaring ways and Shimao’s sense of justice and helping others which is the basic conflict of this drama. Takayanagi’s ways continue to make him more and more rich, but Shimao’s sometimes bring about unexpected outcomes which exceed Takayanagi’s original plans. Takayanagi gradually begins to dislike Shimao, and chooses to watch him from afar and to see what interesting results Shimao can bring about. Kaori also grows closer to Shimao as she is swayed by his kindness and begins to dislike Takayanagi’s cold ways.

This drama can easily be read as anti-capitalist propaganda if you go that deep, but it is mostly just posing the age-old question of, “How important is money?” This drama would conclude that kindness and caring for others is more important. It’s a simple story of a simple man who has dreams of a better life, but somehow this drama just has a feeling of magic and wonder to it that makes it fun to watch. It’s probably mostly the background music and some of the camera work. You can see what I mean just by watching the clip below. Yeah – the background music does the trick.

I was hooked from the first episode of this drama, and it might just be one of the best of the season.

suzuki shimao again….. yeah.

What is the Secret to Suzuki Shimao’s Success?

Kusanagi Tsuyoshi plays Suzuki Shimao – a simple man who runs a small screw factory handed down from his father. He doesn’t have much money, but he has a strong sense of justice and a belief in looking out for other people. In the beginning of this drama, he is saving so that he can go on a trip with his mother, but he ends up having to lend the money to one of his workers who is in trouble with a loan shark. Luckily, he happens to win a trip for two to Hawaii shortly after and goes with his mother.

In Hawaii, he meets a rich Japanese woman named Kaori who he accidentally pushes into a swimming pool. In apology, he invites her to have dinner with him and his mother that night. Shimao and his mother don’t expect a rich girl like Kaori to actually accept an invitation from the likes of them, but Kaori actually comes and has a good time with them. (Shimao has fallen in love with Kaori of course.) Kaori forgets her wallet that night, and Shimao goes to her hotel to return it to her.

At the hotel, Shimao meets Kaori’s boyfriend (…?) Takayanagi Tooru, who is a famous Japanese millionaire. He has breakfast with them in Takayanagi’s private suite and Shimao feels the huge economic gap between himself and Takayanagi. It is as if they live in a ‘different world’. He is especially jealous that Takayanagi has a girl like Kaori. He is offered a large reward for returning the wallet, which he refuses because he has decided that he doesn’t need money to be happy. He leaves, accepting only Takayanagi’s business card.

Back in Japan, Shimao returns to his screw factory to find all his equipment being taken away to be sold. Apparently the factory has gone bankrupt because the man he left in charge of the factory’s finances betrayed him. When Shimao’s mother sees that the factory is closing, she goes into shock and they take her to the hospital.

His mother’s condition turns out to be critical, and she needs to have a 10 million yen surgery in order to survive. Of course, Shimao doesn’t have this money, so he goes to every bank in town and tries to borrow 10 million yen. He doesn’t have any luck, and his mother passes away before anything can be done. Shimao is convinced that if he were a rich man, his mother would still be alive. He changes his mind about not needing money to be happy, and is suddenly desperate to become rich. So, he goes to see Takayanagi, whose business card he still has with him.

He goes to Takayanagi’s e-business company, “Frontier” but isn’t allowed to see Takayanagi without an appointment as he is just too important. Shimao gets a job as a security guard in the building in hopes of getting closer to Takayanagi. (And besides, he needs a job anyway.) He is well-liked by his supervisor who drinks together with him at night. Always drinking in a separate corner of the same bar are the top employees who work close by with Takayanagi. Among their numbers is also Kaori, who Shimao is still in love with. The high-priced wine and food that the high employees drink is in sharp contrast to the cheap stuff the security guards have, and Shimao once again feels that they live in a ‘different world’. He wonders if he will ever get to meet Takayanagi, and learn the secret to becoming wealthy.

The deciding event comes when the Frontier company is doing a live webcast of an important soccer game. Just before the webcast, their server suddenly falls victim to a nasty virus and goes down. None of the programmers there can seem to fix it and the game is about to begin. At the same time, Shimao happens to be making his rounds as security guard and notices the computer trouble that the high executives are having. He quickly sits down at a computer, opens a command prompt window, and begins typing commands up a storm. It turns out that Shimao used to be a computer programming genius when he was young, but his business partner betrayed him and he ended up carrying on the family screw business instead. Shimao fixes the company’s server just before the game begins and everyone in the office is overjoyed.

Takayanagi takes notice of this, and Shimao is instantly promoted from security guard to one of the top-level executives who works close with Takayanagi. He finally gets to meet Takayanagi again, who teaches him the secret to his success – which is being an uncaring @$$hole who doesn’t look out for anyone other than himself. In order to test Shimao, Takayanagi gives him difficult jobs such as cutting off relations with smaller businesses which aren’t helping to benefit Frontier. At first, Shimao tries to be uncaring, but he can’t do it and instead tries to succeed by helping the little people to be more successful. This always gets him in a lot of trouble, but turns out well in the end.

So, it is a constant struggle between Takayanagi’s uncaring ways and Shimao’s sense of justice and helping others which is the basic conflict of this drama. Takayanagi’s ways continue to make him more and more rich, but Shimao’s sometimes bring about unexpected outcomes which exceed Takayanagi’s original plans. Takayanagi gradually begins to dislike Shimao, and chooses to watch him from afar and to see what interesting results Shimao can bring about. Kaori also grows closer to Shimao as she is swayed by his kindness and begins to dislike Takayanagi’s cold ways.

This drama can easily be read as anti-capitalist propaganda if you go that deep, but it is mostly just posing the age-old question of, “How important is money?” This drama would conclude that kindness and caring for others is more important. It’s a simple story of a simple man who has dreams of a better life, but somehow this drama just has a feeling of magic and wonder to it that makes it fun to watch. It’s probably mostly the background music and some of the camera work. You can see what I mean just by watching the clip below. Yeah – the background music does the trick.

I was hooked from the first episode of this drama, and it might just be one of the best of the season.

Inspiring Dorama of Entrepreneurship

Koi Ni Ochitara

August 7th, 2006

Nah..kalo dorama ini berkisah tentang kehidupan bisnis, antara orang yang berbisnis dengan menganggap “everything can be bought by money” dan orang yang berbisnis dengan perasaan…

Takayanagi adalah president dari perusahaan Frontier. Dia selalu menganggap segala sesuatu dapat dibeli dengan uang. bahkan prinsipnya itu menular juga ke anak buahnya. Disisi lain, ada seorang yang selalu berprinsip untuk membuat orang lain senang, tentunya dengan ikut merasakan perasaaan orang lain. dia adalah Suzuki Shimao (Shima==Island dan O==laki2/pemuda).

Suatu ketika, perusahaan kecil milik keluarga Shimao mengalami kebangkrutan akibat penipuan dari akuntannya. kejadian itu juga membuat Ibu Shimao shock hingga akhirnya meninggal.

Shimao bertekad untuk menjadi orang kaya seperti Takayanagi tanpa melepaskan prinsip hidupnya. Usahanya dimulai dari awal dengan menjadi satpam di Frontier (dengan tujuan bisa belajar bisnis dengan Takayanagi). Akhirnya Shimao pun bisa bertemu dengan Takayanagi setelah dia berhasil menggemparkan seluruh karyawan dengan memperbaiki error yang ada pada launching sistem terbaru Frontier (bagaimana bisa, seorang Satpam sangat jago ngoding???? ;p)

setelah bertemu Takayangi, Shimao pun menceritakan tujuan menemuinya. Namun, karena Takayanagi menyadari bahwa prinsip mereka sangat bertentangan, dia pun menguji Shimao dengan berbagai kasus berat yang sangat melawan nuraninya, spt memutuskan hubungan bisnis dengan perusahaan kecil dsb. Tak disangka, Shimao berhasil menyelesaikan semua kasus2 tersebut dengan sifatnya yang penuh kasih sayang. Banyak perusahaan-perusahaan lain yang tertarik untuk bekerjasama dengan Shimao, bahkan karyawan2 Frontier pun akhirnya tertarik dengan prinsip hidup Shimao.

Konflik terjadi ketika Takayanagi merasa terancam dengan keberadaan Shimao. Takayanagi mengangkat Shimao kedalam board of director, namun selalu menolak program dari Shimao. Sampai suatu ketika, Shimao hilang kesabarannya dan memutuskan untuk keluar dari Frontier dan bekerja sama dengan perusahaan Lyold Brother. Sejak saat itu, Shimao kehilangan prinsip hidupnya. Dalam hari yang sama ketika dia keluar dari Frontier, dia datang kembali ke Frontier untuk menjadi President disana (Takayanagi pun tersingkir dari Frontier…kasiiaan..;p). Namun Shimao ternyata salah dengan meninggalkan prinsipnya. dia hanya dimanfaatkan kepopulerannya oleh Lyold Brother…

Lalu, gimana akhirnya nasib Takayanagi, Shimao dan Frontier?? silahkan tonton saja kesebelas episode Koi Ni Ochitara !!!! ga bakal rugi koq…;p

diambil dari http://nasikhin.wordpress.com/tag/movies/