Cerita Tentang Vie(part 1)

Cerita
Tentang Vie

 

Tiba-tiba saja teringat tentang beberapa tahun yang lalu.
Saat aku baru saja kuliah ke Bandung. Cerita yang untukku sangat konyol
walaupun bisa jadi biasa saja buat kalian. Cerita peninggalan jaman SMU ini,
entah mengapa tiba-tiba muncul kembali. Ceritanya dimulai sekitar 6,5 tahun
yang lalu. Juli 2000, masa-masa pertamaku melihat dunia luar setelah selama 4
tahun belajar di pesantren.

Pure Jail, begitulah angkatan atas menyebut pesantren
kami. Di pesantren, hubungan antar lawan jenis nyaris tidak ada. Kelas kami
dipisah, sehingga tidak terjadi kontak sama sekali antara santri putra dan
putri. Segala aturan yang diberlakukan pun dibuat untuk memastikan hal itu
terjadi, walaupun sebenarnya ada juga yang bandel dan melanggar.Tapi resikonya
adalah siap-siap untuk dibotak atau dikeluarkan. Fenomena ”cinta monyet” santri
menjadi warna tersendiri yang menjadi bumbu dari kehidupan dibalik pagar
pesantren.

Empat tahun dipesantren membentukku menjadi figur yang
dingin kepada lawan jenis. Saat memutuskan pindah sekolah selepas MTs agak
terjadi ”jet lag”, aku kikuk menghadapi teman wanita di sekolah baruku. Islam
memang mengatur masalah hubungan lawan jenis dan batas-batasnya, dan aku
menjadikan sikap ku itu sebagai prinsip yang harus ku pegang. Hal ini kusadari
sebagai sesuatu yang pantas ku syukuri, karena hingga kini aku rasa aku pantas
berbangga dengan rekor ”tidak pernah pacaran” yang tetap ku jaga.

Namun begitu, pengaruh lingkungan ternyata begitu kuat
untuk mengikis sedikit demi sedikit prinsip hasil gemblengan bertahun-tahun di
pesantren. Aku mulai bersikap ”adaptif dan reseptif” terhadap nilai-nilai dan
kultur anak-anak sepantaran ku (walaupun sebenarnya aku lebih tua dua angkatan
seharusnya). Aku mulai belajar gitar, dengan gitar butut peninggalan Alm. Om
ku. Budaya pop sedikit banyak mempengaruhi, walaupun aku cenderung selektif
juga. Bagai manapun aku masih punya pertahanan diri untuk tidak meniru
semuanya.

Hari pertama sekolah, seperti tradisi yang biasa ada, MOS
berjalan dengan sangat garing. Aku tidak terkesan sedikitpun dengan acara ini,
karena aku terbiasa kabur dan sembunyi jika ada acara baris-berbaris semacam
ini saat di pesantren. Tetapi tetap saja ada yang masih dapat kunikmati, jadi
tidak sepenuhnya MOS menjadi mimpi buruk. Teteh pendamping kelasku -sebut saja
Rani-, kelas 2, berjilbab, anak Paskibra, begitu ceria dan gak bisa diam (saat aku
menulis kisah ini, aku baru sadar kalau dia mirip seorang seniorku di Kampus
yang begitu ”bercahaya”). Selain itu, ada seorang siswi baru dibarisan yang
menarik perhatian ku. Vie, sebut saja begitu. Roknya pendek, diatas lutut
membuat seragamnya lebih mencolok dibanding siswi lain. Ia seorang muslim namun
sekolah di SMP katolik, membuatnya memiliki kultur yang sedikit asing buatku
dibandingkan teman yang lain.

Alkisah, selesailah hari-hari nan aneh itu dan sekolah pun
dimulai. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang. Aku memilih duduk didepan,
barisan kedua dari meja guru dengan teman sebangkuku Tora, seorang batak muslim
yang orang tuanya adalah mualaf. Di belakang meja ku ada Indrie dan Yuli, dua
cewek ini ramenya minta ampun. Kami berempat tanpa sadar menjadi tim yang klop.
Berbagai tugas kelompok sekolah kami kerjakan dengan formasi tim yang hampir
selalu sama. Akhirnya kami menjadi seperti sebuah geng yang hampir setiap waktu
bercanda. Diluar itu semua, aku menjadi ”secret admirer” dari Vie, yang duduk
di baris ke 4 dekat jendela.

Entah mana yang lebih berpengaruh, kedekatan ku dengan
geng ku atau karena keinginan ku untuk terlihat menonjol dihadapan Vie membuat
ku bergitu menikmati belajar, walau untuk ukuran anak-anak dikelas aku termasuk
salahsatu yang paling santai. Namun, toh tanpa usaha dan target yang
muluk-muluk, ternyata aku rangking pertama di Cawu 1 itu. Hal ini untukku dan
orang tuaku adalah hal yang mengagetkan. Jika masuk 5 besar aku masih tidak
terlalu kaget, karena hal itu sudah tradisi saat di pesantren. Tapi untuk jadi
juara kelas, aku bahkan tidak berani bermimpi.

Ada satu kegemaran baru ku saat SMU, menggambar, terutama
komik. Saat kelas tiga MTs sebenarnya hoby ini mulai ada. Awalnya aku suka
menggambar Conan, tetapi lama-lama aku memiliki style ngomik sendiri. Saat
kelas satu ini aku mulai sedikit banyak meng-improve skill komikku. Aku pun
mulai membuat komik-komik pendek, dan entah mengapa aku memasukkan tokoh Vie
didalam komikku. Aku memberinya nama ”Tiara” disana, namun karena iseng saja
maka komik itu hanya jadi dua scene. Selebihnya aku kesulitan untuk membuat
cerita dan cenderung tidak fokus sehingga ada beberapa kerangka cerita yang
muncul dibenakku, tetapi tidak satupun kulanjutkan jadi cerita yang utuh.
Sampai sekarang, pengembangan cerita tetap menjadi kelemahanku. Aku malah lebih
suka menguatkan teknik dengan gambaran-gambaran spontan yang memenuhi buku
catatan ku disekolah.

Ada lagi hobby lain yang berkembang, berpuisi. Entah
kesambet setan apa, aku jadi suka corat-coret puisi di buku catatan. Hingga
kini beberapa diantaranya masih rapi tersimpan dikamar kost ku. Yah, bukan
puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail, hanya coretan kata seorang siswa
kampungan yang tenggelam dalam kegundahan cinta monyet. Kadang aku menuangkan
fenomena-fenomena yang kulihat di sekitarku dalam rangkaian kata yang implisit.
Puisi tentang ”dia” pun tak luput ku buat, bahkan aku pernah tuangkan dalam
lagu dengan judul namanya.

Hasratku untuk eksist dikelas, semakin meninggi. Aku tidak
puas hanya sekedar jadi ranking satu saja. Dari sanalah aku mengenal basket.
Awalnya hanya karena basket masuk dalam mata pelajaran olah raga saja. Namun
aku – yang awalnya mendribble pun gak bisa – tiba-tiba saja jadi begitu cinta
dengan basket dengan support yang kudapatkan dari rekan-rekanku.

Rekan-rekanku yang cowok rata-rata senang olah raga
apapun. Sedangkan aku, sejak dulu aku lemah dengan olah raga. Walaupun di
pesantren lari pagi adalah ”menu rutin” dua kali dalam sepekan, aku lebih
sering kabur atau kadang memotong jalan, karena bagiku jarak yang kami tempuh
sangat jauh dan aku selalu tertinggal. Saat aku mulai mengenal basket di SMU
ini aku sebenarnya sangat malu, karena aku tahu kalau rata-rata anak SMU saat
itu pasti bisa basket. Namun aku bersyukur bahwa teman sekelasku tidak
merendahkanku, bahkan bereka begitu besar memberikan semangat dan dukungan. Aku
banyak belajar teknik-teknik basket dari interaksiku dengan anak kelasku ini.
Saat itu aku jadi begitu mencintai basket, begitu haus akan semangat untuk bisa
dan mahir dalam olahraga ini.

Ternyata aku tidak ditempatkan dikelas yang salah. Karena
ternyata kelasku menjadi kelas yang paling maniak basket. Diawali dengan sebuah
inisiatif dari beberapa rekan ku (ada Leo, James, Fajar, Ferry, Liga dll), kami
melakukan latihan mandiri di lapangan ITI atau Puspiptek sehabis jam olahraga.
Berawal dari sana, entah dimulai dari siapa intensitas permainan basket kami
tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Dengan adanya rekan yang rutin membawa bola,
kami jadi begitu betah di sekolah. Tiba-tiba saja menjadi sebuah trend, bahwa
lapangan basket sekolah yang biasanya sepi kecuali saat jam Olah raga,
tiba-tiba saja selalu ramai dengan basket. Hal yang perlu di garis bawahi
adalah, kelas kamilah pelopornya.

Tiba-tiba saja kultur kami anak kelas satu berubah, tiada
hari tanpa basket. Tidak peduli pagi sebelum kami masuk kelas (kelas 1 masuk
siang) atau tengah hari bolong sebelum masuk, saat istirahat, saat jam pulang
bahkan saat ada jam kosong di kelas, kami manfaatkan sebesar-besarnya untuk
kepentingan BASKET. Secara spontan anak-anak kelas lain ikut turun dan
bergabung, sampai-sampai para guru kesulitan untuk melarangan spontanitas
anak-anak untuk tidak turun ke lapangan. Kenangan kelas satu ini begitu indah,
sayang akhirnya menjadi mimpi yang sedikit buruk buat ku.

 

Hari itu adalah hari terakhir pertemuan olahraga sebelum
ujian caturwulan 3. Seminggu lagi ujian akan dimulai. Seperti biasa setelah
sesi wajib pengambilan nilai, waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bermain
dilapangan. Awalnya hanya adu three point aja, tapi kemudian kami memutuskan
main setengah lapangan. Awalnya aku agak enggan untuk bergabung, tapi kemudian
aku ikut. Setelah sekian lama main, saat aku coba memblok sebuah tembakan,
Ferry menabrakku gak sengaja. Keseimbangan ku hilang dan jatuh berguling
beberapa kali. Aku, yang mengira itu hanya jatuh biasa saja coba untuk bangkit,
tetapi saat kuangkat tangan kananku….. tangan ku menggantung tidak bergerak.
Aku tiba-tiba saja seperti melihat sekelilingku dalam mimpi, kesadaranku hampir
hilang, tapi aku segera tersadar…. tangan ku patah…..

Beberapa rekan segera menolong, tangan kananku segera
ditopangkan ditangan kiriku. Saat itu tidak terlalu terasa sakit, walaupun
sedikit ngilu. Apa yang kurasakan lebih karena trauma pada kejadian yang sama
sekali tidak ku duga. Sekilas aku melihat Vie memandang ketakutan dan menutup
mata saat ferry membawaku ke guru Olahraga yang sedang bicara pada siswi
kelasku.

Aku segera dibawa ke ke klinik Puspitek untuk mendapatkan
penanganan P3K. Wali kelasku segera menjemput orangtuaku kerumah. Segalanya
jadi serba panik. Indrie, Tora, dan Yuli menyusulku ke klinik. Setelah orangtua
ku datang, aku dibawa ke RS Fatmawati.

Aku agak merasa bersalah kepada orangtuaku walaupun ini
adalah suatu kecelakaan, karena mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup
besar untuk pengobatan ku ini.Untunglah kami sedikit terbantu dengan adanya
askes, karena ibuku pegawai negeri. Ada dua opsi yang ditawarkan dokter saat
itu, menggunakan gips dengan resiko tulang tersambung tidak lurus seperti
semula serta recovery yang cukup lama (3-7 bulan) atau operasi pasang pen (aku
sampai sekarang gak tau gimana nyebutnya), yang mahal tetapi hasilnya lebih
terjamin serta recovery yang cepat. Akhirnya aku dan orangtua ku memilih
operasi, karena kami tak ingin aku cuti sekolah, dan aku pun tidak mau
berlama-lama jauh dari Vie.

Aku cukup betah dirumah sakit, tetapi aku juga harus sadar
jika semakin lama aku dirumah sakit maka semakin besar biaya yang ditanggung
oleh orang tuaku. Akhirnya, setelah aku dioperasi, tiga hari kemudian aku
langsung pulang. Dua hari istirahat dirumah, setelah itu aku ke sekolah, karena
harus mengejar ujian yang sudah 3 hari berjalan. Tetapi sebenarnya aku tidak
ada persiapan samasekali.

Ujian terlihat begitu berat untukku, apalagi tangan
kananku belum bisa digerakkan sehingga satu-satunya opsi adalah aku ujian
dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali belum pernah belajar nulis kidal.
Terbayang olehku nilai yang akan keluar akan seperti apa anjloknya. Ujian
bagiku sudah seperti hanya formalitas saja, sekedar menggugurkan kewajiban
sebagai siswa.

Tetapi kekhawatiranku tidak terbukti, ternyata guru-guru
seperti kasihan dan memberiku nilai yang cukup baik. Akhirnya aku masih menjadi
juara kelas, walaupun sedikit kurang puas karena nilaiku bukan murni hasil
kemampuanku.

Aku kembali bertemu indrie dan kawan ku dikelas, hal ini
membangkitkan semangatku lagi. Dari rekan-rekanku aku dengar bahwa setelah aku
kecelakaan, basket dilarang disekolah ku, terutama saat jam sekolah. Hal yang
sama sekali tidak kami harapkan. Saat itu salah satu yang harapkan adalah
segera sembuh dan kembali ke lapangan. AKU KANGEN SAMA BASKET….

 

Juli 2001…. Gak kerasa sudah satu tahun aku di sekolah
ini. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa dulu, aku hampir saja masuk sebuah sekolah
asrama lagi. Insan cendikia, satu-satunya saingan SMU ku di kecamatan. Mereka
telah terkenal, melanglang buana diberbagai kompetisi nasional. Sebuah sekolah
favorit yang didirikan oleh Habibie.

Dulu, sekolah ini memberikan beasiswa bagi seluruh
siswanya, setelah Habibie turun dari pemerintahan beasiswa itu ditarik oleh
pemerintah. Aku adalah angkatan yang kena getahnya. Beasiswa hanya diberikan
pada 10 orang terbaik saat seleksi, dan aku tidak termasuk didalamnya.

Akhirnya harapan ku untuk masuk sekolah unggulan pupus,
karena biaya masuk saat itu 7,5 juta. Angka yang gak kebayang buat keluarga
kami yang setiap lebaran harus berpikir dua kali untuk mudik ke Semarang.
Tetapi sebenarnya keputusan untuk tidak masuk ke sekolah itu lebih merupakan
keputusan yang diserahkan orangtuaku padaku. Aku memilih untuk tidak masuk
kesana, karena bagiku kulturnya terlihat asing dan terlalu mewah untukku.

Karena itulah aku memutuskan masuk ke SMU tetangga ini.
Satu harapan yang aku pernah tetapkan, aku memang tidak masuk sekolah favorit,
tapi aku akan jadi orang yang memfavoritkan sekolah ini. Sesuatu yang awalnya
hanya mimpi belaka, tiba-tiba saja menjadi kenyataan!

Kelas satu adalah salah satu masa paling bahagia di SMU.
Saat aku masuk kelas dua, formasi kelas berubah total. Hanya ada 2-3 orang yang
berasal dari kelasku dulu plus beberapa yang kukenal di kelas lain. Sisanya,
benar-benar teman baru untukku. Situasi kelas terasa sekali berpengaruh pada
semangat belajarku. Aku pisah kelas dengan Vie.

Aku duduk dengan David seorang protestan yang taat.
Cita-citanya adalah menjadi pendeta. Kami duduk dekat jendela yang menghadap ke
depan kelas. Kami duduk bergantian di bangku pojok bergiliran setiap minggunya.
Hehe, sebenarnya ini sudah menjadi strategiku untuk tetap bisa melihat Vie yang
letak kelasnya menyiku dengan kelasku.

Saat itu aku rasakan semangat belajarku makin menurun,
ditambah lagi beberapa juara kelas ada di kelasku. Aku semakin larut dalam hoby
menggambarku. Belajar gitar dan membuat lagu juga menyita fokus belajarku.
Akhirnya efeknya pada cawu 1 aku anjlok menjadi ranking 5. Aku sedikit shock
juga, karena sudah mulai terbiasa masuk ”satu besar”.

Di akhir cawu satu ini ada seleksi olimpiade sains. Karena
nilai ku yang ”cukup” anjlok aku sebenarnya nyaris tidak diperhitungkan. Tapi
aku mengajukan diri karena untungnya syaratnya minimal masuk 5 besar.
Alhamdulillah, nyaris saja…..

Saat para jawara mengejar pelajaran Fisika, Kimia dan
Matematika, aku lebih memilih ikut seleksi di biologi. Padahal aku sebenarnya
tidak terlalu cinta dengan pelajaran ini. Yang aku senangi dari biologi hanya
karena ada aspek sejarah dan banyaknya nama latin (sesuatu yang kadang membuat
orang lain muntah-muntah mengingatnya, dasar aneh ya aku…).

Ternyata hal ini jadi berkah tersendiri untuk ku. Karena
ternyata aku nyaris tanpa lawan dalam seleksi ini, dan otomatis aku melenggang
bebas menjadi wakil sekolah. One step ahead coy…..!!!

Keuntungan yang ku peroleh pada tahun itu adalah SMU ku
mendapat jatah undangan seleksi olimpiade dua kali. Satu ikut seleksi wilayah
Jabotabek di SMU 70, dan satu lagi seleksi Kabupaten di SMU Insan cendekia.
Banyak kekacrutan yang kualami di seleksi ini.

Saat di Jabotabek, kami nyaris tidak ada target, karena
tingkat persaingannya sudah langsung selevel propinsi. Aku sih menikmati
jalan-jalannya saja, maklum orang udik. Lagipula aku terhitung cuma ”anak
bawang” karena tumpuan terbesarnya saat itu adalah kelas 3. Akhirnya memang
kami pulang tanpa hasil sama sekali, selain sekotak KFC dan name tag (kalo udah
gini, yang ada adalah food oriented).

Persiapan untuk seleksi kabupaten pun benar-benar ala
kadarnya saja. Bahkan aku tiba ditempat seleksi telat agak lama. Untungnya dari
soal bahan latihan yang kuperoleh ternyata sebagiannya keluar lagi, bahkan sama
persis(ini bukti kekacrutan sistem dan kualitas pendidikan kita). Alhasil aku
melenggang lolos ke tingkat propinsi bersama dua orang anak Insan cendikia dan
2 anak dari kecamatan lainnya.

Seleksi dilakukan di SMU I Tangerang, sebuah sekolah yang letaknya
terpencil, walaupun katanya masuk kodya tangerang. Ada kenangan buruk yang
kuperoleh di seleksi propinsi ini. Aku datang ke ruang seleksi (sekali lagi)
dalam keadaan terlambat, tetapi tidak terlalu masalah karena sekalilagi, soal
yang digunakan dalam seleksi ini ternyata diambil dari Soal olimpiade
internasional tahun sebelumnya, dan aku sudah menggunakan soal ini saat latihan
soal di sekolah. Alhasil, setelah dua sesi test, aku keluar dan bersiap untuk
pulang.

Aku sempat berkenalan dengan anak-anak IC, salah satunya
adalah anak guru pembimbing olimpiade ku, Bu Wida. Yang lain ada Ferta, cewek
berjilbab yang gak bisa diam dan cukup rame. Ibu guru pendamping dari insan
cendikia mengajakku untuk pulang bareng mobil mereka. Tapi tawaran itu kutolak
karena guruku pasti sedang menunggu diluar. Dan mereka akhirnya pulang lebih
dulu.

Kekacrutan terjadi disini, guruku dan mobil pinjamannya
tidak nampak sedikitpun. Setelah celingak-celinguk lama pun tetap tidak ada
tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja aku panik dalam hati(ada ya, panik
dalam hati?). Apa jangan-jangan aku ditinggal pulang? Atau jangan-jangan guru
IC mengajakku pulang karena dititipi oleh guruku? Tempat yang asing membuatku
serba salah, malu bertanya dan sesat dijalan (naon deui siah…. kayak pepatah
aja).

Tapi aku coba berpikir sedikit rasional. Hampir tak mungkin
guruku meninggalkan ku begitu saja. Masak ”duta Sekolah” dibiarkan nangkring
seperti anak hilang gini? Dengan segala keberanian yang tersisa aku beranikan
bertanya pada seorang guru disana. Awalnya beliau tidak tahu, tetapi kemudian
salah satu rekan gurunya mengatakan, guruku dan supir mobil itu sedang ke
bengkel karena mobil kami tiba-tiba saja rusak. Akhirnya dengan sangat tidak
nyaman aku mennunggu selama beberapa jam. Setelah sekian lama menunggu guruku
datang juga. Aku yang jengkel hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tidak makan
siang hari itu….!! aku pulang kerumah masih dalam keadaan dongkol.

Hasil seleksi propinsi kali ini tak sabar kutunggu. Beberapa
hari kutanyakan kepada guruku. Tetapi setelah lebih dari sebulan tak kunjung
juga ada beritanya.Akhirnya hasil seleksi yang kuharapkan itu kulupakan begitu
saja. Aku kembali ”sibuk” dengan komik dan gitar butut ku lagi.

Tak terasa hampir setahun aku di kelas dua. Ujian
pamungkas tahun ini telah didepan mata. Hasil
ujianku akhir tahun ini tidak terlalu memuaskan. Aku masih saja berada di
peringkat 5 besar. Olimpiade tidak pernah terlintas lagi dipikiranku,
seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi di kehidupanku. Yah… ternyata
petualanganku di Olimpiade sains mungkin memang harus berakhir di propinsi.

Aku tetaplah aku yang dikenal biasa-biasa saja, masih
seorang ardian yang sering lupa mengerjakan PR, nyontek tugas sekolah, sering
keluyuran setelah pulang sekolah, rajin membaca komik, yah… itulah aku. Tapi
ada satu prinsip yang selalu aku pegang, bahwa walaupun aku seperti itu buatku
HARAM untuk mencontek saat ujian. Kenapa? Karena bagiku PR, tugas, latihan soal
hanyalah sebuah sarana latihan dan menyerap wawasan. Ujian yang sebenarnya
bagiku adalah saat Ulangan harian dan Ulangan Umum. Lagipula hal ini didukung
sifat ku yang agak sedikit sulit percaya orang. Jadi, dari pengalaman nyontek
yang pernah kulakukan, saat aku lihat jawaban orang lain aku lebih sering tidak
percaya akan jawaban orang tersebut, dan yakin jawaban ku pasti lebih baik. So,
percuma saja kan nyontek?

 

Akhirnya, masa kelas dua berakhir begitu saja. Tetapi,
sepertinya sayang jika aku gak cerita tentang sisi selain akademik ku. Sebenarnya
aku pernah punya keinginan untuk aktif di OSIS, tapi sepertinya sulit untuk bergabung, karena aku tidak tahu
kemana harus memulainya. Tapi secara gak sengaja ternyata aku terperosok ke
organisasi yang lain, yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Agak aneh
juga ya, kok aku bisa masuk koperasi siswa SMU. Berawal disuatu jam pelajaran
saat kelas satu, saat itu sedikit boring. Tiba-tiba saja ada beberapa siswa
senior yang meminta izin masuk, untuk roadshow. Dan akhirnya mereka
mempresentasikan tentang koperasi siswa. Dipresentasi mereka disebutkan bahwa
ekskul ini adalah wahana belajar masalah pembukuan, akuntansi, dan ekonomi.
”Mmm… not bad, sepertinya bisa dicoba.” begitu pikir ku. Saat ditawarkan untuk
mengisi form bagi yang ingin mendaftar, aku mengajukan diri.

Aku sempat pernah menyesal suatu ketika, yaitu waktu
OSPEK/pelantikan ekskul ini. Pusing juga, memang tradisi dan kultur SMU yang
masih kekanak-kanakan membuat prosesi perpeloncoan seakan wajib ada setiap
tahun. Tapi, ada baiknya juga, karena ternyata memang ada suatu pengikatan
komitmen yang terbangun. Tapi aku tidak suka diintimidasi!! Di pesantren aku
termasuk tipe pemberontak…. tidak ada istilah takluk dengan peraturan…. dan
sekarang ada yang sok superior dari ku…. rasanya sangat tidak enak sekali.
Untungnya hal itu hanya terjadi sekali saja.

Setelah dilantik, kami mulai berkenalan dengan koperasi
siswa yang sebenarnya. Kopsis kami ternyata pernah menjadi kopsis prototipe
bagi daerah tangerang, dan merupakan koperasi siswa terbaik didaerah ini. Tapi
”baik” yang dimaksud ternyata tidak seperti yang ku kira. Ternyata koperasi ini
disebut koperasi siswa karena dikelola oleh siswa. Tetapi secara permodalan,
ini sebenarnya murni dari dan untuk guru. Satu-satunya yang bisa jadi nilai
lebih adalah kita bisa belajar disini…. belajar jadi penjaga koperasi… cape
deh.

Dengan berjalannya waktu, pengurus yang melantikku
akhirnya harus memasuki masa kelas tiga yang sibuk persiapan UAN/UAS. Maka
tibalah saat kami kelas dua didorong untuk maju mengambilalih kepengurusan. Di
suatu siang diadakan musyawarah anggota untuk suksesi, yang “dipaksa” maju saat
itu ada 3 orang, yaitu aku, Agus ”tenjo” dan cewe(hadoooh….gw lupa namanya).

Dari prosesi yang garing itu, akhirnya terpilihlah si
cewek sebagai ketua, sedangkan untuk wakil ketua aku lah yang terpilih. Task
pertama kami adalah, melakukan OSPEK bagi para anggota baru (sejarah kembali
berulang…..). Tapi ada satu hal yang tidak ingin aku lakukan, yaitu bersikap
seperti seniorku dulu. Aku ingin menjadi senior yang baik dan bisa berbagi
sesuatu pada rekan-rekan seaktivitasku itu.

Singkat cerita, datanglah hari yang ditentukan. Kami akan
melakukan proses pelantikan komplek Puspiptek. Disana terjadi beberapa insiden,
salah satunya adalah saat ada peserta yang roknya sobek di bagian paha
(kebayang gak paniknya anak cewek kalo kondisinya seperti itu?).

Leave a Reply

Your email address will not be published.