[JDDSK Bab II] Akhwat di Pameran Buku

Akhwat di Pameran Buku

Kisah Arie….

Selamet…. selamet….!! Ternyata gak cuma aku yang telat mengumpulkan laporan. Akhirnya ada toleransi hingga jam 12, sehingga aku gak jadi diminus. Dengan lega aku bergegas meninggalkan jurusan. Sekarang ada pameran buku di Braga, kebetulan ada beberapa teman yang mengajak kesana. Kebetulan juga sekarang awal bulan, waktunya foya-foya untuk anak kosan kayak aku.

Mmm….. gak terlalu salah ah, toh kan buat beli buku. Bermanfaat kan? (Hehe, sebenarnya hanya ‘pembenaran’ ku saja. Paling ujung-ujungnya malah komik ato novel yang aku incar… mumpung murahhhh…).

Oh… iya, aku belum memperkenalkan diri. Waktu lahir aku diberi nama Arie Eka Perkasa. Keren kan…? Lahir 21 tahun yang lalu di sebuah Kampung…. (Kampung Melayu, Jakarta hehe…). Ibuku asli jawa sedang bapak Lampung, dari kecil tinggal di Jakarta. Kini kuliah dijurusan teknik perparkiran ITB… ngh, becanda ding! Aku jurusan Biologi angkatan 2004. Jurusan yang bikin sirik cowok sekampus.

Iyalah, gimana enggak…? Saat jurusan laen ‘gersang’ dengan populasi Cowok vs Cewek yang jauh dari imbang, cowok biologi merasakan hal yang sebaliknya. Saat diospek dulu, kaum hawa menjadi spesies dilindungi dijurusan-jurusan teknik. Di biologi, justru sebaliknya…. para cowok adalah barang langka disini, sehingga keberadaannya lebih dilindungi. Itulah mengapa kami malah merasa dikelilingi cewek-cewek perkasa disini.

Tapi sebenarnya gak beruntung-beruntung amat jadi cowok Biologi, kalo kami tanding sepak bola kami agak jatuh mental. Bukan karena jumlah cowok yang sedikit, tapi karena cewek-cewek biologi justru sering menyemangati tim lawan terutama anak-anak teknik. Klo udah gini sorakan yang rame justru malah “sipil…. sipil….” atau “mesin…. mesin…..”. Apes… apes…!!

Aku tinggal di Bandung sejak 3 tahun yang lalu. Beruntung aku lolos SPMB dan dapat masuk jurusan yang selama ini aku harapkan… biologi. Sebenarnya menurutku agak aneh mengingat aku sebenarnya tidak terlalu ‘doyan’ pelajaran ini semasa sekolah.Yang aku senangi dari biologi hanya karena ada sisi sejarah yang banyak ceritanya dan banyaknya nama latin (padahal ini membuat orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

—===|||===—

Setelah sekitar sejam berkeliling di area pameran akhirnya aku berhenti disebuah stand buku. Kulihat banyak novel baru di stand ini. Akupun kemudian mulai sibuk sendiri mencari novel yang cukup pantas kubeli. Sepertinya budgetku hanya cukup untuk dua novel melihat harga rata-rata novel disana yang sekitar Rp 20-25 ribu.

Mngh…?! Mataku tertuju pada sebuah novel. Judulnya agak menggelitik dan cukup berani menurutku, “Suami Keren: Most Wanted!!”. Kubaca sekilas abstraksinya tidak ada nama penulis, hanya tertera nama pena “Rona Senja”. Aku jadi penasaran dengan isinya.

Bruggg….!! Terdengar suara benturan keras disebelah ku. Kulihat seorang Akhwat dengan nafas ngos-ngosan berdiri membungkuk di belakangku. Ia baru saja menabrak rak buku yang berdiri dibelakangku. Ketika kulihat, di hanya nyengir sambil meminta maaf. “Hmm… ceroboh sekali akhwat ini!!” kataku dalam hati sambil bergeleng.

Mas, buku itu…. buat saya ya…!!

Aku bengong saat ia menunjuk buku yang ada ditanganku… “Lho, kenapa gak yang dirak aja mbak?” jawabku, “rese’ banget sih ni cewek, emang siapa dia….!!” gerutuku dalam hati.

Ya… mas, I….itu buku terakhir kata mbak penjaga stand.

Emang di stand lain udah gak ada?

Saya udah keliling dari tadi…. udah ludes kejual mas….

Aku jadi penasaran, seberapa ‘sakti’ sih buku ini…. Hasrat gak mau kalah ku tiba-tiba muncul, “gak bisa gitu dong mbak…!! Saya kan lihat duluan….” jawabku agak ketus.

 Aku sebenarnya mendadak gak tega, dia manis….(hehe) dan ngg….. sepertinya pernah kulihat dikampus. Tapi dimana ya…? Ah, tetap saja, aku gak boleh kalah. Secepat kilat (zuingggg…!!!) kubawa buku itu kekasir.

Berapa mbak..?”,

Mas…. plis banget….”, si Akhwat masih mengikutiku dan sepertinya ingin mencegahku walau agak ragu-ragu.

Kukeluarkan uang dan kubayarkan segera. Si akhwat tertunduk lesu, aku jadi tambah gak tega… tapi, masa bodo lah… aku jadi penasaran mengapa Novel ini sampai habis distand tadi.

—===|||===—

Kisah Anin….

Namaku Anindya Pratiwi, mahasiswi S1 jurusan teknik sipil angkatan 2006 di ITB. Aku sebenarnya asli Semarang… hehe… mirip lunpia ato bandeng presto lah…!! Mungkin karena aku anak terakhir dari 3 bersaudara sehingga aku agak sedikit manja dan ambekan. Tapi walau begitu, gini-gini aku berani… buktinya aku memutuskan untuk mengambil kuliah jauh dari kota kelahiranku. Aku juga sudah cukup mandiri. Selain dari beasiswa, beberapa tulisanku juga dimuat di media sehingga aku kerap mendapat honor, walau tak terlalu besar.

Sebenarnya aku rasa aku salah jurusan. Saat SPMB dulu aku ingin masuk Seni Rupa atau Sastra. Sayangnya Mama keberatan dengan pilihanku. Begitu juga Papa, ia ingin aku mengambil jurusan yang sama dengannya… Teknik Sipil. Aku memutuskan ikut apa kata papa, bagaimana pun yang membiayai aku kuliah kan mereka. Akhirnya hasil SPMB pun membawaku ke kota ini…. Bandung, yang kata orang Paris Van Java.

Ternyata setelah ku jalani, aku cukup enjoy dengan jurusan ini. Memang agak seram juga awalnya, mayoritas mahasiswa sipil adalah pria. Perbandingannya jauuuuh… sekitar 5:1. Tapi justru karena itulah kami yang wanita jadi sedikit dilindungi, kalo ada apa-apa teman-temanku langsung pasang pagar betis!! Kayak mau tendangan bebas dipertandingan sepak bola… hihihi..!!

Aku berjilbab sejak SMU. Aku terkesan sekali dengan kakak-kakak mentorku dulu. Mereka rata-rata berjilbab lebar, terlihat sangat anggun dibandingkan dengan senior lain yang roknya sejengkal diatas lutut. Akhirnya kuputuskan memakai jilbab ketika awal kelas dua. Awalnya mama agak sedikit keberatan, takut susah dapet jodoh lah… ntar kutuan lah… dan berbagai alasan. Tetapi setelah ku bujuk… akhirnya mama luluh juga. Bahkan, kemudian mama malah ikutan berjilbab setelah dimasjid sekitar rumah rajin diadakan pengajian.

—===|||===—

Hari ini adalah launching buku pertama ku…. Kebetulan mengambil momen pameran buku di Braga. Akhirnya setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit, naskahku ada juga yang melirik. Mungkin karena beberapa evaluasi yang kulakukan sehingga kini naskah tersebut layak terbit. Buku ini tak lebih merupakan tuangan imajinasiku, harapan yang aku yakin juga dimiliki setiap akhwat.

Selepas dzuhur aku berangkat ke pameran bersama teman sehalaqahku Tiara, Nada dan Irma serta Teh Rani – Mentorku – kebetulan hari ini kami memang mengagendakan jalan-jalan bersama. Aku tidak memberitahu mereka tentang Launching bukuku nanti. Kupikir biar ini menjadi kejutan bagi mereka. Aku tak sabar lagi menunggu Acara Launching nanti.

Nin, kamu kenapa sih…? Perasaan dari tadi teteh liat senyum-senyum sendiri. Nyanyi-nyanyi lagi… kayaknya kamu lagi seneng banget ya hari ini….” teh Rani ternyata sejak tadi memperhatikan aku yang tidak bisa diam.

Nggak kok teh, cuman…. ya, liat aja nanti. Aku ada kejutan lho untuk kalian….” jawabku kepada semua.

Ih… apa sih, kok main rahasia-rahasiaan gitu. Jadi penasaran nih….” , Irma menanggapi. Aku hanya tersenyum.

Bus DAMRI akhirnya sampai di Braga. Kami turun dan mulai merencanakan rute perburuan kami di pameran ini. Aku diam-diam mencari lokasi launching Bukuku. “Ah… di sana rupanya..!!” ungkapku dalam hati. Saat anak-anak sedang sibuk melihat-lihat buku disebuah stand, aku izin meninggalkan mereka sebentar.

Kuhampiri pak Bambang direktur perusahaan penerbitan itu.

Assalamualaikum pak..!!

Oh, waalaikum salam. Kamu sudah datang Nin. Mmm… nanti acaranya mulai jam 14.00, dipersiapkan ya…” sambutnya ramah.

Oiya pak, aku mau lihat contoh bukuku dong…!!”, pintaku. Sampai saat ini aku belum tahu sedikitpun bagaimana wujud naskahku saat menjadi buku. Pak Bambang memanggil seorang karyawannya, aku dimintanya mengikuti karyawan tersebut.

Beberapa kardus besar terlihat sudah kosong. Karyawan pak Bambang bilang, buku itu sudah didistribusikan ke toko-toko buku. Terutama yang hari itu membuka stand disana. Karyawan tadi mencarikan sisa buku yang masih tersedia, namun ternyata stok didalam kardus-kardus tadi sudah habis. Akhirnya kami kembali ke pak Bambang.

Masyaallah…!!”, aku terkejut melihat sebuah poster yang terpampang disudut sebuah stand. Tengkukku seperti tersetrum saat kulihat judul buku yang dipromosikan disana, “Suami Keren: Most Wanted!!”. Judul yang baru kali ini kudengar, “tapi…. kenapa nama penaku ada disana?” batinku panik.

Aku bergegas menemui pak Bambang.

Pak, poster itu….

Gimana bagus kan….”, sahut pak Bambang tersenyum.

Tapi pak, judul naskahku kan….” aku tak melanjutkan perkataan ku. Aku bingung, malu, nggak tau harus bagaimana nanti saat acara launching berjalan. Judul novelku sama sekali tidak kusangka akan berubah seperti itu. Bagaimana jika Tiara, Nada, Irma dan Teh Rani melihat judulnya? Mau ditaruh dimana mukaku ini….

Lho kamu kenapa? Memang kurang bagus….” tegur pak Bambang bingung. Ku ungkapkan kepanikanku pada pak Bambang. Sepertinya ia bisa mengerti, dan meminta maaf karena ceroboh dalam memperhatikan proses penyutingan naskah ku. Dengan segera ia membantu dengan mengusahakan agar Novel yang sudah terlanjur beredar dapat ditarik. Launching novel pun dibatalkan.

Pak Bambang datang kembali kepada ku dengan wajah kecewa. “Nin, novelnya sudah hampir habis terjual di stand-stand. Kayaknya telat untuk menariknya. Maafkan kami ya Nin.”, ungkapnya menyesal. Dengan terpaksa akhirnya kurelakan saja Novel itu beredar dengan Judul yang aku sendiri tidak pernah terpikir untuk menggunakannya.

Aku kembali ketempat teman-temanku berada. Muka mereka sudah terlipat-lipat, cemberut.

Ih, kamu kemana aja sih Nin, lama banget. Kita kan mau ke stand lain…” Tiara manyun.

Iya nih, udah hukum aja yuk… suruh dia traktir buku buat kita.” Nada dengan senyum jahil menambahkan.

Punten atuh ibu-ibu…. bisa tekor dompet abdi kitu mah…” jawabku dengan dialek sunda yang sangat-sangat dipaksakan. “Yuk jalan lagi….”, ajakku. Kami kembali berburu buku ke pelosok pameran.

Sekilas mataku melihat sosok buku seperti yang kulihat diposter. “Ah.. itu dia masih ada yang tersisa” pikir ku. Aku bergegas meraih buku itu. Tapi naasnya……

Brukk….” kakiku tersangkut kabel yang bersliweran diantara rak. Hampir saja aku jatuh dengan sukses, untung aku masih sempat berpegangan pada rak buku. Semua mata melihat padaku. Aku hanya bisa nyengir sambil meminta maaf.

Aku berusaha mengambil novel tadi. Tapi telat, seorang pria telah memegang buku itu. Dengan masih mengatur nafas aku beranikan diri memintanya.

Mas, buku itu…. buat saya ya…!!

 “Lho, kenapa gak yang dirak aja mbak?” jawabnya bengong, tak menyangka ada cewek manis yang meminta buku yang sedang ia pegang.

Ya… mas, I….itu buku terakhir kata mbak penjaga stand.”, kataku.

Emang di stand lain udah gak ada?”, suaranya meninggi.

Saya udah keliling dari tadi…. udah ludes kejual mas….” aku coba untuk melobi cowok ini. Aku masih penasaran dengan proses editing yang dilakukan. Sedrastis apa perubahannya.

 “gak bisa gitu dong mbak…!! Saya kan lihat duluan….” ia tambah merengut.

Lho…lho, kemana dia?” pikirku saat tiba-tiba ia ngeloyor pergi meninggalkanku. Ternyata ia kekasir!

 “Berapa mbak..?” ia berusaha segera membayar buku itu. Aku berusaha mencegahnya….

Mas…. pliiiiis banget….

Terlambat, ia telah membayar buku itu. Lalu segera pergi meninggalkan stand ini. Untuk kedua kalinya aku harus kecewa hari ini, gagal memperoleh buku itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.